Senin, 07 Mei 2018

Lesehan JAN "On Building Prime Youths" #14 dengan tema "Intensive Intervention"




Special shortcourse: On Building Prime Youths ini pertemuan ke-14, pertemuan terakhir dalam rangkaian pembahasan remaja utama dalam Lesehan JAN semester awal tahun ini. InsyaAllah dibersamai oleh Ust. @emfatan dan Ust. @denizdinamiz.

1.       Pembahasannya adalah tentang layer keempat dari piramida proaktif model yakni intensive intervention (intervensi intensif).
2.       Intensive: melibatkan usaha/kinerja yang sangat besar dibandingkan dengan tahapan yang lain.
3.       Intervention: menengahi, mencegah kerusakan lebih lanjut, meningkatkan kinerja atau fungsi seharusnya.
4.       Jadi secara bahasa intensive intervention adalah usaha untuk menengahi, mencegah agar tidak rusak, atau meningkatkan fungsi seharusnya, dengan usaha yang besar.
5.       Secara sederhananya adalah intervensi yang intensif.
6.       Intervensi intensif ini hanya muncul paling besar 5% jika pencegahan universal dilakukan dengan baik. Maka sebenarnya tidak terlalu membutuhkan usaha yang begitu besar, karena hanya sebagian sedikit saja yang membutuhkannya.
7.       Intervensi intensif hanya diperuntukkan bagi remaja yang bermasalah secara individual. Tidak semuanya.
8.       Ciri dari remaja bermasalah individual adalah: - perilaku bermasalah muncul terus-menerus - mudah meledak emosinya (marah) - cenderung dijauhi/ditakuti - keluarga bermasalah - tidak ada figur signifikan yang disegani - muncul masalah mental pada diri
9.       Kita bisa simpulkan, masalah itu bisa muncul pada dirinya sendiri berupa gangguan emosi (mudah meledak/marah), gangguan mental (depresi, stress, dll). Bisa juga berasal dari keluarga (orangtua atau yang lain tidak berperan baik). Juga bisa dari sosial (ditakuti/dijauhi).
10.   Tambah satu peran lagi yaitu sekolah. Karena mungkin sekolah juga kurang berperan dengan baik. Padahal sekolah juga memiliki peran yang penting untuk membuat anak bermasalah atau tidak bermasalah.
11.   Untuk menyimpulkan seorang anak bermasalah atau tidak bermasalah harus dilihat dari berbagai sisi tersebut; diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan sekolah.
12.   Apa yang harus dilakukan menghadapi remaja bermasalah? Kita analogikan seperti menghadapi orang yang sakit, ada yang namanya P3K. Begitu juga dalam masalah ini, tetapi yang dimaksud adalah P3K Kesehatan Mental. Namanya MHFA (Mental Health First Aid).
13.   MHFA adalah bantuan pendampingan yang diberikan kepada seseorang yang mengalami krisis atau masalah mental. P3K kesmen ini diberikan sampai orang tersebut memperoleh bantuan profesional atau krisis mentalnya teratasi.
14.   Usaha untuk menghadapi remaja bermasalah bukanlah tugas individu atau orang tertentu saja. Tetapi juga peran keluarga, sekolah, dan masyarakat.
15.   Peran keluarga: - keluarga memperhatikan dengan baik kondisi anak. Jangan sampai anak merasa sendiri dan ditolak. - terima anak dengan segala kondisinya. Tidak membedakan antar anak. - kuatkan dan dorong anak, perbaiki perilaku - keluarga bersikap tegas dengan lingkungan anak
16.   Cauce melaporkan bahwa anak-anak Afro Amerika di perkotaan memetik manfaat dari parenting yang strict/disiplin ketat: Orangtua menyediakan waktu lebih banyak dengan anak, menemani secara intens, dan membatasi tempat dan pergaulan dengan teman bermasalah.
17.   Hasil anak-anak Afro tersebut adalah anak berprestasi lebih baik di sekolah, lebih sedikit kekerasan, menurunnya resiko perilaku emosi dan sosial bermasalah.
18.   Peran masyarakat: - menyediakan komunitas yang menjembatani proses pemulihan diri - lembaga kerelawanan bisa mengirimkan seorang konselor/ahli di bidang perilaku untuk membantu anak kembali ke jalur seharusnya - menyediakan sarana prasarana lain yang sesuai kebutuhan anak.
19.    Peran sekolah: sekolah perlu menyediakan program khusus untuk masing-masing individu ini, dengan melibatkan beberapa pihak, yaitu orangtua, pengasuh anak, guru dan staf pendukung, bahkan fasilitator ahli perilaku seperti psikolog.
20.   Langkah yang bisa ditempuh sekolah: 1. Bentuk tim untuk bahas perilaku anak 2. Tinjau ulang setiap level/layer dalam pendekatan proaktif untuk memastikan bahwa semua aspek dalam dukungan lingkungan yang positif sudah dilakukan
21.   3. Lengkapi asesmen dan data anak dari sumber yang tersedia: observasi anak dan asesmen perilaku anak. 4. Curahkan gagasan untuk melakukan intervensi, dan kembangkan perencanaan berdasarkan data asesmen.
22.   5. Terapkan perencanaan yang sudah dibuat dengan menjalankan strategi pencegahan, mengajarkan anak perilaku pengganti, dan menyediakan strategi instruksi alternatif 6. Lihat kembali rencana yang dibuat, lakukan evaluasi pengembangannya, serta lakukan perbaikan bila diperlukan
23.   Dalam menjalankan perencanaan, tidak boleh melakukan improvisasi dengan dalih menyesuaikan kondisi di lapangan. Kalaupun memang perlu melakukan improvisasi sekalipun harus tetap dikomunikasikan dan disepakati bersama oleh tim.
24.   Peran individu: - anak harus memiliki keinginan untuk menjadi baik, bahkan lebih baik. - anak disarankan mengikuti program perbaikan sikap dan perilaku yang disiapkan oleh rumah maupun sekolah - anak meninggalkan lingkungan yang negatif, lalu bergabung ke lingkungan positif


#LesehanJAN #remajautama 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar