Rabu, 28 Maret 2018

Saat Sudah Baligh


Oleh: Atik Setyoasih 

Hal yang amat menarik ketika seorang wanita ataupun laki-laki telah mengalami baligh.

Apa yang menarik? Muhamammad Qutbh dalam “Manhaj At-Tarbiyah Al-Islamiyah” mengatakan bahwa puasa dan shalat menjadi wajib baginya. Padahal sebelumnya hanya sebagai kebiasaan saja. Inilah isyarat bagi para pemuda dan pemudi telah memasuki usia taklif. Usia yang bisa mendatangkan pahala dan dosa (beban syar`i). Selain itu, saat baligh atau dewasa sudah seharusnya pula mampu bertanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakat. Sebagai lelaki dewasa. Juga sebagai wanita dewasa. Seorang pemudi sudah harus mampu mengurus keluarga yang menjadi medan utamanya. Seorang pemuda, sudah harus mampu menjadi pemimpin bagi keluarga dan masyarakatnya.

Maka, ada PR besar pada diri kita jika sudah baligh kok belum siap melakukan itu semua. Melakukan pekerjaan-pekerjaan layaknya laki-laki ataupun wanita dewasa. Padahal usia ini bukanlah usia main-main. Ini adalah usia puncak-puncaknya kekuatan, keberanian, keindahan sebagai seorang pemuda. Usia-usia yang diharapkan sebagai garda terdepan dalam melakukan upaya perbaikan di semua sisi kehidupan.

Jadilah teringat pada kisah dua orang pemudi yang tertulis indah di dalam Al-Qur`an. Indah sekali. Namanya memang tidak disebutkan dengan terang. Tetapi kisahnya bisa kita ambil pelajaran. Kita telah mengenal namanya sebagai dua orang putri Syu`aib. Ya. Dia teramat berbakti kepada sang bapak. Hingga baktinya mengalahkan rasa enggannya untuk menggembalakan kambing milik bapak yang saat itu sudah renta.

Dua pemudi tadi, sudah semenjak awal memiliki rasa tanggung jawab. Mereka bersedia bekerja sebagai penggembala kambing di tengah gurun pasir yang tandus tiada air. Padahal mereka tahu, pekerjaan itu layaknya adalah untuk lelaki. Pekerjaan itu sungguh sejatinya berat dan melelahkan.

Apakah dua pemudi tadi mengalami keresahan dan keguncangan saat usianya sudah balilgh? Tidak! Mereka justru sangat damai dan bahagia karena bisa berbakti kepada kedua orang tuanya. Mereka hidup tidak layaknya laki-laki dan wanita di luar yang hanya menghabiskan waktunya untuk bermain dan melakukan kesia-siaan. Dua putri Syu`aib tidak mengalami krisis, tidak bingung arah ke mana kaki akan melangkah. Mereka, hidup dalam suasana keluarga dan masyarakat yang sederhana tanpa aneh-aneh.

Jadilah mereka dua pemudi pilihan Allah yang dimuliakan dengan ditulis kisahnya di dalam Al-Qur`an. Atas sikap bertanggungjawabnya. Baktinya kepada orang tuanya. Kuat hatinya untuk melakukan pekerjaan berat. Dan mereka tidak mengalami krisis sebagaimana orang-orang yang jauh dari bimbingan Allah. Menariknya lagi, di akhir kisahnya beliau bertemu dengan seorang pemuda bernama Musa. Pemuda sholih, kuat, dan yang jelas baru saja lari dari kejaran musuh Allah untuk menyelamatkan diri. Menikahlah Musa dengan satu di antara putri Syu`aib tadi. Tanpa pacaran. Tanpa mengalami guncangan dan keresahan.

Aduhai kita ini. Yang sudah baligh dan seharusnya bertanggung jawab terhadap semua pilihan-pilihan hidup kita. Semoga kita menjadi remaja utama. Remaja yang teguh prinsip dan keyakinannya. Remaja yang memiliki profesi pekerjaan yang dicintaiNya. Serta remaja yang tahu bagaimana menjalin hubungan dengan sesama. Kepada orang tua, guru, teman, bahkan kepada calon pasangan kita #eh 

Sabtu, 24 Maret 2018

Lesehan JAN “ON BUILDING PRIME YOUTHS” #8 (Jum`at, 23 Maret 2018) tentang Isu ke-3 Remaja Utama: Hubungan dan Cinta

Lesehan JAN, 23 Maret 2018 

1. Cinta menurut KBBI adalah luapan hati dan gejolaknya saat dirundung keinginan untuk bertemu/dekat dengan sang kekasih.

2. Cinta yang paling tinggi menurut N. Ulwan adalah cinta kepada Allah. Kemudian cinta kedua adalah mencintai sesuatu karena Allah. Terakhir adalah cinta kepada Allah dikalahkan oleh cinta yang lain.

3. Cinta menurut pengaruhnya pada hormon otak: - infatuation (naksir) - passionate love (cinta karena nafsu) - romantic love (cinta romantis) yang berefek pada otak seperti obsesif konpulsif - bond love (cinta karena ikatan) menghasilkan oxytoxcin yang menenangkan.

4. Ada yang bilang infatutation itu cinta hanya karena fisik. Sedangkan pada obsesif kompulsif yang muncul adalah sampai pada melihat benda apapun yang terbayang adalah wajah yang dicintai.

5. Para ulama jaman dahulu yang memperbolehkan nikah usia dini, mereka menikahkan anaknya pada usia 9 tahun, bahkan ada yang menikahkan anaknya ketika usia 5 tahun.

6. Tingkatan cinta yang lebih tinggi adalah cinta karena memiliki visi atau tujuan yang jelas. Tidak hanya karena ikatan (bond love).

7. Solusi kenakalan anak muda, solusi untuk kegalauan anak muda adalah dengan menikah (Khalid Asy-Syantut).

8. Pernikahan usia muda tanpa persiapan berbeda dengan pernikahan usia dini tetapi dengan kesiapan.

9. Maka yang diperlukan adalah persiapan. Karena untuk sukses dalam hal apapun itu perlu dipersiapkan, perlu persiapan yang matang.

10. Persiapan yang utama untuk menikah adalah niat dan iman. Niat yang benar untuk apa menikah.

11. Jatuh cinta dengan bangun cinta itu berbeda. Jatuh cinta itu tanpa persiapan, datang tiba-tiba. Berbeda dengan membangun cinta yang dilakukan dengan penuh kesadaran.

12. Maka jatuh cinta itu menggelisahkan, sedangkan membangun cinta itu menguatkan arah.

13. Usia terbaik untuk menikah. Menurut kacamata psikologis adalah pada usia 18-24 th (Holfman, et.al., 1994; Papalia, et.al., 2014).

14. Namun yang terpenting bukanlah pada usia berapa seseorang menikah, tetapi yang terpenting adalah apakah dia siap menikah atau tidak. Maka persiapan ini yang perlu digarisbawahi.

15. Apa saja yang perlu disiapkan? - persiapan mental - persiapan ilmu - bangun orientasi menikah yang jelas.

16. Siapkan mentalmu! Siap menerima. Sebanyak apapun persamaanmu, pasti juga ada perbedaan. Siap menerima, bukan meninggikan harapan. Semakin tinggi harapan maka akan semakin susah mencapainya.

17. Dengan siap menerima, berbagai perbedaan itu tidak akan menjadi penting. Masing-masing tidak akan mudah merasa kecewa.

18. Jika kita sibuk mencari kekurangan, maka akan banyak sekali yang ditemukan. Bahkan yang seharusnya menjadi kelebihan malah menjadi kekurangan. Maka jangan sibuk dengan kekurangannya! Sibukkanlah dengan mencari hal-hal yang baik padanya!

19. Siapkan mentalmu. Siap berubah, saling menyesuaikan diri. Ini adalah konsekuensi dari berbagai perbedaan yang ada antara kedua pasangan. Bedakan antara nilai dan ekspresi.

20. Jadilah bermental pemenang, bukan mental pecundang. “Susah tapi mungkin, atau mungkin tapi susah?” Pola pikirnya akan berbeda. Maka jadilah yang siap menghadapi tantangan.

21. Segerakan tapi jangan tergesa-gesa. Memiliki kesiapan meskipun belum ada rencana menikah itu lebih baik daripada tiba-tiba menikah tanpa ada kesiapan.

Sumber: Twitter @JANtraining





Kamis, 22 Maret 2018

Digiling bukan Disobek, Dipersunting bukan Dicolek


Di antara isu penting bagi seseorang agar bisa menjadi Remaja Utama adalah masalah hubungan dan cinta. Yap. Cinta. Kamu pernah merasakan?

Tema cinta bukan perkara baru buat remaja. Sudah sejatinya seorang remaja utama punya prinsip dalam segala hal, termasuk cinta. Lalu, kalau kamu pemuda perindu surga, cinta seperti apa yang layak kamu damba? Tentu saja cinta yang dicintai oleh Yang Maha Mencinta. Cinta antara laki-laki dan perempuan, yang diikat dengan tali impian: pernikahan.

Terus caranya gimana? Emang bisa ketemu orang begitu saja terus diajak nikahan? Nah, itulah pentingnya proses. Jangan seperti kopi instan yang tinggal sobek lalu tuang, cinta juga jangan asal colek ajak pacaran karena sama-sama senang. Kopi instan di lidah nikmat tapi di organ tubuh membahayakan. Pacaran nikmat sesaat, di akhirat kelak mendapat siksaan. Hiii...

Selalu menarik ya membicarakan tentang hubungan dan cinta. Inilah isu ke-3 Remaja Utama yang perlu diselesaikan. Kita bahas lebih dalam ya di Lesehan JAN "On Building Prime Youths" #8 tema "Isu Remaja ke-3: Hubungan dan Cinta."

Waktu dan tempat seperti biasa:
🕓Jum'at, 23 Maret 2018
Jam 16.00-17.30

Bisa daftar langsung via WA dengan klik link ini: http://bit.ly/LESEHAN-JAN
Informasi dan Pendaftaran:
📣 Cp : +62895336336005 atau +62 896-6773-6149
🐤 Twitter : @JANtraining & @buletinnah
💻 IG : @jantraining & @buletinnah


Mari luangkan dan lapangan hati. Sejenak duduk sambil ngopi, membicarakan masa depan kita semua!

Rabu, 21 Maret 2018

Guruku Tercinta


Oleh: M. Rosyad

Guruku
Engkau pahlawan tanpa tanda jasa
Engkau adalah orang tuaku di sekolah
Kau mendidikku agar berprestasi
Dan berakhlak mulia

Engkau mengajariku beraneka macam ilmu
Kau mengajariku dengan ikhlas
Dan penuh kesabaran
Aku akan selalu mengingat jasamu
Terima kasih guruku
Jasamu kan kukenang selalu sepanjang masa

*Naskah Lolos Kusen per 20 Maret 2018 


Sabtu, 17 Maret 2018

LESEHAN @JANtraining “ON BUILDING PRIME YOUTHS” #7 (16 Maret 2018) dengan tema “Isu Remaja ke-2: PROFESI”


1. Profesi merupakan salah satu dari tiga isu utama remaja yang harus diselesaikan oleh remaja utama.
2. Salah satu pembahasan dalam profesi yang pernah diteliti oleh @denizdinamiz adalah tentang kematangan memilih pekerjaan. Kematangan memilih profesi ini akan berkonsekuensi terhadap kemantapan dalam memilih profesi.
3. Remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa.
4. Masa anak-anak ditandai dengan ketergantungannya terhadap orang yang lebih dewasa. Maka masa remaja berarti bagaimana muncul kesadaran dari dirinya bahwa selamanya tidak bisa seperti itu. Sehingga muncul kemandirian dalam dirinya.
5. Hal ini nanti juga akan berhubungan dengan isu yang ketiga: hubungan dan cinta. Bagaimana akhirnya remaja dapat menjalin hubungan yang baik dengan keluarga, teman, dll. Yang insyaAllah akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
6. Kemandirian yang dimaksud mencakup banyak hal, termasuk mandiri finansial. Untuk itu, remaja memerlukan kompetensi yang memadai.
7. Di antara kompetensi itu adalah kompetensi akademis, kompetensi karir, dan kompetensi hidup. Pada kesempatan kali ini kita akan lebih fokus pada kompetensi akademis dan karir.
8. Kompetensi berbeda dengan ability. Ability adalah kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu. Sedangkan kompetensi adalah kemampuan seseorang melakukan suatu hal dengan standar tertentu.
9. Kompetensi akademis. Kompetensi akademis tidak sekadar menguasai ilmu yang dipelajarinya. Tetapi kompetensi akademis juga mencakup sikap dan keterampilan dalam belajar.
10. Pembahasan ini dalam Islam sudah dibahas dan ditekankan sejak lama dengan bahasa 'adab'. Manakah yang lebih penting? Sikap/adab belajar atau keterampilan belajar?
11. Yang lebih utama adalah sikap belajar. Orang dengan sikap belajar yang baik, maka dia akan memiliki kesungguhan dalam belajar. Maka ketika ada guru yang entah killer, lembut dia akan tetap semangat dalam belajar meski ketika tidak hadir.
12. Dalam taksonomi Bloom, sikap belajar ini masuk dalam afektif. Ciri yang menunjukkan sikap belajar adalah menerima, merespon aktif, menilai positif, dan meyakini.
13. Cara membangun (bukan membentuk. Dua hal yang berbeda. Yang kita inginkan adalah membangunnya bukan membentuk) sikap belajar:
14. Habituation - habit forming. Bermula dari instruksi, kemudian perilaku, dan menjadi kebiasaan (habit). Sedangkan habit building prosesnya adalah dari positive feeling - thought - attittude-action (expexted behavior) - habit-character-destiny-thouht (positive feeling include)
15. Maka yang harusnya kita lakukan adalah habit building. Yang mengikutsertakan positive feeling, sehingga kebiasaan itu menjadi karakter dalam dirinya.
16. Kompetensi karir. Hal ini mencakup hard skill dan soft skill. Keduanya harus dimiliki, tidak hanya salah satunya.
17. Karir atau profesi berperan agar remaja: - matang dan dewasa secara pribadi - memiliki kepercayaan diri pada kompetensi yang dimiliki - menjadi pribadi yang bermanfaat - menyadari pilihan profesi sebagai wujud ideologi yang diyakini. (John Head, 1997)
18. Profesi apa saja yang disebutkan dalam Al-Quran? Ada petani, tukang kebun, tukang kayu, dan peternak/penggembala domba. Tentu profesi-profesi ini adalah mulia.
19. Tujuan dari pendidikan adalah berpuncak pada keinginan untuk memperoleh ridho Allah SWT.
20. Hal ini akan berkonsekuensi terhadap sikap belajar. Maka kondisi apapun yang terjadi (panas dinginnya ruang), tipe-tipe guru (killer, lembut, dll), tidak menjadi suatu hal yang menghambat dalam mencari ilmu.
21. Maka mencari ilmu merupakan mujahadah (usaha sungguh-sungguh) dalam rangka menguatkan jiwa guna mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.
22. Kesungguhan mencari ilmu tersebut tidak sekadar untuk mendapatkan sebuah pekerjaan atau memiliki sebuah profesi. Kalau dalam islam bukan untuk itu. Justru rizki sudah ditentukan oleh Allah.
23. "Dan tidak ada satupun hewan melata di muka bumi ini, kecuali rizkinya telah ditetapkan oleh Allah. Dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfuzh)." (QS. Hud: 6)
24. Makna rizki adalah apa saja yang diberikan Allah SWT yang diperoleh manusia. Baik yang bisa dimanfaatkan atau tidak. Sehat dan sakit, miskin dan kaya, nilai ujian baik atau srmua itu adalah rizki dari Allah.
25. Barangkali dengan sakit justru seseorang akan (dikaruniai) berdoa dengan khusyuk. Barangkali dengan mendapat nilai yang jelek dia akan diarahkan untuk belajar dengan lebih giat, bukan malah enak-enakan atau tidak belajar lagi karena mendapat nilai yang baik.
26. Kembali, maka menuntut ilmu, memilih profesi, melakukan pekerjaan, semua itu ditujukan (hanya) untuk meraih ridha Allah.

#lesehanJAN #isuremaja #remajautama 






Kamis, 15 Maret 2018

Profesi: Menjemput Rizki, Menggapai Ridho Ilahi

@b u l e t i n n a h 

Remaja adalah masa transisi atau peralihan dari anak-anak ke dewasa. Secara peran, masa transisi ini juga merupakan masa berubahnya peran seseorang, yaitu sebagai anak-anak yang memiliki ketergantungan kepada orang tua/ orang lain menjadi orang dewasa yang mandiri. Mandiri dalam banyak hal, termasuk finansial. Untuk itu, seorang remaja memerlukan kompetensi yang memadai.

Di antara kompetensi yang diperlukan adalah kompetensi akademik dan karir. Kompetensi akademik adalah kemampuan yang diperlukan untuk mencapai kualitas akademis/ pendidikan yang diharapkan, seperti sikap belajar (learning attitude) dan ketrampilan belajar (learning skill). Sedangkan kompetensi karir adalah kemampuan yang diperlukan untuk mencapai kualitas pekerjaan atau profesi yang diharapkan, seperti ketrampilan teknis (hard skill) dan ketrampilan personal (soft skill).

Bagi remaja, memiliki profesi bukan hanya sekadar agar bisa mandiri secara finansial. Menurut John Head, profesi berperan agar remaja :
1. matang dan dewasa secara pribadi.
2. memiliki kepercayaan diri pada kompetensi yang dimiliki.
3. menjadi pribadi yang bermanfaat.
4. menyadari pilihan profesi sebagai wujud ideologi yang diyakini.

Dalam buku "Kurikulum Pendidikan Empat Mazhab" oleh Dr. Pahrurroji M.B., tujuan dari pendidikan menurut empat imam mazhab adalah berpuncak pada keinginan untuk memperoleh ridho Allah SWT. Karena itu, mencari ilmu merupakan mujahadah (usaha sungguh-sungguh) dalam rangka menguatkan jiwa guna mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sejatinya, Islam menjadikan proses mencari ilmu (meningkatkan kompetensi akademik) dan berusaha bekerja (kompetensi karir) sebagai bagian dari ibadah dan cara mendekatkan diri kepada Allah. Jika seseorang bisa memurnikan niat karena Allah, maka motivasinya akan diterima Allah dan keberkahannya akan tumbuh berkembang.

Seseorang yang mencari ilmu dengan motivasi memperoleh ridho Allah akan memperoleh balasan yang luhur, yaitu surga dan ridhoNya. Sedangkan mencari ilmu karena materi, seperti ingin harta, kedudukan, popularitas, dan semacamnya, maka hal itu menjadikannya tercela.

"Sesiapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan sesiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya satu bagian pun di akhirat." (Q.S. Asy-Syuro, ayat 20).

Nah. Tentu lebih mantap kalau diskusi sambil ditemani segelas kopi di#LesehanJAN #7 tentang "Isu Remaja II: Profesi".

Bisa daftar langsung via WA dengan klik link ini: http://bit.ly/LESEHAN-JAN
Informasi dan Pendaftaran:

📣 Cp : +62895336336005 atau +62 896-6773-6149
🐤 Twitter : @JANtraining & @buletinnah
💻 IG : @jantraining & @buletinnah


Mari sejenak duduk bersama demi masa depan anak remaja kita!

Rabu, 14 Maret 2018

KUSEN JAN: TENTANG MEMBACA BUKU

Kusen JAN, 13 Maret 2018 
Saat baca buku, apa yang pertama kali kamu baca?
1. Judulnya?
2. Penerbitnya?
3. Penulisnya?
4. Daftar isinya?
5. Sinopsisnya?
Atau yang lainnya?

Materi tentang membaca buku ini disampaikan oleh Pak Denis di agenda KUSEN JAN (13 Maret 2018) di Aula Rumah Sajada. Beliau menyampaikan, dengan cara apa kita membaca buku, tergantung bukunya. Seperti novel. Mau baca dari mana? Dibaca dari tengah?
Pada jenis buku non fiksi, kita bisa dengan cara 'skimming' atau membaca dengan sepintas. Dan ketika muncul dalam benak tentang tulisan yang sedang dibaca, jangan dibiarkan saja. Langsung dicatat! Agar tidak hilang.

Pak Denis menyampaikan juga bahwa membaca itu bukan kegiatan pasif. Membaca adalah kegiatan aktif. Tentang memahami apa maksud dari bacaan yang dibaca? Atau tentang bagaimana perasaan-perasaan atau komentar pribadi terhadap tulisan tersebut?

Setelah membaca sebuah buku, kita bisa melakukan aktivitas bernama merangkum. Yang dengan kegiatan ini, kita bisa memahami tentang konsep yang utuh. Dengan merangkum, kita bisa juga mengetahui alur penulisan buku yang ditulis oleh penulisnya. Maka, buku yang bagus, alurnya bagus. Buku yang tidak ada alur bisa jadi penulisnya memang tidak paham dengan tulisannya/ alurnya. Atau memang model penulisannya adalah berbagi ide. Setiap ide menjadi satu bab. Sehingga antar bab, terkadang tidak ada hubungannya.

Ada ulama yang kerjaannya merangkum. Contohnya ringkasan atau Mukhtasar Shahih Bukhari. Yang aslinya terdiri dari ribuan hadits, ditulis menjadi ratusan hadits. Banyak umat Muslim yang membutuhkan kitab ini.

Selain ringkasan, ada juga yang membuat penjelasan dari sebuah kitab. Sebut saja contohnya Syarah Kitab Arba'in An-Nawawiyyah yang ditulis oleh Muhammad Dieb Al-Bugha. Empat puluhan hadits tersebut, ditulis penjelasannya oleh beliau agar pembaca mudah dalam memahaminya.

Atau ingin membuat bentuk tulisan Muqoromah? Menuliskan sebuah tema dari berbagai buku yang kemudian dijadikan sebuah kesimpulan. MaasyaAllah. Pasti itu pekerjaan yang membutuhkan waktu dan kesungguhan. Namun, jika kita dimampukanNya membuat karya yang bermanfaat, inilah kebutuhan umat.

Agar paham konsep dengan membaca, kita memang tidak boleh tergesa-gesa. Haruslah sabar dengan prosesnya. Haruslah menyediakan waktu untuk memahami kata demi kata dari buku-buku yang sedang kita baca. Akhirnya? Kita akan paham konsep dengan utuh.
"Kedalaman makna, didapatkan dengan membaca buku secara utuh dan tuntas," kata Pak Denis di akhir-akhir KUSEN JAN pekan ini. 








Senin, 12 Maret 2018

LESEHAN @JANtraining (9 Maret 2018) “On Building Prime Youths” #6 tema IDEOLOGI


Lesehan JAN, 9 Maret 2018

1. Remaja adalah masa pembentukan identitas. John Head (1997) berpendapat bahwa identitas adalah susunan utuh psikis seseorang yang membedakan diri dengan dunia di luar dirinya. #remajautama

2. Intinya identitas itu khas, berbeda dengan yang lain. Remaja yang sama-sama paripurna atau sama-sama sembuh bisa jadi memiliki identitas yang berbeda.

3. Pembentukan identitas adalah proses menemukan pilihan hidup.

4. Tiga isu penting identitas yang berkaitan dengan pilihan hidup: - ideologi/ keyakinan - pekerjaan/karir - pasangan hidup/hubungan dan cinta #remajautama

5. Isu pertama yang paling penting adalah ideologi. Pilihan pekerjaan, pasangan, dan aktivitas hidup itu bukan ideologi. #remajautama

6. Ideologi secara bahasa berasal dari kata ideas dan logos. Secara istilah ideologi adalah kumpulan ide/konsep dan keyakinan tentang kehidupan (Merriam Webster Dictionary). #remajautama

7. Ideologi bisa berupa tentang hakikat hidup, tujuan hidup, prioritas hidup, prinsip hidup, dan konsep hidup lain yang diyakini. #remajautama

8. Coba kalau kita remaja, jawab pertanyaan-pertanyaan ini: - Buat apa aku hidup? Mengapa Allah menciptakan diriku? - Apa cita-citaku? Mengapa aku memilih cita-cita itu? - Pasangan hidup seperti apa yang kuharapkan? Keluarga seperti apa yang kuidamkan?

9. Seharusnya jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut sesuai dengan ideologi. Lalu ideologi itu seperti apa dan bagaimanakah ideologi yang seharusnya?

10. Ideologi dalam ajaran islam, nanti akan berkaitan dengan aqidah.

11. Dalam segi bahasa, ada beberapa asal kata. - عقد: akad, perjanjian - عقود : tali, buhul. Ada juga yang mengartikan alur cerita. Maka akidah bisa diartikan menyimpulkan, mengikat, menetapkan. Berarti menetapkan ajaran islam ini sampai akhir khayat.

12. Hasan Langgulung ketika membahas hal ini menyebutkan beberapa kata kunci, di antaranya adalah فطرة/fitrah. Dan dalam islam dijelaskan bahwa anak itu lahir dalam keadaan fitrah (islam). Kemudian orang tuanyalah yang akan berpengaruh menjadikannya nasrani atau yahudi.

13. Salah satu penanaman ideologi adalah dengan bercerita. Kalau kita telaah cerita-cerita rakyat, maka kebanyakan tidak beres. Seperti dongeng kancil (mengutamakan pengen daripada perlu, mencuri dengan berbagai cara), cerita malin kundang, jaka tarub, dll.

14. Padahal dalam islam sudah jelas tuntunannya: Al-Quran yang di dalamnya banyak sekali kisah-kisah panjang yang menanamkan ideologi yang benar.

15. Di sisi lain, yang ditekankan adalah ihsan. Merasa selalu diawasi Allah. Sehingga aktivitas apapun akan selalu merasa diawasi oleh Allah.

16. Maka akidah ini sangat penting. Bahkan akhlak itu tergantung pada akidahnya. Akidah menjadi landasan pokok dalam berakhlak/berperilaku sehingga ketika berperilaku sampai pada tahap tidak memikirkan terlebih dahulu, sudah otomatis.

17. Zaman Rasul, beliau membutuhkan waktu 13 tahun untuk menanamkan akidah pada masa dakwah Makiyyah.

18. Langkah membentuk akidah: - Mentalqin anak mengucap kalimat tauhid - Cinta kepada Allah dan selalu merasa diawasi oleh-Nya - Cinta kepada Rasulullah, keluarga, dan sahabat beliau - Mengajarkan Al-Quran - Mendidik agar teguh dan berkorban demi akidah #remajautama

19. Penekanan pada iman adalah iman kepada Allah dan iman kepada akhirat. Iman kepada Allah berkaitan dengan tauhid. Tauhid berasal dari kata احد yang artinya esa. Berarti mengesakan Allah.

20. Proses penanaman akidah menurut Imam Ghazali. Dalam proses talqin, awalnya adalah hanya menghafal. Kemudian akan memahami sedikit demi sedikit seiring pertumbuhan. Setelah itu membenarkan kandungan dan isinya. Barulah meyakini.

21. Karunia Allah ketika masa awal pertumbuhan untuk beriman tanpa bukti atau penjelasan terlebih dahulu.

22. Kalimat awal yang seharusnya diajarkan pada anak yang baru lahir adalah لا اله الا الله. Jadi kalimat tauhid inilah yang pertama kali ditalqinkan. Bukan papa, mama, atau kata lainnya.

23. Setelah kalimat tauhid, yang perlu sering didengarkan, dibacakan pada anak adalah Al-Quran. Sekaligus mengajarkannya.

24. Menanamkan cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah juga harus memiliki alasan. Sama seperti dalam riset-riset yang mengatakan bawa cinta itu berawal dari alasan. Maka alasan cinta kepada Allah itu berlandaskan pada tauhid rububiyah, tauhid ilahiyah.

25. Konsekuensi cinta kepada Allah adalah hanya memohon dan meminta kepada-Nya (اياك نعبد واياك نستعين), merasa selalu diawasi oleh Allah, dan beriman kepada ketentuan takdir.

26. Berikutnya adalah cinta kepada Rasulullah, Keluarga, dan Sahabatnya. Caranya adalah menghafal hadits-hadits nabi dan mempelajari sirahnya. Khususnya adalah sirah tentang perang yang dilakukan Rasul.

27. Mengajarkan Al-Quran. Yang perlu ditanamkan adalah bahwa Al-Quran adalah كلام الله, firman-Nya Allah/ucapan-Nya Allah. Sehingga ketika membacanya perlu ditanamkan bahwa seolah-olah berbicara kepada Allah, bahwa Al-Quran itu adalah surat cinta dari Allah.

28. Mengajarkan Al-Quran poinnya adalah menanamkan cinta pada Al-Quran. Menjadikannya sebagai landasan, tuntunan, dan pedoman. Bukan sekedar menghafal.

29. Mendidik agar teguh dan berkorban demi akidah. Caranya adalah dengan memberikan keteladanan melalui kisah, contoh kisah anak ukhdud.

30. Dalam kisah selalu ada tokohnya, bisa individu atau sekelompok orang. Kemudian tokoh ini akan memiliki cita-cita. Tidak berhenti di situ, dia akan mengusahakan dan berkorban untuk memperjuangkannya. Sampai pada tahap seolah-olah akan gagal lalu akhirnya berhasil.




Kamis, 08 Maret 2018

NIAT BELAJAR



Oleh: Siti Muti`ah

Di antara senjata utama penuntut ilmu adalah ikhlas belajar karena Allah. Baik dalam segala ucapan maupun perbuatan. Sebab, Allah tidak akan menerima amal termasuk belajar kecuali didasari ikhlas karena-Nya. Allah Ta'ala berfirman:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Qs. Al-Bayyinah: 5)

Bila penuntut ilmu mengikhlaskan belajarnya karena Allah, niscaya ia akan mendapatkan pahala yang besar. Segala usahanya menuntut ilmu akan berkah serta berpahala. Ia akan mendapatkan pula kemuliaan yang diberikan oleh Allah.

Namun, bila niat belajar salah yaitu ingin dipuji sebagai orang berilmu, tujuan menuntut ilmu untuk mengejar popularitas, pangkat dan jabatan di tengah-tengah manusia, maka ilmu itu akan menjadi bukti keburukannya pada hari Kiamat. Di akhirat ia tidak akan mendapat apa-apa. Rugi `kan? Allah Ta'ala berfirman:

“Sesiapa yang menuntut ilmu yang mestinya untuk mencari ridho Allah, tetapi ternyata ia mempelajarinya tidak lain hanya untuk mendapatkan kekayaan dunia, niscaya ia tidak mencium aroma surga pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud).

Jadi, apa tujuan seharusnya kita belajar?

Naskah: Naskah Nih 21 




Tanya Remaja: Ngapain juga Kamu Hidup?



Menurut John Head, remaja adalah masa pembentukan identitas. Yang dimaksud dengan identitas adalah susunan utuh psikis seseorang yang membedakannya dengan dunia di luar dirinya.

Maka, pembentukan identitas adalah proses menentukan pilihan-pilihan hidup sehingga seseorang dapat menjadi manusia dewasa yang tumbuh optimal. Kurang atau tidak adanya komitmen terhadap pilihan-pilihan hidup yang penting, dapat menyebabkan masalah psikologis ketika menjadi dewasa.

Tiga isu penting identitas yang berkaitan dengan pilihan-pilihan hidup adalah:
1. Ideologi dan keyakinan
2. Pekerjaan/ karir
3. Pasangan hidup/ hubungan dan cinta

Ideologi adalah kumpulan ide/ konsep dan keyakinan tentang kehidupan (diambil dari merriam webster dictionary). Bisa tentang hakikat hidup, tujuan hidup, apa yang penting dalam hidup, dan konsep hidup lain yang diyakini.

Isu pertama yang paling penting adalah ideologi. Pilihan pekerjaan, pasangan, aktivitas hidup itu bukan ideologi. Tetapi ALASAN memilih hal-hal tsb seharusnya ideologis (sesuai dengan ideologi).

Maka, kalau kamu termasuk remaja yang punya ideologi kuat, kamu bakal bisa jawab semua ini:
1. Buat apa aku hidup? Apa alasan Allah menciptakan diriku?
2. Mengapa aku memilih cita-cita itu? Apakah pekerjaan itu bernilai di hadapan Allah?
3. Pasangan seperti apakah yang kuharapkan? Apakah Allah meridhoi alasan dan caraku dalam memilih dan mencintainya?

Remaja utama sadar dan yakin dengan pilihan hidupnya. Dia memilih berdasarkan tujuan hidup yang diyakininya. Remaja utama tidak malu berbeda ketika harus berteguh pada prinsip hidupnya. Remaja utama tahu: ALASAN tiap langkah dan keputusan hidupnya.

Lalu bagaimana cara membantu remaja agar ber-ideologi kuat?

Dalam Islam, ideologi dapat diistilahkan sebagai akidah. Akidah adalah kepercayaan atau keyakinan pokok (menurut KBBI). DR. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid menjelaskan dalam buku "Manhaj Tarbiyah Nabawiyah lith Thifl" atau "Prophetic Parenting" bahwa ada beberapa langkah untuk menanamkan akidah, antara lain:
1. Mentalqin dengan mengucapkan kalimat tauhid.
2. Menanamkan cinta kepada Allah.
3. Menanamkan cinta kepada Rasul.
4. Mengajarkan Qur'an.
5. Mendidik agar teguh dan rela berkorban demi akidah.

Lebih jelas dan lengkapnya, mari berbagi di #LesehanJAN #6 tentang "Isu Remaja I: Ideologi". Bisa daftar langsung via WA dengan klik link ini: http://bit.ly/LESEHAN-JAN *Informasi dan Pendaftaran:*
📣 Cp : +62895336336005 atau +62 896-6773-6149
🐤 Twitter : @JANtraining & @buletinnah 💻 IG : @jantraining & @buletinnah

Peringatan: Hanya untuk yang siap terlibat membangun peradaban ummat! Jangan sampai terlambat! #RemajaUtama #ideologis #berprinsip #teguh#live with #beliefs and #values








Rabu, 07 Maret 2018

Remaja Utama: Cerdas Menata Diri, Bijak Berinteraksi



Selain karakter kuat dan baik, seorang remaja utama perlu memiliki kompetensi tinggi.

Kompetensi dibutuhkan untuk mencapai target/ tugas dan tujuan dalam hidup. Kompetensi termasuk alat untuk mewujudkan cita-cita. Tanpa kompetensi yang tinggi dan memadai, banyak keberhasilan menjadi tertunda atau tidak bisa diperoleh.

Kompetensi tinggi berarti seseorang bisa melakukan sesuatu dengan standar kualitas prima, utama, atau ahli. Istilahnya mastering. Menurut Geoffrey Colvin, untuk menjadi seorang ahli di bidangnya, diperlukan proses perbaikan terencana melalui latihan secara sadar dan terus-menerus. Hal ini disebut Deliberate Practice (Latihan Penuh Kesadaran). Diantara jenis kompetensi, ada 3 yang perlu kita asah: kompetensi hidup, akademis, dan karir. Kompetensi hidup dibagi menjadi 2: Personal dan Sosial.

Kompetensi Sosial adalah kemampuan berinteraksi, berkomunikasi, bertransaksi, beradaptasi dan bekerja bersama orang lain. Diantara contoh kompetensi sosial antara lain:

1. Empati (empathy) yaitu mampu memahami dan merasakan perasaan dan pengalaman orang lain.
2. Pelayanan (Service) yaitu memberikan kontribusi untuk kepentingan orang lain.
3. Kepemimpinan Yang Inspiratif (Inspirational Leadership) yaitu mampu mempengaruhi orang lain agar bersemangat menuju tujuan bersama.
4. Mengelola Konflik (Conflict Management) yaitu mampu mengelola dan menyelesaikan masalah yang muncul antar individu/ kelompok.
5. Membangun Ikatan (Building Bonds) yaitu mampu mendapatkan kepercayaan dari orang/kelompok lain.
6. Kerja Sama Dan Kolaborasi (Teamwork and Collaboration) yaitu mampu berkontribusi dan mendukung kerja kelompok dan mampu bekerja sama antar orang/kelompok.

Allah beri kita kesempatan istimewa: masa muda. Akankah kamu gunakan untuk menempa diri menjadi remaja utama nan istimewa? Ataukah kamu terlalu asyik dengan eksis di sosmed dan nongkrong yang gak jelas? Remaja Utama harus mampu: cerdas menata diri, bijak berinteraksi! Kuy!

#remajautama #character #competence#LifeCompetence #Personal #Social

Sumber Naskah: IG @denizdinamiz
Foto: Kegiatan @jantraining di SMP Negeri 8 Yogyakarta (3/3/2018)

LESEHAN JAN: ON BUILDING PRIME YOUTH #5 (Jum`at, 2 Maret 2018) dengan tema “Isu-Isu Remaja Utama”



1.      Begitu besar sejarah pemuda-pemuda, termasuk dalam sejarah negeri kita. Ada sumpah pemuda, pergerakan pemuda di Rengasdengklok, dsb. Bukan orangtua

2.      Tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Oleh karena itu, proses untuk mencapainya tidak bisa dibiarkan. Harus ada usaha yang sungguh-sungguh untuk meraihnya.

3.      Ada pembeda antara definisi antara youth dan teenager. Berbeda juga antara murohaqoh dengan syabaab. Karena istilah akan membentuk pola pikir/sudut pandang, menentukan ideologi kita.

4.      Remaja yang tidak punya komitmen akan menjadi orang dewasa yang bermasalah (John Head, 1997). Komitmen pada apa? Tentu pada apa yang diyakininya.

5.      Apa saja isu yang harus dihadapi remaja untuk menjadi orang dewasa? (1) Hidup mandiri (ekonomi) dari orang tua (2) Hidup terpisah (pribadi-sosial) dari orang tua (3) Hidup sesuai pilihan (pola hidup) tertentu.

6.      Hidup mandiri. Sehingga memerlukan pekerjaan. Hidup terpisah dari orang tua. Sehingga memerlukan pendamping hidup. Hidup sesuai pilihan tertentu. Sehingga memerlukan nilai dan keyakinan hidup atau ideologi.

7.      Tentang pekerjaan. Anak muda harus memiliki pekerjaan yang jelas, berani mengambil resiko. Harus mandiri dari orang tuanya.

8.      Tentang pendamping hidup. Anak muda sudah harus memiliki hubungan yang jelas. Karena setiap orang membutuhkan pendamping. Bahkan orang Jepang, ketika tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan dari istrinya, dia menceraikannya dan kemudian malah membeli boneka untuk dijadikan pendamping.

9.      Ideologi adalah tentang pola hidup tertentu yang dipilih. Seperti Salman Al-Farishi yang mencari kebenaran dari pendeta ke pendeta lain hingga akhirnya bertemu pendeta yang benar dan mengarahkan untuk mencari Nabi Muhammad.

10.  Contoh lainnya lagi adalah pemuda bernama Ibrahim yang “melawan” ayahnya. Sang ayah tidak hanya penyembah berhala, namun pembuat berhala. Atau seperti halnya pula Asiyah yang menyelisihi suaminya: Fir`aun yang mengaku Tuhan.

11.  Apa itu ideologi? Ideologi adalah ide/konsep dan keyainan tentang kehidupan. Bisa tentang hakikat hidup, tujuan hidup, apa yang penting dalam hidup, dan lain-lain yang diyakini.

12.  Islam sudah menanamkan dengan cara agar membaca Al-Quran sebagai landasan ideologinya. Setiap hari umat Islam membaca Al-Fatihah yang sudah jelas menunjukkan bahwa Tuhannya adalah Tuhan semesta alam Dalam surat Al-Ikhlas juga sangat jelas bahwa Tuhan adalah Allah Yang Maha Esa.

13.  Apa tanda remaja gagal? (Erikson 1968) 1. Tidak memiliki hubungan dekat/akrab dengan orang di lingkungan sekitar 2. Tidak memiliki gambaran/tujuan di masa depan 3. Sulit fokus pada tugas yang penting 4. Merasa dirinya buruk sehingga kumpul dengan orang bermasalah, seperti geng.

14. Satu diantara sebab kenakalan anak atau remaja, bahkan juga dewasa adalah merasa tidak berharga.

15.  Islam mengajarkan apa yang penting dalam hidup ada tugas sebagai: - hamba Allah (beribadah ikhlas & ittiba' sunnah) - khalifatullah (pemimpin/ahli di bidangnya) - keluarga (menjadi anak berbakti, pasangan setia) - saudara (seiman, senasab) - peran lain sesuai pilihan komitmen.

16.  Ketika ideologi beres, maka masalah hubungan dan cinta juga akan beres, cara memandang dunia juga beres.

17.  Tentang hubungan, adalah tingkatan persaudaraan tertinggi yakni persaudaraan karena iman. Bukan sedarah atau sedaerah. Karena sedarah atau sedaerah bisa terpisah.

Sumber: Twitter @JANtraining 


Senin, 05 Maret 2018

BELAJARLAH!


Oleh: Baroroh Itsna Romadlona

Belajarlah dengan giat!
Giat dengan niat
Niat yang benar dan kuat
Kuat lagi bersemangat

Ya, niat benar dan bersemangat
Bagaikan makanan lezat
Dunia didapat
Apalagi di akhirat

Sobat!
Kuatkan niat dan kobarkan semangat
Untuk belajar ilmu dunia akhirat
Sebab Allah janjikan pahala berlipat
Bagi mereka yang memiliki benar niat

*Naskah Nih #21



Minggu, 04 Maret 2018

Ngaji (Itu) Salak


Oleh: M. Fatan A. Ulum 
Mendengar kata "ngaji" teringatlah saya dengan salak. Ya, salak

Kenapa salak?

Karena ngaji itu salak. Sebagaimana kita akan temukan di tiang-tiang pendopo museum Diponegoro di Tegalrejo

Di pendopo yang dulu sering dipakai Diponegoro untuk menyelenggarakan majelis ilmu itulah terdapat tiang-tiang yang bagian bawahnya terukir buah salak

Itulah metafora yang diambil dari hadits Rasulullah SAW : .

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّل َ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ .

"Sesiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan untuknya jalan menuju Surga" (H.r. Muslim) 

Dari kata سلك inilah muncul perumpamaan ilmu dengan salak, buah manis beragam manfaat, yang dikenal sebagai buah yang banyak terdapat di daerah Indonesia, khususnya Jawa dan Sumatra

Jadi, sudah makan salak... Eh, sudah ngaji? 

Sumber gambar dan naskah: IG @emfatan 

Jumat, 02 Maret 2018

Tugas-tugas Remaja Utama




Menurut John Head, seorang ahli pendidkan dari University of London, remaja memiliki 3 tugas utama untuk menjadi dewasa:
1. Memilih pola keyakinan dan nilai yang penting dalam hidupnya.
2. Memilih pekerjaan/ karir yang sesuai.
3. Memilih pasangan hidup.

Hal yang sama juga disebutkan Papalia, seorang ahli Psikologi Perkembangan, bahwa 3 isu utama berkaitan dengan pembentukan identitas pada remaja adalah pekerjaan/ karir, mencari pasangan, dan memiliki ideologi dan keyakinan yang kuat.

John Head menegaskan bahwa ketika seseorang tidak memiliki komitmen jelas dalam membentuk identitasnya selama masa remaja, dia akan mengalami permasalahan ketika memasuki tahapan masa dewasa. Atau dengan kata lain, dia akan menjadi orang dewasa yang bermasalah.

Dari ketiga isu utama tersebut, isu yang paling mendasar adalah memilih dan komitmen pada ideologi. Satu diantara efek dari adanya komitmen pada ideologi, adalah terbentuknya karakter kuat, seperti kegigihan (determination).

Kegigihan adalah kualitas untuk terus berjuang mencapai tujuan yang telah diputuskan, meskipun menghadapi hambatan dan kesulitan.

“Determination” berasal dari kata “determinare” dalam bahasa Latin, artinya “menetapkan/ mengambil keputusan”

Pembahasan isu-isu pemuda utama, insya Allah kita bahas lebih lengkap di#LesehanJAN #5 di kompleks @rumah_sajada. Lengkapnya bisa cek @buletinnah dan @jantraining