Selasa, 31 Juli 2018

Surga Menantimu!


Oleh: M. Rosyad 

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69).

 Apakah kalian tahu tentang yang dimaksud dengan jihad yaitu menolong agama Allah Ta’ala, menangkis para pendusta, menghadang orang-orang zalim, memberi petunjuk kepada orang-orang lalai.

Maka kita sebagai umat Islam diwajibkan untuk memerangi kaum kafir. Sungguh bidadari-bidadari telah menunggu kita semua di dalam surga Allah Ta’ala.  Maka bersegeralah untuk menggapainya.

Oleh karena itu kita perlu jihad melawan hawa nafsu kita sendiri. Karena tidak semua orang bisa melawan hawa nafsu. Dan dari Sahal disebutkan, “Dan orang-orang yang berjihad untuk menegakkan sunnah, niscaya Kami tunjukkan mereka kepada jalan-jalan surga.”

Dari Al-Junaid disebutkan, “Mereka berjihad dalam melakukan taubat, niscaya Kami tunjukkan mereka kepada jalan-jalan ikhlas atau mereka berjihad dalam berkhidmat kepada Kami, niscaya Kami bukakan kepada mereka jalan-jalan untuk bermunajat kepada Kami.”

Dalam ayat di atas tersebut ada kelembutan bahwa jalan tersebut bukan satu, tetapi berbagai jalan. Seakan-akan jalan yang mengantarkan kepada Allah menyerumu, menyemangatimu, dan menggodamu. Dengan demikian, bergembiralah dan janganlah kau menghina kebaikan meskipun sedikit, karena Allah telah memberikan ampunan kepada seorang lelaki yang memberi minum kepada anjing yang kehausan, juga memberikan ampunan kepada orang yang menyingkirkan gangguan batang pohon dari jalan.

Oleh karena itu kita harus mempunyai harapan masa depan untuk berjihad di jalan Allah Ta’ala. Karena pahala, bidadari-bidadari surga telah menunggu kalian semua dan mereka semua rindu kepada kalian. Maka kita harus lebih semangat untuk berjihad.

BERMUKA HARAP


Oleh: Atik Setyoasih 

Setiap diri, tak `kan bisa lari
Saat ketetapan-Nya menghampiri
Karena hidup dan mati
Kehendak mutlak Sang Illahi

Bukankah surga cita-cita tertinggi?
Kenapa masih khawatir terhadap dunia dan segala isi?
Bukankah tugas utama adalah ‘menjual diri’?
Jikalau memang nanti
Berharap kehidupan bahagia sejati
Harusnya, yakin saja pada Illahi

Apabila matahari merangkak menuju insani
Apabila langit membelah diri sehingga sepi
Apabila laut meluap mengeluarkan segala penghuni
Apabila bumi menggoncangkan nurani
Sungguh, kita harus bersiap diri!
Saatnya berbicara langsung pada Illahi
Tentang semua yang diperbuat diri

Illahi Rabbi
Tunjukilah jalan yang lurus untuk kami



Senin, 30 Juli 2018

Makanan Bergizi untuk Hati


Perhatikan baik-baik apa perintah Allah kepada Nabi Muhammad ketika diangkat menjadi Nabi: MEMBACA! So, terusin gih bacanya...



Kalau jenis makanan menentukan sehat tidaknya tubuh kita, membaca pun harus pilih-pilih menu. Tidak semua tulisan dimasukkan ke dalam alat pencerna buku kita: mata. INGAT! YOU ARE WHAT YOU READ !

Kamu suka "makan" buku tapi hati rasanya kok kering? Wah, hati-hati! Bisa jadi karena si hati jarang inget sama Yang Maha Menguasai Hati! Segera aja ganti menu. Mendingan kamu ganti sajian bergizi dari Ilahi.

Dari kisah cinta picisan alihkan ke surat cinta sepanjang zaman (So pasti itu Qur'an dan terjemahan!). Dari kisah tak tentu juntrungannya ke kisah bermutu junjungan kita: Para Nabi mulia! Ini dia makanan sehat lezat buat dunia dan akhirat! SIKAAAT!!!

Kenapa? Nggak enak katamu? Wah, itu karena kamu nggak tahu cara memakannya. Baca buku bergizi bisa jadi lebih nikmat kalau kamu hidangkan dalam beberapa bentuk sajian, misal:

1. Inget UNTUNGnya makan tuh kitab.
Habis baca terjemah Qur'an, apa yang kamu dapat? Tambah cinta ama Ilahi? Tambah semangat menjalani hari? Jadi malu ama dosa sendiri? Inget baik-baik kalo kesemua itu mengantar pada tiga hal: SURGA, SURGA, dan SURGA!

2. Makan rame-rame.
Biar lebih asyik menikmati kitab mulia, kamu bisa membacanya bersama-sama dengan teman sesama pendamba surga. Bisa gantian baca. Bisa juga gantian ngedengerin. Atur aja!

3. Buat makanan versi kamu.
Habis kamu ngebaca kitab mulia itu, tulis dong dengan bahasa kamu, apa hikmahnya. Selain kamu bakal mengingat 5-6 kali lipat apa yang kamu catat, kamu jadi bisa bagi-bagi ilmu ama orang-orang di sekitar lewat tulisanmu itu. Apalagi kalo sampai dishare lewat sosmed. Untung kuadrat deh jadinya!

Ingin sukses dunia? dengan ILMU! Ingin sukses akhirat? Dengan ILMU! Ingin sukses dunia dan akhirat? Dengan ILMU!***

Minggu, 29 Juli 2018

PEMUDA

Oleh: A. Yusuf wicaksono 

"Wahai Bani Tsaqif, kalian adalah orang yang terakhir masuk Islam, maka janganlah kalian menjadi orang pertama keluar dari Islam."

Coba ulang sekali lagi perkataan pemuda ini. Maka anda akan dapati, bahwa perkataan itu bukanlah dari orang sembarangan. Sebuah keberanian dalam menjaga kaumnya dari kehancuran. Lantaran dirinya, Allah jaga kaum Tsaqif dari kemurtadan setelah Rasulullah SAW wafat.

Di Madinah ada Abu Bakar ash-Shidiq yang menenangkan kaum Muslim sepeninggal Rasulullah SAW. Di Mekah, dengan tegas Suhail bin Amr menjaga orang Makkah dari kemurtadan. Sedangkan di Thaif, kepada penduduk Tsaqif tampil seorang pemuda yang sebelumnya oleh Rasulullah SAW di tunjuk sebagai pemimpin mereka, Utsman bin Al-Ash. Ia pemuda yang begitu bersemangat mempelajari Al-Quran dan mendalami agama, karena itulah Rasulullah SAW memilihnya.

Kita tunda sejenak mengagumi pemuda yang bernama Utsman bin al-Ash. Di usianya yang masih muda tidak kita ragukan keilmuan dan perannya. Lalu, coba sekarang kita tengok bersama. Sudahkah para pemuda kita juga demikian, duduk di mejelis-mejelis ilmu yang bermanfaat lalu berserius untuk mendalami agamanya, semata-mata untuk berbekal sebelum memberikan manfaat bagi umat?

Atau, coba kita sejenak menengok ke tempat lain. Masjid. Adakah para pemuda di sana? Adakah di antara mereka yang sujud di hadapan Robbnya dan menjadikan masjid sebagai tempat "nongkrong" yang paling utama, bahkan dari sana muncul ide-ide brilian yang manfaat bagi umat, lantas menjadikan mereka semakin taat?

Atau mereka sudah tidak di sana, sepertinya mereka sudah berada di tengah-tengah masyarakat, membantu masyarakat dengan tindakan-tindakan nyata agar masyarakat semakin taat kepada Robbnya. Tapi, apakah benar mereka sudah di sana?

Layaknya Ustman bin Al-Ash, muda taat kepada Robbnya, mendalam agamanya. Layaknya Ustman, muda sudah terarah hidupnya dan turut serta memberikan manfaat bagi kaumnya.



Cermin


Oleh: A. Yusuf Wicaksono

"Sepatutnya anak memiliki guru yang pandai", jelas Ibnu Sina. "Taat beragama, berakhlak mulia, mengerti kamauan anak, bersahaja, berwibawa, tidak sering bercanda, tidak suka marah, tidak suka membentak dan mengeluarkan kata-kata yang tidak layak di hadapan anak, tidak keras dan kasar, murah senyum, cerdas, enak dipandang, bersih dan rapi."

Sebut Ibnu Sina untuk menjelaskan betapa besarnya tanggungjawab seorang guru, karena ada standar yang perlu diperhatikan. Dirinya lebih utama diberi pendidikan sebelum ia mendidik murid-muridnya. Bukan hanya mendidik akalnya sehingga hafal berbagai kosakata, rumus-rumus bahkan seluruh pengetahuan, tapi sampai pada akhlak dirinya. .

Kenapa demikian? Kenapa para guru harus mendidik dirinya sebelum mendidik muridnya? .

Kita dengar penjelasan langsung dari Dr. Muhammad Nur Abdul Hafidz Suwaid, "Guru akan menjadi cermin bagi si anak yang merefleksikan segala gerak-gerik dan tutur katanya untuk kemudian terpatri di dalam jiwa dan akal anak."

Jelaslah kenapa seorang pendidik harus mendidik dirinya, karena ia ibarat sebuah cermin. Namanya cermin, siapa yang berdiri didepannya, pasti ia akan melihat bayangan yang sama dengan dirinya. Ketika yang bercermin mengenakan pakaian compang-camping, maka bayangan yang terbentuk pasti juga demikian. Sama, ketika yang bercermin memakai pakaian indah dan rapi, seperti itu pulalah bayangan yang akan dilihatnya.

Begitu juga para pendidik. Kalau hendak melihat bagaimana si murid lihatlah guru-gurunya. Seorang murid adalah bayangan yang terbentuk dari gurunya. Akhlak si murid cerminan dari akhlak para gurunya.

Guru-guru inilah yang terus membersamai murid-murid dalam waktu yang panjang, para murid senantiasa melihat dan mengawasi gerak-gerik serta tutur katanya. Maka, tidak aneh jika si murid meniru apa-apa yang ada padanya. Jika yang murid lihat dari gurunya baik, itu perkara yang utama ketika ditiru oleh muridnya. Tapi jika itu buruk. Ya bisa dibayangkan, bagaimana kelak murid-muridnya. Wallaahu a'lam.

Sabtu, 28 Juli 2018

SUKA JALAN-JALAN? SEMAKIN TERDEPAN!


@denizdinamiz

KAMU suka pergi jalan-jalan? Sama dong dengan abang. Suka jalan-jalan pakai motor, mobil, kereta api (duduk-duduk dong, bukan jalan-jalan..). Terkadang pakai bicycle maupun by sikil (jawa: kaki). Bisa ke pelosok pegunungan dieng (semoga saudara kita di daerah rawan, semua sehat dan aman), maupun jalan tikus di kampung yang belum pernah abang lewati. Semuanya asyik bin bikin penasaran. Ternyata ada juga jalan seperti ini!

Jalan-jalan terus, kapan belajarnya? Tanya seorang teman heran.

Eits, jangan nuduh dulu. Siapa bilang jalan-jalan bikin otak lamban? Justru bikin otak encer karena keringetan. Yup. Dengan olahraga, otak kita makin bertenaga. Syaratnya? Minimal olah raga 75 menit per pekan, menurut penelitian di California. Selain itu, mempelajari jalan-jalan baru juga men-stimulus otak kita agar makin kreatif.

Nggak heran kalau ulama dan cendikiawan hebat, sering berpindah tempat. Belajar dari
guru yang jauhnya puluhan kilo, mengajarkan ilmu sampai daerah pelosok. Untuk dapat 1 hadits, Imam Bukhori bela belain jalan sejauh puluhan km. Olahraga dapat, ilmu terjerat. Manfaatnya? Dunia akhirat!

Pesan buat kamu yang suka belajar di kamar, sekarang juga: KELUAR. Beri makan otak dengan oksigen segar. Bugarkan otak dengan melangkah keluar. Serap nikmat-nikmat
Apalagi setelah jalanjalan di kala panas. Seteguk es jeruk bagai tetes embun di padang pasir luas. Cesss..

Pesan buat kamu yang suka jalan-jalan, selanjutnya ingat: ikat ilmu dengan kertas dan pena. Tuangkan pengalamanmu dengan menarikan jari. Untuk berbagi. Untuk memberi. Agar pohon ilmu berbuah karya. Hingga buah karya kamu menjadi makanan bermutu. Bagi mereka para pemburu ilmu. Selamat berburu dan meramu!***

Rabu, 25 Juli 2018

Cinta Buku*


Oleh: M. Rosyad 

Buku...
Adalah teman setiaku kala duduk
Yang takkan merasa jemu

Buku…
Adalah lautan yang takkan menarik pemberiannya
Membanjiriku dengan harta
Meski harta menahannya

Buku…
Petunjuk terbaik untuk meraih asaku
Darinya selalu ada pengalaman baru
Sebagai penerang langkahku


*Naskah Lolos Kusen per 24 Juli 2018 

Wanita Utama Sepanjang Zaman


Oleh: Annafi`ah Firdaus 

Apabila kamu bertemu dengan seorang wanita:

Yang lahir dari rahim termulia sepanjang masa. Diasuh lelaki pemimpin terdahulu dan masa depan. Darinya, lahir dua pemuda utama yang memberikan sejarah gemilang dalam menyatukan umat setelah Rasul meninggal. Dia juga seorang istri dari lelaki kecintaan Rasul, Ali bin Abi Thalib.
Apa yang akan kamu lakukan jika kelak ketemu dengannya? Dia namanya Fatimah binti Rasulullah. Kesayangan Rasulullah. Kecintaan Rasulullah.

Pernah ia dan sang suami sangat dalam keadaan payah dan sangat lelah. Ali, suami Fatimah berkata kepadanya, “Aku terus menimba air sampai dadaku sakit. Allah memberi (ayahmu) seorang tawanan. Pergilah ke sana lalu mintalah seorang pelayan dari beliau.” Fatimah pun menjawab, “Aku juga, demi Allah, aku terus menumbuk gandum sampai kedua tanganku melepuh.”

Singkat cerita, mereka bersepakat menemui Rasul untuk meminta pelayan. Khatta, mereka berharap bahwa dengan pelayan itu, pekerjaan rumah tangga bisa teringankan.

Tahukah jawaban Rasul? Jangan kaget! “Tidak! Demi Allah, aku tidak akan memberi kalian berdua (seorang pelayan), sementara aku biarkan kaum Muhajirin yang papa harta di Masjid Nabawi kelaparan karena aku tidak memiliki sesuatu untuk menafkahi mereka. Aku akan menjual tawanan itu dan hasilnya akan aku infakkan kepada mereka.”

Jawaban Rasul tegas. Bahwa yang Fatimah alami tidak jauh lebih menderita dibandingkan kaum Muhajirin. Apakah Fatimah marah? Kecewa? Tentulah tidak. Fatimah paham, yang dilakukan sang ayah adalah kebaikan.

Begitulah wanita utama di zaman :”mbiyen”, “now” bahkan sampai kapanpun. Wanita yang tetap dalam taat, hidup sederhana, patuh kepada orang tua, sayang suami, sayang keluarga, dan tentunya menjadikan hidupnya hanya untuk Allah, Allah, Allah, dan Rasulullah ...

Rabu, 18 Juli 2018

Menjadi Remaja Utama karena Membaca #2



#LesehanJAN

MEMULAI DENGAN MEMBACA

Siapa orang terhebat sepanjang masa? Nabi Muhammad SAW, tentu saja! Keindahan sifatnya, kehalusan sikapnya, kesejukan hatinya, ketajaman pikirnya, kekuatan fisiknya, kelembutan tuturnya, dan segala yang ada padanya adalah yang terhebat! Atau... kamu tidak banyak tahu tentang dirinya? Bisa jadi kamu kurang membaca...!

Manusia terhebat pastilah melalui tempaan terhebat. Ingatkah kamu apa yang awal mula diperintahkan Allah kepada Rasulullah? Buka aja Quran surat ke 96!

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan (QS. Al-Alaq : 1)

Iya 'kan? Beliau pertama kali diperintahkan untuk membaca? Hal ini juga menjadi kekuatan luar biasa bagi para sahabat dan ulama-ulama hebat Islam untuk mengikutinya.

Siapa sajakah mereka? Kita bahas bareng besok sambil Lesehan ya. Tata agenda kamu agar bisa datang ke:

#LesehanJumatJAN, besok Jum'at, 20 Juli 2018. Tema: *MENJADI REMAJA UTAMA KARENA MEMBACA.

Sub Tema: *MEMOTIVASI BELAJAR DENGAN "SUP BUAH BELAJAR"!*

Mulai jam 16.00-17.30

Tempat: Rumah Nah
(Kompleks PAPP Rumah Sajada, Sorolaten, Sidokarto, Godean.

Lokasi:
https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

#biaya GRATIS!
#fasilitas : ilmu, snack, dan kopi spesial

Informasi Pendaftaran: 0856 0017 6738 atau 089667736149



Merangkul Sahabat Sebelum Terlambat






Saudara-saudariku seimpian, berapa banyak saudara di sekitar kita yang sedang jatuh? Jatuh karena tidak paham apa yang membahayakan dunia dan akhiratnya.

Dan adakah yang lebih mengenaskan daripada jatuh dan tidak merasa sedang jatuh? Jangan-jangan kita sendiri juga sedang jatuh tapi tidak tahu… Ya Allah, hanya Engkaulah penolongku… Aku berlindung kepada-Mu dari syirik yang kuketahui dan aku mohon ampunan atas syirik yang tidak kuketahui.

Saudara-saudariku seharapan, apakah layak kita beralasan tidak menolong orang yang jatuh karena dia tidak meminta bantuan kita? Atau kita takut ketika kita menarik lengannya, itu akan menyakiti dirinya? Lebih sakit mana, lengannya tergores karena tarikan kita ataukah rasa sakit yang luar biasa ketika akhirnya jatuh di ujung jurang? Ujung di mana penyesalan abadi menanti…

Sudah saatnya kita peka dengan sekitar kita. Melihat adakah yang jatuh, entah itu tersandung atau menjatuhkan diri, tidak peduli! Tidak perlu kata-kata untuk menjelaskan bahwa orang sedang terancam nyawanya. Bahkan lebih ngeri: terancam agama dan kehormatannya.

Dan sebelum menolong, coba tanya pada diri kita sendiri: Apakah kita yakin bahwa maksud kita benar-benar menolong atau kita hanya ingin tampak menolong? Memang, tampak luarnya bisa saja sama. Perbedaannya ada pada niat.

Dan tentu saja, menolong pun ada caranya. Sebisa mungkin tidak meninggalkan gurat luka. Meski menolong adalah maksud kita, tapi "cara" menjadi suatu pertanda. Niat baik harus selalu diikuti dengan cara yang baik juga.

Dengan hikmah. Cara itulah yang seharusnya kita pilih. Dan untuk menangkap hikmah, akal adalah alat untuk memahami, di samping hati untuk senantiasa merasakan dan peduli.

Terima kasih telah membaca. Saatnya merangkul sahabat kita dan melangkah bersama-sama. Kenapa bersama-sama? Karena betapa indah dan mulia ketika bisa melangkah bersama menuju ridlo-Nya dengan senantiasa merasakan dan mengingatkan sesama saudara ketika salah dan lupa. Dan tentu saja, dengan hikmah dari-Nya.


Materi Lesehan JAN “Menjadi Remaja Utama karena Membaca” (13 Juli 2018)






1.       Lesehan JAN kembali hadir dengan tema bulan ini "Menjadi Remaja Utama karena Membaca". Kita akan membedah buku. Buku yang dibedah pada sore hari ini adalah "BersamaMu, Wangilah Hidupku!"

2.       Buku kumpulan puisi dari Buletin Nih ini, ditulis oleh teman-teman Kusen JAN. Dikumpulkan dari buletin Nih edisi 1-20 yang terbit semenjak tahun 2015 hingga sekarang.

3.       Tentang remaja, masih ingat tentang masa remaja? Remaja adalah masa pembentukan identitas. Apa itu identitas? Identitas adalah susunan utuh psikis seseorang yang membedakan diri dengan dunia di luar dirinya. Si A berbeda dengan si B, jadi identitas A juga berbeda dengan identitas B.

4.       Pembentukan identitas adalah proses menentukan pilihan hidup. Tiga isu penting identitas yang berkaitan dengan pilihan hidup ada 3. Pertama yaitu ideologi & keyakinan, kedua pekerjaan/ karir, dan ketiga adalah pasangan hidup/ hubungan & cinta.

5.       Isu pertama adalah tentang ideologi. Pilihan pekerjaan, pasangan, dan aktivitas hidup itu bukan ideologi. Tetapi alasan memilih hal-hal tersebut yang seharusnya ideologis, yaitu memilih sesuatu karena mencintai Allah.

6.       Bahkan termasuk hal-hal yang sepele sekalipun. Karena dalam agama Islam, hal yang paling kecil sekalipun diatur tata caranya. Seperti contoh dalam hal urusan buang air kecil. Jika hal itu dilakukan dengan niat untuk mencari ridha Allah dan mencintai Allah, akan mendapatkan balasan terbaik dariNya.

7.       Bagaimanakah menanamkan rasa cinta kepada Allah? Imam Ghozali berpendapat proses penanaman akidah adalah: 1. Menghafal (sehingga terbiasa mengenal) 2. Memahami makna sedikit demi sedikit 3. Membenarkan kandungan dan isinya 4. Meyakininya bahkan mengamalkannya.

8.       Dan cara yang bisa dilakukan untuk mencapai hal-hal tersebut adalah dengan MEMBACA!
9.       Ada, orang yang hafal Al-Quran, memahami maknanya, tetapi tidak membenarkan kandungan dan isinya, apalagi meyakini. Bahkan malah menggunakannya untuk memecah belah orang muslim dengan pemahamannya.

10.   Berapa banyak buku yang kamu baca dalam jangka waktu 3 bulan terakhir? Seberapa pentingkah membaca buku menurutmu?

11.   Apakah kamu juga seperti ini? Semoga kamu termasuk orang-orang yang minat bacanya tinggi yaa.

12.   Salah satu cara untuk meningkatkan minat baca adalah dengan cara membacakan buku (kepada orang tersebut). Hal ini menjadikan orang yang dibacakan buku akan merasa tertarik dan penasaran sehingga dia akan membaca juga.

13.   BACALAH!!! Karena Allah telah memerintahkan kita untuk membaca. Bacalah dengan nama Allah yang menciptakan.

14.   Dari perintah Allah untuk membaca dalam Surat Al-Alaq 1-5 memiliki banyak hikmah.

15.   Hikmah pertama adalah membaca yang baik: dengan bismillah dan karena Allah. Bukan karena alasan lain. Niatkan lillah!

16.   Hikmah kedua; dalam belajar, hendak mengenal sifat-sifat Allah: Kholiq (Pencipta), Akrom (Mulia), Mu'allim (Pengajar).

17.   Akrom.  اقرأ وربك الاكرم Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Mulia. Seringkali kita merasa sudah terus menerus membaca tapi susah memahami, atau malah merasa tambah pusing. Hal ini menunjukkan bahwa yang memberikan pemahaman itu adalah Allah, bukan otak kita, bukan guru kita. Tetapi Allah.

18.   Hikmah ketiga: ketika belajar, kita harus merasakan menjadi makhluk (yang diciptakan, lemah), muta'allim (pembelajar, merasa sedikit ilmu), Qori' (menjadi pembaca, gemar baca).

19.   Hikmah keempat: Ilmu diperoleh dengan Qoro-a (membaca), Qolam (tulisan, kitab), ta'lim (majelis belajar).

20.   Hikmah kelima: surat ini diturunkan di awal nubuwwah sebagai persiapan agar menjadi solusi umat dan mengemban amanah nabi.







Rabu, 11 Juli 2018

Menjadi Remaja Utama karena Membaca


Menurut John Head, remaja adalah masa pembentukan identitas. Pada saat itu, ia sedang berproses menentukan pilihan-pilihan hidup sehingga dapat menjadi manusia dewasa yang tumbuh optimal. Kurang atau tidak adanya komitmen terhadap pilihan-pilihan hidup yang penting, dapat menyebabkan masalah psikologis ketika menjadi dewasa.

Nah, ILMU adalah hal utama yang perlu dimiliki untuk jadi remaja utama. Agar kita tahu, mana pilihan-pilihan hidup yang layak dipilih ataupun tidak layak dipilih. Langkah mendapatkan ilmu bisa dengan membaca buku, menulis ilmu dari memperhatikan guru, datang ke majelis, atau sarana sarana lainnya.

