Kamis, 27 September 2018

ARAH GENERASI KITA



Oleh: Atik Setyoasih 

Usianya belum sampai 20 tahun. Dialah kesayangan Rasulullah dan putra dari orang kesayangan Rasulullah. Ibundanya, seorang budak yang telah dibebaskan Rasulullah, juga wanita pengasuh beliau. Wajah dan perawakannya sama sekali tidak meyakinkan kalau ternyata ia berprestasi mulia. Akan tetapi, bukankah Islam memang tidak mementingkan bentuk lahiriah seseorang? Sungguh tidak pernah!

Kita tidak akan membahas bagaimana perawakannya. Sudah kenal beliau? Kita kenal ia sebagai Usamah bin Zaid. Ayahnya, Zaid bin Haritsah. Ibundahnya, Ummu Aiman.

Usamah diusia masih belia, tidak mengalami kebingungan dalam arah menjalani hidup. Justru pekerjaan besar telah dilakukannya. Amanah besar diterima dan dikerjakan dengan sebaik-baik pengerjaan. Di mana saat para tokoh-tokoh dari kaum Muhajirin dan Anshar yang saat itu lebih pantas, tapi Rasulullah memilihnya. Rasulullah memilih Usamah untuk menjadi pemimpin pasukan perang besar!

Ya. Usamah memang layak menjadi pemimpin. Usia Usamah saat itu bukanlah usia untuk diragukan kemampuannya dalam mengatur urusan besar. Usamah telah memiliki sifat utama yang menyebabkan dirinya disayangi, dihormati, dan bahkan dipercaya Rasulullah. Usamah siap bertanggungjawab selayaknya para laki-laki dewasa lainnya.

“Usamah bin Zaid adalah orang yang paling kusayangi. Aku berharap ia termasuk orang-orang terbaik di antara kalian. Karena itu, perlakukan dia dengan baik,” kata Rasulullah di depan para sahabat.

Usamah terbentuk menjadi pemuda yang imannya kuat, tanggung, setia, dan tekad yang membaja tentu tidak terjadi secara tiba-tiba. Usamah telah dipersiapkan kedua orang tuanya dari awal. Kedua orang tuanya adalah para generasi awal yang telah masuk Islam dan memiliki kesetiaan tinggi kepada Rasulullah. Bukankah pendidikan terbaik dari dua orang tuanya telah didapatkannya?

Semoga dalam arah kita mempersiapkan generasi, Allah selalu bimbing dan mudahkan.

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar