Jumat, 29 Juni 2018

Komitmen Kita sebagai Pemuda

Oleh: Atik Setyoasih 

Kita percaya, pemuda menentukan hitam putih masa depan bangsa. Kita tahu, pemuda telah menorehkan banyak sejarah perbaikan kondisi di semua zaman. Kita yakin, dengan segala keutamaan pemuda yang apabila bersatu meraih tujuan mulia, kemenangan itu akan terjadi. Akan tetapi, bagaimanakah keadaan pemuda saat ini?

Atas nama remaja dan kebebasan, banyak di antara kita yang masih menganggap remaja adalah usia bebas melakukan apapun. Melakukan berbagai pelanggaran dan kenakalan pun dianggap biasa, bahkan hobi. Ada pula yang acuh terhadap diri sendiri tentang apa yang seharusnya kita lakukan sebagai pemuda. Padahal, pemuda adalah kekuatan. Kaum muda adalah orang-orang yang dahulu membela Rasulullah sampai habis-habisan saat Islam datang. Yang memusuhi Rasulullah? Kebanyakan dari generasi orang tua.

Maka Dr. Khalid Asy-Syantut yang amat resah dengan kondisi ini, dalam bukunya “Mendidik Anak Laki-laki” menuliskan kenapa kita sebagai pemuda harus paham tentang diri kita sendiri.  Berbagai bangsa telah mewajibkan militer bagi para pemuda berusia 18 hingga 20 tahun karena pemuda memang usia yang unik. Apa sebabnya? Maka, siapakah kita?
1.       Kaum muda punya fisik lebih kuat, bahkan siap sampai untuk urusan perang.
2.       Kaum muda belum punya tanggung jawab sebesar kaum tua yaitu istri dan anak-anak. (Kecuali nikah muda ya? Hehe).
3.       Kaum muda punya semangat yang besar dan lebih emosional. Dua hal ini yang menjadi modal utama dalam melakukan perjuangan memperjuangkan sesuatu.
4.       Pemuda sudah sadar tentang apa yang dilakukannya, ditambah aktif. Berbeda dengan anak-anak, aktif tetapi tidak sadar. Saat muda, bersatulah antara vitalitas, kesadaran, pengetahuan, dan kapasitas yang cukup besar.

5.       Kaum muda adalah fase pertumbuhan. Terutama tumbuh untuk bersosialisasi dengan lingkungan. Maka tak heran, kaum muda akan  berusaha mencari kelompok atau perkumpulan yang menempuh jalan terbaik demi mencapai tujuan tertentu. Terutama tujuan memperbaiki manusia.
Dengan segala kesempatan dan kekuatan yang kita miliki, inilah usia yang seharusnya tidak disia-siakan. Ada banyak hal yang harus kita kerjakan. Ada banyak persiapan untuk menyambut masa depan yang lebih baik.

Maka, menjadikan remaja Indonesia berkomitmen dan memiliki prinsip adalah cita-cita kita. Terutama komitmen kepada Allah. Komitmen untuk menjalani hidup sesuai arahNya. Sehingga, ia tahu, bahwa hidupnya adalah untuk Allah. Hidupnya adalah untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya, keluarganya, teman sebayanya, dan lingkungan hidupnya.

Dituliskan dalam buku “Mental Juara” karya Dr. Muhammad bin Ibrahim al-Hamad bahwa komitmen atau dalam Islam bernama akidah. Ia adalah pondasi penting dalam pembenahan akhlak. Tidak mungkin, remaja-remaja kita termasuk diri kita, memiliki budi pekerti yang elok nan indah tanpa akidah yang lurus.

Akidah atau komitmen yang benar dan kuat inilah yang memerintahkan para pemeluknya melakukan semua kebaikan dan mencegah dari keburukan. Ia adalah pembentuk pribadi. Karena sebanyak apa pun ilmu dan kepintaran, atau sebanyak buku apapun buku dalam almari dan dibaca setiap hari, tidak akan membuat pemiliknya menjadi orang mulia dimataNya tanpa komitmen. 
Para remaja yang memiliki komitmen padaNya, akan menjadi orang-orang yang progresif, paling sering meminta maaf, dan paling banyak kembali kepada kebenaran. Mereka tidak pernah gengsi untuk duduk berlama-lama menyimak ilmu dari siapapun. Mereka tidak pernah bimbang untuk urusan apapun. Karena mereka tahu, dengan berkomitmen padaNya, hidup menjadi terarah dan tenang.

Sudahkah kita punya komitmen yang kuat padaNya? Komitmen yang menjadi bara penting dalam hati kita. Ia yang akan menguatkan ketika kita lemah. Ia yang akan mengarahkan ketika berbelok. Ia pula yang menasehati dan menegur, ketika kita salah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar