Rabu, 31 Oktober 2018

Menanam Cinta Suci di Kebun Hati





“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini (syahwat) dari wanita-wanita, anak-anak, dan harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, ternak, dan sawah ladang..”
(QS. An-Nisa 14)

Tuh, kan? Allah emang udah mengatur bahwa wajar bagi manusia untuk muncul cinta (apalagi suka) kepada pasangan jenis. Disebut yang pertama lagi! Sebelum cinta pada anak dan harta. Lalu, ketika perasaan itu muncul, apakah yang harus dilakukan?

Mau dibiarin aja? Atau mau dipelihara? Seperti pohon, rasa suka itu ditanam di kebun hati, terus disiram dengan air canda, dan dipupuk dengan serbuk sayang. Apa yang bakal terjadi? Yap, taman hati kan digerogoti pohon cinta yang liar. Liar karena tidak didasari dengan niat yang benar. Tidak dicapai dengan cara yang benar. Cara yang diridloi Yang Maha Mendengar hati. Hati menjadi berkobar-kobar oleh rasa suka yang tidak berdasar. Selain hanya nafsu yang membakar.

Pada kondisi seperti ini, hati seakan merasa bahagia tak terkira. Ke mana-mana inginnya berdua. Pandangan mata memantik munculnya hormon endorfin pada otak sehingga memberikan sensasi senang yang membuat ketagihan. Tetapi ternyata... susunan kimia otak yang sedang dilanda jatuh cinta atau cinta tergila-gila remaja (bahasa psikologinya: infatuation, cinta nafsu menggebu yang luar biasa efeknya pada emosi kita) sama dengan susunan kimia otak yang menderita kelainan yang disebut... OBSESIF KOMPULSIF!! Sama saja penyakit jiwa! Itu penelitian neurosains yang dilakukan tentang cinta.

Lain halnya dengan cinta yang didasari ikatan (dikenal dengan istilah bond love). Cinta ini tidak hanya menghasilkan endorfin, tetapi juga menghasilkan oxcytoxin, hormon yang menimbulkan perasaan tenang. Itulah yang terjadi ketika pasangan disatukan oleh ikatan iman. Sucinya pernikahan. Perasaan tenang. Perasaan tenteram.

“Sebagian di antara tanda-tanda kemahabesaran Allah adalah Dia ciptakan untuk kalian isteri-isteri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dan Ia jadikan di antara kalian mawwadah dan rahmah...” (QS Ar-Ruum: 21)


Masya Allah. Memang. Ilmu pengetahuan dan agama tidak terpisahkan. Manusia saja yang kadang belum bisa menemukan dan memahami.

Saudaraku Sampai Surga, sekarang mana yang engkau pilih? Cinta yang senantiasa menenangkan jiwa atau cinta berkobar yang membakar nafsu? Karena sesungguhnya, cinta yang membawa kebahagiaan sejati adalah cinta yang Allah ridloi. Seperti apa, sih, cinta yang Allah ridloi? Yaitu pohon cinta yang dijaga oleh ikatan suci pernikahan. Yang tumbuh dari benih cinta kepada Yang Maha Mencinta. Bukan benih nafsu yang cenderung pada nista.

#RemajaUtama #Isu #Cinta #Ideologis#Menikah #udahnikahinaja


Sumber: IG @denizdinamiz

Sabtu, 27 Oktober 2018

Siapa Aku?/Who am I? (2)




#2 Pelesat

Oleh: @fuz_fm
Sungguh, kita harus benar-benar mengenal diri kita. Manusia tidak diciptakan secara main-main dan sembarangan. Ia diciptakan dengan sebaik-baiknya dan demi tujuan yang mulia. Mungkinkah segala penciptaan dalam diri manusia itu terjadi begitu saja? Hidung dengan dua lubang yang menghadap ke bawah, mulut dengan segala fasilitasnya berupa lidah yang lentur, gigi yang rapi, air liur yang tahu kapan harus keluar, dan lain sebagainya. Kalau dirunut satu per satu, kita akan semakin mengetahui bahwa itu bukan ciptaan yang main-main dan sembarangan.

Siapa yang paling mengetahui tentang manusia? Tidak ada yang dekat pada diri manusia kecuali Tuhan Yang Menciptakannya dan manusia itu sendiri. Jika seseorang tidak mengenali dirinya sendiri, bagaimana dia bisa mengenali yang lain? Selain itu hadits juga mengabarkan, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”. Maka mengenal diri sendiri menjadi hal penting yang harus diperhatikan.

Saat ini kita akan mengkaji salah satu kata dalam Al-Quran yang membicarakan tentang manusia. Kata itu adalah al-basyar. Kata ini disebut di dalam Al-Quran sebanyak tiga puluh tujuh kali; tiga puluh enam kali dalam bentuk tunggal dan satu kali dalam bentuk mutsanna (dua). Dua puluh lima dari ayat tersebut menerangkan kemanusiaan Rasul; sebelas diantaranya menerangkan secara tegas bahwa seorang nabi adalah al-basyar. Lima ayat tentang proses penciptaan manusia. Empat ayat tentang manusia sebagai manusia pada umumnya. Dua ayat menerangkan masalah hubungan seksual. Satu ayat tentang kulit manusia. Dan, satu ayat menjelaskan bahwa semua manusia akan mati.

Secara bahasa kata ini berarti permukaan kulit. Ada yang mengartikan persentuhan antara kulit laki-laki dan perempuan. Ada juga yang mengartikan persetubuhan. Penggunaan kata al-basyar dalam Al-Quran digunakan untuk menjelaskan sisi fisik manusia yang secara biologis memiliki persamaan. Selain itu juga menjelaskan pengertian manusia pada umumnya, yaitu bahwa manusia dalam kehidupannya sehari-hari sangat bergantung pada kodrat alamiahnya seperti makan, minum, berhubungan seks, tumbuh, berkembang dan akhirnya mati.

Ini baru satu dari sebelas kata yang digunakan dalam Al-Quran untuk membicarakan tentang manusia. Kata ini baru mengenali diri kita dari sisi fisiknya. Masih ada bagian lain dalam diri kita. Perlahan, mari kita kenali diri sendiri, segala hal yang melekat pada diri yang belum kita kenali. Hingga kita benar-benar memahami untuk apa hidup di dunia ini. <>


Jumat, 26 Oktober 2018

Belajar kepada Umar (2)



#2 Percik

Ya. Inilah Umar bin al-Khaththab. Yang menurut Ibnu Mas’ud, “Di antara kami, Umar-lah yang paling mengetahui Kitabullah dan paling memahami agama Allah.”

Lantas bagaimanakah cara Umar mengikat ilmu sedemikian kuat? Putranya, Abdullah bin Umar, mengabarkan kepada kita, “Umar mempelajari surat Al-Baqarah selama dua belas tahun. Lalu setelah memahami kandungan surat tersebut, dia menyembelih seekor sapi.”

Ya. Inilah Umar. Mulia karena ilmu, dan beramal dengan ilmu. Yang pertama memerintahkan umat Islam agar mengerjakan sholat tarawih di bulan Ramadhan secara berjamaah. Yang pertama diberi gelar Amirul Mukminin. Yang menetapkan kalender Hijriyah.

Yang menyusun peraturan pajak dan membentuk instansi pemerintah, serta berkata, “Tidak boleh menyusahkan seseorang untuk membayar lebih dari satu dirham dalam satu bulan.” Yang mengangkat para qadhi dan membuat undang-undang peradilan. Menetapkan evaluasi tahunan bagi para penguasa di wilayah Islam.

Yang menyiapkan gudang suplai makanan dan perbekalan. Menggagas peraturan untuk memonitor harga pasaran serta memantau takaran dan timbangan di pasar. Memberi perhatian khusus bagi anak-anak terlantar. Membangun kota-kota baru untuk mengokohkan peradaban Islam.

Ya. Inilah Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Rabah bin Abdullah bin Qarth bin Razzah bin Adi bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib al-Qurasyi. Satu di antara yang lebih dahulu beriman, termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk surga, bagian dari Khulafaur Rasyidin, mertua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tergolong ulama besar di kalangan para Shahabat, serta yang paling zuhud di antara mereka. Dialah Al-Faruq, sang pembebas Al-Aqsha. Radhiyallaahu ‘anhu. <>


Sumber: Buletin Nah edisi Safar 1440 H 

Kamis, 25 Oktober 2018

#TrainingforTrainers #TFT #PublicSpeakingTraining #PST


#TrainingforTrainers #TFT
#PublicSpeakingTraining #PST

Segala sesuatu ada ilmunya. Begitu pula dalam dunia training maupun public speaking. Tanpa ilmu yang benar, semua bisa tetap berjalan. Tapi, kemungkinan besar, keburukan yang akan ditimbulkan.

“Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (hadits shahih Bukhori: 605)

Mari belajar menjadi trainer(s) maupun pembicara yang bertanggung jawab: benar niat dan isinya, baik adab penyampaiannya; dan bila perlu: menarik-mempesona.

Menurut Eitington (1996), training terdiri dari 4 siklus: Diagnosis, Design, Deliver, Determine. Sedangkan, kemampuan berbicara di depan umum adalah bagian dari proses deliver (atau penyampaian) training. Wajar jika antara training dan public speaking, erat kaitannya.

Ikutilah diantara kegiatan JAN di akhir pekan ini:
*PST (Public Speaking Training)*: Menjadi Pembicara Menggugah dan Mengubah

*TFT (Training For Trainers)*: On Becoming A Great TRAINER

Pembicara:
1. M. Fatan 'Ariful 'Ulum, S. Psi (Direktur PP Rumah Sajada dan JAN Training Team, penulis)
2. D. Denis P.Putrantya, S. Psi (Trainer JAN Inc., dan penulis)
3. Fuzta F.M., S.Psi dan trainer Jan lainnya

Pelaksanaan:
PST *Sabtu, 27 oktober 2018 (13.15-17.15)

TFT *Ahad, 28 Oktober 2018 (8.55-17.15)

🕌 Tempat:
Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra
Sorolaten, Sidokarto, Godean, Sleman, Yogyakarta.

Fasilitas :
Modul PST/TFT :notebook:
Buletin Nah
Sertifikat
Snack khas (makan siang utk fullday)
Kopi Arabica specialty

Biaya: PST 25rb rupiah
TFT 50rb rupiah.

Segera daftarkan dirimu

Caranya ketik: NAMA LENGKAP_ALAMAT kirim
+62 856-0017-6738 (putri /akhwat)
+62 8532 968 6654 (putra /ikhwan)

*Contoh* ABDUL MALIK_Godean, Sleman

Persyaratan:
Siap mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir


Acara didukung oleh;
JAN Inc, Pondok Pesantren Rumah Sajada


Senin, 22 Oktober 2018

CURHAT LEZAT




Saya mau bertanya, sekarang kan banyak orang yang tidak menutup aurat. Lalu bagaimana cara kita untuk bisa menjaga pandangan? (Fajar, Yogyakarta)


Baik. Tentang pandangan, sebanarnya Allah telah memberikan rambu-rambunya dengan tegas, “Hendaklah mereka menahan pandangannya,” Q.S. An-Nur: 30. Menurut Prof. Yunahar Ilyas dalam “Kuliah Akhlak”nya, ayat tentang pandangan ini termasuk satu di antara aturan pergaulan antara pria dan wanita.

Maka ketika ada orang yang tidak menutup aurat atau lawan jenis (bukan mahram kita), kewajiban kita sebagaimana ayat di atas adalah menahan pandangan, jangan memandanganya. Menurut As-Sa’di dalam Kitab Tafsirnya, menahan pandangan ini di antaranya dari melihat aurat-aurat atau hal-hal yang tidak pantas dilihat, dan wanita-wanita asing (yang bukan mahram). Maka, lanjut As-Sa’di, jika seorang senantiasa menjaga pandangannya, Allah akan menyinari mata hatinya dan dia tidak akan jatuh kepada malapetaka. Wallahu a’lam bish-showab

Nah Menyapa



Pena. Dengan pena bahasa lisan berubah menjadi tulisan. Dengan pena ilmu-ilmu akan terjaga dan terpelihara. Dengan pena wahyu yang Allah turunkan kepada RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam tercatat oleh para  katib yang mulia. Dengan pena Zaid bin Tsabit membukukan al-Qur’an yang hingga kini terus terjaga. Dengan pena pula, hadits-hadits terpelihara. Dengan pena para ulama menuliskan ilmunya, agar terjaga.
Pena dan ilmu yang di goresankannya menghasilkan tulisan.

Bagian dari meniru kebiasaan shalafush shaleh: menggoreskan ilmunya, alhamdulillah Buletin Nah edisi Safar hadir dihadapan pembaca. Buletin pengobar semangat dan penguat belajar, yang berisi tulisan-tulisan bergizi, sebagai bentuk penjagaan terhadap ilmu.   

Edisi kali ini, kita akan mengenal lebih dalam sahabat radhiyallahu ‘anhu yang memperoleh gelar al-Faruq. Yang mampu membedakan baik dan buruk. Sang pembebas Al-Aqsha. Dialah Umar bin Khaththab.

Sajian Spesial untuk anda para pembaca, “Remaja Utama” akan hadir dengan membawa berbagai pencerahan tentang dirinya. Dia akan mengenalkan istilah dirinya secara tepat, agar kita tidak salah memposisikan mereka.

Tunggu apa lagi, iqro’. Bacalah goresan-goresan pena dalam Buletin ini. Semoga ilmu terikat di hati pembaca semua.

Sabtu, 20 Oktober 2018

Inilah Remaja Utama



Oleh: @emfatan 

Bukanlah remaja yang sebenarnya
Yang kacau arah hidupnya
Yang krisis identitasnya
Yang sibuk menjadi benalu orang tua

Adalah remaja yang sebenarnya:
Yang kokoh aqidahnya
Yang jelas arah hidupnya
Yang sehat dan bertanggung jawab pada sesama

: inilah remaja utama



Selasa, 16 Oktober 2018

#TrainingforOutbound-ers



#TrainingforOutbound-ers
#TFO

“Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (hadits shahih Bukhori: 6015)

Bagi kamu yang pernah ikut outbound, bahkan menjadi pelaksana, apa yang membuat sebuah kegiatan disebut outbound? Karena ada games? Karena kegiatannya di luar ruangan? Atau cukuplah disebut outbound ketika diberi judul "outbound", meski konsep dan prinsipnya tidak dijalankan?

Outbound. Outward Boundaries. Dikenalkan oleh Kurt Hahn sejak tahun 1941. Prinsipnya adalah pembelajaran yang mendorong anak untuk keluar dari zona nyaman (out from their comfort boundaries). Efeknya, mereka dapat mengoptimalkan potensi, kemampuan, dan ketrampilan diri ketika menghadapi tantangan.

Diantara kunci sukses outbound yang hebat adalah:

Proses belajar terencana dengan tepat, manajemen kegiatan tertata akurat, instruktur menguasai situasi setiap saat, fasilitator merangkul dengan hangat, serta pemaknaan mendalam yang menancap kuat.

Prof. Djamaluddin Ancok dalam buku "Outbound Management Training" menekankan pentingnya "experiential learning" (pembelajaran melalui pengalaman). Tentu penting bagi pelaksana outbound menguasai "experiential learning cycle", yaitu experiencing, publishing, analyzing, generalizing, sampai dengan applying. Seperti apa itu?

Nah, mari belajar menjadi fasilitator dan instruktur  outbound yang bertanggung jawab 😍

Ikutilah: 

TFO (Training For Outbound-ers): On Becoming A Great Outbound Instructor and Fasilitator

🎤 Pembicara:
1. Deniz Dinamiz, S. Psi (Trainer dan Instruktur Outbound JAN Inc., dan penulis)
2. Trainer JAN lainnya.

Pelaksanaan:
Sabtu, 20 Oktober 2018 (13.15-17.15)
dan
Ahad, 21 Oktober 2018 (9.50-17.15)

🕌 Tempat:
Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra
Sorolaten,  Sidokarto, Godean,  Sleman, Yogyakarta.

🌟Fasilitas :
Modul TFO 📓
Buletin Nah 📖
Sertifikat 📃
Snack khas 🌯
Makan siang (khusus hari kedua) 🍛
Kopi Arabica specialty

Materi📝:
1. Prinsip dan Manajemen Outbound.
2. Menjadi Instruktur yang Menggugah dan Mengubah. (Konsep dan Praktik)
3. Menjadi Fasilitator yang Hangat dan Memikat. (Konsep dan Praktik)
4. Merancang aktivitas outbound yang efektif dan atraktif.
5. Meraih target pembelajaran melalui pemaknaan mendalam.

Biaya: 150ribu/ 1 org ;           260ribu/ 2 org ;         360ribu/ 3 org

Segera daftarkan dirimu

Caranya ketik: NAMA LENGKAP_ALAMAT_ASAL SEKOLAH/ KAMPUS/ INSTANSI
 kirim
 +62 856-0017-6738 (putri /akhwat)
+62 8532 968 6654 (putra /ikhwan)

Contoh ABDUL MALIK_Godean, Sleman

Persyaratan:
Siap mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir

Acara didukung oleh;
JAN Inc, Pondok Pesantren Rumah Sajada

Arah Muda Kita*




Oleh: Atik Setyoasih 

Bukanlah pemuda utama
Yang pekerjaannya berleha-leha
Yang kesukaannya berfoya-foya
Apalagi hobinya mengumbar pandangan mata

Bukanlah pemuda utama
Yang ia, belum jelas arah hidupnya
Masih rapuh berdirinya
Apalagi tidak punya kontribusi nyata
Pada dirinya, begitu pula generasi setelahnya

Menjadi muda adalah kekuatan
Menjadi muda adalah berkarya
Menjadi muda adalah ia menyerahkan hidupnya
Hanya untuk Allah Ta'ala

*Naskah Lolos KUSEN per 16 Oktober 2018 










Jumat, 12 Oktober 2018

Belajar kepada Umar (1)



#Kisah

Oleh  @emfatan

“Ketika tidur,” demikian Rasulullah SAW memulai sabdanya yang diriwayatkan al-Bukhari, “aku bermimpi minum susu hingga aku melihat susu itu mengalir di kukuku, atau di kuku-kukuku; lalu aku berikan susu itu kepada Umar.” Para sahabat pun bertanya, “Apa takwil engkau (terhadapnya)?” Rasulullah SAW menjawab, “Ilmu.”

Ya. Umar mendapatkan beragam keutamaan, karena bersumber dari ilmu. Sebagaimana dalam kesempatan lain, Rasulullah menyebutkan keunggulan Umar dalam hal ilmu. Al-Bukhari meriwayatkan kepada kita dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Sungguh telah ada pada zaman orang-orang sebelum kalian banyak lelaki dari kalangan Bani Israil yang diberikan ilham, namun mereka bukan Nabi; jika di kalangan umatku ada orang seperti mereka, maka Umarlah orangnya.” Alangkah mulia persaksian itu, langsung dari sebaik-baik insan. Dari lisan yang tak pernah berdusta.

Bukankah kita ingat, saat Umar belum masuk ke dalam barisan orang-orang beriman, Rasulullah memanjatkan doa khusus—diriwayatkan oleh Ibnu Majah—untuknya? “Ya Allah, muliakanlah (kuatkanlah) Islam dengan masuk Islamnya Umar bin al-Khaththab.”

Maka, inilah pernyataan Ibnu Mas’ud tentang peristiwa penting tersebut. “Masuk Islamnya Umar adalah kemuliaan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kepemimpinannya adalah rahmat. Demi Allah, kami tidak sanggup mengerjakan sholat di sekeliling Ka’bah secara terang-terangan hingga Umar masuk Islam.” Dalam riwayat Al-Bukhari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Kami selalu merasa mulia sejak Umar bin al-Khaththab masuk Islam.”

