Kamis, 26 April 2018

LAYER KETIGA DALAM PENDEKATAN PROAKTIF: SOCIAL SUPPORTS



Oleh: M. Fatan A. Ulum

Dukungan sosial dan emosional khusus (targeted social & emotional supports). Yaitu dukungan sosial dan emosional kepada sekelompok anak/remaja yang berisiko bermasalah.

Peran Individu (Anak/Remaja) di Layer Ketiga
Anak-anak yang memiliki resiliensi punya watak yang suka bergaul dan kemampuan untuk terlibat dengan orang di sekitarnya dengan cara yang positif. Dengan terlibat bersama orang lain secara positif, anak akan memiliki daya tahan yang lebih dalam mengatasi masalah-masalah yang menerpanya.

Anak-anak perlu ikut ke dalam pelatihan yang mengajarkan bagaimana berkomunikasi dengan orang lain, serta memiliki selera humor yang baik, kemampuan dalam memberikan perhatian, perencanaan, berpikir secara kritis serta kreatif, serta mengevaluasi konsekuensi-konsekuensi dari perilaku-perilaku mereka. Sehingga mereka mampu menjadi pemecah masalah.

Dengan pembekalan ketrampilan ini, diharapkan  mereka mampu mengelola emosi dan perilaku secara efektif, serta mampu secara cepat bangkit kembali ketika mengalami kejadian maupun perasaan yang negatif. Serta memiliki kontrol diri yang baik atas impuls-impuls mereka, dan bisa melakukan apa-apa yang seharusnya dilakukan, bahkan dalam lingkungan maupun kondisi yang sulit.
                                         
Peran Keluarga di Layer Ketiga
Orangtua/keluarga perlu mendampingi anak dengan baik. Jangan biarkan anak larut dalam masalahnya, dan bersikap kalut. Ajak anak berdialog dan menumpahkan permasalahan yang dihadapinya kepada orangtua. Jika perlu, keluarga bisa mengarahkan anak untuk bergabung dengan komunitas yang membuatnya memiliki dukungan sosial yang mencukupi.

Peran Sekolah di Layer Ketiga
Kebanyakan anak bereaksi secara positif terhadap pendekatan proaktif di layer pertama dan kedua. Sebagian kecil lainnya, meskipun sudah sedemikian kita berupaya, mungkin memerlukan dukungan tambahan untuk mengembangkan persahabatan, mengelola perasaan mereka, dan mengatasi konflik. Ketrampilan-ketrampilan ini amat penting bagi keberhasilan anak-anak ini di masa mendatang, yang bisa jadi, sedang dalam risiko dalam pengembangan tantangan-tantangan perilaku yang lebih serius tatkala mereka memasuki situasi yang sulit atau setting dimana mereka tidak paham apa yang lingkungan harapkan dari mereka.

Kecakapan bersahabat/bersosialisasi perlu dipromosikan dan didukung melalui serangkaian program terencana yang menjadikan anak mengenali, menyadari, dan melakukannya. Kesadaran emosi ini termasuk menyadari akan perasaan orang lain dan merespon dengan tepat sinyal emosi orang lain, sekaligus mengontrol emosi dan perilaku diri sendiri.

Hal ini bisa sekolah masukkan dalam kurikulum yang terencana dan integral yang menjadi bagian dari pelajaran sehari-hari. Sehingga anak akan memiliki kecakapan penting ini untuk mengatasi berbagai tantangan yang akan dihadapinya kelak.

Peran Komunitas/Masyarakat di Layer Ketiga
Masyarakat bisa menyediakan dukungan sosial dan emosi yang diperlukan anak/remaja. Lembaga-lembaga sosial yang berbasis agama bisa menyediakan kegiatan yang dilakukan secara bersama di tempat-tempat ibadah. Sehingga anak menjadi terarah dan terbimbing.

Begitu pula komunitas dalam masyarakat bisa membantu penyaluran potensi anak, dan mengarahkannya ke bentuk-bentuk aktivitas yang positif. Termasuk menyediakan kegiatan-kegiatan berbasis teman sebaya. Komunitas sebaya yang positif membantu perlindungan terhadap anak dari berbagai hal-hal negatif. Ketika anak merasa diterima oleh teman-temannya, hal itu akan mengurangi perilaku agresifnya. Teman sebaya, jelas Criss dkk, juga bisa memenuhi kebutuhan anak tentang connectedness serta mengajarkan padanya ketrampilan sosial. Pertemanan ini khususnya amat membantu anak-anak yang telah diperlakukan dengan salah (maltreated) dan anak-anak dengan keterbatasan kemampuan belajar alias learning disabilities.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar