Sabtu, 07 April 2018

Lesehan @JANtraining "On Building Prime Youths" #10 dengan Tema "Proaktif"



1.       Tema ini membahas tentang kegiatan atau program atau pendekatan untuk menjadi remaja utama.

2.       Tentu saja pembahasan program-program ini tidak hanya untuk remajanya saja. Tetapi juga orang-orang dan lingkungan di sekitarnya.

3.       Lalu apa itu model atau pendekatan proaktif? InsyaAllah akan kita bahas pada sore hari ini.

4.       Sementara itu, pelatihan-pelatihan untuk remaja yang saat ini ada, pembahasannya adalah tentang penyuluhan bahaya narkoba, bahaya seks bebas, pelatihan tentang reproduksi, dan sejenisnya.

5.       Jika kita mengingat jenis remaja utama (paripurna, sehat, sakit, dan mengambang), maka seharusnya yang mengikuti pelatihan-pelatihan dengan tema tersebut harusnya adalah remaja yang mengambang atau sakit.

6.     Waktu kita habis hanya untuk membicarakan masalah dengan peserta yang seharusnya tidak memerlukan pembahasan itu, karena mereka sudah aman dari hal tersebut.

7.       Hal itu terjadi karena pendekatan yang dipakai bukan pendekatan proaktif. Program-program tersebut dilakukan dari sudut pandang yang negatif, dari permasalahan-permasalahan yang ada. Padahal jumlah yang bermasalah tidak lebih banyak dari yang tidak bermasalah.

8.       Pendekatan proaktif adalah pendekatan yang cenderung bersifat positif-promotif-preventif. Pendekatan yang fokusnya pada mempromosikan tindakan-tindakan yang tepat dalam upaya melahirkan para remaja utama.

9.       Maka bersikap pro-aktif adalah sebaik-baik intervensi. Intervensi yang dilakukan tidak hanya fokus pada remaja yang bermasalah saja, tetapi juga memperhatikan bagaimana kita bisa mencegah sebelum permasalahan itu terjadi.

10.   Model pro-aktif ini bisa efektif dengan adanya 5 hal: - mulai sejak dini - secara berkesinambungan - sesuai tahapan perkembangan - jalankan di beberapa area secara bersamaan - ambil tempat dalam situasi kehidupan nyata.

11.   Mulai sejak dini. Kapankah waktu yang tepat untuk memulai? Bahkan seawal mungkin. Jangan pernah meremehkan ketika kita mendampingi anak-anak, setiap hal yang mereka tanyakan dan setiap jawaban yang kita sampaikan adalah proses menanamkan nilai-nilai.

12.   Maka tugas pendidikan bukanlah lembaga-lembaga sekolah saja, melainkan juga kita semua yang berada di sekelilingnya. Setiap respon yang kita berikan akan menjadi pembelajaran bagi sang anak.

13.   Kepribadian orang itu bermacam-macam. Menurut Al-Ghazali, orang harus menguasai atau mengontrol nafsunya menggunakan akalnya. Hal itu membutuhkan petunjuk dari Qalbu. Ketiga hal ini harus dikondisikan terus-menerus.

14.   Ada beberapa hal yang harus ada dalam proses membangun kepribadian anak. As-Suwaid menyebutkan hal-hal yang perlu ditanamkan itu adalah akidah, ibadah, sosial-kemasyarakatan, akhlak/adab, perasaan, jasmani, cinta ilmu, kesehatan, dan kecenderungan sosial.

15.   Dalam khazanah psikologi, kita dapati sebuah teori yang mengatakan bahwa dalam mendidik anak, sebisa mungkin jangan menggunakan kata "jangan" atau "tidak" atau kalimat yang bentuknya negatif. Padahal dalam Islam, justru kata “jangan” ini menjadi kalimat utama dalam akidah.

16.   Maka dalam hal membangun kepribadian anak tidak cukup hanya dalam konteks kognitif saja. Ada banyak hal yang harus diperhatikan.

Sumber: Twitter @JANtraining 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar