Senin, 15 Januari 2018

Menulis Ilmu (2)

Lesehan Jum`at, 12 Januari 2018
Oleh: M. Fatan A. Ulum 


Mari kita simak sendiri penuturan Sa’id tentang proses belajarnya, “Aku berjalan bersama Ibnu Abbas di suatu jalan di Mekkah saat malam hari. Beliau menyampaikan hadits kepadaku dan aku menulisnya di tengah pelana unta. Sehingga, datanglah waktu pagi, lalu aku menulisnya kembali.” Luar biasa bersemangatnya. Kelak, Sa’id bin Jubair akan menjadi murid terbaik Ibnu Abbas, rekan paling istimewa, dan santrinya yang paling produktif.

Sa’id juga mempelajari bahasa sampai menjadi ahlinya. Hingga pada gilirannya, tak ada seorang pun di masanya yang tidak memerlukan ilmunya. 

Kemudian Sa’id melanjutkan pengembaraan ilmunya ke berbagai wilayah muslimin hingga Allah berkehendak memberinya ilmu nan melimpah. Setelah itu, Sa’id bin Jubair memutuskan tinggal di Kufah dan menjadi sandaran banyak orang.

Ketika Ibnu Abbas diminta fatwa oleh penduduk Kufah, Ibnu Abbas malah bertanya, “Bukankah di tengah kalian ada Ibnu Ummi ad-Duhama’?” Yaitu maksudnya adalah Sa’id bin Jubair.

Begitu pula ketika Ibnu Umar ditanya mengenai warisan (faridhah), Ibnu Umar menjawab, “Temuilah Sa’id bin Jubair, karena dia lebih mengetahui ilmu hitung daripada aku. Dia akan menetapkan sesuatu sesuai dengan yang seharusnya.”


Khashif berkata, “Orang yang paling mengetahui tentang Al-Quran adalah Mujahid; orang yang paling mengetahui tentang haji adalah Atha’; orang yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Thawus; orang yang paling mengetahui tentang perceraian adalah Sa’id bin al-Musayyib. Dan, orang yang menghimpun ilmu-ilmu tersebut adalah Sa’id bin Jubair.”

#Yangmudayangmencitasurga

Sumber naskah: IG @emfatan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar