Kamis, 12 April 2018

Hubungan yang Ngemong dan Responsif


Layer Pertama dalam Pendekatan Proaktif
Oleh: @emfatan

Pada pertemuan sebelumnya telah kita bahas pentingnya pendekatan proaktif untuk wujudnya para remaja utama. Sebagaimana telah disinggung pula bahwa pendekatan proaktif terdiri dari beberapa layer atau lapis. Yang pertama, yang akan kita bahas kali ini, adalah layer pertama. Yaitu tentang hubungan yang ngemong dan responsif.

Hubungan yang ngemong & responsif (nurturing and responsive relationship) adalah hubungan yang penuh perhatian, tanggap dan menginspirasi kepada seseorang yang sedang tumbuh-berkembang; serta bereaksi dengan cara yang diinginkan atau positif.

Dalam menjalin hubungan khas ini, kita bisa mengoptimalkan empat pihak yang terlibat. Individu anak atau remaja itu sendiri, rumah atau keluarga, sekolah, dan masyarakat. Mari kita cermati masing-masingnya.

Peran Individu (Anak/Remaja) di Layer Pertama
Anak perlu mendorong dirinya untuk menjalin hubungan baik dengan orang dewasa yang ngemong dan responsif. Dia perlu bergaul dan terlibat dengan orang-orang di sekitarnya dengan cara yang positif. Baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan sekitarnya (komunitas dan masyarakat).

Dalam hubungan yang yang aman dan penuh perhatian bersama seorang dewasa atau lebih, anak akan menemukan fondasi yang aman dalam menjelajah dunia. Anak belajar menghargai dirinya dan percaya dengan kekuatannya sendiri. Anak menemukan bahwa dia bisa mempengaruhi (influence) orang-orang di sekitarnya, dan paham bahwa orang-orang tersebut akan membantunya memenuhi berbagai keperluannya. Dengan adanya seorang dewasa atau lebih yang peka dan responsif menjadi pembimbing dan teladan bagi anak, anak akan belajar untuk peduli dengan orang lain, menyimak berbagai hal dari sudut pandang orang lain, dan memahami perasaan orang lain.

Yang paling ideal adalah anak menjalin hubungan emosi yang sangat akrab dengan orang tua dan seluruh anggota keluarga di rumah. Anak memiliki sikap respek yang benar-benar kuat dalam dirinya kepada orang tua. Sehingga memudahkannya menerima saran, nasehat, maupun gagasan orangtua tanpa merasa terpaksa.  Anak terinspirasi dari orangtua.

Begitu pula dengan para gurunya di sekolah. Anak perlu menjalin hubungan yang baik dengan mereka, maupun para staf di sekolah secara positif. Hamre dan Pianta (2001) menyampaikan bahwa hubungan yang dekat dengan guru akan membawa anak untuk “kuat dan persistent”. Anak akan lebih menyukai sekolah, berpartisipasi lebih aktif di kelas, dan meraih prestasi yang lebih baik secara akademis.

Anak perlu memiliki sisi spiritual yang kuat, yang menjadikan mereka memiliki makna dalam kehidupan. Pearce dkk menemukan bahwa remaja kota yang mengamalkan ajaran agama seperti: beribadah, membaca buku-buku literatur agama, melihat atau mendengarkan program religi, akan memiliki rerata perilaku bermasalah yang lebih rendah. Di sinilah anak memperkuat sisi keyakinan religi yang akan menjadi fondasi bagi dua isu lainnya: profesi masa depan serta cinta dan hubungan.

Maka, anak perlu bergabung dengan komunitas-komunitas positif di sekitarnya. Baik komunitas yang berbasis religi semisal remaja masjid; berbasis hobi semisal memanah atau berenang; maupun yang berbasis kemasyarakatan seperti Karang Taruna.

Peran KELUARGA di Layer Pertama

Hubungan penuh kasih sayang anak dengan orangtuanya, yang secara konsisten mendukung dan responsif, yang menyediakan kehangatan, stuktur, harapan-harapan tinggi, sesuai tahapan usia dalam lingkup terbatas (age-appropriate limit-setting), dan monitoring; melindungi anak dalam berbagai variasi tahapan perkembangan serta berbagai jenis risiko. Hubungan spesial yang membuat anak memiliki kesempatan untuk belajar mempercayai orang lain, menghargai dirinya sendiri sebagai pihak yang pantas mendapatkan cinta dan respek, serta membuat anak memiliki pandangan baru yang lebih positif tentang dunia. 

Hubungan ini akan memberi fondasi bagi anak untuk mengembangkan berbagai kemampuan diri, termasuk kemampuan mengelola emosi dengan baik, yakin dengan kemampuannya, pencapaian prestasi, motivasi keahlian (mastery motivation), hingga kemampuan bersosialisasi dengan sebaya.

Keluarga –khususnya orangtua—perlu memenuhi paling tidak dua kebutuhan anak, yakni individuality atau “kemandirian” dan connectedness alias nyambung. Kemandirian berkaitan dengan keluarga menerima pendapat anak, termasuk ketika anak kecewa dan marah, anak dapat menyatakan dengan baik. Dari sini anak belajar memiliki pendapat sendiri serta mampu membagikan pendapat maupun perasaannya kepada orang lain. Anak tahu cara menyampaikan pendapat ketika berbeda dan bahkan bertentangan dengan orang lain karena dia mempunyai figur model di rumahnya.

Orangtua secara sadar mengarahkan anak untuk memiliki prinsip hidup atau principles of living, dan keyakinan yang kuat. Ini dilakukan dengan secara sengaja mengajak anak berdialog dan intens mendampingi anak.

Sedangkan connectedness atau nyambung terdiri dari dua unsur, yaitu peka disertai sikap respek terhadap pendapat orang lain, kemudian siap menerima pendapat orang lain. 
Jika ibu dan ayah sebagai orangtua anak tak bisa menyediakan hubungan semacam ini, seseorang yang lain dalam keluarga bisa mengambil peran ini. Itu bisa kakek atau neneknya, kakaknya, sepupunya, atau anggota keluarga lainnya. Yang penting, minimal ada 1 orang yang ngemong dan peduli pada anak. Inilah orang yang sungguh-sungguh menerima dan mendukung anak.

Peran SEKOLAH di Layer Pertama

Peran sekolah amatlah penting dalam pendekatan proaktif, yaitu dengan membangun hubungan positif dengan anak. Baik ini dilakukan oleh pihak pengelola sekolah (seperti Kepala Sekolah, karyawan tata usaha, petugas katering/kantin, dll), lebih-lebih oleh para guru.

Langkah pertama adalah pihak sekolah menyediakan waktu untuk mengenal dengan baik setiap anak dan keluarganya. Kunjungan ke rumah, bincang-bincang personal, waktu khusus berdua bersama anak adalah cara yang tepat untuk memulainya.

Langkah berikutnya adalah membuat koneksi dengan tiap anak, pelajari apa yang tepat dan tidak pas untuk anak. Sediakan kehangatan, perhatian yang positif pada keperluan-keperluan reguler dasar. Hal ini akan mengembangkan kepercayaan, penghormatan, dan membantu menyampaikan emosi kepada anak.

Beberapa sekolah membuat guru homeroom atau guru pembimbing yang akan menyertai siswa selama bersekolah. Guru ini memberikan nasehat kepada anak bimbingannya, bertindak sebagai pendukung, dan memulai hari dengan ritual—yang  satu diantaranya—siswa berbagi cerita. Hubungan yang dekat dengan guru, sebagaimana telah disebut di depan, akan membawa anak untuk “kuat dan persistent”. Anak akan lebih menyukai sekolah, berpartisipasi lebih aktif di kelas, dan meraih prestasi yang lebih baik secara akademis.

Peran Komunitas/Masyarakat di Layer Pertama

Ketika anak menerima dukungan di suatu tempat, seperti: tempat ibadah, pusat kegiatan komunitas,dll, mereka merasa terhubung dengan orang lain dan nilai-nilai utama komunitas/ masyarakat tersebut.

Emmy E. Werner dan Ruth S. Smith melakukan suatu riset longitudinal. Riset dilakukan terhadap 698 anak yang lahir di pulai Kauai, Hawaii. Ayah-ayah mereka kebanyakan pekerja semi trampil atau tidak trampil, mayoritas ibu mereka tidak lulus SMA, dan sekitar setengah keluarga tersebut hidup dalam kemiskinan yang parah.

Diantara 72 anak tersebut yang mengalami tantangan-tantangan berat ternyata mampu tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang “kompeten, percaya diri, dan peduli”. Saat mereka ditanya siapa yang telah membantu mereka mengatasi beragam hambatan tersebut, mereka menyebutkan peran para anggota keluarga besar (seperti: kakek, nenek, bibi, paman, dan lainnya), para tetangga, para guru yang menjadi model panutan, juga para mentor dari lembaga-lembaga kerelawanan dan religi.

Sebagaimana orangtua, guru yang peduli dan kompeten, tetangga, pelatih, atau sahabat bisa berperan sebagai model panutan, yang membuat anak merasa dicintai dan berharga, dan bahkan membantunya mengatasi situasi keluarga yang berat. Dengan percaya kepada anak, berharap lebih padanya, mendukungnya saat dia melampaui raihannya; seorang dewasa bisa menolong anak untuk yakin pada dirinya sendiri, mengembangkan kompetensi dan kepercayaan diri, serta meluaskan kecakapannya dalam mengatasi stress. Bagi anak yang berisiko punya masalah perilaku, kata Howes & Ritchie, mempunyai hubungan yang mendukung dengan seorang guru secara signifikan berhubungan dengan perilaku yang kompeten dan sesuai dengan sebaya.  

-----

BismiLlah. Mari kita perbincangkan langsung di Lesehan JAN #11 dengan tema "Layer 1: Relationship"
Kapan? Jum`at, 12 April 2018
Jam? 16.00-17.30
Tempat? Rumah Nah (Area Pondok Putra Rumah Sajada)
Pemateri: M. Fatan A. Ulum dan Deniz Dinamiz
Silahkan! 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar