Rabu, 18 April 2018

Lesehan JAN “On Building Prime Youths" #11 dengan Pembahasan Layer Pertama dalam Pendekatan proaktif: "Hubungan yang Ngemong dan Responsif”




1.       Pendekatan proaktif merupakan pendekatan yang bersifat positif-promotif-preventif. Fokusnya adalah mempromosikan tindakan-tindakan yang tepat dalam upaya melahirkan para remaja utama.

2.       Bersikap proaktif adalah sebaik-baik intervensi. Dengan bersikap proaktif, masalah dapat diselesaikan bahkan sebelum masalah itu datang. Caranya adalah dengan memenuhi kebutuhan fisik, kognitif, emosi, dan sosialnya.

3.       Agar efektif, maka harus memperhatikan 5 hal: mulai sejak dini, terus menerus, sesuai dengan perkembangan, jalankan di beberapa area secara bersamaan, dan ambil tempat dalam situasi kehidupan nyata.

4.       Hal-hal yang perlu dibangun adalah akidah, ibadah, sosial-kemasyarakatan, akhlak/adab, perasaan, jasmani, cinta ilmu, kesehatan, dan kecenderungan sosial.

5.       Pendekatan proaktif diambil dari piramida belajar. Yang paling bawah adalah nurturing & responsive relationship.

6.       Nurturing adalah pengasuhan dan perhatian yang diberikan kepada seseorang yang sedang tumbuh-berkembang. Dalam istilah jawa disebut dengan ngemong.

7.       Jadi ngemong itu bersifat aktif, bukan pasif. Karena sifatnya memperhatikan dan mengasuh.

8.       Responsive adalah bereaksi dengan cara yang diinginkan atau positif. Langsung memberikan reaksi dengan tepat atas setiap hal yang terjadi. Tidak hanya diam saja.

9.       Sehingga nurturing & responsive relationship ini berhubungan langsung dengan orang yang menjalaninya.

10.   Peran individu adalah menjalin hubungan baik dengan orang dewasa yang ngemong dan responsif, dengan cara yang positif.

11.   Semakin banyak orang dewasa yang dijalin hubungan yang ngemong dan responsif, maka akan semakin baik kualitas yang terbangun.

12.   Karena kualitas mental yang baiklah yang diharapkan. Bukan sekedar usianya yang semakin bertambah. Anak usia 10 tahun yang bisa memberikan respon positif ketika adiknya menangis itu menunjukkan kedewasaan.
13.   Idealnya anak itu menjalin hubungan emosi yang sangat baik dengan orangtua dan seluruh anggota keluarga. Termasuk juga para guru dan staf di sekolah serta anggota masyarakat.

14.   Pada waktu yang sama, anak memiliki sikap respek yang kuat kepada orangtua meskipun memiliki banyak kekurangan. Guru menanamkan rasa hormat kepada orangtua, sebaliknya orangtua menanamkan rasa hormat kepada guru. Hal ini untuk membangun rasa respek yang kuat pada anak.

15.   Sedangkan peran keluarga, harus memberikan suasana yang hangat, memberikan harapan yang tinggi-menanamkan cita-cita tinggi, sesuai dengan tahapan usia dalam lingkup terbatas-mengajarkan hal-hal sesuai pada umurnya, dan monitoring-mengawasi, membenarkan kalau ada yang salah.

16.   Pada saat yang sama, orangtua atau keluarga harus memenuhi kebutuhan anak; individuality atau kemandirian dan connectedness/nyambung.

17.   Orangtua dan keluarga secara sadar mengarahkan anak untuk memiliki prinsip hidup dan keyakinan kuat. Caranya adalah dengan melakukan dengan sengaja mengajak anak berdialog dan intens mendampingi anak.

18.   Contoh: Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan,mohonlah kepada Allah (Hadits).

19.   Peran sekolah, perlu menyediakan waktu untuk mengenal dengan baik setiap anak dan keluarganya. Kalau memungkinkan bisa dilakukan dengan mengunjungi rumah, bincang personal, dan waktu khusus berdua dengan anak.

20.   Membuat koneksi dengan setiap anak, pelajari apa yang tepat dan tidak pas untuk anak. Sediakan kehangatan, perhatian yang positif pada keperluan-keperluan dasar.

21.   Peran masyarakat, menjadi semacam peran pendukung, terlebih lagi ketika keluarganya bermasalah, dan atau sekolahnya tidak beres. Maka masyarakatlah yang harus menggantikan peran-peran tersebut. Khalid Syantut menyatakan salah satunya adalah masjid.

22.   Masyarakat bisa menyediakan tempat yang mendukung harapan-harapan anak. Peran ini bisa dalam bentuk masjid, karang taruna, klub futsal, klub memanah, penyuka kopi, dll.

23.   Iman itu seperti listrik. Tidak tampak tapi ada dan berdampak. Begitu pula dengan Nurturing & responsive relationship yang tidak tampak tetapi dampaknya sangat berpengaruh dan luar biasa.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar