Jumat, 23 Februari 2018

Remaja Indonesia, Remaja Paripurna!



Offer and Schonert-Reichl, 1992, menunjukkan bahwa di hampir seluruh bagian dunia, hanya 1 dari 5 remaja bersekolah yang mengalami krisis identitas. Ini berarti bahwa sebagian besar remaja sebenarnya tidak mengalami krisis. 80% dari mereka memasuki masa remaja dan melaluinya tanpa harus menghadapi badai dan keguncangan mental. Beda dengan apa yang dianggap sebagian orang yang tidak paham sejarah pemuda-pemuda hebat dan kenyataan di daerah beradab mulia.

Inilah yang seharusnya ada pada remaja kita, yakni seharusnya mereka yang mengalami krisis hanyalah sebagian kecil. Bahkan, tidak perlu krisis, jika bisa. Jika cara tiap pihak yang mengasuh, mendampingi, dan mendidik mereka benar, maka jumlah remaja yang mengalami krisis bisa diminimalisir.

Apa keuntungannya jika masa remaja tidak dihabiskan untuk menghadapi kekacauan identitas diri? Mereka dapat lebih berkonsentrasi meraih prestasi, mengembangkan diri, mengasah kepekaan mereka kepada orang lain termasuk berkait dengan tugas hidup mereka di tengah masyarakat, menumbuhkan tanggung-jawab dan melatih kepedulian.

Jadi bukan sekedar tidak terpapar masalah. Sekedar terbebas dari narkoba, kecanduan games, seks bebas, dan sejenisnya, bukan berarti mereka akan menjadi remaja produktif dan berbudi. Untuk itu, kita harus mengenali status identitas remaja yang kita dampingi, agar dapat membantu sesuai kebutuhan mereka.

Ada empat status identitas remaja sebagaimana disebutkan oleh James E. Marcia, yakni:
1. Identitas Paripurna atau dikenal dengan Identity Foreclosure,
2. Identitas Sembuh atau Identity Achievement,
3. Identitas Sakit atau Identity Moratorium,
4. Identitas Mengambang atau Identity Diffusion.

Selengkapnya insya Allah kita bahas bersama sore ini di #LesehanJAN #4. Kalau belum berkesempatan datang, bisa juga simak kultweet di @JANtraining. Kuy! Ngaji, ngobrol, en ngopi bareng kita emang cihuy!

Sumber Naskah: IG @denizdinamiz


Tidak ada komentar:

Posting Komentar