Rabu, 27 Juni 2018

Hebat Tanpa Bakat (last part)



Dua puluh dua tahun. Baru saja lulus kuliah. Fresh Graduate. Dua orang ini tampak asyik sibuk di kantor, menulis kembali memo-memo berdasar peraturan ketat perusahaan. Tugas mereka adalah menjual brownie mix Duncan Hines.

“Kami terpilih menjadi 2 orang yang paling kecil kemungkinannya untuk berhasil,” kata satu diantara mereka.

Tiap siang hari, kerjaan mereka hanya melempar memo bekas yang dibentuk bola. Seakan-akan bermain basket. Melemparnya ke dalam keranjang sampah. Tidak punya rencana karir maupun target karir yang spesifik. Ini yang membedakan mereka dengan karyawan lain yang penuh ambisi.

Yang menarik dari mereka berdua, Jeffrey Immelt dan Steven Balmer, adalah apa yang mereka raih sebelum usia 50 tahun. Menjadi CEO dari 2 perusahaan terkemuka, General Electric dan Microsoft. Berbeda dengan apa yang diduga banyak orang di awal, karir mereka mencapai puncak. Kok bisa?

Mungkin bakat? Kalaupun iya, agak aneh kenapa bakat itu tidak tampak sebelum umur mereka 22 tahun. Atau mereka punya otak yang brilian? Mereka memang cerdas tetapi tidak ada bukti kalau mereka lebih pintar daripada ribuan teman sekolah mereka. Jadi apa penyebabnya? Mereka mengasah diri menjadi manajer hebat dengan deliberate practice.

Faktor yang menjelaskan performa hebat tingkat dunia disebut oleh para peneliti sebagai “latihan penuh kesadaran (LPK)” atau deliberate practice. Apa yang disebut dengan LPK ternyata menjadi sangat penting. Tampaknya, sebagian besar orang tidak melakukan LPK karena banyak orang bekerja keras selama puluhan tahun tetapi tidak mendekati kualitas LPK sedikitpun. Apa saja syarat agar latihan kita termasuk LPK? Bisa disimak di gambar kedua.

Ingat: Orang Hebat dan Ahli tingkat dunia bukan karena instan, tapi proses matang. Dan tentu saja, ridho Allah, Yang Menguasai Seluruh Alam. Selamat mengasah diri menjadi ahli yang bermanfaat untuk ummat, hebat dunia akhirat. Tetap Semangat tanpa Bakat!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar