Minggu, 29 April 2018

HIPNOSIS SECARA ILMIAH DAN ISLAM


Oleh: D. Denis P. Putrantya

Mari kita mulai dengan memancing rasa ingin tahu kita melalui beberapa pertanyaan:
1.       Apa itu hipnosis/ hipnotis? Sejarahnya? Sekarang?
2.       Apa yang terjadi ketika seseorang terhipnotis?
3.       Bagaimana seseorang bisa terhipnotis?
4.       Apa prinsip-prinsip hipnosis?
5.       Hipnosis, ilmiah atau tidak?
6.       Apa kelebihan dan kekurangan hipnosis?
7.       Bagaimana hipnosis menurut Islam?

Nah, sekarang mari kita coba telaah satu per satu:

1.       Apa itu hypnosis? Sejarahnya? Sekarang?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Hipnosis: keadaan seperti tidur karena sugesti yang pada taraf permulaan orang itu berada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugestinya, tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali.

Hipnosis berasal dari kata “hypnos”,  nama dewa tidur orang Yunani Kuno. Kata “hypnosis” pertama kali diperkenalkan seorang dokter Inggris , James Braid  (1795 – 1860). Meski demikian, hypnosis bukanlah tidur. Hipnosis adalah kondisi pikiran, dimana pikiran sadar menjadi kurang kritis, sehingga menjadikan pikiran “bawah sadar” menerima sugesti dengan lebih baik (menurut IACH/ International Association of Clinical Hypnotherapy).

Hipnosis dikelompokkan ke dalam dua kategori: klasik dan modern. Hipnosis klasik itu menyelami dan mempengaruhi pikiran orang secara mistis, klenik, dan syirik dalam pandangan Islam, misalnya sesajian, membakar kemenyan, ramu-ramuan tertentu, dan lainnya guna mendatangkan bantuan jin. Praktek hipnosis bahkan dilakukan sejak zaman kuno (seperti  Yunani dan Mesir) untuk berhubungan dengan arwah para leluhur dan keperluan mistis lain.

Hipnosis modern menurut APA (American Psychological Association) Divisi 30 (Komunitas Hipnosis Psikologis) adalah prosedur dimana seorang ahli kesehatan atau peneliti memberi sugesti ketika tritmen/perlakuan,  sehingga pasien mengalami perubahan sensasi, persepsi, pikiran, dan perilaku. Meski beberapa hipnosis digunakan untuk membuat seseorang semakin siaga, kebanyakan hipnosis mensugesti agar rileks, tenang, dan merasa nyaman.

Kita akan fokus pada pengkajian “hipnosis modern”.

2.       Apa yang terjadi ketika seseorang terhipnosis?

Dari beberapa referensi komunitas maupun asosiasi hipnosis internasional (seperti IACH, APA, IMDHA), ketika seseorang terhipnosis, kondisinya bukanlah tidur. Secara fisik, memang memenuhi ciri-ciri orang tidur (nafas melambat, mata terpejam, otot rileks, gerakan berkurang) Tetapi secara mental, orang terhipnotis dalam kondisi rileks sekaligus siaga. Kondisinya nyaman dan dapat berfikir, berbicara, dan bahkan bergerak jika dibutuhkan.

Ada yang menyebutkan jika terhipnotis adalah kondisi yang sama ketika seseorang sedang sangat asyik dalam suatu aktivitas, seperti menonton TV atau melakukan sebuah hobi. Atau ketika sedang terbawa suasana yang menenangkan dan melenakan, seperti melihat matahari terbenam di pantai. Kondisi hipnosis juga disamakan dengan kondisi meditasi. Kondisinya bukan tertidur, tetapi sadar dan fokus (focused awareness) sekaligus rileks dan nyaman.

Secara neuroscience (ilmu otak/syaraf), terhipnotis adalah kondisi dimana otak meningkat aktivitas gelombang otak lambat (alpha dan theta), dan menurunnya aktivitas gelombang otak cepat (alpha). Akibatnya, pikiran menjadi sibuk dengan “menikmati” perasaan nyaman dan rileks sehingga berkurangnya pikiran cemas dan penuh pertimbangan akan suatu hal. Jika rasa nyaman dan tenang itu berlanjut, seseorang bisa menuju aktivitas otak gelombang delta (tidur).

Maka, kondisi hipnosis (gelombang otak lambat/ alpha dan theta) dianggap sebagai kondisi sehari-hari yang kita rasakan ketika bangun tidur dan akan tidur.

3.       Bagaimana seseorang bisa terhipnosis?

Pada dasarnya, hipnosis adalah suatu kondisi mental yang khusus. Untuk mencapainya, seseorang menggunakan teknik yang disebut induksi hipnosis. Induksi ini dapat dilakukan oleh orang lain maupun diri sendiri. Diantara jenis induksi sudah banyak diketahui orang, seperti menepuk dengan tangan (ini dilakukan pada praktek gendam), menjentikkan jari, membisikkan atau mengatakan kata-kata yang mengkondisikan perasaan nyaman (seperti “Anda akan merasa nyaman dan mengantuk”), Mengajak obyek untuk membayangkan tempat yang nyaman (“Bayangkan Anda bersandar di bawah pohon yang rindang”), dan banyak variasi yang lain.

Setelah seseorang sudah berada dalam kondisi hipnosis, selanjutnya sugesti diberikan. Sugesti dapat berupa hal yang absurd (“Anda adalah ayam”) sampai terapi medis (“Anda tidak merasakan sakit” atau “Di tangan Anda ada tulisan “sakit”, sekarang saya hapus tulisan itu”).

Namun, kondisi hipnosis tidaklah harus berarti seseorang berada dalam kondisi seperti tidur. Hal ini ditunjukkan dengan adanya praktek hipnosis ketika seseorang dalam kondisi sadar (mata terbuka) bahkan sedang melakukan aktivitas fisik.

4.       Apa prinsip-prinsip hypnosis?
Tidak semua orang bisa dihipnotis. Lebih tepatnya, kemampuan seseorang merespon sugesti hipnosis berbeda-beda.

Psikolog Amerika di Universitas Stanford (Ander M. Weitzenhoffer dan Ernest R. Hilgard) membuat skala yang dapat mengukur seberapa tingkat seseorang dapat dihipnotis, yang disebut Stanford Hypnotic Susceptibility Scales. Ada 12 sugesti yang dilakukan. Jika skor 0 – 4, tergolong rendah. Jika skor 5-7, tergolong menengah. Jika skor 8 -12, tergolong tinggi atau mudah mendapat sugesti hipnosis.

Diantara bentuk sugesti hipnotisnya: tangan berpegangan dan menempel (yang terhipnotis, tidak bisa melepaskan tangan), tangan diulurkan kemudian disugesti terasa berat (yang terhipnotis, tangannya akan turun karena “merasa” berat), peserta diminta melupakan hal yang familiar (seperti nama sendiri), dan sugesti panca indera lain (seperti mencium sesuatu yang tidak ada, mendengar suara lalat yang tidak ada, dan lain sebagainya).

Beberapa prinsip yang ditemukan dari penelitian adalah sbb:
1.       Kemampuan seseorang untuk merespon sugesti hipnosis cenderung tetap pada usia dewasa.
2.       Kemampuan peng-hipnotis tidak mempengaruhi tingkat respon orang yang dihipnotis. Bahkan, ketika seseorang menghipnotis dirinya sendiri, responnya pun akan cenderung sesuai tingkatnya.
3.       Tingkat respon seseorang yang dihipnotis tidak dipengaruhi oleh karakter personal, seperti agresif- submisif nya seseorang, kemampuan berimajinasi, atau kemampuan bersosialisasi.
4.       Orang yang dihipnotis tidak bersikap pasif. Yang terjadi adalah justru, seseorang yang dalam kondisi hipnotis secara aktif mengelola keyakinan dan pemahamannya agar dapat melakukan atau memenuhi sugesti yang diberikan.

5.       Hipnosis, ilmiah atau tidak?

Meski para peneliti menemukan alat untuk mengukur tingkat respon seseorang terhadap hipnotis, hal ini tidak membantu menjelaskan proses ILMIAH apa yang terjadi ketika seseorang dihipnosis dan diberi sugesti.

Selain sugesti belum tentu berhasil karena tingkat respon yang berbeda pada tiap orang, peneliti tidak bisa memahami proses otak apa yang terjadi ketika seseorang dihipnotis/ diberi sugesti dalam kondisi hipnosis.

Maka, tidak heran kalau hipnosis tidak diterima sebagai bentuk psikoterapi oleh APA/ Asosiasi Psikologi Amerika. Dalam Psikologi, hipnosis masuk dalam bidang ilmu Pseudoscience Psychology (Psikologi Semu).

Keilmiahan hipnosis tertolak karena tidak dapat diterapkan pada semua orang dan belum tentu berhasil pada kasus medis atau psikologis yang sama.

Namun, karena banyak yang mengaku dan menunjukkan praktek hipnosis yang dapat membantu kasus-kasus medis maupun psikologis, penggunaan hipnosis semakin meluas.

6.       Apa kelebihan dan kekurangan hypnosis?
Kelebihan yang saya sebutkan, sejatinya adalah hal yang diaku oleh pelaku hipnosis. Diantaranya kelebihan yang diaku adalah bahwa hipnosis PRAKTIS dan SUKSES. Kenyataannya, keberhasilan hipnosis sangat tergantung tingkat respon orang yang dihipnotis. Kalaupun berhasil dihipnotis, kondisi masalah atau penyakit pada pasien tidak disembuhkan tetapi pasien dibuat (disugesti) untuk merasa sembuh dan sehat. Sehingga ketika sugesti itu hilang, masalah akan kembali muncul.

Kekurangan lain dari hipnosis adalah tidak ada dasar ILMIAH jelas (apalagi dalil dari agama Islam). Selain itu, yang dihipnotis riskan mendapatkan sugesti yang tidak sesuai norma masyarakat maupun agama. Dan sebagaimana yang kita ketahui, sugesti tidak berlaku bagi semua orang (hypnotizable tiap orang berbeda-beda).

7.       Bagaimana hipnosis menurut Islam?
Hipnosis klasik jelas haram. Hipnosis klasik termasuk kategori perdukunan. Lembaga Fatwa Saudi, Lajnah Daimah, pernah mengeluarkan fatwa:
“Hipnosis adalah termasuk jenis tenung (sihir) dengan menggunakan jin…
Menggunakan hipnosis dan menjadikannya cara untuk mengetahui tempat barang yang dicuri atau barang yang hilang, atau penyembuhan penyakit, atau melakukan pekerjaan tertentu dengan perantaraan orang yang dihipnosis adalah tidak boleh, bahkan termasuk syirik… juga ini termasuk bergantung kepada selain Allah” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 1/348).

8.       Jika Hipnosis modern dalam Islam?
Hipnosis sejatinya adalah teknik atau prosedur dengan kunci satu: memberi sugesti pada yang dihipnosis (proses bawah sadar).

Jika sugesti yang diberikan bertentangan dengan Islam, maka jelas bermasalah. Misal, seseorang disugesti agar bermaksiat atau berkeyakinan kafir.

Nah, jika sugesti yang diberikan sesuai Islam, apakah metodenya diperbolehkan? Misalnya, seseorang dihipnosis agar rajin sholat atau menjauhi maksiat?

Jika sugesti bertujuan mengubah “bawah sadar” sehingga seseorang berubah tidak secara sadar, maka ada KEKURANGAN BESAR dalam amalnya, yaitu “NIAT”. Islam mengajarkan untuk beramal dengan niat yang BENAR. Betapa pentingnya masalah niat, sehingga ulama-ulama Islam menyebutkan perkara NIAT di bagian awal kitab-kitab karya mereka.

Mengapa kita menerapkan hipnosis sebagai solusi permasalahan kita, ketika Allah sudah memberikan jawaban atas permasalahan hidup dengan ISLAM?

Sebagai penguat akan bermasalahnya hipnosis, sejatinya hipnosis adalah satu diantara metode penyebaran atau program NAM (New Age Movement), meskipun hipnosis tidak lahjir dari NAM. Selain itu,program NAM lainnya ada Energi Prana, Fengshui, Huna, NLP, dan bentuk lain yang intinya sama meski namanya berbeda.

Kesamaan program-program NAM adalah percaya pada kekuatan bawah sadar, kehebatannya dan pentingnya kekuatan bawah sadar, dan berlatih untuk masuk ke “kesadaran berbeda” untuk memaksimalkan potensi yang terpendam agar bisa melakukan perubahan.

Lalu apa itu NAM?

Semoga Allah memberi kita kesempatan untuk membahas ataupun mempelajari tema yang berbeda ini.

Allohu a’lam bish showwab

Referensi:
1.       “New Age Movement” oleh F.A. Kourdi
2.       “Self-Hypnosis Techniques for Management of Pain, Relaxation and Sleep” By Mark P. Jensen, PhD.
3.       “Science and Pseudoscience in Clinical Psychology” edited by S.O. Lilienfield, S.J. Lynn, J.M. Lohr.
4.       The Truth and the Hype of HypnosisBy Prof. Michael R. Nash

Kamis, 26 April 2018

LAYER KETIGA DALAM PENDEKATAN PROAKTIF: SOCIAL SUPPORTS



Oleh: M. Fatan A. Ulum

Dukungan sosial dan emosional khusus (targeted social & emotional supports). Yaitu dukungan sosial dan emosional kepada sekelompok anak/remaja yang berisiko bermasalah.

Peran Individu (Anak/Remaja) di Layer Ketiga
Anak-anak yang memiliki resiliensi punya watak yang suka bergaul dan kemampuan untuk terlibat dengan orang di sekitarnya dengan cara yang positif. Dengan terlibat bersama orang lain secara positif, anak akan memiliki daya tahan yang lebih dalam mengatasi masalah-masalah yang menerpanya.

Anak-anak perlu ikut ke dalam pelatihan yang mengajarkan bagaimana berkomunikasi dengan orang lain, serta memiliki selera humor yang baik, kemampuan dalam memberikan perhatian, perencanaan, berpikir secara kritis serta kreatif, serta mengevaluasi konsekuensi-konsekuensi dari perilaku-perilaku mereka. Sehingga mereka mampu menjadi pemecah masalah.

Dengan pembekalan ketrampilan ini, diharapkan  mereka mampu mengelola emosi dan perilaku secara efektif, serta mampu secara cepat bangkit kembali ketika mengalami kejadian maupun perasaan yang negatif. Serta memiliki kontrol diri yang baik atas impuls-impuls mereka, dan bisa melakukan apa-apa yang seharusnya dilakukan, bahkan dalam lingkungan maupun kondisi yang sulit.
                                         
Peran Keluarga di Layer Ketiga
Orangtua/keluarga perlu mendampingi anak dengan baik. Jangan biarkan anak larut dalam masalahnya, dan bersikap kalut. Ajak anak berdialog dan menumpahkan permasalahan yang dihadapinya kepada orangtua. Jika perlu, keluarga bisa mengarahkan anak untuk bergabung dengan komunitas yang membuatnya memiliki dukungan sosial yang mencukupi.

Peran Sekolah di Layer Ketiga
Kebanyakan anak bereaksi secara positif terhadap pendekatan proaktif di layer pertama dan kedua. Sebagian kecil lainnya, meskipun sudah sedemikian kita berupaya, mungkin memerlukan dukungan tambahan untuk mengembangkan persahabatan, mengelola perasaan mereka, dan mengatasi konflik. Ketrampilan-ketrampilan ini amat penting bagi keberhasilan anak-anak ini di masa mendatang, yang bisa jadi, sedang dalam risiko dalam pengembangan tantangan-tantangan perilaku yang lebih serius tatkala mereka memasuki situasi yang sulit atau setting dimana mereka tidak paham apa yang lingkungan harapkan dari mereka.

Kecakapan bersahabat/bersosialisasi perlu dipromosikan dan didukung melalui serangkaian program terencana yang menjadikan anak mengenali, menyadari, dan melakukannya. Kesadaran emosi ini termasuk menyadari akan perasaan orang lain dan merespon dengan tepat sinyal emosi orang lain, sekaligus mengontrol emosi dan perilaku diri sendiri.

Hal ini bisa sekolah masukkan dalam kurikulum yang terencana dan integral yang menjadi bagian dari pelajaran sehari-hari. Sehingga anak akan memiliki kecakapan penting ini untuk mengatasi berbagai tantangan yang akan dihadapinya kelak.

Peran Komunitas/Masyarakat di Layer Ketiga
Masyarakat bisa menyediakan dukungan sosial dan emosi yang diperlukan anak/remaja. Lembaga-lembaga sosial yang berbasis agama bisa menyediakan kegiatan yang dilakukan secara bersama di tempat-tempat ibadah. Sehingga anak menjadi terarah dan terbimbing.

Begitu pula komunitas dalam masyarakat bisa membantu penyaluran potensi anak, dan mengarahkannya ke bentuk-bentuk aktivitas yang positif. Termasuk menyediakan kegiatan-kegiatan berbasis teman sebaya. Komunitas sebaya yang positif membantu perlindungan terhadap anak dari berbagai hal-hal negatif. Ketika anak merasa diterima oleh teman-temannya, hal itu akan mengurangi perilaku agresifnya. Teman sebaya, jelas Criss dkk, juga bisa memenuhi kebutuhan anak tentang connectedness serta mengajarkan padanya ketrampilan sosial. Pertemanan ini khususnya amat membantu anak-anak yang telah diperlakukan dengan salah (maltreated) dan anak-anak dengan keterbatasan kemampuan belajar alias learning disabilities.  


Rabu, 25 April 2018

SEORANG YANG BAHAGIA

Bedah Nih, 15 April 2018 
OLEH: JA`FAR SHIDIQ

Ulama
Bukan peminta-minta
Bukan pendusta
Bukan yang sakit jiwa

Ulama
Orang yang bahagia
Karena ilmu yang didapatnya
Untuk diajarkan
Pula diamalkan

Ulama
Beramal untuk meraih ridha-Nya
Sesuai tuntunan Rasul-Nya
Agar masuk surga
Surga Allah Ta`ala 






Lesehan JAN "On Building Prime Youths" #12 dengan tema "Layer Kedua: Lingkungan Berkualitas Tinggi yang Mendukung"


Lesehan JAN, 20 April 2018 

Lesehan JAN. Special Shortcourse edisi 12. Membahas tentang Layer kedua, lanjutan dari model proaktif sebelumnya. Monggo disimak. Pertemuan ini dibersamai oleh @denizdinamiz dan @emfatan

1.       Pertemuan ini akan fokus pada layer kedua dari piramida mengajar; ‘High Quality Supportive Environment’.

2.       Manakah yang kita inginkan? Menunggu ada masalah kemudian baru bertindak, atau bertindak sebelum muncul masalah, bahkan sebelum muncul tanda-tanda masalah? Poin penting proaktif inilah yang berusaha bertindak sebelum muncul tanda-tanda masalah akan datang.

3.       Dalam layer pertama kemarin, tentang ‘Nurturing and Responsive Relationship’, jika layer pertama ini dilakukan dengan baik, maka seharusnya jumlah anak yang bermasalah akan sedikit, terlebih lagi jika layer kedua (High Quality Supportive Environment) juga berjalan dengan baik.

4.       Kedua hal tersebut jika dilakukan dengan baik, maka disebut sebagai universal ‘prevention’: pencegahan menyeluruh.

5.       Dulu, kalau ada anggota masyarakat yang tidak beres, seperti bermain, nongkrong ketika adzan berkumandang, maka ada yang mengingatkan. Tapi sekarang? Itu merupakan gambaran atau contoh pencegahan yang menyeluruh.

6.       Dikatakan menyeluruh karena menunjukkan hubungan yang baik antara individu, keluarga, sekolah dan masyarakat.

7.       Hal ini sama seperti yang dilakukan oleh Masjid Jogokariyan. Para pengurusnya meyakini bahwa masjid merupakan pusat peradaban umat. Sehingga mereka melakukan hal-hal yang dapat mendukung anggota masyarakatnya untuk menyelesaikan masalahnya.

8.       Maksud dari ‘Supportive’ di layer kedua ini adalah menunjukkan dukungan dengan melakukan sesuatu, bahkan sampai melakukan bantuan dan pendampingan langsung.

9.       Apa saja lingkungan yang penting? Yang pertama adalah lingkungan sosial. Contoh yang nyata ya Jogokariyan tadi. RT dan RW tidak hanya mengurus masalah administrasi, tetapi benar-benar membantu permasalahan anggota masyarakat.

10.   Yang kedua adalah lingkungan emosional. Lalu lingkungan fisik kemudian lingkungan kognitif.

11.   Jika hal-hal ini dilakukan dengan serius, ‘InsyaAllah’ remajanya akan beres mencapai 80-90%, bahkan ada yang meyebutkan 95%.

12.   ‘Supportive’ itu melakukan tindakan berupa memperbaiki dari suatu kondisi yang kurang baik menjadi lebih baik. Hal ini dilakukan dengan tindakan nyata. Tidak dilakukan oleh person, tetapi juga seluruh elemen atau lingkungan di sekitarnya.

13.   Jika ‘universal prevention’ ini dilakukan dengan sungguh-sungguh maka remaja akan menjadi utama. Sebaliknya jika tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka remaja akan menjadi rapuh.

14.   Pada kenyataannya ada juga individu yang masih belum cukup dengan adanya ‘universal prevention’ tersebut. Selanjutnya berarti dia membutuhkan tingkat lanjut yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya pada layer ketiga

#LesehanJAN #remajautama 





Selasa, 24 April 2018

LAYER KEDUA: Lingkungan Berkualitas Tinggi yang Mendukung (Part 3)

Oleh: M. Fatan A. Ulum 

Peran Komunitas/Masyarakat di Layer Kedua

Komunitas/masyarakat memiliki peran sangat penting dalam penyediaan lingkungan berkualitas yang mendukung anak. Ketika anak mendapatkan dukungan dari lingkungan, anak akan merasa sebagai bagian dari komunitas/masyarakat dan siap berkontribusi secara positif.

Prof. Mark A. Brennan mengusulkan tindakan-tindakan yang dianjurkan komunitas untuk memperkuat daya tahan anak/remaja:

Ø  Adakan dan perkuat struktur dukungan sosial. Promosikan kegiatan-kegiatan yang didesain untuk terjadinya jejaring sosial, kemitraan remaja/dewasa, hubungan dengan mentor, serta fungsi-fungsi dukungan sosial lainnya. Termasuk mengadakan program-program mentor untuk remaja secara formal, maupun membuat peningkatan struktur dukungan remaja lokal melalui organisasi komunitas, sekolah, grup olahraga, dan organisasi religius. Menghubungkan suatu kegiatan dukungan dan struktur juga akan meningkatkan efektivitasnya, sekaligus berkontribusi kepada resiliensi komunitas yang lebih luas

Ø  Bangunlah kapasitas-kapasitas interaktif dan tingkatkan venue-venue untuk berinteraksi. Ciptakan kapasitas komunitas dengan menghubungkan grup dengan warga sekitar. Ciptakan dan rawat jalur-jalur komunikasi dan interaksi diantara semua warga lokal, terutama para remaja dan organisasi mereka. Termasuk di dalamnya meningkatkan dan mempromosikan venue untuk para remaja  seperti pusat-pusat komunitas, balai kota, taman-taman, dan fasilitas lainnya yang terbuka untuk seluruh warga. Dalam berbagai venue tersebut, adakanlah berbagai kegiatan pelayanan, festival, dan lain-lain acara. Di tempat-tempat inilah para warga—terutama anak & remaja—bisa berjumpa, berinteraksi, dan mendiskusikan berbagai isu yang sesuai dengan komunitas/masyarakat.

Ø  Berdayakan remaja menjadi kontributor jangka panjang ke dalam pengembangan komunitas lokal. Sadarilah cara-cara baru untuk melibatkan remaja dalam pembangunan komunitas, serta ijinkan mereka menyediakan masukan dalam pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan kegiatan pengambilan tindakan bersama organisasi-organisasi lokal, lembaga non profit, grup relawan, program-program remaja, maupun organisasi non pemerintah. Hal ini bisa termasuk menugaskan remaja ke dalam tim penasehat, memberi mereka hak voting/memilih, serta melayani dalam komite. Ketika remaja terikat lebih dengan hubungan positif yang berkelanjutan bersama orang dewasa, remaja lain, dan komunitas, mereka akan belajar bahwa mereka adalah warga komunitas yang berharga. Ketika para remaja diberdayakan menjadi mitra penuh dalam proses pengembangan komunitas, mereka menjadi mau untuk berpartisipasi dan berkontribusi kepada komunitas dalam jangka panjang. Serupa dengan  hal tersebut, jejaring dukungan dan jalur-jalur komunikas serta interaksi mereka meluas. Semuanya akan mewujudkan para remaja yang resilien.  

Ø  Hadiahi remaja beragam kesempatan untuk pengembangan diri, peningkatan ketrampilan diri, serta pengembangan kepemimpinan. Hal ini bisa terwujud melalui peningkatan keterlibatan remaja dengan orang dewasa dalam kolaborasi aktif di dalam resiliensi komunitas lokal. Menyatukan remaja ke dalam komite bersama orang dewasa sebagai mentor dan memandu berlangsungnya proses ini akan memampukan remaja membangaun ketrampilan memimpin dan karakter pribadi yang diperlukan untuk keterlibatan sebagai orang dewasa di masa depan. Pelatihan di bidang seperti manajemen konflik, manajemen stress, dan ketrampilan komunikasi, akan mengarahkan perubahan dalam sikap serta respek yang akan menjadikan remaja kian percaya diri akan kemampuannya. Tambahan pula, penggunaan pemetaan aset dan perencanaan berbasis aset akan menganyam ketrampilan, minat, dan ketrampilan yang diinginkan remaja dengan kesempatan-kesempatan untuk keterlibatan dan kepemimpinan komunitas.

Kamis, 19 April 2018

LAYER KEDUA: Lingkungan Berkualitas Tinggi yang Mendukung (Part 2)

Oleh: M. Fatan A. Ulum 

Peran Sekolah di Layer Kedua

Sekolah mengatur agar mendukung anak/remaja untuk memiliki kecakapan berpikir yang baik dan memiliki pijakan kuat serta kematangan mental. Beberapa hal yang perlu dikelola untuk lahirnya lingkungan yang mendukung adalah:

Ø  Atur lingkungan fisik sekolah—khususnya kelas—termasuk di dalamnya ukuran ruang, penempatan material dan perabotan, lokasi barang-barang pribadi, keamanan.
Ø  Gunakan material yang aman dan sesuai dengan usia anak/remaja, berikan petunjuk penggunaan alat-alat tersebut, lakukan rotasi peralatan agar minat terjaga.
Ø  Lakukan rutinitas yang bisa diprediksi serta transisi yang terencana dengan baik. Sediakan kerangka acuan untuk kegiatan serta transisi antar kegiatan, berikan petunjuk kapan saatnya tenang maupun saat berkegiatan.
Ø  Sampaikan aturan dan harapan dengan jelas. Terangkan kepada anak panduan untuk perilaku-perilaku yang diharapkan, sediakan perhatian yang positif, tunjukkkan rasa hormat kepada anak dengan mengajarkan apa aja yang diharapkan dari mereka.

Untuk kondisi kelas, para guru perlu memperhatikan rutinitas kelas dan saat-saat transisi:
Ø  Jadwal harian
Ø  Prosedur pengajaran
Ø  Perpindahan jadwal yang jelas
Ø  Punya “mata di belakang kepala”, yaitu memonitor kelas secara berkala.

Sekolah, khususnya para guru, perlu memperhatikan strategi pengajaran, meliputi:
Ø  Sediakan pilihan
Ø  Berikan instruksi yang berbeda-beda. Menurut Carol Ann Tomlinson, ini bukan tentang strategi pemberian instruksi atau cara mengajar. Ini adalah “cara berpikir” dalam mengajar dan belajar, yang mengarahkan guru untuk lebih memahami kondisi anak sehingga bisa memperlakukannya dengan tepat, sesuai kebutuhan dan minatnya yang khusus. Maka, guru perlu melakukan ongoing assesment, yaitu pengukuran kondisi murid secara berkesinambungan. Pengukuran ini meliputi: kesiapan, minat, dan profil belajar (preferensi belajar, preferensi kecerdasan, budaya, dan gender) tiap anak.
Ø  Pentingnya bermain, khususnya bagi anak di usia PAUD dan SD
Ø  Bekerja di dalam kelompok. Termasuk adanya tutor sebaya, mitra belajar, maupun kelompok belajar. Hal ini amat sesuai terutama untuk anak/remaja di usia SLTP dan SLTA.
Ø  Suatu compendium strategi mengajar. Semacam ikhtisar atau kompilasi yang mencakup prinsip-prinsip umum tentang strategi mengajar. Perhatikan hal-hal berikut : motivasi, harapkan yang terbaik, berikan tanggung jawab, pecah informasi dalam unit-unit yang kecil, gunakan variasi, beri kesempatan agak lama, keluar di tempat terbuka.


LAYER KEDUA: Lingkungan Berkualitas Tinggi yang Mendukung (Part 1)


Oleh: M. Fatan A. Ulum 

Setelah kemarin kita membincangkan layer pertama dalam pendekatan proaktif untuk wujudnya para remaja utama, sekarang kita bahas layer keduanya: Lingkungan berkualitas tinggi yang suportif (high-quality supportive environment). Yaitu lingkungan yang menunjukkan dukungan dengan melakukan sesuatu, atau memberikan bantuan/pendampingan ke seseorang secara positif; baik sosial, emosional, fisik, maupun kognitif.

Peran Individu (Anak/Remaja) di Layer Kedua
Anak perlu bergabung dengan lingkungan yang memberikan dukungan padanya secara positif. Lingkungan yang memberinya kesempatan berkembang sebagai pribadi yang utama.
Anak perlu bersosialisasi dengan sebayanya. Bermain atau berkegiatan bersama teman seusia, membantu anak untuk mengasah beragam ketrampilan sosial yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Anak perlu memilih dan membangun lingkungan yang menguatkan kompetensi-kompetensi, merasa termotivasi untuk sabar dan tabah dalam meraih kesuksesan. Lingkungan yang membuat anak memiliki pandangan yang optimis akan masa depannya. Lingkungan yang mendukungnya berkembang menjadi remaja utama.

Peran Keluarga di Layer Kedua
Keluarga dapat membantu proses anak menjadi remaja utama, yakni dengan memperhatikan beberapa hal:
Pertama, kondisikan lingkungan fisik yang membangun suasana “welcome”. Anak merasa diterima menjadi bagian dari keluarga.
Kedua, atur perabotan dengan baik.
Ketiga, pilih bahan-bahan dengan cermat. Sesuaikan dengan usia dan perkembangan anak.
Keempat, perhatikan penyediaan ruang/zona pribadi. Terutama untuk anak-anak yang mulai menginjak masa remaja, dan memerlukan ruang tersendiri.
Kelima, perhatikan pengaruh ruangan dan jenis bahan terhadap perilaku anak.
Keenam, manfaatkan dinding-dinding rumah untuk menyampaikan pesan: bahwa rumah ini milik bersama, desain dan tata ruang yang mendukung anak, serta adanya aturan dan prosedur di dalamnya yang jelas.

#LesehanJAN #remajautama 



Rabu, 18 April 2018

SAMPUL BULETIN NIH #22


Lesehan JAN “On Building Prime Youths" #11 dengan Pembahasan Layer Pertama dalam Pendekatan proaktif: "Hubungan yang Ngemong dan Responsif”




1.       Pendekatan proaktif merupakan pendekatan yang bersifat positif-promotif-preventif. Fokusnya adalah mempromosikan tindakan-tindakan yang tepat dalam upaya melahirkan para remaja utama.

2.       Bersikap proaktif adalah sebaik-baik intervensi. Dengan bersikap proaktif, masalah dapat diselesaikan bahkan sebelum masalah itu datang. Caranya adalah dengan memenuhi kebutuhan fisik, kognitif, emosi, dan sosialnya.

3.       Agar efektif, maka harus memperhatikan 5 hal: mulai sejak dini, terus menerus, sesuai dengan perkembangan, jalankan di beberapa area secara bersamaan, dan ambil tempat dalam situasi kehidupan nyata.

4.       Hal-hal yang perlu dibangun adalah akidah, ibadah, sosial-kemasyarakatan, akhlak/adab, perasaan, jasmani, cinta ilmu, kesehatan, dan kecenderungan sosial.

5.       Pendekatan proaktif diambil dari piramida belajar. Yang paling bawah adalah nurturing & responsive relationship.

6.       Nurturing adalah pengasuhan dan perhatian yang diberikan kepada seseorang yang sedang tumbuh-berkembang. Dalam istilah jawa disebut dengan ngemong.

7.       Jadi ngemong itu bersifat aktif, bukan pasif. Karena sifatnya memperhatikan dan mengasuh.

8.       Responsive adalah bereaksi dengan cara yang diinginkan atau positif. Langsung memberikan reaksi dengan tepat atas setiap hal yang terjadi. Tidak hanya diam saja.

9.       Sehingga nurturing & responsive relationship ini berhubungan langsung dengan orang yang menjalaninya.

10.   Peran individu adalah menjalin hubungan baik dengan orang dewasa yang ngemong dan responsif, dengan cara yang positif.

11.   Semakin banyak orang dewasa yang dijalin hubungan yang ngemong dan responsif, maka akan semakin baik kualitas yang terbangun.

12.   Karena kualitas mental yang baiklah yang diharapkan. Bukan sekedar usianya yang semakin bertambah. Anak usia 10 tahun yang bisa memberikan respon positif ketika adiknya menangis itu menunjukkan kedewasaan.
13.   Idealnya anak itu menjalin hubungan emosi yang sangat baik dengan orangtua dan seluruh anggota keluarga. Termasuk juga para guru dan staf di sekolah serta anggota masyarakat.

14.   Pada waktu yang sama, anak memiliki sikap respek yang kuat kepada orangtua meskipun memiliki banyak kekurangan. Guru menanamkan rasa hormat kepada orangtua, sebaliknya orangtua menanamkan rasa hormat kepada guru. Hal ini untuk membangun rasa respek yang kuat pada anak.

15.   Sedangkan peran keluarga, harus memberikan suasana yang hangat, memberikan harapan yang tinggi-menanamkan cita-cita tinggi, sesuai dengan tahapan usia dalam lingkup terbatas-mengajarkan hal-hal sesuai pada umurnya, dan monitoring-mengawasi, membenarkan kalau ada yang salah.

16.   Pada saat yang sama, orangtua atau keluarga harus memenuhi kebutuhan anak; individuality atau kemandirian dan connectedness/nyambung.

17.   Orangtua dan keluarga secara sadar mengarahkan anak untuk memiliki prinsip hidup dan keyakinan kuat. Caranya adalah dengan melakukan dengan sengaja mengajak anak berdialog dan intens mendampingi anak.

18.   Contoh: Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan,mohonlah kepada Allah (Hadits).

19.   Peran sekolah, perlu menyediakan waktu untuk mengenal dengan baik setiap anak dan keluarganya. Kalau memungkinkan bisa dilakukan dengan mengunjungi rumah, bincang personal, dan waktu khusus berdua dengan anak.

20.   Membuat koneksi dengan setiap anak, pelajari apa yang tepat dan tidak pas untuk anak. Sediakan kehangatan, perhatian yang positif pada keperluan-keperluan dasar.

21.   Peran masyarakat, menjadi semacam peran pendukung, terlebih lagi ketika keluarganya bermasalah, dan atau sekolahnya tidak beres. Maka masyarakatlah yang harus menggantikan peran-peran tersebut. Khalid Syantut menyatakan salah satunya adalah masjid.

22.   Masyarakat bisa menyediakan tempat yang mendukung harapan-harapan anak. Peran ini bisa dalam bentuk masjid, karang taruna, klub futsal, klub memanah, penyuka kopi, dll.

23.   Iman itu seperti listrik. Tidak tampak tapi ada dan berdampak. Begitu pula dengan Nurturing & responsive relationship yang tidak tampak tetapi dampaknya sangat berpengaruh dan luar biasa.





Kamis, 12 April 2018

Hubungan yang Ngemong dan Responsif


Layer Pertama dalam Pendekatan Proaktif
Oleh: @emfatan

Pada pertemuan sebelumnya telah kita bahas pentingnya pendekatan proaktif untuk wujudnya para remaja utama. Sebagaimana telah disinggung pula bahwa pendekatan proaktif terdiri dari beberapa layer atau lapis. Yang pertama, yang akan kita bahas kali ini, adalah layer pertama. Yaitu tentang hubungan yang ngemong dan responsif.

Hubungan yang ngemong & responsif (nurturing and responsive relationship) adalah hubungan yang penuh perhatian, tanggap dan menginspirasi kepada seseorang yang sedang tumbuh-berkembang; serta bereaksi dengan cara yang diinginkan atau positif.

Dalam menjalin hubungan khas ini, kita bisa mengoptimalkan empat pihak yang terlibat. Individu anak atau remaja itu sendiri, rumah atau keluarga, sekolah, dan masyarakat. Mari kita cermati masing-masingnya.

Peran Individu (Anak/Remaja) di Layer Pertama
Anak perlu mendorong dirinya untuk menjalin hubungan baik dengan orang dewasa yang ngemong dan responsif. Dia perlu bergaul dan terlibat dengan orang-orang di sekitarnya dengan cara yang positif. Baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan sekitarnya (komunitas dan masyarakat).

Dalam hubungan yang yang aman dan penuh perhatian bersama seorang dewasa atau lebih, anak akan menemukan fondasi yang aman dalam menjelajah dunia. Anak belajar menghargai dirinya dan percaya dengan kekuatannya sendiri. Anak menemukan bahwa dia bisa mempengaruhi (influence) orang-orang di sekitarnya, dan paham bahwa orang-orang tersebut akan membantunya memenuhi berbagai keperluannya. Dengan adanya seorang dewasa atau lebih yang peka dan responsif menjadi pembimbing dan teladan bagi anak, anak akan belajar untuk peduli dengan orang lain, menyimak berbagai hal dari sudut pandang orang lain, dan memahami perasaan orang lain.

Yang paling ideal adalah anak menjalin hubungan emosi yang sangat akrab dengan orang tua dan seluruh anggota keluarga di rumah. Anak memiliki sikap respek yang benar-benar kuat dalam dirinya kepada orang tua. Sehingga memudahkannya menerima saran, nasehat, maupun gagasan orangtua tanpa merasa terpaksa.  Anak terinspirasi dari orangtua.

Begitu pula dengan para gurunya di sekolah. Anak perlu menjalin hubungan yang baik dengan mereka, maupun para staf di sekolah secara positif. Hamre dan Pianta (2001) menyampaikan bahwa hubungan yang dekat dengan guru akan membawa anak untuk “kuat dan persistent”. Anak akan lebih menyukai sekolah, berpartisipasi lebih aktif di kelas, dan meraih prestasi yang lebih baik secara akademis.

Anak perlu memiliki sisi spiritual yang kuat, yang menjadikan mereka memiliki makna dalam kehidupan. Pearce dkk menemukan bahwa remaja kota yang mengamalkan ajaran agama seperti: beribadah, membaca buku-buku literatur agama, melihat atau mendengarkan program religi, akan memiliki rerata perilaku bermasalah yang lebih rendah. Di sinilah anak memperkuat sisi keyakinan religi yang akan menjadi fondasi bagi dua isu lainnya: profesi masa depan serta cinta dan hubungan.

Maka, anak perlu bergabung dengan komunitas-komunitas positif di sekitarnya. Baik komunitas yang berbasis religi semisal remaja masjid; berbasis hobi semisal memanah atau berenang; maupun yang berbasis kemasyarakatan seperti Karang Taruna.

Peran KELUARGA di Layer Pertama

Hubungan penuh kasih sayang anak dengan orangtuanya, yang secara konsisten mendukung dan responsif, yang menyediakan kehangatan, stuktur, harapan-harapan tinggi, sesuai tahapan usia dalam lingkup terbatas (age-appropriate limit-setting), dan monitoring; melindungi anak dalam berbagai variasi tahapan perkembangan serta berbagai jenis risiko. Hubungan spesial yang membuat anak memiliki kesempatan untuk belajar mempercayai orang lain, menghargai dirinya sendiri sebagai pihak yang pantas mendapatkan cinta dan respek, serta membuat anak memiliki pandangan baru yang lebih positif tentang dunia. 

Hubungan ini akan memberi fondasi bagi anak untuk mengembangkan berbagai kemampuan diri, termasuk kemampuan mengelola emosi dengan baik, yakin dengan kemampuannya, pencapaian prestasi, motivasi keahlian (mastery motivation), hingga kemampuan bersosialisasi dengan sebaya.

Keluarga –khususnya orangtua—perlu memenuhi paling tidak dua kebutuhan anak, yakni individuality atau “kemandirian” dan connectedness alias nyambung. Kemandirian berkaitan dengan keluarga menerima pendapat anak, termasuk ketika anak kecewa dan marah, anak dapat menyatakan dengan baik. Dari sini anak belajar memiliki pendapat sendiri serta mampu membagikan pendapat maupun perasaannya kepada orang lain. Anak tahu cara menyampaikan pendapat ketika berbeda dan bahkan bertentangan dengan orang lain karena dia mempunyai figur model di rumahnya.

Orangtua secara sadar mengarahkan anak untuk memiliki prinsip hidup atau principles of living, dan keyakinan yang kuat. Ini dilakukan dengan secara sengaja mengajak anak berdialog dan intens mendampingi anak.

Sedangkan connectedness atau nyambung terdiri dari dua unsur, yaitu peka disertai sikap respek terhadap pendapat orang lain, kemudian siap menerima pendapat orang lain. 
Jika ibu dan ayah sebagai orangtua anak tak bisa menyediakan hubungan semacam ini, seseorang yang lain dalam keluarga bisa mengambil peran ini. Itu bisa kakek atau neneknya, kakaknya, sepupunya, atau anggota keluarga lainnya. Yang penting, minimal ada 1 orang yang ngemong dan peduli pada anak. Inilah orang yang sungguh-sungguh menerima dan mendukung anak.

Peran SEKOLAH di Layer Pertama

Peran sekolah amatlah penting dalam pendekatan proaktif, yaitu dengan membangun hubungan positif dengan anak. Baik ini dilakukan oleh pihak pengelola sekolah (seperti Kepala Sekolah, karyawan tata usaha, petugas katering/kantin, dll), lebih-lebih oleh para guru.

Langkah pertama adalah pihak sekolah menyediakan waktu untuk mengenal dengan baik setiap anak dan keluarganya. Kunjungan ke rumah, bincang-bincang personal, waktu khusus berdua bersama anak adalah cara yang tepat untuk memulainya.

Langkah berikutnya adalah membuat koneksi dengan tiap anak, pelajari apa yang tepat dan tidak pas untuk anak. Sediakan kehangatan, perhatian yang positif pada keperluan-keperluan reguler dasar. Hal ini akan mengembangkan kepercayaan, penghormatan, dan membantu menyampaikan emosi kepada anak.

Beberapa sekolah membuat guru homeroom atau guru pembimbing yang akan menyertai siswa selama bersekolah. Guru ini memberikan nasehat kepada anak bimbingannya, bertindak sebagai pendukung, dan memulai hari dengan ritual—yang  satu diantaranya—siswa berbagi cerita. Hubungan yang dekat dengan guru, sebagaimana telah disebut di depan, akan membawa anak untuk “kuat dan persistent”. Anak akan lebih menyukai sekolah, berpartisipasi lebih aktif di kelas, dan meraih prestasi yang lebih baik secara akademis.

Peran Komunitas/Masyarakat di Layer Pertama

Ketika anak menerima dukungan di suatu tempat, seperti: tempat ibadah, pusat kegiatan komunitas,dll, mereka merasa terhubung dengan orang lain dan nilai-nilai utama komunitas/ masyarakat tersebut.

Emmy E. Werner dan Ruth S. Smith melakukan suatu riset longitudinal. Riset dilakukan terhadap 698 anak yang lahir di pulai Kauai, Hawaii. Ayah-ayah mereka kebanyakan pekerja semi trampil atau tidak trampil, mayoritas ibu mereka tidak lulus SMA, dan sekitar setengah keluarga tersebut hidup dalam kemiskinan yang parah.

Diantara 72 anak tersebut yang mengalami tantangan-tantangan berat ternyata mampu tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang “kompeten, percaya diri, dan peduli”. Saat mereka ditanya siapa yang telah membantu mereka mengatasi beragam hambatan tersebut, mereka menyebutkan peran para anggota keluarga besar (seperti: kakek, nenek, bibi, paman, dan lainnya), para tetangga, para guru yang menjadi model panutan, juga para mentor dari lembaga-lembaga kerelawanan dan religi.

Sebagaimana orangtua, guru yang peduli dan kompeten, tetangga, pelatih, atau sahabat bisa berperan sebagai model panutan, yang membuat anak merasa dicintai dan berharga, dan bahkan membantunya mengatasi situasi keluarga yang berat. Dengan percaya kepada anak, berharap lebih padanya, mendukungnya saat dia melampaui raihannya; seorang dewasa bisa menolong anak untuk yakin pada dirinya sendiri, mengembangkan kompetensi dan kepercayaan diri, serta meluaskan kecakapannya dalam mengatasi stress. Bagi anak yang berisiko punya masalah perilaku, kata Howes & Ritchie, mempunyai hubungan yang mendukung dengan seorang guru secara signifikan berhubungan dengan perilaku yang kompeten dan sesuai dengan sebaya.  

-----

BismiLlah. Mari kita perbincangkan langsung di Lesehan JAN #11 dengan tema "Layer 1: Relationship"
Kapan? Jum`at, 12 April 2018
Jam? 16.00-17.30
Tempat? Rumah Nah (Area Pondok Putra Rumah Sajada)
Pemateri: M. Fatan A. Ulum dan Deniz Dinamiz
Silahkan!