Minggu, 19 November 2017

Anak Muda, Bolehkah Galau?

Oleh: Annafi`ah Firdaus 

Maklum sedang mencari jati diri,” kata sebagian orang.

Namanya juga anak muda, biarkanlah mereka!” kata sebagian orang lagi saat kenakalan remaja terjadi.

Sejatinya, ada pandangan yang perlu diluruskan kepada remaja hari-hari ini. Sebagian orang, bahkan tidak sedikit menganggap usia remaja adalah usia coba-coba. Usia untuk bereksplorasi dengan hal-hal baru sesuai keinginan mereka. Sehingga, ketika para remaja ini berbuat kesalahan, dibiarkan begitu saja tanpa arahan yang benar. Mereka menganggap kenakalan remaja adalah kewajaran. Bahkan ada yang sampai beranggapan, “Kalau remaja tidak begini, bukanlah anak muda.” “Kalau remaja tidak punya pacar, memang bagaimana caranya punya pasangan?” Begitulah!

Allah dan Rasul ternyata punya istilah khusus untuk menjelaskan tentang usia anak muda. Dalam bahasa Arab anak usia muda adalah syabaab ( شباب ). Secara istilah artinya kekuatan, baru, indah, tumbuh, awal segala sesuatu. Sedangkan kata “remaja” dalam bahasa Arab: murohaqoh (مراهقة). Secara istilah artinya adalah kedunguan dan kebodohan, kejahatan, dan kedzaliman serta gemar membuat kesalahan.

Allah juga menyebut usia muda adalah kekuatan di antara dua kelemahan. Pertama, kelemahan usia kanak-kanak yang masih lemah secara fisik, ilmu, pengalaman, dan posisi. Kedua, kelemahan dari usia tua baik secara fisik, semangat, tenaga, dan kemampuan lainnya.
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendakiNya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Rum: 54).

Sudah jelas untuk kita. Jelas seharusnya anak muda. Anak muda di dalam Islam adalah identik dengan kekuatan, memiliki cita-cita, semangat, keteguhan, siap berkorban, menjaga diri, dan akhlak-akhlak terpuji lainnya. Seperti anak-anak muda di dalam Al-Qur`an.
Sebut saja seorang rupawan, Nabi Yusuf. Baginya, ketampanan adalah anugerah sekaligus ujian. Dan sikapnya sebagai anak muda utama telah terbukti. Ia menolak untuk bermaksiat dengan istri sang raja yang mabuk cinta padanya.

Atau seorang pemuda bernama Ibrahim? Sendirian! Iya sendirian menyeru kaumnya termasuk sang bapak untuk tidak menyembah berhala. Keberanian. Keteguhan iman kepadaNya. Cerdas. Telah melekat pada diri pemuda ini.

Lalu, bolehkah anak muda galau? Tergantung! Kalau galaunya dalam hal-hal yang baik boleh! Selain itu? Tinggalkan!

Kalaulah kita ini serius ingin jadi anak muda utama, yang di kemudian hari tidak ingin ada penyesalan, mari bersungguh-sungguh! Berjalan di atas jalan yang Allah sukai. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar