Rabu, 20 Desember 2017

Belajar kepada Umar (3)

 
Oleh: M. Fatan Ariful Ulum 

Sebelum membebaskan Baitul Maqdis, Umar bin Khaththab radhiyallaahu ‘anhu berhenti di Jabiyah. Di hadapan para tentara mukminin, Umar menyampaikan khutbah panjang yang penuh makna. Ibnu Katsir membuatkan ringkasan khutbah bersejarah tersebut untuk kita.

"Wahai saudara-saudara sekalian! Perbaikilah sisi bathin kalian niscaya sisi lahir kalian akan baik. Bekerjalah untuk akhirat niscaya kalian tercukupi dari urusan dunia.
Ketahuilah, ketahuilah, bahwa tiada seorang pun yang memiliki ayah yang masih hidup yang dapat menghubungkan dirinya dengan Adam, juga tidak ada penghubung antara dia dan Allah. Karena itu, siapa pun yang menginginkan jalan surga, hendaklah mengikuti jamaah karena syaithon itu menyertai orang yang sendirian; ia lebih jauh dari dua orang.
Jangan sampai ada di antara kalian menyepi berdua dengan seorang wanita karena syaithon-lah yang ketiga di antaranya. Sesiapa senang karena kebaikannya dan sedih karena keburukannya, dialah orang yang beriman.”


Sumber tulisan dan foto: @emfatan 



Belajar kepada Umar (2)


Oleh: M. Fatan Ariful Ulum

Ya. Inilah Umar bin al-Khaththab. Yang menurut Ibnu Mas’ud, “Di antara kami, Umar-lah yang paling mengetahui Kitabullah dan paling memahami agama Allah.”

Lantas bagaimanakah cara Umar mengikat ilmu sedemikian kuat? Putranya, Abdullah bin Umar, mengabarkan kepada kita. “ Umar mempelajari surat Al-Baqarah selama dua belas tahun. Lalu setelah memahami kandungan surat tersebut, dia menyembelih seekor sapi.”

Ya. Inilah Umar. Mulia karena ilmu, dan beramal dengan ilmu. Yang pertama memerintahkan umat Islam agar mengerjakan sholat tarawih di bulan Ramadhan secara berjamaah. Yang pertama diberi gelar Amirul Mukminin. Yang menetapkan kalender Hijriyah.

Yang menyusun peraturan pajak dan membentuk instansi pemerintah, serta berkata, “Tidak boleh menyusahkan seseorang untuk membayar lebih dari satu dirham dalam satu bulan.” Yang mengangkat para qadhi dan membuat undang-undang peradilan. Menetapkan evaluasi tahunan bagi para penguasa di wilayah Islam.

Yang menyiapkan gudang suplai makanan dan perbekalan. Menggagas peraturan untuk memonitor harga pasaran serta memantau takaran dan timbangan di pasar. Memberi perhatian khusus bagi anak-anak terlantar. Membangun kota-kota baru untuk mengokohkan peradaban Islam.

Ya. Inilah Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Rabah bin Abdullah bin Qarth bin Razzah bin Adi bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib al-Qurasyi. Satu diantara yang lebih dahulu beriman, termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk surga, bagian dari Khulafaur Rasyidin, mertua Rasulullah SAW, tergolong ulama besar di kalangan para Shahabat, serta yang paling zuhud diantara mereka. Dialah Al-Faruq, sang pembebas Al-Aqsha. Radhiyallaahu ‘anhu.

Sumber tulisan dan
📷: @emfatan

Belajar kepada Umar (1)


Oleh: M Fatan Ariful Ulum

Ketika tidur,” demikian Rasulullah SAW memulai sabdanya yang diriwayatkan al-Bukhari, “aku bermimpi minum susu hingga aku melihat susu itu mengalir di kukuku, atau di kuku-kukuku; lalu aku berikan susu itu kepada Umar.” Para sahabat pun bertanya, “Apa takwil engkau (terhadapnya)?” Rasulullah SAW menjawab, “Ilmu.”

Ya. Umar mendapatkan beragam keutamaan, karena bersumber dari ilmu. Sebagaimana dalam kesempatan lain, Rasulullah menyebutkan keunggulan Umar dalam hal ilmu. Al-Bukhari meriwayatkan kepada kita dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Sungguh telah ada pada zaman orang-orang sebelum kalian banyak lelaki dari kalangan Bani Israil yang diberikan ilham, namun mereka bukan Nabi; jika di kalangan umatku ada orang seperti mereka, maka Umarlah orangnya.” Alangkah mulia persaksian itu, langsung dari sebaik-baik insan. Dari lisan yang tak pernah berdusta.

Bukankah kita ingat, saat Umar belum masuk ke dalam barisan orang-orang beriman, Rasulullah memanjatkan doa khusus—diriwayatkan oleh Ibnu Majah—untuknya? “
Ya Allah, muliakanlah (kuatkanlah) Islam dengan masuk Islamnya Umar bin al-Khaththab.”

Maka, inilah pernyataan Ibnu Mas’ud tentang peristiwa penting tersebut. “Masuk Islamnya Umar adalah kemuliaan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kepemimpinannya adalah rahmat. Demi Allah, kami tidak sanggup mengerjakan sholat di sekeliling Ka’bah secara terang-terangan hingga Umar masuk Islam.” Dalam riwayat Al-Bukhari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Kami selalu merasa mulia sejak Umar bin al-Khaththab masuk Islam.”

Ya. Inilah Umar. Ilmu dan iman ditopang dengan keperkasaannya, sehingga Islam kian menjulang mulia. Hudzaifah ibnul Yaman menyebutkan, “Ilmu manusia terselip di lubang bersama ilmu Umar bin Khaththab.” Ibnu Mas’ud menegaskan, “Seandainya ilmu Umar diletakkan di satu sisi timbangan dan ilmu seluruh penduduk bumi diletakkan di timbangan lain, niscaya ilmu Umar akan mengungguli ilmu mereka."

Sumber tulisan dan
📷@emfatan

Senin, 18 Desember 2017

Mulia

Oleh: Muhammad Fikri 

Tempat yang mulia
Tempat bersih dan suci
Untuk tempat beribadah umat muslimin
Pusatnya tempat barokah dan mulia
Dari sejak dahulu milik umat muslimin
Tetapi, sekarang musuh muslimin merebutnya
Dan suatu saat, para mujahid akan merebutnya kembali
Mujahid di jalan Allah Ta’ala
Tunggulah kemerdekaan Al-Aqsha!

Sumber: @sahabatalaqsha

*Naskah lolos KUSEN per 15 Desember 2017 

Rabu, 13 Desember 2017

Lahir tanpa Ayah

Oleh: Silvia Maharani

Nabi Isa adalah rasul terakhir sebelum Nabi Muhammad. Dalam kisah Nabi Isa terdapat bukti jelas tentang kehendakNya yang bebas, kekuasaanNya yang mutlak, dan hikmah ciptaanNya yang mendalam. Sebab semua permasalahannya di luar kebiasaan dan di luar jangkauan jika dilihat dari sisi hukum alam.

Namun kelahiran Nabi Isa mudah dicerna dan mudah dipercaya bagi orang-orang yang percaya bahwa Allah Mahakuasa dan bebas berkehendak atas segala sesuatu.

Allah berfirman:
“Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya ‘jadilah’, maka jadilah dia.” (QS. Yaa Siin: 82)

Sebagaimana kelahiran Nabi Isa juga sangat mudah dipercaya bagi orang-orang yang mempercayai penciptaan Nabi Adam dari tanah, tanpa ayah dan ibu.

Sebab kelahiran Nabi Isa dari ibu tanpa ayah lebih mudah bagi Allah dan lebih mudah dibenarkan jika dibandingkan dengan Nabi Adam yang lahir tanpa ayah dan ibu. Karena itu Allah berfirman:

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya ‘jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah dia.” (QS. Ali ‘Imran: 59)

Sahabat


Oleh: Novtinof Khofifah 

Dulu aku membencimu
Dulu aku tak suka padamu
Dulu aku tak ingin menatapmu
Dulu kita tak bisa disatukan
Tetapi ternyata semua itu berubah

Aku mulai bisa memaafkanmu
Aku mulai ingin berteman padamu
Kita mulai bersama mulai bertukar cerita
Memulai dengan canda dan tawa
Menenggelamkan semua perasaan tak suka
Mulai melunturkan semua kebencian padamu
Mulai saling mengerti dan saling melengkapi

Dan entah mengapa
Hingga saat ini
Aku ingin menganggapmu
Sebagai sahabat sejati

*Naskah lolos Kusen per 24 November 2017 


Rabu, 06 Desember 2017

Keberanianmu

Oleh: Silvia Maharani 

Begitu taatnya engkau kepada bundamu
Begitu cintanya engkau kepada saudaramu
Hingga kau rela mengikuti arus sungai itu
Demi menjaga saudaramu
            Demi kebahagiaan bundamu
            Untuk bertemu putranya
            Kau beranikan diri memasuki istana
            Untuk membawa saudaramu
            Kepangkuan ibundanya
Ya, kau adalah saudari Musa
Inginnya kami sepertimu

Amanah dan pemberani 

ENGKAU SANG PEMIMPIN


Oleh: Fatan Fantastik

Setiap orang adalah pemimpin. Kamu pemimpin. Aku pemimpin. Kita semua adalah pemimpin. 

Nggak percaya? Coba perhatikan dirimu. Apa saja yang telah kamu lakukan dari tidur, hingga tidur kembali? Ada yang menekan sebuat remote control, dan kemudian kamu bergerak seperti robot? Tak ada. Kalau pun ada yang menyuruhmu, entah ayah/ibu maupun dosen/guru, kamu masih punya pilihan untuk menolak atau menerima. Asal, siap saja menanggung risikonya...

Begitulah. Kamu adalah pemimpin. Kamu makan apa yang kamu rela memakannya. Kamu habiskan minuman yang kamu sukai. Kamu dengan senang hati menjalani hal-hal yang merupakan hobi-mu. Kamu adalah pemimpin untuk dirimu sendiri. Dan kelak, Allah akan nanyain kamu. Menanyakan semua pilihan yang telah kamu buat untuk dirimu. Semua pilihan. Baik perkataan, perbuatan, bahkan pikiran dan perasaan. Nggak ada yang nggak dimintai pertanggungjawaban.

Jadi? Bijaklah. Adillah dalam memimpin. Beri arahan yang jelas untuk dirimu sendiri dalam melangkah. Beri 'bensin' yang benar untuk 'kendaraan'mu. Sehingga ia dalam kondisi segar dan selamat sampai di tujuan: negeri akhirat.

Pimpinlah dirimu dengan benar. Sehingga ia mengukir prestasi yang patut dikenang. Biarkan dunia mencatat kehebatanmu. Sebagaimana Temudjin.

Ya, namanya Temudjin. Seorang anak yatim. Semenjak menjadi yatim, ia dihina. Dipermalukan. Diperbudak. Dipenjara. Bahkan, nyaris dibunuh. Lalu ia ”mengaum”. Ia pamerkan gigi-giginya yang siap mengoyak-ngoyak tubuh musuh. Ia pimpin dirinya untuk keluar dari kerangkeng kehinaan. Ia bawa dirinya melompat ke ketinggian impian. Ia persatukan bangsa Mongol. Ia ajak mereka menaklukkan dunia. Jadilah ia sang komandan, sang Jenghis Khan. Tekadnya, ”Akan  kubuat bangsa Mongol patuh, meski aku harus membunuh separonya!”

Tapi, kita tak akan mengikuti jejaknya. Kita memang perlu belajar darinya. Tapi tidak usah terseret ke lubang neraka bersamanya. Ada yang lebih patut diteladani. Ya, betul sekali. Dialah Rasulullah SAW, sang panutan sejati. Pemimpin yang paling berpengarauh di seantero bumi, hingga kini. Manusia pilihan ilahi. Ia, paling layak diikuti.


Jadi, hendak kau pimpin kemana dirimu? Hendak kau ”parkir” dimana: di surga kenikmatan yang hijau subur? Atau di neraka yang siksanya membuat tulang hancur lebur?

Senin, 04 Desember 2017

Pemudi Utama Alquran


Oleh: Annafiah Firdaus 

Dua putri Syu`aib!
Aku tahu, yang kalian lakukan amat berat
Melakukan pekerjaan selayaknya laki-laki
Tanpa mengeluh dan mengelak
Demi baktimu pada bapak

Dua putri Syu`aib!
Aku tahu, kalian amat spesial
Karenanya Allah tuliskan kisah kalian
Dalam kitab mulia
Alquran tercinta

Maka, saat langkah kalian malu-malu
Tak ingin mata yang memandang tersipu
Menginginkan diri harus terjaga selalu
Itulah yang kuinginkan pada diriku
Tidak ingin “melihat”
Dan “terlihat”

Dua putri Syu`aib!

Kalianlah pemudi utama Alquran!