Sabtu, 30 Juni 2018

Sudah Tiba Saatnya


Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Tengoklah kanan kiri, tidakkah kalian menyaksikan betapa banyaknya orang yang sedang menerima cobaan. Betapa banyak orang yang sedang tertimpa bencana. Telusurilah, di setiap rumah pasti pernah ada yang merintih dan setiap pipi pasti pernah basah oleh air mata.

Sungguh, betapa banyak penderitaan yang terjadi. Betapa banyak orang yang sabar menghadapinya. Maka kalian bukanlah satu-satunya yang mendapat cobaan. Bahkan mungkin penderitaan kalian tidak seberapa dibandingkan dengan cobaan orang lain. Betapa banyak orang di dunia ini yang berbaring di atas ranjang-ranjang yang hanya bisa membolak-balikkan badannya, lalu merintih kesakitan dan menjerit menahan nyeri.

Betapa banyak orang yang di penjara selama bertahun-tahun tanpa penah dapat melihat sinar matahari dan hanya mengenal jeruji-jeruji besi. Betapa banyak orang tua yang harus kehilangan buah hatinya yang masih muda belia dan lucu-lucunya, atau yang sudah remaja dan penuh harapan. Betapa banyak orang yang menderita, belum lagi harus setiap saat menahan himpitan hidup.

Kini, sudah tiba saatnya kalian untuk memandang diri, kalian mulia bersama orang yang mendapat cobaan. Sudah tiba pula saatnya kalian menyadari bahwa dunia ini merupakan penjara bagi orang-orang mukmin dan tempat cobaan. Mungkin saat ini harta melimpah, badan sehat, dan keturunan banyak. Namun dalam hitungan hari saja semua bisa berubah. Jatuh miskin, kematian datang secara tiba-tiba, perpisahan yang tak dapat dihindari, dan sakit yang tiba-tiba menyerang.

Banyak yang dapat dijadikan contoh. Nabi Zakariya dibunuh kaumnya, Nabi Yahya dijagal, Nabi Musa dikejar-kejar dan dibunuh, dan Nabi Ibrahinm dibakar. Cobaan-cobaan itu juga menimpa para khalifah Rasulullah. Umar dilumuri darahnya sendiri, Utsman dibunuh diam-diam, dan Ali ditikam dari belakang.

Amal Tanpa Ilmu


Oleh: Siti Muti`ah 

“Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang berjalan tanpa penuntun akan mendapat kesulitan dan sulit untuk selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.” Ibnu Qayyim Al-Jauziah.

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Orang yang berjalan tanpa ilmu seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang sebenarnya. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya akan membuat kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh, namun jangan smpai meninggalkan ibadah. Gemarlah pula beribadah, namun jangan sampai meninggalkan ilmu. Karena ada sebagian orang yang gemar ibadah, namun meninggalkan belajar.”

Jadi, mengapa kita harus memiliki ilmu sebelum beramal? Karena, ilmu adalah penghidup hati dari kebodohan dan lentera dari penglihatan dari kegelapan. Dengan ilmu, seseorang akan sampai pada kedudukan orang-orang pilihan dan derajat yang tinggi di dunia dan akhirat. Tafakkur dalam ilmu menyerupai ibadah puasa, mempelajarinya menyerupai ibadah shalat malam. Dengan ilmu, hubungan silaturahmi akan terjalin dan bisa diketahui yang halal dan yang haram. Ilmu adalah imamnya amal. Orang-orang yang beruntung akan mendapat petunjuknya, dan orang-orang durhaka akan diharamkan memperolehnya.

Gimana, masih mau beramal tanpa ilmu?





Pentingnya Ilmu


Oleh: Novtinof Khofifah 

Wahai pemuda pemudi 
Beramallah dengan ilmumu
Niscaya kamu akan beruntung
Ilmu tak akan bermanfaat
Jika tak diamalkan dengan baik

Ilmu adalah hiasan
Sedangkan takwa pada Allah,
Adalah perhiasannya
Orang-orang yang bertakwa
Merkalah yang sibuk denga ilmu

Pelajarilah ilmu
Dan amalkanlah semampumu
Jangan sampai ...
Gurauan dan perdebatan melalaikanmu


Jumat, 29 Juni 2018

Komitmen Kita sebagai Pemuda

Oleh: Atik Setyoasih 

Kita percaya, pemuda menentukan hitam putih masa depan bangsa. Kita tahu, pemuda telah menorehkan banyak sejarah perbaikan kondisi di semua zaman. Kita yakin, dengan segala keutamaan pemuda yang apabila bersatu meraih tujuan mulia, kemenangan itu akan terjadi. Akan tetapi, bagaimanakah keadaan pemuda saat ini?

Atas nama remaja dan kebebasan, banyak di antara kita yang masih menganggap remaja adalah usia bebas melakukan apapun. Melakukan berbagai pelanggaran dan kenakalan pun dianggap biasa, bahkan hobi. Ada pula yang acuh terhadap diri sendiri tentang apa yang seharusnya kita lakukan sebagai pemuda. Padahal, pemuda adalah kekuatan. Kaum muda adalah orang-orang yang dahulu membela Rasulullah sampai habis-habisan saat Islam datang. Yang memusuhi Rasulullah? Kebanyakan dari generasi orang tua.

Maka Dr. Khalid Asy-Syantut yang amat resah dengan kondisi ini, dalam bukunya “Mendidik Anak Laki-laki” menuliskan kenapa kita sebagai pemuda harus paham tentang diri kita sendiri.  Berbagai bangsa telah mewajibkan militer bagi para pemuda berusia 18 hingga 20 tahun karena pemuda memang usia yang unik. Apa sebabnya? Maka, siapakah kita?
1.       Kaum muda punya fisik lebih kuat, bahkan siap sampai untuk urusan perang.
2.       Kaum muda belum punya tanggung jawab sebesar kaum tua yaitu istri dan anak-anak. (Kecuali nikah muda ya? Hehe).
3.       Kaum muda punya semangat yang besar dan lebih emosional. Dua hal ini yang menjadi modal utama dalam melakukan perjuangan memperjuangkan sesuatu.
4.       Pemuda sudah sadar tentang apa yang dilakukannya, ditambah aktif. Berbeda dengan anak-anak, aktif tetapi tidak sadar. Saat muda, bersatulah antara vitalitas, kesadaran, pengetahuan, dan kapasitas yang cukup besar.

5.       Kaum muda adalah fase pertumbuhan. Terutama tumbuh untuk bersosialisasi dengan lingkungan. Maka tak heran, kaum muda akan  berusaha mencari kelompok atau perkumpulan yang menempuh jalan terbaik demi mencapai tujuan tertentu. Terutama tujuan memperbaiki manusia.
Dengan segala kesempatan dan kekuatan yang kita miliki, inilah usia yang seharusnya tidak disia-siakan. Ada banyak hal yang harus kita kerjakan. Ada banyak persiapan untuk menyambut masa depan yang lebih baik.

Maka, menjadikan remaja Indonesia berkomitmen dan memiliki prinsip adalah cita-cita kita. Terutama komitmen kepada Allah. Komitmen untuk menjalani hidup sesuai arahNya. Sehingga, ia tahu, bahwa hidupnya adalah untuk Allah. Hidupnya adalah untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya, keluarganya, teman sebayanya, dan lingkungan hidupnya.

Dituliskan dalam buku “Mental Juara” karya Dr. Muhammad bin Ibrahim al-Hamad bahwa komitmen atau dalam Islam bernama akidah. Ia adalah pondasi penting dalam pembenahan akhlak. Tidak mungkin, remaja-remaja kita termasuk diri kita, memiliki budi pekerti yang elok nan indah tanpa akidah yang lurus.

Akidah atau komitmen yang benar dan kuat inilah yang memerintahkan para pemeluknya melakukan semua kebaikan dan mencegah dari keburukan. Ia adalah pembentuk pribadi. Karena sebanyak apa pun ilmu dan kepintaran, atau sebanyak buku apapun buku dalam almari dan dibaca setiap hari, tidak akan membuat pemiliknya menjadi orang mulia dimataNya tanpa komitmen. 
Para remaja yang memiliki komitmen padaNya, akan menjadi orang-orang yang progresif, paling sering meminta maaf, dan paling banyak kembali kepada kebenaran. Mereka tidak pernah gengsi untuk duduk berlama-lama menyimak ilmu dari siapapun. Mereka tidak pernah bimbang untuk urusan apapun. Karena mereka tahu, dengan berkomitmen padaNya, hidup menjadi terarah dan tenang.

Sudahkah kita punya komitmen yang kuat padaNya? Komitmen yang menjadi bara penting dalam hati kita. Ia yang akan menguatkan ketika kita lemah. Ia yang akan mengarahkan ketika berbelok. Ia pula yang menasehati dan menegur, ketika kita salah.

BAITUL MAQDIS BERDUKA


Oleh: Atik Setyoasih 


Bismillahirrahmanirrahim
Demi langit malam beserta gugusan bintang-Nya
Demi bumi yang segala isi adalah milik-Nya
Demi hari berganti hari, yang tiada luput atas pengaturan-Nya
Dan demi Baitul Maqdis, satu di antara tempat termulia di dunia

Saudara-saudaraku tercinta..
Yang hari ini dimudahkan urusannya
Yang hari ini dimudahkan dalam beriman
Yang hari ini dimudahkan dalam berislam
Tidakkah Engkau hari ini mendengar kabar duka?
Kabar duka mendalam yang menyayat-nyayat hati Muslimin seluruh dunia
Kabar duka yang membuat seluruh Muslimin MARAH!
Benar-benar marah kepada Zionis Israel

Baitul Maqdis tercinta!!!
Baitul Maqdis tempat mulia
Di dalamnya berdiri kokoh Masjidil Aqsha
Yang dimuliakan Allah dan Rasul-Nya
Semakin hari, semakin hari...
Terlunta dan tak berdaya
Diporak-porandakan Zionis Israel  yang terlaknat dan terhina

Wahai saudara-saudaraku tercinta...
Tidakkah kita ingin menjadi sejarah bebasnya Baitul Maqdis?
Tidakkah kita merasa SEDIH jika diri ini tak peduli dengannya
Sudah 50 tahun lebih mereka dijajah...
Sebagian muslimin diam, bahkan tidak peduli
Bahkan secara tidak sadar...
Membeli produk-produk pendukung Zionis Israel
Minuman vit, produk unilever, coca-cola, Nestle
Yang terkadang kita atau saudara kita masih memakainya...
Sungguh itu amat melukai Baitul Maqdis tercinta

Kini, Baitul Maqdis diambang garis merah Muslimin
Baitul Maqdis diambil paksa oleh Zionis Israel sebagai ibu kotanya
Padahal bukan! itu BUKAN milik mereka
Baitul Maqdis adalah milik kita
Masjidil Aqsha adalah milik kita
Yang layak untuk dibebaskan dan dibela

Saudaraku tercinta
Mari bergandengan tangan
Bersama bersatu, bergerak, bersuara
Menyiapkan segala daya dan kemampuan
Menyiapkan ilmu dan perbekalan
Hingga sampai pada janji Sang Pencipta
Membebaskan Baitul Maqdis tercinta




Rabu, 27 Juni 2018

Membangun Karakter, bukan Kebiasaan


@denizdinamiz

Pengajian buka bersama adalah hal yang lumrah di bulan Ramadhan. Sore itu, hal yang sama pun terjadi di sebuah masjid di daerah seberang sungai Progo, yaitu Sentolo. Pengajian buka bersama biasa diagendakan tiap Jumat di masjid yang bernama Nurul Huda.

Ada pemandangan yang jarang terlihat di majelis-majelis serupa. Apakah itu? Anak-anak duduk dengan rapi dan khusyuk bersama barisan bapak-bapak di sebelahnya.

Ketika anak terbiasa kita jumpai berlari dan berteriak ke sana kemari, apakah berarti mereka tidak bisa nikmat duduk rapi dengan khidmat? Kuncinya pada membangun karakter sabar (patience) dan berdaya juang (persistence).

Sabar (patience) adalah mampu untuk tetap tenang dan tidak mudah terusik ketika menunggu dalam waktu yang lama atau ketika menghadapi masalah.

Daya juang (persistence) adalah terus melakukan sesuatu meskipun berat dan ada halangan atau rintangan.

Nah, anak-anak ini bukan hanya terbiasa tapi sudah terbangun karakternya. Apa bedanya? Kebiasaan muncul karena ada instruksi semata. Sedangkan karakter dibangun dengan adanya emosi positif yang kuat dalam melakukan sesuatu. Mereka merasakan betapa terhormat dan mulia ketika bisa melakukan yang seharusnya. Meskipun hal itu sulit dan berat.

Kalau kita hanya biasa menyuruh tanpa menguatkan emosi positif, apa efeknya? Instruksi hilang, kebiasaan juga hilang. Sebagaimana anak di sekolah biasa disuruh untuk sholat Dhuha. Ketika libur di rumah? Sholat wajib bisa ditinggalkan, karena tidak ada yang menyuruh dan mengingatkan.

Dan anak-anak di kajian itu diam mendengarkan tanpa perlu diingatkan. Apalagi dibentak dengan wajah seram. Mereka sepertinya paham, bahwa khusyuk duduk dalam majelis adalah sudah seharusnya mereka lakukan. Mereka paham bahwa itu hal yang benar untuk dilakukan, meski berat mereka lakukan.

Ah.. siapa bilang anak itu wajar bila tidak bisa tenang dalam forum belajar? Ketika anak dibangun pribadinya menjadi pembelajar yang berkarakter kuat dan baik, maka anak dan remaja hebat tentu semakin bertambah. Itulah Remaja Utama, Harapan Masa Depan.

#RemajaUtama #Strong and #Righteous#character

Teman Sebaya Yang Menjaga


@denizdinamiz

Remaja pada kondisi berbeda, perlu dukungan yang berbeda. Ada remaja utama yang komitmen pada prinsip dan impiannya, ada remaja sembuh yang berhasil menghadapi krisis dalam hidupnya, ada remaja yang mengalami krisis dan berusaha menghadapinya. Remaja yang sedang krisis ini beresiko masalah.

Di antara ciri-ciri remaja beresiko masalah adalah:
1. Sulit diterima oleh teman sebaya pada umumnya.
2. Sulit mengelola emosi pada diri.
3. Pola komunikasinya cenderung pendek, negatif, dan mengganggu.
4. Cenderung ditolak dan dikucilkan oleh temannya.
5. Sering mendapat label negatif dari orang di sekitarnya

Remaja beresiko masalah adalah remaja yang cenderung diabaikan atau diperlakukan semena-mena oleh keluarga ataupun orang di sekitarnya. Namun, mereka tidak selalu menunjukkan perilaku bermasalah. Mereka berada di ambang batas pilihan: sabar bertahan atau melawan.

Sebuah riset menunjukkan hal menarik terkait anak yang diabaikan dan diperlakukan semena-mena. Mereka berhasil menunjukkan perilaku yang diharapkan sebesar 12% ketika mendapat penguatan dari GURU. Tetapi justru menjadi berhasil sebesar 53% ketika mendapat penguatan dari teman sebaya. Ini menunjukkan hal yang penting: Dukungan Sosial dan Emosional secara terencana. Baik dari pihak keluarga, guru, teman, maupun handai taulan.

Menjadi remaja utama bukan hasil instan begitu saja. Keluarga, masyarakat, dan sekolah memiliki andil membentuknya. Peran teman sebaya yang menjaga tentu menjadi penguat di kala keluarga atau orang dekat cenderung belum bisa berperan menguatkan.

Kalau kamu punya teman yang beresiko masalah, jangan keburu ikut menjauhi dan mengucilkan. Coba lihat kondisinya. Hadir di sampingnya. Dengarkan kisahnya. Bantu dengan perhatian tanpa menyalahkan. Jika perlu, hubungkan dengan orang yang bisa membantu masalahnya.

Kalau jadi remaja utama, kamu bakal berusaha bermanfaat. Nggak bakal menyakiti, apalagi meledakkan tempat ibadat. Semoga pelakunya bertobat.

Jadilah teman sebaya yang menjaga temannya. Jadilah remaja utama: bermental kuat, bermanfaat bagi orang dekat dan masyarakat. Siap?

#RemajaUtama #Prime #Youth#Bermanfaat #PrayforSurabaya

Hebat Tanpa Bakat (last part)



Dua puluh dua tahun. Baru saja lulus kuliah. Fresh Graduate. Dua orang ini tampak asyik sibuk di kantor, menulis kembali memo-memo berdasar peraturan ketat perusahaan. Tugas mereka adalah menjual brownie mix Duncan Hines.

“Kami terpilih menjadi 2 orang yang paling kecil kemungkinannya untuk berhasil,” kata satu diantara mereka.

Tiap siang hari, kerjaan mereka hanya melempar memo bekas yang dibentuk bola. Seakan-akan bermain basket. Melemparnya ke dalam keranjang sampah. Tidak punya rencana karir maupun target karir yang spesifik. Ini yang membedakan mereka dengan karyawan lain yang penuh ambisi.

Yang menarik dari mereka berdua, Jeffrey Immelt dan Steven Balmer, adalah apa yang mereka raih sebelum usia 50 tahun. Menjadi CEO dari 2 perusahaan terkemuka, General Electric dan Microsoft. Berbeda dengan apa yang diduga banyak orang di awal, karir mereka mencapai puncak. Kok bisa?

Mungkin bakat? Kalaupun iya, agak aneh kenapa bakat itu tidak tampak sebelum umur mereka 22 tahun. Atau mereka punya otak yang brilian? Mereka memang cerdas tetapi tidak ada bukti kalau mereka lebih pintar daripada ribuan teman sekolah mereka. Jadi apa penyebabnya? Mereka mengasah diri menjadi manajer hebat dengan deliberate practice.

Faktor yang menjelaskan performa hebat tingkat dunia disebut oleh para peneliti sebagai “latihan penuh kesadaran (LPK)” atau deliberate practice. Apa yang disebut dengan LPK ternyata menjadi sangat penting. Tampaknya, sebagian besar orang tidak melakukan LPK karena banyak orang bekerja keras selama puluhan tahun tetapi tidak mendekati kualitas LPK sedikitpun. Apa saja syarat agar latihan kita termasuk LPK? Bisa disimak di gambar kedua.

Ingat: Orang Hebat dan Ahli tingkat dunia bukan karena instan, tapi proses matang. Dan tentu saja, ridho Allah, Yang Menguasai Seluruh Alam. Selamat mengasah diri menjadi ahli yang bermanfaat untuk ummat, hebat dunia akhirat. Tetap Semangat tanpa Bakat!!

Hebat Tanpa Bakat (Part 3)


(diolah dari "Talent is Overrated" terbitan tahun 2008)

Temuan-temuan terbaru tentang performa hebat tingkat dunia:

Selama 30 tahun terakhir, penelitian mengenai performa hebat tingkat dunia telah menggunung. Ratusan peneliti mempelajari apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ahli tingkat dunia di berbagai bidang, seperti manajemen, catur, renang, bedah kedokteran, pilot pesawat jet, musisi biola, penjualan, penulisan novel.

Ternyata tidak sedikit dari hasil penelitian yang berseberangan dengan apa yang dipahami oleh banyak orang. Apa saja yang ditemukan berdasar penelitian-penelitian tersebut? Yuk simak!

Bakat yang dimiliki oleh para ahli tingkat dunia tidak seperti apa yang kita bayangkan. Bakat tidak cukup menjadi dasar mengapa seseorang memiliki performa hebat tingkat dunia. Itu pun kalau bakat memang ada. Beberapa peneliti bersikeras bahwa bakat hanya khayalan.

Kamu bukanlah orang berbakat dalam bermain biola, berjualan mobil, atau bedah jantung. Karena tidak ada satu pun orang memiliki bakat. Kenyataannya, para peneliti kesulitan menunjukkan bukti dimana bakat berpengaruh penting terhadap performa hebat tingkat dunia.

Lebih dari sekedar bakat, bahkan kemampuan dasar yang menurut kita dimiliki oleh seorang ahli tingkat dunia seringkali salah. Pada banyak bidang -seperti catur, musik, bisnis, dan kedokteran- kita menganggap para ahli yang hebat di bidangnya pastilah memiliki intelijensi yang mengagumkan atau ingatan yang mencengangkan. Beberapa iya, sebagian besar tidak.

Sebagai contoh, banyak orang yang menjadi master catur internasional meskipun IQ mereka di bawah rata-rata (skor 100). Jadi, menjadi ahli tingkat dunia bukan karena seseorang memiliki kemampuan dasar manusia super.

Faktor yang menjelaskan performa hebat tingkat dunia disebut oleh para peneliti sebagai “latihan penuh kesadaran (LPK)” atau deliberate practice. Apa yang disebut dengan LPK ternyata menjadi sangat penting. Tampaknya, sebagian besar orang tidak melakukan LPK karena banyak orang bekerja keras selama puluhan tahun tetapi tidak mendekati kualitas HEBAT sedikitpun.

LPK juga tidak terjadi ketika kita bermain bola atau alat musik kesayangan kita. LPK memang berat. LPK memang menyakitkan. Tetapi LPK terbukti berhasil. Semakin banyak LPK kita lakukan, semakin baik performa kita.

Hebat Tanpa Bakat (Part 2)


@denizdinamiz 

Mozart. Wolfgang Amadeus Mozart. Menyusun musik di usia 5 tahun. Tampil di depan umum, sebagai pianis dan musisi biola di usia 8 tahun. Menciptakan ratusan karya. Beberapa karya disebut sebagai harta karun budaya barat. Di dunia musik dikenal sebagai orang paling berbakat.

Benarkah? Yuk kita lihat faktanya dengan lebih jeli. Ayah Mozart bernama Leopold Mozart. Seorang komposer dan musisi terkenal di zamannya. Sebagai orang tua, ayah Mozart kecil memulai program pelatihan intensif anaknya dari usia 3 tahun. Kenapa dari sebegitu kecil?

Ayah Mozart sangat tertarik pada satu hal: mengajarkan musik pada anak-anak. Sebagai musisi, Leopold sih biasa-biasa saja. Sebagai pendidik anak, nah, dia luar biasa. Bukunya tentang cara bermain biola menjadi rujukan selama beberapa dekade. Pada tahun kelahiran Mozart kecil, lahir pula buku itu. Dua kelahiran yang sangat berarti bagi Leopold.

Sejak usia muda, Mozart kecil dapat pendidikan musik yang sangat berbobot dari seorang pakar, yaitu ayahnya. Nggak heran, karya-karya awal Mozart tampak luar biasa! Pssst.. For your Information, karya awal Wolfgang bukan karyanya sendiri lho..

Ayah Mozart selalu “mengoreksi” hasil karyanya sebelum orang lain mendengarkan karya itu. Layak dicatat juga: Leopold berhenti menghasilkan karya di tahun yang sama saat Mozart mulai belajar dari ayahnya. Lebih tampak lagi pada empat konser piano (piano concerto) pertama Mozart di usia 11 tahun. Ternyata tidak orisinil. Tidak asli karangan Mozart. Mozart menggabungkan karya-karya komposer lain. Lebih lagi, 3 karya yang dihasilkannya pada usia 16 tahun adalah aransemen dari Johann Christian Bach, guru Mozart di London.

Simfoni awal Mozart di usia 8 tahun juga sangat mirip dengan gaya John Christian Bach, gurunya pada saat itu. Tidak ada satu pun dari karya tersebut yang dianggap fenomenal. Karya luar biasa tingkat dunia (atau bisa disebut masterpiece) Mozart adalah Piano Concerto No.9. Dia menyusunnya di usia 21 tahun. Sangat muda ya? Kamu perlu ingat bahwa Mozart belajar musik sejak usia 3 tahun.

Artinya: Mozart melalui proses belajar dan latihan yang keras dari ahlinya selama 18 tahun.
Jadi, kalau yang kamu maksud dengan orang berbakat adalah orang yang bisa menjadi ahli dengan cepat dan mudah, coba pikir lagi. Apa benar ada yang seperti itu? Selama 200 tahun, banyak orang yakin bahwa Mozart adalah “orang berbakat”. Secara ajaib, dia dapat menyusun karyanya di dalam kepalanya. Lalu dengan santai dia tulis kembali di kertas.

“Keseluruhan (dari karyaku), meski panjang, hampir tuntas dan komplit di benakku... Menyalin di kertas kulakukan dengan cukup cepat... Dan jarang sekali berbeda antara apa yang kutulis dengan apa yang kubayangkan dalam imajinasiku.”

Inilah kata-kata Mozart dari suratnya yang terkenal. Masalahnya satu: surat itu palsu. Mozart tidak pernah menghasilkan karya utuh, dalam benaknya, secara komplit dan sempurna. Kenyataannya? Bisa dilihat di catatan-catatan manuskrip karya Mozart. Manuskrip itu menunjukkan bahwa dia terus-menerus melakukan revisi, mengerjakan kembali, mencoret yang salah dan menulis kembali seluruh bagian, menelisik fragmen dan memilahnya selama berbulan-bulan bahkan tahun. Tanpa mengurangi keindahan karyanya, Mozart membuatnya sebagaimana orang biasa. Bukan orang “berbakat”.

Sukses tidak perlu bakat. Seperti kopi asli nusantara nikmat tidak perlu gula.

Menjadi Hebat Tanpa Bakat (Part 1)

@denizdinamiz
(diolah dari buku "Talent is Overrated" )

Lihatlah orang-orang yang kamu temui sehari-hari. Di pasar. Di jalan. Di kantor-kantor maupun di tempat umum. Apa yang mereka lakukan?

Sebagian besar bekerja. Terkadang mereka melakukan aktivitas lain, seperti berolahraga, bermain musik, melakukan hobi tertentu. Menurut kamu: Seberapa BAIK mereka melakukannya?

Kemungkinan besar jawabannya adalah: cukup baik. Paling tidak cukup baik untuk tetap mereka lakukan dari hari ke hari.

Tetapi kenapa hanya sedikit di antara mereka (kalau pun ada) yang melakukan aktivitas mereka dengan kualitas HEBAT dan LUAR BIASA? Bahkan kualitas prima tingkat dunia?

Kenapa mereka tidak bisa menjadi hebat? Padahal, mereka melakukan aktivitas mereka terus-menerus dalam waktu yang lama. Ada yang dua puluh, tiga puluh, empat puluh tahun melakukan pekerjaan atau aktivitasnya.

Kenyataannya, banyak di antara mereka yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh keringat selama berpuluh-puluh tahun. Kualitas kerja mereka? Biasa-biasa saja. Bukan kualitas tingkat dunia.

Bahkan ada temuan yang mengherankan: Orang dengan pengalaman kerja yang tinggi tidak lebih baik dalam melakukan pekerjaannya dibandingkan dengan mereka yang pengalamannya sedikit.

Penelitan di sekolah bisnis INSEAD di Perancis dan sekolah pascasarjana U.S. Naval menyebutnya “Perangkap Pengalaman/ Experience Trap”. Hasil penelitian mereka: setelah studi yang mendalam, rata-rata, manajer yang berpengalaman tidak menghasilkan produksi yang berkualitas tinggi.

Tampak aneh? Bahkan pada beberapa bidang pekerjaan, hal ini menjadi semakin aneh. Mereka cenderung semakin buruk dengan bertambahnya pengalaman. Semakin banyak dokter berpengalaman cenderung nilai pengetahuan medisnya lebih rendah daripada dokter yang tidak berpengalaman. Dokter umum pun menjadi kurang terampil dalam mendiagnosis suara jantung dan gambar sinar x.

Berarti dapat kita pahami bahwa kerja keras (saja) tidak menentukan apakah seseorang dapat mencapai kemampuan tingkat dunia. Lalu apa?

Senin, 25 Juni 2018

QIFY


I'tikaf. Hal yang berkesan saat bulan Ramadhan bukan? Tentu! Apalagi kalau kita ingat sabda Nabi. Tentang golongan-golongan manusia yang kelak mendapatkan pertolongan Allah. Semoga kita masuk di dalamnya.

“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …”

Di mana hati kita? Moga senantiasa terpaut dengan masjid. Aamiin. 
📹: Agenda 'Qur'anic I'tikaf for Youths di Masjid Al hidayah dekat @rumah_sajada (23-25 Ramadhan 1439 H) 




JANGAN LIBUR BELAJAR

Calon buku tim Kusen yang semoga segera bisa dinikmati sajiannya

Ibnu Mas'ud sangat tekun dalam mencari ilmu. Beliau pernah berkata, "Demi Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Tidak ada satu pun surat Al-Qur'an yang diturunkan melainkan aku mengetahui di mana diturunkan. Tidak ada satu ayat Al-Qur'an yang diturunkan melainkan aku memgetahui di mana diturunkan kecuali aku mengetahui kepada siapa diturunkan. Seandainya aku tahu ada orang yang lebih mengetahui Al-Qur'an selain diriku, sedangkan aku mampu menjangkaunya, niscaya akan kukendarai ke sana."
.
Berkaca dari Ibnu Mas'ud, tentang tekunnya mencari ilmu. Tentang 'kelahapannya' sama ilmu. Kalau suasana sekarang, liburan sekolah yang cukup panjang, bagaimana perjalanan kita mencari ilmu? Kamu lebih senang menghabiskan waktu waktu liburan untuk apa?
.
Meski libur, menuntut ilmu 'jangan' sampai libur. :)

MENDAPAT KEMENANGAN

Calon buku Tim KUSEN yang semoga segera bisa dinikmati sajiannya 


“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah kemenangan yang agung." (Qs. Al-Buruuj: 11).

Jelas sudah. Kunci utama agar kita jadi utama di hadapanNya. Bukan hadapan makhlukNya: beriman dan mengerjakan kebaikan. .. Gimana kabar iman hari ini? Gimana kabar kebaikan-kebaikan yang kita lakukan hari ini? ✊❤



Rabu, 20 Juni 2018

Kami Mengucapkan


TaqabbaLlaahu minnaa wa minkum.
Semoga Allah terima amal ibadah kita dan kamu sekalian ...


Senin, 04 Juni 2018

QUR`AN I`TIKAF FOR YOUTH


“QURAN DI DADA, MULIA SELAMANYA”

Hari-harimu kering. Jam-jammu berlalu saja tanpa mendapatkan lezatnya iman. Detik-detikmu terlalaikan bersama Al-Qur`an dan ibadah-ibadah utama. Kamu merasa terlunta dan tidak tau harus bagaimana di bulan yang amat spesial ini.

Seperti itukah keadaan yang sedang kamu alami? Semoga tidak! Bulan spesial dibanding bulan-bulan lain telah datang. Hari-hari istimewa dibanding hari-hari lain, sedang kita jalani. Bahkan, malam-malamnya pun, amat sayang kalau kita lewatkan tanpa Al-Qur`an.

Apalagi, kabar gembira yang amat sayang kalau tidak kita sambut dengan gembira. Apa itu? Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Di hari itu, kita diberi kesempatan Allah untuk lebih kenceng lagi beribadah kepada Allah. Kita ‘berdiam’ diri di masjid untuk semakin dekat kepada Allah dan Al-Qur`an. Hingga kita bisa bertemu dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan dengan kondisi terbaik!

Maka, bagi kamu yang ingin ikut QIFY (Qur`an I`tikaf for Youth) bareng,
Waktu : Jum`at (16.00) sampai Ahad (11.30), 8-10 Juni 2018
Tempat : Masjid Al-Hidayah (Sorolaten, Sidokarto, Godean, Sleman, Yogyakarta)
Tema : “Qur`an di Dada, Mulia Selamanya”
Biaya : Gratis!
Fasilitas : Materi, buletin, teman ngaji, menu sahur dan buka ‘spesial’
CP : 089667736149

Kuota terbatas! Segera daftar dan ajak temanmu ya.