Rabu, 27 Juni 2018

Hebat Tanpa Bakat (Part 2)


@denizdinamiz 

Mozart. Wolfgang Amadeus Mozart. Menyusun musik di usia 5 tahun. Tampil di depan umum, sebagai pianis dan musisi biola di usia 8 tahun. Menciptakan ratusan karya. Beberapa karya disebut sebagai harta karun budaya barat. Di dunia musik dikenal sebagai orang paling berbakat.

Benarkah? Yuk kita lihat faktanya dengan lebih jeli. Ayah Mozart bernama Leopold Mozart. Seorang komposer dan musisi terkenal di zamannya. Sebagai orang tua, ayah Mozart kecil memulai program pelatihan intensif anaknya dari usia 3 tahun. Kenapa dari sebegitu kecil?

Ayah Mozart sangat tertarik pada satu hal: mengajarkan musik pada anak-anak. Sebagai musisi, Leopold sih biasa-biasa saja. Sebagai pendidik anak, nah, dia luar biasa. Bukunya tentang cara bermain biola menjadi rujukan selama beberapa dekade. Pada tahun kelahiran Mozart kecil, lahir pula buku itu. Dua kelahiran yang sangat berarti bagi Leopold.

Sejak usia muda, Mozart kecil dapat pendidikan musik yang sangat berbobot dari seorang pakar, yaitu ayahnya. Nggak heran, karya-karya awal Mozart tampak luar biasa! Pssst.. For your Information, karya awal Wolfgang bukan karyanya sendiri lho..

Ayah Mozart selalu “mengoreksi” hasil karyanya sebelum orang lain mendengarkan karya itu. Layak dicatat juga: Leopold berhenti menghasilkan karya di tahun yang sama saat Mozart mulai belajar dari ayahnya. Lebih tampak lagi pada empat konser piano (piano concerto) pertama Mozart di usia 11 tahun. Ternyata tidak orisinil. Tidak asli karangan Mozart. Mozart menggabungkan karya-karya komposer lain. Lebih lagi, 3 karya yang dihasilkannya pada usia 16 tahun adalah aransemen dari Johann Christian Bach, guru Mozart di London.

Simfoni awal Mozart di usia 8 tahun juga sangat mirip dengan gaya John Christian Bach, gurunya pada saat itu. Tidak ada satu pun dari karya tersebut yang dianggap fenomenal. Karya luar biasa tingkat dunia (atau bisa disebut masterpiece) Mozart adalah Piano Concerto No.9. Dia menyusunnya di usia 21 tahun. Sangat muda ya? Kamu perlu ingat bahwa Mozart belajar musik sejak usia 3 tahun.

Artinya: Mozart melalui proses belajar dan latihan yang keras dari ahlinya selama 18 tahun.
Jadi, kalau yang kamu maksud dengan orang berbakat adalah orang yang bisa menjadi ahli dengan cepat dan mudah, coba pikir lagi. Apa benar ada yang seperti itu? Selama 200 tahun, banyak orang yakin bahwa Mozart adalah “orang berbakat”. Secara ajaib, dia dapat menyusun karyanya di dalam kepalanya. Lalu dengan santai dia tulis kembali di kertas.

“Keseluruhan (dari karyaku), meski panjang, hampir tuntas dan komplit di benakku... Menyalin di kertas kulakukan dengan cukup cepat... Dan jarang sekali berbeda antara apa yang kutulis dengan apa yang kubayangkan dalam imajinasiku.”

Inilah kata-kata Mozart dari suratnya yang terkenal. Masalahnya satu: surat itu palsu. Mozart tidak pernah menghasilkan karya utuh, dalam benaknya, secara komplit dan sempurna. Kenyataannya? Bisa dilihat di catatan-catatan manuskrip karya Mozart. Manuskrip itu menunjukkan bahwa dia terus-menerus melakukan revisi, mengerjakan kembali, mencoret yang salah dan menulis kembali seluruh bagian, menelisik fragmen dan memilahnya selama berbulan-bulan bahkan tahun. Tanpa mengurangi keindahan karyanya, Mozart membuatnya sebagaimana orang biasa. Bukan orang “berbakat”.

Sukses tidak perlu bakat. Seperti kopi asli nusantara nikmat tidak perlu gula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar