Senin, 17 September 2018

Khawatir Yang Memuncak


Oleh: Atik Setyoasih 

“Ya Allah, tunaikanlah untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”

“Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”

“Ya Allah, jika pasukan kaum muslimin ini binasa, Engkau tidak akan disembah di atas bumi!”
Rasulullah bukan bermaksud “mengancam” Allah. Beliau, bersama 319 orang muslimin melawan 1000 orang kafir saat itu di Perang Badar tetap yakin. Kemenangan sejati adalah untuk kaum muslimin.

Ya. Rasulullah tetap berdoa. Dengan menengadahkan tangan menghadap kiblat hingga selendang beliau jatuh ke tanah. Abu Bakar pun mengambil selendang itu dan meletakkan di atas bahu seraya berkata, “Wahai Nabi utusan Allah, demikian munajatmu, sesungguhnya Ia akan menunaikan untukmu apa yang telah Ia janjikan.”

“Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut’.” (QS. Al-Anfal: 9).

Rasulullah senantiasa yakin kepada janjiNya. Begitu pula dengan Abu Bakar. Sang pembenar segala kebenaran dariNya dan Rasul. Meski dalam keadaan terjepit. Meski dalam keadaan serasa tidak mungkin di mata manusia.

Maka, inilah cara yang benar dalam meniti perjalanan. Lihatlah ketika Nabi Zakaria saat mengangkat kedua tangan miliknya. Dalam keadaan sudah tua renta, rambut beruban, kulit mengeriput, ia berkata,
“Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi dengan uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadamu.”

Khawatir Nabi Zakaria memuncak. Namun ia tetap yakin kepada Allah dengan diberikan karunia seorang putra. Khawatir Rasulullah memuncak. Beliau tetap berdoa dengan yakin kepadaNya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar