Sabtu, 24 Maret 2018

Lesehan JAN “ON BUILDING PRIME YOUTHS” #8 (Jum`at, 23 Maret 2018) tentang Isu ke-3 Remaja Utama: Hubungan dan Cinta

Lesehan JAN, 23 Maret 2018 

1. Cinta menurut KBBI adalah luapan hati dan gejolaknya saat dirundung keinginan untuk bertemu/dekat dengan sang kekasih.

2. Cinta yang paling tinggi menurut N. Ulwan adalah cinta kepada Allah. Kemudian cinta kedua adalah mencintai sesuatu karena Allah. Terakhir adalah cinta kepada Allah dikalahkan oleh cinta yang lain.

3. Cinta menurut pengaruhnya pada hormon otak: - infatuation (naksir) - passionate love (cinta karena nafsu) - romantic love (cinta romantis) yang berefek pada otak seperti obsesif konpulsif - bond love (cinta karena ikatan) menghasilkan oxytoxcin yang menenangkan.

4. Ada yang bilang infatutation itu cinta hanya karena fisik. Sedangkan pada obsesif kompulsif yang muncul adalah sampai pada melihat benda apapun yang terbayang adalah wajah yang dicintai.

5. Para ulama jaman dahulu yang memperbolehkan nikah usia dini, mereka menikahkan anaknya pada usia 9 tahun, bahkan ada yang menikahkan anaknya ketika usia 5 tahun.

6. Tingkatan cinta yang lebih tinggi adalah cinta karena memiliki visi atau tujuan yang jelas. Tidak hanya karena ikatan (bond love).

7. Solusi kenakalan anak muda, solusi untuk kegalauan anak muda adalah dengan menikah (Khalid Asy-Syantut).

8. Pernikahan usia muda tanpa persiapan berbeda dengan pernikahan usia dini tetapi dengan kesiapan.

9. Maka yang diperlukan adalah persiapan. Karena untuk sukses dalam hal apapun itu perlu dipersiapkan, perlu persiapan yang matang.

10. Persiapan yang utama untuk menikah adalah niat dan iman. Niat yang benar untuk apa menikah.

11. Jatuh cinta dengan bangun cinta itu berbeda. Jatuh cinta itu tanpa persiapan, datang tiba-tiba. Berbeda dengan membangun cinta yang dilakukan dengan penuh kesadaran.

12. Maka jatuh cinta itu menggelisahkan, sedangkan membangun cinta itu menguatkan arah.

13. Usia terbaik untuk menikah. Menurut kacamata psikologis adalah pada usia 18-24 th (Holfman, et.al., 1994; Papalia, et.al., 2014).

14. Namun yang terpenting bukanlah pada usia berapa seseorang menikah, tetapi yang terpenting adalah apakah dia siap menikah atau tidak. Maka persiapan ini yang perlu digarisbawahi.

15. Apa saja yang perlu disiapkan? - persiapan mental - persiapan ilmu - bangun orientasi menikah yang jelas.

16. Siapkan mentalmu! Siap menerima. Sebanyak apapun persamaanmu, pasti juga ada perbedaan. Siap menerima, bukan meninggikan harapan. Semakin tinggi harapan maka akan semakin susah mencapainya.

17. Dengan siap menerima, berbagai perbedaan itu tidak akan menjadi penting. Masing-masing tidak akan mudah merasa kecewa.

18. Jika kita sibuk mencari kekurangan, maka akan banyak sekali yang ditemukan. Bahkan yang seharusnya menjadi kelebihan malah menjadi kekurangan. Maka jangan sibuk dengan kekurangannya! Sibukkanlah dengan mencari hal-hal yang baik padanya!

19. Siapkan mentalmu. Siap berubah, saling menyesuaikan diri. Ini adalah konsekuensi dari berbagai perbedaan yang ada antara kedua pasangan. Bedakan antara nilai dan ekspresi.

20. Jadilah bermental pemenang, bukan mental pecundang. “Susah tapi mungkin, atau mungkin tapi susah?” Pola pikirnya akan berbeda. Maka jadilah yang siap menghadapi tantangan.

21. Segerakan tapi jangan tergesa-gesa. Memiliki kesiapan meskipun belum ada rencana menikah itu lebih baik daripada tiba-tiba menikah tanpa ada kesiapan.

Sumber: Twitter @JANtraining





Tidak ada komentar:

Posting Komentar