Minggu, 29 Juli 2018

PEMUDA

Oleh: A. Yusuf wicaksono 

"Wahai Bani Tsaqif, kalian adalah orang yang terakhir masuk Islam, maka janganlah kalian menjadi orang pertama keluar dari Islam."

Coba ulang sekali lagi perkataan pemuda ini. Maka anda akan dapati, bahwa perkataan itu bukanlah dari orang sembarangan. Sebuah keberanian dalam menjaga kaumnya dari kehancuran. Lantaran dirinya, Allah jaga kaum Tsaqif dari kemurtadan setelah Rasulullah SAW wafat.

Di Madinah ada Abu Bakar ash-Shidiq yang menenangkan kaum Muslim sepeninggal Rasulullah SAW. Di Mekah, dengan tegas Suhail bin Amr menjaga orang Makkah dari kemurtadan. Sedangkan di Thaif, kepada penduduk Tsaqif tampil seorang pemuda yang sebelumnya oleh Rasulullah SAW di tunjuk sebagai pemimpin mereka, Utsman bin Al-Ash. Ia pemuda yang begitu bersemangat mempelajari Al-Quran dan mendalami agama, karena itulah Rasulullah SAW memilihnya.

Kita tunda sejenak mengagumi pemuda yang bernama Utsman bin al-Ash. Di usianya yang masih muda tidak kita ragukan keilmuan dan perannya. Lalu, coba sekarang kita tengok bersama. Sudahkah para pemuda kita juga demikian, duduk di mejelis-mejelis ilmu yang bermanfaat lalu berserius untuk mendalami agamanya, semata-mata untuk berbekal sebelum memberikan manfaat bagi umat?

Atau, coba kita sejenak menengok ke tempat lain. Masjid. Adakah para pemuda di sana? Adakah di antara mereka yang sujud di hadapan Robbnya dan menjadikan masjid sebagai tempat "nongkrong" yang paling utama, bahkan dari sana muncul ide-ide brilian yang manfaat bagi umat, lantas menjadikan mereka semakin taat?

Atau mereka sudah tidak di sana, sepertinya mereka sudah berada di tengah-tengah masyarakat, membantu masyarakat dengan tindakan-tindakan nyata agar masyarakat semakin taat kepada Robbnya. Tapi, apakah benar mereka sudah di sana?

Layaknya Ustman bin Al-Ash, muda taat kepada Robbnya, mendalam agamanya. Layaknya Ustman, muda sudah terarah hidupnya dan turut serta memberikan manfaat bagi kaumnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar