Minggu, 29 Juli 2018

Cermin


Oleh: A. Yusuf Wicaksono

"Sepatutnya anak memiliki guru yang pandai", jelas Ibnu Sina. "Taat beragama, berakhlak mulia, mengerti kamauan anak, bersahaja, berwibawa, tidak sering bercanda, tidak suka marah, tidak suka membentak dan mengeluarkan kata-kata yang tidak layak di hadapan anak, tidak keras dan kasar, murah senyum, cerdas, enak dipandang, bersih dan rapi."

Sebut Ibnu Sina untuk menjelaskan betapa besarnya tanggungjawab seorang guru, karena ada standar yang perlu diperhatikan. Dirinya lebih utama diberi pendidikan sebelum ia mendidik murid-muridnya. Bukan hanya mendidik akalnya sehingga hafal berbagai kosakata, rumus-rumus bahkan seluruh pengetahuan, tapi sampai pada akhlak dirinya. .

Kenapa demikian? Kenapa para guru harus mendidik dirinya sebelum mendidik muridnya? .

Kita dengar penjelasan langsung dari Dr. Muhammad Nur Abdul Hafidz Suwaid, "Guru akan menjadi cermin bagi si anak yang merefleksikan segala gerak-gerik dan tutur katanya untuk kemudian terpatri di dalam jiwa dan akal anak."

Jelaslah kenapa seorang pendidik harus mendidik dirinya, karena ia ibarat sebuah cermin. Namanya cermin, siapa yang berdiri didepannya, pasti ia akan melihat bayangan yang sama dengan dirinya. Ketika yang bercermin mengenakan pakaian compang-camping, maka bayangan yang terbentuk pasti juga demikian. Sama, ketika yang bercermin memakai pakaian indah dan rapi, seperti itu pulalah bayangan yang akan dilihatnya.

Begitu juga para pendidik. Kalau hendak melihat bagaimana si murid lihatlah guru-gurunya. Seorang murid adalah bayangan yang terbentuk dari gurunya. Akhlak si murid cerminan dari akhlak para gurunya.

Guru-guru inilah yang terus membersamai murid-murid dalam waktu yang panjang, para murid senantiasa melihat dan mengawasi gerak-gerik serta tutur katanya. Maka, tidak aneh jika si murid meniru apa-apa yang ada padanya. Jika yang murid lihat dari gurunya baik, itu perkara yang utama ketika ditiru oleh muridnya. Tapi jika itu buruk. Ya bisa dibayangkan, bagaimana kelak murid-muridnya. Wallaahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar