Rabu, 18 Juli 2018

Merangkul Sahabat Sebelum Terlambat






Saudara-saudariku seimpian, berapa banyak saudara di sekitar kita yang sedang jatuh? Jatuh karena tidak paham apa yang membahayakan dunia dan akhiratnya.

Dan adakah yang lebih mengenaskan daripada jatuh dan tidak merasa sedang jatuh? Jangan-jangan kita sendiri juga sedang jatuh tapi tidak tahu… Ya Allah, hanya Engkaulah penolongku… Aku berlindung kepada-Mu dari syirik yang kuketahui dan aku mohon ampunan atas syirik yang tidak kuketahui.

Saudara-saudariku seharapan, apakah layak kita beralasan tidak menolong orang yang jatuh karena dia tidak meminta bantuan kita? Atau kita takut ketika kita menarik lengannya, itu akan menyakiti dirinya? Lebih sakit mana, lengannya tergores karena tarikan kita ataukah rasa sakit yang luar biasa ketika akhirnya jatuh di ujung jurang? Ujung di mana penyesalan abadi menanti…

Sudah saatnya kita peka dengan sekitar kita. Melihat adakah yang jatuh, entah itu tersandung atau menjatuhkan diri, tidak peduli! Tidak perlu kata-kata untuk menjelaskan bahwa orang sedang terancam nyawanya. Bahkan lebih ngeri: terancam agama dan kehormatannya.

Dan sebelum menolong, coba tanya pada diri kita sendiri: Apakah kita yakin bahwa maksud kita benar-benar menolong atau kita hanya ingin tampak menolong? Memang, tampak luarnya bisa saja sama. Perbedaannya ada pada niat.

Dan tentu saja, menolong pun ada caranya. Sebisa mungkin tidak meninggalkan gurat luka. Meski menolong adalah maksud kita, tapi "cara" menjadi suatu pertanda. Niat baik harus selalu diikuti dengan cara yang baik juga.

Dengan hikmah. Cara itulah yang seharusnya kita pilih. Dan untuk menangkap hikmah, akal adalah alat untuk memahami, di samping hati untuk senantiasa merasakan dan peduli.

Terima kasih telah membaca. Saatnya merangkul sahabat kita dan melangkah bersama-sama. Kenapa bersama-sama? Karena betapa indah dan mulia ketika bisa melangkah bersama menuju ridlo-Nya dengan senantiasa merasakan dan mengingatkan sesama saudara ketika salah dan lupa. Dan tentu saja, dengan hikmah dari-Nya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar