Senin, 27 November 2017

PARIT BERNYALA-NYALA

sumber: Sahabat AlAqsha
      Oleh: Annafi`ah Firdaus 

Demi langit beserta gugusan bintangnya.
Demi bumi beserta hamparan pematangnya.
Demi laut, yang apabila meluap.
Ke manakah kita akan meminta pertolongan?

Sungguh binasa mereka yang membikin parit! Mereka menyalakan api di dalam parit untuk menyiksa kaum muslimin. Padahal orang-orang beriman tidak membikin kerusakan dan kesusahan terhadap kaum kafir. Namun, begitulah tabiat kaum kafir. Mereka tidak rela orang-orang beriman memeluk Islam dengan tenang. Mereka paksa untuk masuk ke agama mereka. Jika mau, mereka bebaskan dari kobaran api di dalam parit. Jika tidak mau? Dengan bangga dan bahagia, mereka paksa orang-orang beriman untuk menikmati panasnya api dalam parit.

Maka, yang duduk-duduk di pinggir parit saat itu, sambil tertawa, sombong, bahkan bongak menyaksikan kaum muslimin dilemparkan ke parit berapi! Jikalau tidak menerima tawaran dari Allah untuk taubat; celaka sungguh celaka. Karena Allah memiliki siksa yang jelas lebih kejam dan keras dari siksaan yang mereka buat.

Sedangkan orang-orang mukmin yang tetap bertahan dalam imannya, tetap kokoh berjalan di atas jalan yang lurus, tidak bakal menyesal. Meski sakit, perih, dan pedih setiap jalan yang mereka lalui, istiqomah adalah nafas mereka. Allah adalah tujuan hidup mereka. Hingga pada puncak akhir, mereka akan bawa kebahagiaan dan ketenangan saat bertemu denganNya. Mereka akan mendapat balasan yang agung dan besar dari Rabbnya Yang Maha Menyaksikan saat ujian parit bernyala-nyala itu membakar tubuh mereka.

“Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya.” (QS. Al-Maidah: 54).

Indah betul, perjuangan mereka!

Jadi teringat tentang Rohingya, Palestina, Suriah, dan saudara-saudara kita muslim lainnya. Karena beriman kepada Allah, mereka diusir dari kampung halamannya. Mereka disiksa, dibunuh, dan bentuk-bentuk penyiksaan lainnya. Hanya karena mereka beriman. Eh, yang “hanya” itu, sesungguhnya berharga mahal di hadapanNya ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar