Rabu, 28 Maret 2018

Saat Sudah Baligh


Oleh: Atik Setyoasih 

Hal yang amat menarik ketika seorang wanita ataupun laki-laki telah mengalami baligh.

Apa yang menarik? Muhamammad Qutbh dalam “Manhaj At-Tarbiyah Al-Islamiyah” mengatakan bahwa puasa dan shalat menjadi wajib baginya. Padahal sebelumnya hanya sebagai kebiasaan saja. Inilah isyarat bagi para pemuda dan pemudi telah memasuki usia taklif. Usia yang bisa mendatangkan pahala dan dosa (beban syar`i). Selain itu, saat baligh atau dewasa sudah seharusnya pula mampu bertanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakat. Sebagai lelaki dewasa. Juga sebagai wanita dewasa. Seorang pemudi sudah harus mampu mengurus keluarga yang menjadi medan utamanya. Seorang pemuda, sudah harus mampu menjadi pemimpin bagi keluarga dan masyarakatnya.

Maka, ada PR besar pada diri kita jika sudah baligh kok belum siap melakukan itu semua. Melakukan pekerjaan-pekerjaan layaknya laki-laki ataupun wanita dewasa. Padahal usia ini bukanlah usia main-main. Ini adalah usia puncak-puncaknya kekuatan, keberanian, keindahan sebagai seorang pemuda. Usia-usia yang diharapkan sebagai garda terdepan dalam melakukan upaya perbaikan di semua sisi kehidupan.

Jadilah teringat pada kisah dua orang pemudi yang tertulis indah di dalam Al-Qur`an. Indah sekali. Namanya memang tidak disebutkan dengan terang. Tetapi kisahnya bisa kita ambil pelajaran. Kita telah mengenal namanya sebagai dua orang putri Syu`aib. Ya. Dia teramat berbakti kepada sang bapak. Hingga baktinya mengalahkan rasa enggannya untuk menggembalakan kambing milik bapak yang saat itu sudah renta.

Dua pemudi tadi, sudah semenjak awal memiliki rasa tanggung jawab. Mereka bersedia bekerja sebagai penggembala kambing di tengah gurun pasir yang tandus tiada air. Padahal mereka tahu, pekerjaan itu layaknya adalah untuk lelaki. Pekerjaan itu sungguh sejatinya berat dan melelahkan.

Apakah dua pemudi tadi mengalami keresahan dan keguncangan saat usianya sudah balilgh? Tidak! Mereka justru sangat damai dan bahagia karena bisa berbakti kepada kedua orang tuanya. Mereka hidup tidak layaknya laki-laki dan wanita di luar yang hanya menghabiskan waktunya untuk bermain dan melakukan kesia-siaan. Dua putri Syu`aib tidak mengalami krisis, tidak bingung arah ke mana kaki akan melangkah. Mereka, hidup dalam suasana keluarga dan masyarakat yang sederhana tanpa aneh-aneh.

Jadilah mereka dua pemudi pilihan Allah yang dimuliakan dengan ditulis kisahnya di dalam Al-Qur`an. Atas sikap bertanggungjawabnya. Baktinya kepada orang tuanya. Kuat hatinya untuk melakukan pekerjaan berat. Dan mereka tidak mengalami krisis sebagaimana orang-orang yang jauh dari bimbingan Allah. Menariknya lagi, di akhir kisahnya beliau bertemu dengan seorang pemuda bernama Musa. Pemuda sholih, kuat, dan yang jelas baru saja lari dari kejaran musuh Allah untuk menyelamatkan diri. Menikahlah Musa dengan satu di antara putri Syu`aib tadi. Tanpa pacaran. Tanpa mengalami guncangan dan keresahan.

Aduhai kita ini. Yang sudah baligh dan seharusnya bertanggung jawab terhadap semua pilihan-pilihan hidup kita. Semoga kita menjadi remaja utama. Remaja yang teguh prinsip dan keyakinannya. Remaja yang memiliki profesi pekerjaan yang dicintaiNya. Serta remaja yang tahu bagaimana menjalin hubungan dengan sesama. Kepada orang tua, guru, teman, bahkan kepada calon pasangan kita #eh 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar