Kamis, 27 September 2018

Pemuda Harapan Generasi Kita



Oleh: Atik Setyoasih 

Tidak ada kata remaja dalam istilah agama kita. Yang ada, adalah masa akil dan baligh. Tidak ada masa peralihan yang di dalamnya terdapat banyak pemakluman kesalahan pada usia remaja. Yang ada, jika seseorang sudah akil dan baligh, ia telah bertanggung jawab penuh atas segala perbuatannya: amal salehnya berpahala, amal salahnya berdosa.

Ingatlah kita pada satu keluarga yang pantas menjadi arah kita. Mulai dari sang ayah, ibunda, dan anak dari keduanya. Namanya senantiasa kita sebut ditiap shalat kita. Sang kekasih Allah. Orang yang mencintai Allah, Allah pun mencintainya.

Nabi Ismail `alaihis-salam. Ialah sosok ideal untuk arah kita menjadi generasi utama dambaan Sang Pencipta. Teguh, kokoh, tidak galau, taat, mudah diarahkan, dan terbentuk akhlaknya mulia sejak mula. Sang ayah, senantiasa khawatir dalam kebaikan. Berdoa dan senantiasa meminta kepadaNya. Agar keturunan di belakangnya tidak dalam keadaan lemah.

“Dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan teturunan di belakang mereka dalam keadaan lemah yang senantiasa mereka khawatiri. Maka dari itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lurus.” (QS. An-Nisa: 9).

Ismail adalah ikhtiar dari doa-doa ayahnya. Pintanya keturunan yang shalih diulang-ulang kepada Rabbnya. Hingga pada saat Allah berikan ujian tentang kecintaan Ibrahim, pada anak-anak dan dunia ataukah pada Allah, kita akan lihat kisah indah di dalam keluarga itu.

Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, maka apa pendapatmu?” tanya Ibrahim kepada Ismail.

“Hai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Indah sekali jawaban Ismail kepada ayahnya. Di saat ia akan menjadi “sasaran” untuk disembelih oleh ayahnya sendiri. Di saat seakan kematian telah terjadwal bagi dirinya. Di saat seakan ia akan berpisah dengan ayah dan ibunda tercinta telah dekat.

Tapi...

Inilah Ismail. Pemuda utama harapan di dalam generasi kita. Taat kepada Allah dan orang tua, dan yang lebih utama: memilih hidup sesuai arahNya. Meski berat. Meski tertatih dan harus diwarnai dengan sabar di tiap ketetapanNya.

Allah pun mencintai Ismail. Mencintai generasi setelahnya. Mencintai segala perbuatannya sehingga layak menjadi teladan bagi sesiapa yang ingin kemuliaan dan utama di mataNya.

Semoga Allah karuniakan kemampuan kita menjadi seperti Ismail. Seperti keluarga Ibrahim. Seperti pula keturunan-keturunan telah yang dilahirkannya ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar