Selasa, 10 Oktober 2017

Wujudkan Cita-Citamu


Oleh: Fadlan Al-Ikhwani

Berapa usiamu, itu tidak penting. Siapa bapakmu, juga bukan sebuah kebanggan, bila hanya kau jadikan sandaran untuk nebeng keberhasilan orangtuamu. Apa warna kesukaanmu? Hobimu? Cita-citamu sekalipun, semua itu tidak penting. Apa yang lebih penting dari itu semua? Prestasi. Hasil. Tekad membulat dan semangat membara untuk mewujudkannya. Cita-cita yang hanya ada dalam pikiran adalah angan-angan kosong. Cita-cita yang sekadar dituliskan adalah peta perjalanan. Semua tidak akan ada artinya, tanpa adanya tekad yang membulat dan semangat yang membara untuk meraihnya.

Tengoklah pemuda ini. Usianya baru 15 tahun. Tapi semangatnya luar biasa. Di usia masih belia itu, ia terus melatih kudanya bolak-balik menerjang lautan. Tekadnya sudah membaja. Cita-citanya sudah bulat. Konstantinopel harus takluk. 8 tahun kemudian, sejarah pun mencatatkan namanya. Di usia 23 tahun itu, Konstantinopel benar-benar takluk di tangan pemuda ini. Dialah Muhammad al-Fatih.

Pemuda ini pun tidak kalah prestasinya. Usia 7 tahun, di saat teman-teman seusianya asyik bermain di sungai Dajlah dan menyeberangi jembatan, ia justru menghadiri majelis di serambi masjid yang diselenggarakan oleh ulama ahli hadis. Mengurung diri dalam kamar untuk menghafal 1 juz al-Qur’an. Menimba ilmu dan tidak akan berhenti mengkaji sebelum berhasil menguasainya dengan sangat mahir. Tibalah saat itu. Sejarah pun menunggunya. Dari tangannya telah lahir 2000-an jilid kitab di zaman yang tidak ada komputer ataupun notebook.

 Di hadapannya 100 ribu orang telah mengungkapkan taubat. Sebanyak 10.000 orang Yahudi dan Nasrani juga telah diislamkan. Pemuda ini adalah Al Imam Jamaluddin bin Faraj Abdurrahman Ibnul Jauziy Al-Baghdady atau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu al-Jauziy. Satu karyanya yang sangat monumental dan dianggap karya terbaiknya adalah Saidul Khatir.

Berkorban memang lebih nikmat daripada menjadi korban. Berkorban waktu, usia, tenaga lebih nikmat daripada nanti menyesal di kemudian hari. Kita perhatikan bagaimana Muhammad Al Fatih memanfaatkan masa mudanya. Di usianya yang baru 15 tahun. Disaat sebagian teman-temannya masih bergelayut manja di tangan orangtuanya, dia sudah menancapkan cita-citanya yang kuat: menaklukkan Konstantinopel. Demikian pula dengan Ibnu Al-Jauziy. Disaat teman-temannya asyik dengan agenda bermainnya, beliau justru asyik dengan kesibukannya mendalami ilmu. Mengahadiri majelis hadis yang dihadiri juga oleh para khalifah, wazir dan pembesar.

Jadi, berapa usiamu, memang tidak penting. Karena yang lebih penting adalah seberapa besar prestasi yang telah kauhasilkan. Seberapa optimal masa muda ini kau manfaatkan. Tiada kata terlambat untuk berbuat. Let’s Go!

Sumber: Buletin Nah #12

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar