Rabu, 15 November 2017

KENDARAAN PERJUANGAN

Oleh: M. Fatan Fantastik

Syahdan, saat pak Dirman memutuskan meninggalkan kota Jogja untuk bergerilya, kondisi fisik beliau amat lemah. Sejak pagi, hanya sedikit makanan dan minuman yang masuk ke dalam perut. Apalagi Pak Dirman masih dalam kondisi sakit, yang masih memerlukan perawatan khusus. Tapi, tugas perjuangan telah menanti...

Rombongan Pak Dirman terdiri dari dua orang ajudan, seorang dokter pribadi untuk merawat pak Dirman, serta satu kompi pasukan pengawal. Ditambah beberapa orang lainnya yang sebenarnya bukan staf Pak Dirman tetapi tetap memilih ikut.
Rombongan ini menempuh perjalanan dengan berbagai "kendaraan", khususnya bagi Pak Dirman yang sedang sakit. Kadang, beliau ditandu. Bahkan pernah juga menggunakan dokar. Tetapi karena tak ada kuda, jadilah dokar itu ditarik oleh para pengawal. .

Kita tahu, hampir 7 bulan lamanya pak Dirman melakukan perang gerilya melawan penjajah Belanda, dalam kondisi sakit yang membuat payah jiwa dan raga. Dari gunung ke gunung, dari lembah ke lembah, dari kampung ke kampung, para pejuang dan rakyat terus mengumandangkan himbauan: "Pak Dirman ada di tengah-tengah kita!"

Tak main-main. Rute gerilya ini mencapai panjang 1.009 kilometer, yang sebagian besar ditempuh dengan berjalan kaki!

Hingga akhirnya, perjuangan berat itu berbuah. Penjajah Belanda yang kewalahan dipaksa kembali ke meja perundingan. 10 Juli 1949, Pak Dirman kembali ke Yogyakarta. Merdeka!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar