Rabu, 04 April 2018

SANG DZATUN NITHAQAIN*

Oleh: Atik Setyoasih 

Ayahnya lebih baik dari seluruh manusia setelah para nabi dan rasul. Ayahnya adalah lelaki terbaik nomor pertama dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Suami saudaranya, `Aisyah adalah pemimpin orang-orang terdahulu dan kemudian; Muhammad bin Abdullah. Kakek dari jalur ayahnya yaitu Abu Quhafah telah masuk Islam dan menjadi mulia karena membela Rasulullah. Nenek dari jalur ayahnya; Ummul Khair pun sama. Mulia karena beriman kepada Allah dan Rasulullah.

Kita, bahkan orang-orang terdahulu telah mengenalnya. Namanya Asma` binti Abu Bakar. Shahabiyah Nabi yang mendapat julukan agung; Dzatun Nithaqain. Pemilik dua ikat pinggang. Tentu, mendapatkan “gelar” itu ia tidak menjadi wanita yang malas-malas dan hidup tanpa arah. Arahnya telah jelas. Ia ingin mendapat kemuliaan dari Allah Ta`ala.
Keberaniannya memanglah besar. Tekadnya telah membulat. Begitulah, imannya bercampur dengan gemuruh yang mengejar kemuliaan. Hingga payah dan kelemahannya tidak membuatnya menyerah dan pasrah.

Perlu kita ketahui, saat dalam kondisi lemah karena sedang hamil, ia tidak berdiam diri saja di rumah. Ia tekadkan tidak menjadikannya alasan mundur dalam kerja-kerja kebaikan. Bahkan, yang telah ia lakukan saat hamil tua, begitu heroik. Ia susul sang ayah dan kekasih Allah Rasulullah di Gua Tsur. Ia antarkan bekal makanan dengan upaya yang payah. Sendirian! Tiada berkawan. Di tengah malam yang pekat, jalan-jalan sepi, jalur-jalur yang tiada rata dan gampang, mendaki gunung, dan sangat jauh. Dalam kondisi hamil tua. Ia ikatkan bekal itu di perut dengan tali pinggangnya. Itulah yang menjadi sebab ia dijuluki Dzatun Nithaqain.

Duhai para wanita di mana pun berada. Inilah sosok yang mengajarkan kita banyak hal. Tentang komitmen-komitmen utama yang menjadi pegangan. Tentang kerja-kerja utama yang layak dilakukan. Sehingga, pantas saja dia jadi wanita utama. Mulia karena arah hidupnya. Mulia karena kerja-kerja kebaikannya. Meski dalam payah. Meski sejatinya ia ingin istirahat.

*Naskah ini lolos KUSEN JAN per 3 April 2018 

#remajautama #pemudiutama 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar