Rabu, 31 Januari 2018

MENCEGAH SEBELUM BERULAH


Bisakah kita wujudkan Indonesia yang memiliki 100 % remaja utama? Itulah tugas kita. Menjaga mereka yang sudah terarah. Menguatkan mereka yang melemah. Membimbing mereka yang lengah. Menyelamatkan mereka yang kian parah.

Awalnya dimulai dengan pencegahan. Namun, riset Kaiser dan Rasminsky menunjukkan tidak ada jaminan semua remaja bisa bebas 100 % dari krisis. Usaha pencegahan dapat mengantar 80-90 % remaja menjadi bebas krisis. Lalu bagaimana dengan 10- 20 % remaja yang lain?

Kita perlu pahami masalah dan kebutuhan mereka. Idealnya, jumlah remaja bermasalah hanya sedikit. Namun masalah mereka lebih kompleks. Maka, mereka perlukan penanganan lebih khusus. Mereka perlu diperhatikan. Mereka perlu dukungan. Mereka perlu bimbingan. Mereka perlu diselamatkan.

Siapa yang melakukan? Tentu seluruh pihak yang memiliki perhatian. Orangtuanya, guru di sekolah, figur masyarakat, pakar dan ahli pendidikan, dan pihak lain yang turut peran serta mewujudkan remaja utama.

Lalu, apa yang dilakukan? Bersedia duduk bersama membahas persoalan yang ada dan menggali akar masalah agar dapat menemukan solusi yang tepat.

Kita perlukan langkah-langkah bertahap, terarah, dan solutif sesuai kebutuhan. Jangan sampai masalah ditangani dengan represif, tergesa, reaktif, dan tidak tuntas. Akibatnya, remaja seolah tampak tidak bermasalah di sekolah atau rumah. Tiba-tiba, ada kabar bahwa mereka berulah. Jangan sampai pihak berwenang melaporkan remaja bermasalah tertangkap basah. Maka, kita perlu segera berbenah. Mari.

Sumber: IG @denizdinamiz



RABI


Oleh: Baroroh Itsna Romadlona

Pencipta langit dan bumi
Tempat berpijak dan berlindung diri
Dihamparkan oleh-Nya bumi
Diciptakan surya penyinar siang
Dan bintang yang menembus kegelapan malam
Waktu demi waktu telah ditentukan
Dengan bentuk dan susunan nan menawan
Engkau Maha Pengatur
Apakah manusia tidak mengetahui?
Bahwa esok masing-masing dari kita ini
Akan menghadap Rabi

Sumber: Naskah LOLOS KUSEN Per 26 Januari 2018  



IDEOLOGI REMAJA UTAMA


KITA PERLU REMAJA UTAMA



Senin, 29 Januari 2018

Pujian BagiMu Ya Allah

Oleh: Silvia Maharani

Segala puji bagiMu ya Allah
Yang pertama
Tanpa ada yang mengawali
Yang terakhir
Tanpa ada yang mengakhiri

 Engkau ciptakan makhluk
Dengan kuasaMu
Engkau ciptakan segala sesuatu
Dengan kehendakMu

Segala puji bagiMu ya Allah
Yang memberi kami kemampuan
Untuk mensyukuri nikmatMu

Segala puji bagiMu ya Allah
Dengan segala pujian
Yang dikumandangkan para malaikat
Dan makhluk yang mulia

Segala puji bagiMu ya Allah
Atas segala nikmat yang Kau berikan kepada kami
Hamba-hambaMu
Pujian kami haturkan padaMu
Sebagai penghubung
Untuk menaati dan meraih ampunanMu
Yang dilakukan tulus untukMu
Untuk memperoleh ridaMu
Dan penghantar jalan menuju surgaMu
Segala puji bagiMu Ya Allah

Yang telah menciptakan kami
Sebagai hambaMu
Dan sebagai umat Nabi Muhammad
KekasihMu 


Naskah Lolos KUSEN Per 26 Januari 2018*

SAATNYA KITA BERUBAH



"Kita tidak dapat menunggu. Anak-anak harus kita persiapkan, sekarang juga, agar kelak mereka dapat menjadi remaja utama; remaja yang matang kepribadiannya, memiliki keyakinan hidup yang sangat kuat, arah hidup yang jelas, berbudi, mantap dalam menentukan pilihan, dan produktif. Terlalu mahal harga yang harus kita bayar jika kita lalai menyiapkan mereka. Terlalu banyak waktu yang akan habis sia-sia jika anak-anak itu kelak mengalami krisis identitas yang berkepanjangan. Padahal ini adalah usia yang sangat berharga." (M. Fauzil Adhim)

Itulah tugas kita bersama: Mendidik anak dan remaja kita menjadi Muda-mudi Utama.

Mereka tahu siapa dirinya dan apa yang dia tuju sebagai pribadi. Mereka memiliki keyakinan kuat pada apa yang dia pandang sebagai prinsip. Mereka tidak mudah goyah dengan tantangan dan kondisi penuh tekanan. Mereka menjalankan hidup dengan optimal.

Muda-mudi ini menjadi harapan di masa depan. Mereka akan menjadi barisan pemimpin Indonesia dan dunia. Mereka ini adalah MUDA-MUDI UTAMA (PRIME YOUTH).

Lalu, apa yang diperlukan untuk mendidik anak dan remaja menjadi Muda-mudi Utama?

Untuk itulah, program ini diadakan:

Special Shortcourse
#LesehanJAN Pendidikan
Tema: On Building PRIME YOUTHS: Mendidik Anak dan Remaja menjadi Muda-Mudi Utama.

Membahas :
1. Kita Perlu Remaja Utama
2. Siapakah Remaja Utama?
3. Empat Profil Remaja
4. Bagaimana Memotivasi Remaja?
5. Bagaimana mewujudkan Remaja Utama?

Sesi terdiri dari 14 pertemuan (2 Februari - 4 Mei 2018)
Tiap JUM'AT jam 16.00-17.30
Pembicara: M. Fatan A. Ulum dan Deniz Dinamiz
Fasilitas: ilmu, teman menuntut ilmu, snack dan special drink
Kantor JAN: Kompleks Ponpes Rumah Sajada, Sorolaten, Sidokarto, Godean, Sleman.

Lokasi:
https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah. Bisa langsung via WA dengan klik link ini: http://bit.ly/LESEHAN-JAN

Info dan Pendaftaran :+62895336336005 atau
+62 896-6773-6149

GRATIS (Kuota TERBATAS)

Rabu, 24 Januari 2018

Bersama-Mu, Wangilah Hidupku


Oleh: Tim Kusen 

Alhamdulillah, puji dan syukur kepada Allah Ta`ala atas karunia-Nya sehingga kita semua tetap dalam keadaan beriman kepada Allah. Shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada teladan utama kita, Rasulullah ShaLlaahu `alaihi wa Sallam.

Sobat di mana pun berada, buku yang ada di tangan kalian ini adalah karya para koki di Buletin Nih terutama pada kolom “PUISI” dari edisi 1 - 20. Kemudian, kami jadikan buku menjadi kumpulan puisi “Bersama-Mu, Mewangilah Hidupku”. Besar harapan kami, siapapun yang membaca buku ini semakin kuat imannya bersama Allah dan menjadi wangi karena amal ibadahnya.

Buku kecil ini, meskipun ditulis untuk anak-anak usia SD dan SMP, namun tidaklah mengapa dibaca kalangan usia berapa pun. Karena siapapun itu layak mendapatkan ilmu dengan membaca. Termasuk dari buku ini.


Semoga Allah membalas kebaikan bagi siapapun yang berkontribusi untuk menyelesaikan buku ini. Saran dan masukan, boleh disampaikan kepada kami. 

Sumber: Buku "Bersama-Mu, Wangilah Hidupku." 

Senin, 22 Januari 2018

LESEHAN JAN JANUARI PEKAN KE-3


Memang enak jadi orang pinter. Ia paham cita-citanya. Ia berani memperjuangkannya
Ia percaya dengan kemampuannya. Segala ujian lewat. Belajar, dilakukan sampai liang lahat!

Memang enak jadi orang pinter. Ia bersiap sejak dari garis start. Ia ambil tindakan yang tepat. Ia bikin jaringan yang hebat! Prestasi dapat. Pahala berlipat-lipat!

Memang, gimana caranya dan enaknya jadi orang pinter?

Inilah tema yang akan kita bahas di Lesehan JAN pekan ini. Catat jadwalnya ya:

Waktu  : Jum'at, 26 Januari 2018
Jam     : 16.00-17.30
Pemateri: M. FATAN A. ULUM dan DENIZ DINAMIZ
Tema   : Bedah Buku Belajar 'Enak Bener Jadi Orang Pinter'
Fasilitas  : ilmu, teman menuntut ilmu, Snack dan insya Allah Kopi Kintamani Natural
Tempat Kantor JAN: Kompleks Ponpes Rumah Sajada, Sorolaten, Sidokarto, Godean, Sleman.

Lokasi:
https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah sekali. Bisa langsung via WA dengan klik link ini: http://bit.ly/LESEHAN-JAN

Atau hubungi CP: 0895 336 336 005

Gratis
Sebar & ajak teman!

PEMUDA HARUS TAHU (2)


Oleh: Yusuf Wicaksono 

"Penerimaan terhadap sugesti", menjadi kharakteristik seseorang di fase mudanya. Demikian cuplikan pendapat Muhammad Quthb yang tertulis dalam buku Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga (terjemah) karya Muhammad Abdullah ad-Duwaisy.

Urusan menerima sugesti, Muhammad Qutb melanjutkan, "Seorang pemuda akan tergantung dan terinspirasi oleh idolanya."

Sekarang kita dapat kata kuncinya, hal lain yang berpengaruh pada diri seorang pemuda; adalah idola. Seorang pemuda akan melihat bagaimana sang idola berperilaku, bergaul, berpenampilan, dan ber- ber- lainnya yang itu menyangkut gaya hidup dan pola pikirnya.

Sebuah kesempatan emas bagi musuh-musuh Islam ketika mengetahui hal tersebut. Dan pasti mereka sudah tahu. Lalu, mereka tidak akan diam. Mereka tidak akan membiarkan pemuda mulai beriman, dekat dengan Rabbnya, cinta nabinya, tinggi ilmunya, dekat dengan amal shalih, dan mengurusi umat manusia lantaran meneladani yang benar.

Mereka anggap pemuda lahan cocok tanam yang sangat subur, saking suburnya apa yang ditanam tidak lama lagi pasti segera tumbuh. Maka dengan segera mereka taburkan benih-benih keburukan.

Coba lihat apa yang mereka tanam. Mereka "tanam" berbagai tokoh idola kepada para pemuda. Mulai yang kelas teri sampai kelas kakap. Dari upin-ipin sampai yang katanya super hero tapi bohongan. Dari artis lokal sampai yang mancanegara. Semua dibungkus dengan apa-apa yang menjadikan indah pandangan mata.

Apakah ada idola yang bisa dijadikan teladan utama? Menjadi "super hero" betulan yang dapat jadi panutan baik? Ada. Tapi karena banyaknya idola (buruk) yang dimunculkan. Idola yang baik dan super hero betulan "seakan" menjadi tidak terlihat.

 Di manakah para idola utama itu, di manakah super hero betulan itu, yang mampu menjadi teladan baik bagi para pemuda? Lihatlah, sebagian mereka ada dalam lembaran-lembaran sejarah para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sumber: IG @dik_yusuf 

Minggu, 21 Januari 2018

PEMUDA HARUS TAHU (1)



Oleh: A. Yusuf Wicaksono


Anggapan "kurang tepat", menjadikan pemuda bertingkah sesuai dengan apa yang dianggapkan kepada dirinya.

Andai orang-orang disekitarnya menganggap mereka masih anak-anak, belum bernilai, belum berbobot dan anggapan-anggapan sejenisnya, bisa dilihat hasilnya di masjid, atau di program-program sosial masyarakat. Apakah mereka ada di sana?

Sebagaimana mereka dianggap masih anak-anak, maka mereka menganggap dirinya masih berada di masa anak-anak. Akibatnya, masa anak-anak mereka semakin panjang. Begitu komentar Muhammad Abdullah ad-Duwaisy dalam buku Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga.

Tidak hanya itu, sembunyinya pemuda di balik masa pubertas juga membahayakan, di saat itu anggapan orang-orang di sekitarnya "tidak mengapa, masih puber."


Puber itu kan bahasa kerennya usia baligh. Kalau begitu, pemuda sudah harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Sendiri! Kalau berbuat buruk, ya dapat dosa. Kalau baik, ya dapat pahala. Bukan langsung termaafkan begitu saja.

Anggaplah mereka seperti para sahabat, usia belasan sudah beriman dan berjuang. Sudah taat dan tidak menganggap dirinya anak-anak.

Sumber Naskah: IG @dik_yusuf

Jumat, 19 Januari 2018

TERGIUR UNTUK TIDUR


Oleh: Deniz Dinamiz

Ngantuk berat. Mata nggak mau diangkat. Nggak ada pilihan lagi! Aku harus bangun pagi! Segarkan diri dengan secangkir kopi!

Eit! Apa kamu termasuk dia? Setiap pagi harus menggugah diri dengan secangkir kopi. Setelah satu cangkir ditelan, beberapa menit kemudian, siap beranjak jalankan aktivitas! Itu yang kamu rasakan?

Hehe. Kamu salah sobat. Kopi itu terasa khasiatnya setelah kurang lebih 1 jam. Kalau iya terasa bertenaga sebelum 1 jam, itu lebih karena perasaan kita sendiri. Sugesti, kata orang Psikologi.

Namun demikian, kopi tetap menawan. Mengundang perhatian. Memang kopi punya kemampuan membunuh kantuk seperti yang dikatakan banyak orang. Terutama robusta. Tapi apa yang belum tentu mereka tahu adalah dampak setelah meminumnya. Dalam jumlah berlebihan terutama. Lebih parah lagi, yang punya kebiasaan minum minuman berenergi. Apa sih rahasianya? Mereka punya satu kandungan yang sama: kafein.

Sebagian besar manusia, pola tidur dan bangunnya dipengaruhi oleh matahari dan iklim. Kafein membantu seseorang untuk melawan pola tidur dan bangun yang sudah tertanam dalam diri.. jelas Czeisler, seorang ahli tidur (peneliti, bukan tukang tidur).

Di sisi yang lain, ada harga yang sangat, sangat besar yang harus dibayar untuk efek bangun yang ekstra ini.

Tanpa tidur yang cukup, tubuh manusia tidak dapat berfungsi secara optimal. Baik secara fisik, mental, dan emosional. Pada mereka yang sudah ketagihan berat, otaknya tidak dapat berfungsi secara normal tanpa asupan kafein.

Jadi, ada nggak sih cara lain untuk menggugah diri ketika merasa ngantuk berat? Seperti disebutkan Czeisler, pola tidur dan bangun dipengaruhi matahari. Artinya, dengan melihat terbitnya matahari, irama tidur dan bangun (disebut juga irama sirkadian) akan menjadi normal.

Nggak heran, mereka yang kerjaannya cuma di dalam kamar ketika pagi, akan merasa lemes sepanjang hari. Sedangkan mereka yang sebelum terbit matahari sudah subuh di masjid, lalu pulang mengguyur tubuh dengan sinar mentari pagi, bakal hadapi hari dengan wajah berseri! Insya Allah.


Sumber naskah: IG @denizdinamiz 

BARISAN PERTAMA


Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Tinta-tinta sejarah telah menuliskan betapa utamanya pemuda-pemuda di masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka menempati barisan pertama dalam menyambut seruan tauhid dan teguh memegangnya.

Tentu tidak asing pada pendengaran kita tentang As-Sabiquna Al-Awwalun, yaitu mereka yang pertama-tama masuk Islam. Banyak dari mereka adalah pemuda yang usianya di bawah dua puluh tahun atau lebih sedikit.

Di antara barisan paling depan ada Ali bin Abi Thalib, kemudian menyusul Sa'ad bin Abi Waqqash, Zubair bin al-Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Kemudian mereka yang memeluk Islam sebelum masuk ke rumah al-Arqam di antaranya Khabbab bin Al-Art, Sa'id bin Zaid, Abdullah bin Mazh'un, Qudamah bin Mazh'un, Mas'ud bin Ar-Rabi', dan termasuk Al-Arqam bin Abil Arqam yang menyatakan keislamannya saat masih muda.

Gelombang perkembangan orang-orang yang masuk Islam semakin tinggi. Rumah Al-Arqam menjadi saksi mereka-mereka yang masih muda berdatangan dan berbai'at kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Lalu, kita alihkan pandangan pada pemuda di negeri Hijrah. Di kalangan kaum Anshar pun juga tidak ketinggalan. Salah satunya adalah Iyas bin Mu'adz Al-Anshari, ia menerima Islam ketika kaumnya belum mampu melihat terangnya cahaya kebenaran.

Sudah pasti bukan hanya mereka yang tertulis dalam lembaran sejarah. Mereka hanya sebagian kecil dari pemuda-pemuda di barisan depan yang menerima cahaya Islam. Meski masih muda, mereka layak menjadi sosok teladan.

Sumber naskah: IG @dik_yusuf

Senin, 15 Januari 2018

Hidup Bahagia


Oleh: Deniz Dinamiz 

Hidup sulit bahagia ketika kompas dalam memilih adalah hanya apa yang ringan dan disukai.
Hidup mudah bahagia ketika kompas dalam memilih adalah apa yang benar dan penting/layak diperjuangkan.

Maka, apa kompas yang benar itu? Apa yang menentukan pilihan studi, kerja, jodoh, dan segala prioritas dalam hidup kita?

Ambillah pilihan-pilihan hidup dengan berdasarkan Fillah dan Lillaah. Di jalan Allah, dengan cara yang diridhoi Allah. Karena Allah, dengan tulus bersih mengharap ridho Allah. Mencintai, membenci, memberi, dan menahan memberi karena Allah.


Sungguh kebahagiaan dan ketenangan itu hadir ketika Allah yang senantiasa menjadi tambatan rasa dan pikir

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (Q.S. Ar-Ra'du ayat 28)

Sumber: IG @denizdinamiz

Menulis Ilmu (2)

Lesehan Jum`at, 12 Januari 2018
Oleh: M. Fatan A. Ulum 


Mari kita simak sendiri penuturan Sa’id tentang proses belajarnya, “Aku berjalan bersama Ibnu Abbas di suatu jalan di Mekkah saat malam hari. Beliau menyampaikan hadits kepadaku dan aku menulisnya di tengah pelana unta. Sehingga, datanglah waktu pagi, lalu aku menulisnya kembali.” Luar biasa bersemangatnya. Kelak, Sa’id bin Jubair akan menjadi murid terbaik Ibnu Abbas, rekan paling istimewa, dan santrinya yang paling produktif.

Sa’id juga mempelajari bahasa sampai menjadi ahlinya. Hingga pada gilirannya, tak ada seorang pun di masanya yang tidak memerlukan ilmunya. 

Kemudian Sa’id melanjutkan pengembaraan ilmunya ke berbagai wilayah muslimin hingga Allah berkehendak memberinya ilmu nan melimpah. Setelah itu, Sa’id bin Jubair memutuskan tinggal di Kufah dan menjadi sandaran banyak orang.

Ketika Ibnu Abbas diminta fatwa oleh penduduk Kufah, Ibnu Abbas malah bertanya, “Bukankah di tengah kalian ada Ibnu Ummi ad-Duhama’?” Yaitu maksudnya adalah Sa’id bin Jubair.

Begitu pula ketika Ibnu Umar ditanya mengenai warisan (faridhah), Ibnu Umar menjawab, “Temuilah Sa’id bin Jubair, karena dia lebih mengetahui ilmu hitung daripada aku. Dia akan menetapkan sesuatu sesuai dengan yang seharusnya.”


Khashif berkata, “Orang yang paling mengetahui tentang Al-Quran adalah Mujahid; orang yang paling mengetahui tentang haji adalah Atha’; orang yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Thawus; orang yang paling mengetahui tentang perceraian adalah Sa’id bin al-Musayyib. Dan, orang yang menghimpun ilmu-ilmu tersebut adalah Sa’id bin Jubair.”

#Yangmudayangmencitasurga

Sumber naskah: IG @emfatan 

Kamis, 11 Januari 2018

LESEHAN JAN


Ujian, bagi sebagian orang, seperti hantu yang menyeramkan. Ia menteror hari-harinya, dan membuatnya mempersiapkan diri dengan penuh kecemasan.

Ah, ujian memang sering bikin keringatan, jantung berdebaran, sampai bisa membuat pingsan! Apakah di antara kita pernah mengalaminya?

Maka, bagaimana menyiapkan murid atau anak atau bisa jadi diri kita agar sukses ujian tanpa stress? Agar setiap ujian, kita bisa melakukan persiapan dengan matang?

Inilah tema yang akan kita bahas. Catat jadwalnya ya:

Waktu             : Jum'at, 12 Januari 2018
Jam                 : 16.00-17.25
Pemateri         : M. FATAN A. ULUM
Tema               : Menyiapkan Murid/ Anak untuk Sukses Ujian tanpa Stress
Fasilitas           : ilmu, teman menuntut ilmu, Snack dan insya Allah Kopi Arabica Gunung Ijen:
Tempat            : Kantor JAN yaitu di Kompleks Ponpes Rumah Sajada, Sorolaten, Sidokarto, Godean, Sleman.


Lokasi:
https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah sekali. Bisa langsung via WA dengan klik link ini:
https://goo.gl/DFWjEU

Atau hubungi CP: 0895 336 336 005

*Gratis*
Sebarkan dan ajak teman-temanmu ya..! 

Rabu, 10 Januari 2018

MENULIS ILMU (1)


Oleh: @emfatan

Dia adalah pemuda yang kekar badannya, sempurna bentuk tubuhnya, tangkas dan gesit gerak-geriknya. Di samping itu, cerdas akalnya, antusias terhadap kebajikan, dan menjauhi dosa.

Warna kulitnya yang hitam, rambutnya yang keriting, dan asalnya yang dari Habasyah, tak menjatuhkan rasa percaya dirinya untuk menjadi manusia istimewa, apalagi dengan usianya yang masih muda. Demikian Abdurrahman Ra’fat al-Basya memperkenalkan kita dengan sosok mulia ini: Sa’id bin Jubair.

Lahir di kota Kufah pada tahun 38 H, Sa’id mencintai ilmu semenjak kecil. Dia tempuh hidupnya tanpa berleha-leha dan berpangku tangan. Orang-orang mengenalnya sebagai pemuda yang tekun mempelajari kitab-kitab. Dia hadiri halaqah (pengajian) para Sahabat Rasulullah SAW, mereguk manisnya ilmu dari mereka, dan meriwayatkan sejumlah hadits Nabi SAW dari mereka.

Sa’id bin Jubair menimba ilmu dari para Sahabat utama, diantaranya adalah Anas bin Malik, Abu Sa’id al-Khudri, Adi bin Hatim ath-Thayy, adh-Dhahhak bin Qais, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah ad-Dausi, Abdullah bin Umar, bahkan juga Ummul Mukminiin ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa. Tapi, guru utamanya adalah Abdullah bin Abbas, sang Tinta Umat.

Sa’id mendampingi Ibnu Abbas layaknya bayangan. Dari Ibnu Abbas-lah, Sa’id bin Jubair belajar menggali tafsir Al-Quran, hadits-hadits dan seluk beluknya. Juga berbagai persoalan agama maupun tafsirnya. Hingga pun berada di atas pelana unta, menjadi momen yang sangat berharga dalam mengikat ilmu dari sang gurunda.

#Yangmudayangmencitasurga
#KILMdM

Sumber foto dan tulisan: IG @emfatan