Minggu, 29 April 2018

HIPNOSIS SECARA ILMIAH DAN ISLAM


Oleh: D. Denis P. Putrantya

Mari kita mulai dengan memancing rasa ingin tahu kita melalui beberapa pertanyaan:
1.       Apa itu hipnosis/ hipnotis? Sejarahnya? Sekarang?
2.       Apa yang terjadi ketika seseorang terhipnotis?
3.       Bagaimana seseorang bisa terhipnotis?
4.       Apa prinsip-prinsip hipnosis?
5.       Hipnosis, ilmiah atau tidak?
6.       Apa kelebihan dan kekurangan hipnosis?
7.       Bagaimana hipnosis menurut Islam?

Nah, sekarang mari kita coba telaah satu per satu:

1.       Apa itu hypnosis? Sejarahnya? Sekarang?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Hipnosis: keadaan seperti tidur karena sugesti yang pada taraf permulaan orang itu berada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugestinya, tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali.

Hipnosis berasal dari kata “hypnos”,  nama dewa tidur orang Yunani Kuno. Kata “hypnosis” pertama kali diperkenalkan seorang dokter Inggris , James Braid  (1795 – 1860). Meski demikian, hypnosis bukanlah tidur. Hipnosis adalah kondisi pikiran, dimana pikiran sadar menjadi kurang kritis, sehingga menjadikan pikiran “bawah sadar” menerima sugesti dengan lebih baik (menurut IACH/ International Association of Clinical Hypnotherapy).

Hipnosis dikelompokkan ke dalam dua kategori: klasik dan modern. Hipnosis klasik itu menyelami dan mempengaruhi pikiran orang secara mistis, klenik, dan syirik dalam pandangan Islam, misalnya sesajian, membakar kemenyan, ramu-ramuan tertentu, dan lainnya guna mendatangkan bantuan jin. Praktek hipnosis bahkan dilakukan sejak zaman kuno (seperti  Yunani dan Mesir) untuk berhubungan dengan arwah para leluhur dan keperluan mistis lain.

Hipnosis modern menurut APA (American Psychological Association) Divisi 30 (Komunitas Hipnosis Psikologis) adalah prosedur dimana seorang ahli kesehatan atau peneliti memberi sugesti ketika tritmen/perlakuan,  sehingga pasien mengalami perubahan sensasi, persepsi, pikiran, dan perilaku. Meski beberapa hipnosis digunakan untuk membuat seseorang semakin siaga, kebanyakan hipnosis mensugesti agar rileks, tenang, dan merasa nyaman.

Kita akan fokus pada pengkajian “hipnosis modern”.

2.       Apa yang terjadi ketika seseorang terhipnosis?

Dari beberapa referensi komunitas maupun asosiasi hipnosis internasional (seperti IACH, APA, IMDHA), ketika seseorang terhipnosis, kondisinya bukanlah tidur. Secara fisik, memang memenuhi ciri-ciri orang tidur (nafas melambat, mata terpejam, otot rileks, gerakan berkurang) Tetapi secara mental, orang terhipnotis dalam kondisi rileks sekaligus siaga. Kondisinya nyaman dan dapat berfikir, berbicara, dan bahkan bergerak jika dibutuhkan.

Ada yang menyebutkan jika terhipnotis adalah kondisi yang sama ketika seseorang sedang sangat asyik dalam suatu aktivitas, seperti menonton TV atau melakukan sebuah hobi. Atau ketika sedang terbawa suasana yang menenangkan dan melenakan, seperti melihat matahari terbenam di pantai. Kondisi hipnosis juga disamakan dengan kondisi meditasi. Kondisinya bukan tertidur, tetapi sadar dan fokus (focused awareness) sekaligus rileks dan nyaman.

Secara neuroscience (ilmu otak/syaraf), terhipnotis adalah kondisi dimana otak meningkat aktivitas gelombang otak lambat (alpha dan theta), dan menurunnya aktivitas gelombang otak cepat (alpha). Akibatnya, pikiran menjadi sibuk dengan “menikmati” perasaan nyaman dan rileks sehingga berkurangnya pikiran cemas dan penuh pertimbangan akan suatu hal. Jika rasa nyaman dan tenang itu berlanjut, seseorang bisa menuju aktivitas otak gelombang delta (tidur).

Maka, kondisi hipnosis (gelombang otak lambat/ alpha dan theta) dianggap sebagai kondisi sehari-hari yang kita rasakan ketika bangun tidur dan akan tidur.

3.       Bagaimana seseorang bisa terhipnosis?

Pada dasarnya, hipnosis adalah suatu kondisi mental yang khusus. Untuk mencapainya, seseorang menggunakan teknik yang disebut induksi hipnosis. Induksi ini dapat dilakukan oleh orang lain maupun diri sendiri. Diantara jenis induksi sudah banyak diketahui orang, seperti menepuk dengan tangan (ini dilakukan pada praktek gendam), menjentikkan jari, membisikkan atau mengatakan kata-kata yang mengkondisikan perasaan nyaman (seperti “Anda akan merasa nyaman dan mengantuk”), Mengajak obyek untuk membayangkan tempat yang nyaman (“Bayangkan Anda bersandar di bawah pohon yang rindang”), dan banyak variasi yang lain.

Setelah seseorang sudah berada dalam kondisi hipnosis, selanjutnya sugesti diberikan. Sugesti dapat berupa hal yang absurd (“Anda adalah ayam”) sampai terapi medis (“Anda tidak merasakan sakit” atau “Di tangan Anda ada tulisan “sakit”, sekarang saya hapus tulisan itu”).

Namun, kondisi hipnosis tidaklah harus berarti seseorang berada dalam kondisi seperti tidur. Hal ini ditunjukkan dengan adanya praktek hipnosis ketika seseorang dalam kondisi sadar (mata terbuka) bahkan sedang melakukan aktivitas fisik.

4.       Apa prinsip-prinsip hypnosis?
Tidak semua orang bisa dihipnotis. Lebih tepatnya, kemampuan seseorang merespon sugesti hipnosis berbeda-beda.

Psikolog Amerika di Universitas Stanford (Ander M. Weitzenhoffer dan Ernest R. Hilgard) membuat skala yang dapat mengukur seberapa tingkat seseorang dapat dihipnotis, yang disebut Stanford Hypnotic Susceptibility Scales. Ada 12 sugesti yang dilakukan. Jika skor 0 – 4, tergolong rendah. Jika skor 5-7, tergolong menengah. Jika skor 8 -12, tergolong tinggi atau mudah mendapat sugesti hipnosis.

Diantara bentuk sugesti hipnotisnya: tangan berpegangan dan menempel (yang terhipnotis, tidak bisa melepaskan tangan), tangan diulurkan kemudian disugesti terasa berat (yang terhipnotis, tangannya akan turun karena “merasa” berat), peserta diminta melupakan hal yang familiar (seperti nama sendiri), dan sugesti panca indera lain (seperti mencium sesuatu yang tidak ada, mendengar suara lalat yang tidak ada, dan lain sebagainya).

Beberapa prinsip yang ditemukan dari penelitian adalah sbb:
1.       Kemampuan seseorang untuk merespon sugesti hipnosis cenderung tetap pada usia dewasa.
2.       Kemampuan peng-hipnotis tidak mempengaruhi tingkat respon orang yang dihipnotis. Bahkan, ketika seseorang menghipnotis dirinya sendiri, responnya pun akan cenderung sesuai tingkatnya.
3.       Tingkat respon seseorang yang dihipnotis tidak dipengaruhi oleh karakter personal, seperti agresif- submisif nya seseorang, kemampuan berimajinasi, atau kemampuan bersosialisasi.
4.       Orang yang dihipnotis tidak bersikap pasif. Yang terjadi adalah justru, seseorang yang dalam kondisi hipnotis secara aktif mengelola keyakinan dan pemahamannya agar dapat melakukan atau memenuhi sugesti yang diberikan.

5.       Hipnosis, ilmiah atau tidak?

Meski para peneliti menemukan alat untuk mengukur tingkat respon seseorang terhadap hipnotis, hal ini tidak membantu menjelaskan proses ILMIAH apa yang terjadi ketika seseorang dihipnosis dan diberi sugesti.

Selain sugesti belum tentu berhasil karena tingkat respon yang berbeda pada tiap orang, peneliti tidak bisa memahami proses otak apa yang terjadi ketika seseorang dihipnotis/ diberi sugesti dalam kondisi hipnosis.

Maka, tidak heran kalau hipnosis tidak diterima sebagai bentuk psikoterapi oleh APA/ Asosiasi Psikologi Amerika. Dalam Psikologi, hipnosis masuk dalam bidang ilmu Pseudoscience Psychology (Psikologi Semu).

Keilmiahan hipnosis tertolak karena tidak dapat diterapkan pada semua orang dan belum tentu berhasil pada kasus medis atau psikologis yang sama.

Namun, karena banyak yang mengaku dan menunjukkan praktek hipnosis yang dapat membantu kasus-kasus medis maupun psikologis, penggunaan hipnosis semakin meluas.

6.       Apa kelebihan dan kekurangan hypnosis?
Kelebihan yang saya sebutkan, sejatinya adalah hal yang diaku oleh pelaku hipnosis. Diantaranya kelebihan yang diaku adalah bahwa hipnosis PRAKTIS dan SUKSES. Kenyataannya, keberhasilan hipnosis sangat tergantung tingkat respon orang yang dihipnotis. Kalaupun berhasil dihipnotis, kondisi masalah atau penyakit pada pasien tidak disembuhkan tetapi pasien dibuat (disugesti) untuk merasa sembuh dan sehat. Sehingga ketika sugesti itu hilang, masalah akan kembali muncul.

Kekurangan lain dari hipnosis adalah tidak ada dasar ILMIAH jelas (apalagi dalil dari agama Islam). Selain itu, yang dihipnotis riskan mendapatkan sugesti yang tidak sesuai norma masyarakat maupun agama. Dan sebagaimana yang kita ketahui, sugesti tidak berlaku bagi semua orang (hypnotizable tiap orang berbeda-beda).

7.       Bagaimana hipnosis menurut Islam?
Hipnosis klasik jelas haram. Hipnosis klasik termasuk kategori perdukunan. Lembaga Fatwa Saudi, Lajnah Daimah, pernah mengeluarkan fatwa:
“Hipnosis adalah termasuk jenis tenung (sihir) dengan menggunakan jin…
Menggunakan hipnosis dan menjadikannya cara untuk mengetahui tempat barang yang dicuri atau barang yang hilang, atau penyembuhan penyakit, atau melakukan pekerjaan tertentu dengan perantaraan orang yang dihipnosis adalah tidak boleh, bahkan termasuk syirik… juga ini termasuk bergantung kepada selain Allah” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 1/348).

8.       Jika Hipnosis modern dalam Islam?
Hipnosis sejatinya adalah teknik atau prosedur dengan kunci satu: memberi sugesti pada yang dihipnosis (proses bawah sadar).

Jika sugesti yang diberikan bertentangan dengan Islam, maka jelas bermasalah. Misal, seseorang disugesti agar bermaksiat atau berkeyakinan kafir.

Nah, jika sugesti yang diberikan sesuai Islam, apakah metodenya diperbolehkan? Misalnya, seseorang dihipnosis agar rajin sholat atau menjauhi maksiat?

Jika sugesti bertujuan mengubah “bawah sadar” sehingga seseorang berubah tidak secara sadar, maka ada KEKURANGAN BESAR dalam amalnya, yaitu “NIAT”. Islam mengajarkan untuk beramal dengan niat yang BENAR. Betapa pentingnya masalah niat, sehingga ulama-ulama Islam menyebutkan perkara NIAT di bagian awal kitab-kitab karya mereka.

Mengapa kita menerapkan hipnosis sebagai solusi permasalahan kita, ketika Allah sudah memberikan jawaban atas permasalahan hidup dengan ISLAM?

Sebagai penguat akan bermasalahnya hipnosis, sejatinya hipnosis adalah satu diantara metode penyebaran atau program NAM (New Age Movement), meskipun hipnosis tidak lahjir dari NAM. Selain itu,program NAM lainnya ada Energi Prana, Fengshui, Huna, NLP, dan bentuk lain yang intinya sama meski namanya berbeda.

Kesamaan program-program NAM adalah percaya pada kekuatan bawah sadar, kehebatannya dan pentingnya kekuatan bawah sadar, dan berlatih untuk masuk ke “kesadaran berbeda” untuk memaksimalkan potensi yang terpendam agar bisa melakukan perubahan.

Lalu apa itu NAM?

Semoga Allah memberi kita kesempatan untuk membahas ataupun mempelajari tema yang berbeda ini.

Allohu a’lam bish showwab

Referensi:
1.       “New Age Movement” oleh F.A. Kourdi
2.       “Self-Hypnosis Techniques for Management of Pain, Relaxation and Sleep” By Mark P. Jensen, PhD.
3.       “Science and Pseudoscience in Clinical Psychology” edited by S.O. Lilienfield, S.J. Lynn, J.M. Lohr.
4.       The Truth and the Hype of HypnosisBy Prof. Michael R. Nash

Tidak ada komentar:

Posting Komentar