Bicara tentang membaca, berdasarkan survei yang dilakukan UNESCO pada tahun 2012 terhadap minat baca di 61 negara, Indonesia hanya 0,001 persen atau menempati peringkat kedua terendah dari negara yang disurvei. Artinya, hanya 1 dari 1000 orang Indonesia, yang berminat atau rajin membaca.

Sementara penelitian Perpustakaan Nasional pada 2017 tentang frekuensi membaca orang Indonesia, hasilnya adalah rata-rata hanya tiga hingga empat kali per minggu. Mereka membaca buku per hari rata-rata cuma 30-59 menit.

Data ini menunjukkan bahwa minat masyarakat Indonesia, termasuk remaja, masih rendah dan harus ditingkatkan. Apalagi jika kita mencitakan remaja kita, sebagai remaja utama pemimpin masa depan.

Lalu, apa saja hal-hal yang perlu dilakukan untuk mewujudkan remaja utama? Ilmu dan bacaan seperti apa yang diperlukan untuk mewujudkan remaja utama Indonesia?

Maka, Lesehan JAN hadir kembali dengan Tema: Menjadi Remaja Utama karena Membaca

Sub tema per pekan:

1. Jum'at, 13 Juli 2018: Mencintai Allah dengan "BersamaMu, Wangilah Hidupku

2. Jum'at, 20 Juli 2018: Bersemangat Belajar dengan "Sup Buah Belajar"

3. Jum'at, 27 Juli 2018: Lesatkan Semangat dengan" Kisah-kisah Teladan Para Pemenang"

Waktu  : Mulai jam 16.00-17.30

Tempat : Rumah Nah
(Kompleks PAPP Rumah Sajada, Sorolaten, Sidokarto, Godean.

Lokasi:
https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

#biaya GRATIS!
#fasilitas : ilmu, snack, dan kopi spesial

Informasi Pendaftaran: 0856 0017 6738 atau 089667736149

More Information:

Telegram         : t.me/buletinnah
Twitter             : @buletinnah, @JANtraining
Instagram        : @buletinnah, @jantraining
Webblog          : buletinnah.com
Top of Form
Bottom of Form

YOUNG MAN, PROTECT ALLAH!



@prouchannel @denizdinamiz 

Ada hadits yang dinarasikan oleh Tirmidzi; Abdullah bin Abbas bercerita bahwa pada suatu hari dia sedang berkendara di belakang Rasulullah dan Rasulullah mengatakan, "Wahai pemuda, akan aku beritahu kepadamu beberapa kata (nasihat); jagalah Allah dan Allah akan menjagamu. Jagalah Allah dan Dia akan berada di sampingmu."

Maksud dari "menjaga Allah" di sini adalah bahwa kita harus menjaga hubungan kita dengan Allah. Kita harus menjaga shalat/ibadah kita. Kita harus menjaga waktu kita untuk membaca Al-Qur'an. Kita harus menjaga iman kita terhadap Allah.

Jika kita mampu melakukannya, Allah pasti akan menjaga kita. Allah akan memberikan kita apa yang kita butuhkan dan apa yang kita inginkan. Dan kedua, jika kita mengingat Allah, Allah akan selalu berada di samping kita, in syaa Allah.

Selasa, 10 Juli 2018

SET YOUR PRIORITIES


@prouchannel @denizdinamiz 

Salah satu tantangan sebagai seorang remaja adalah.. mengatur waktu. Kamu harus menentukan prioritasmu. Hal-hal utama yang pertama.

Ada sebuah hadits tentang Rasulullah . Seorang Sahabat bertanya kepada Beliau, "Ya Rasulullah, apakah amalan utama yang dicintai oleh Allah?" Maka Rasulullah menjawab, "Tunaikanlah shalat tepat pada waktunya."

Lalu Sahabat tersebut bertanya lagi, "Ya Rasulullah, apakah amalan yang paling favorit yang Allah cintai?" Dan Beliau menjawab, "Birrul walidain, hormati dan berbuat baiklah kepada orangtuamu."

Dan ketiga, dia bertanya lagi, "Ya Rasulullah, apakah amalan yang paling baik dan yang paling dicintai oleh Allah?" Dan Beliau menjawab, "Jihad fi sabilillah, berjuang semaksimal mungkin di jalan Allah."

Semoga kamu bisa melakukan yang terbaik. Hal-hal utama yang pertama. Tentukan prioritasmu."