Selasa, 17 Oktober 2017

SAATNYA PEMUDA BERKARYA*


Oleh: Annafiah Firdaus

Inilah karya literasi terbesar sepanjang sejarah: Al-Quran. Mudah untuk dibaca. Penuh dengan hal luar biasa. Bisa sobat NAH! bayangkan, jika Zaid bin Tsabit di kala muda saat itu dan sahabat yang lain tidak menghimpun secara sabar? Ayat Al-Quran mungkin akan berserakan. Maka, kita akan kesulitan untuk membacanya. Dan ini adalah sebuah karya besar yang sangat bermanfaat untuk umat. Tidakkah kau merasakannya?

Lain lagi dengan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam berkarya. Dua ulama ahli hadits yang namanya masih menggaung hingga kini karena tak lepas dari satu sebab. Karena apa? Yah, atas karyanya. Hadist-hadist shahih mereka susun sesuai syarat. Syarat akan metode dalam memilih periwayat benar-benar orang shalih. Sanad (jalur periwayat) bersambung sampai Rasulullah haruslah orang taqwa, hafalan kuat, tak pelupa, dan tak cacat hadistnya. Luar biasa, bukan?

Lebih lagi seorang Imam Al-Bukhari sangatlah hati-hati pula saat menggoreskan pena. Ada satu syarat yang amat ketat yang tak dilakukan imam lain. Mau tau? Gini. Imam Al-Bukhari akan menerima hadist dari rawi (periwayat) yang sejaman dan ada kemungkinan bertemu dengan rawi yang diambil hadistnya. Itu yang membuat kitab beliau lebih dapat dipercaya dari pada kitab hadits lain. Luar biasa bukan, kerja keras dan pengorbanannya?

Sobat, ada hal yang harus diperjuangkan dalam tiap goresan pena kita. Tak sekedar retorika untuk membusungkan dada. Akan tetapi, retorika yang sarat akan makna. Retorika yang tak memandang untuk siapa kecuali Dia. Menulis adalah retorika. Menulis adalah salah satu cara mengubah jiwa. Menulis adalah berbagi ilmu dan hikmah. Menulis adalah tawashou bil-haq wa tawashou bish-shabr.

Maka, seperti halnya Imam Al-Bukhari dan Muslim. Tidakkah kita ingin bergerak memperjuangkan tiap kegelisahan dalam dada kita? Dalam tiap goresan yang kita harap sebagai batu bata membangun peradaban islam di dunia?

Goreskan penamu. Tekan keyboard-mu. Menulislah!
*berkarya dengan tulisan


Sumber: Buletin Nah #31

Tidak ada komentar:

Posting Komentar