Ya. Inilah Umar. Ilmu dan iman ditopang dengan keperkasaannya, sehingga Islam kian menjulang mulia. Hudzaifah ibnul Yaman menyebutkan, “Ilmu manusia terselip di lubang bersama ilmu Umar bin Khaththab.” Ibnu Mas’ud menegaskan, “Seandainya ilmu Umar diletakkan di satu sisi timbangan dan ilmu seluruh penduduk bumi diletakkan di timbangan lain, niscaya ilmu Umar akan mengungguli ilmu mereka. "

Sumber: Buletin Nah Edisi Muharram 1440 H 

#TrainingPendidik #OnBecomingAGreatEducator/Teacher




Jantungnya pendidikan adalah para pendidik/gurunya. Hidup matinya, sehat atau sakitnya suatu proses pendidikan,  amat ditentukan oleh pendidik/guru. Sayangnya,  para pendidik/guru ini sering amat kurang bekalnya. Padahal, kualitas para pendidik/guru menentukan kualitas generasi suatu negeri.
Bagi anda, yang bercita-cita berkontribusi bagi lahirnya generasi terbaik umat dan negeri ini, bergabunglah dalam :
Training Pendidik: On Becoming A Great Educator/Teacher

🎤 Pembicara:
1. M. Fatan 'Ariful 'Ulum, S.Psi (Direktur PP Rumah Sajada dan penulis)
2. Deniz Dinamiz, S.Psi (Trainer JAN Inc. dan penulis)
3. Kak Akrom (Juru Kisah)
4. A. Yusuf Wicaksono, S. Pd. (Tim Madrasah Pendidik Rumah Sajada

Pelaksanaan:
 Ahad, 14 Oktober 2018 (09.00-17.30)

🕌 Tempat:
Kompleks Ponpes Rumah Sajada Putra; Sorolaten, Sidokarto, Godean,  Sleman

Berminat? Biaya: 25 k
Kuota terbatas

Segera daftarkan dirimu

Caranya ketik: NAMA LENGKAP_ASAL TPA/INSTANSI_ALAMAT kirim 0853-2968-6654 (Yusuf)

Contoh AHMAD SHAHIH_UNY_

Acara didukung oleh;
JAN Inc, Pondok Pesantren Rumah Sajada, Buletin Nah.

Kamis, 11 Oktober 2018

Lesehan JAN "Spesial Oktober"


Lesehan JAN sore ini, dan beberapa pekan ke depan ... Yang lapang, silakan datang :) 

Rabu, 10 Oktober 2018

Saspel: Jadilah Remaja Utama!




Oleh:
@denizdinamiz dan tim @buletinnah

Tidak semua remaja mengalami masa krisis. Memang, kita temukan sebagian remaja yang mengalami masa ‘galau’ pencarian jati diri alias krisis identitas. Mereka terombang-ambing dalam masalah demi masalah. Sebagaimana disebutkan dalam survei kesehatan berbasis sekolah, yaitu SMP dan SMA, yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada tahun 2015,  menunjukkan beberapa temuan: remaja bersekolah yang pernah merokok: 41.8 % laki-laki, 4.1 % perempuan. Yang pernah melakukan penyalahgunaan narkoba: 2.8 % laki-laki, 0.8 % perempuan. Yang pernah berhubungan intim atau  berzina: 6.9 % laki-laki, 3.8 % perempuan. Pernah di-bully: 24.1 % laki-laki, 17.4 % perempuan. Bahkan ada yang ingin bunuh diri sebanyak 4.3 % laki-laki, dan 5.9 % perempuan!

Tetapi, sekali lagi, tak semua remaja mengalami masa krisis. Ada remaja yang memiliki komitmen kuat tanpa perlu mengalami masa krisis.
Remaja ini tahu siapa dirinya dan apa yang dia tuju sebagai pribadi. Dia  memiliki keyakinan kuat pada apa yang dia pandang sebagai prinsip. Dia tidak mudah goyah dengan tantangan dan kondisi penuh tekanan. Dia menjalani  hidup dengan prima dan optimal. Inilah remaja harapan di masa depan. Inilah sosok “Remaja Utama”, atau Prime Teenager.
Dalam kamus bahasa Inggris Merriam Webster, kata "utama" atau "prime" berarti periode dalam kehidupan di mana seseorang dalam kondisi terbaik dalam hal kesehatan, kekuatan, dan kualitas lain. Juga bisa bermakna “masa paling aktif dan sukses dalam kehidupan seseorang”. Hm...

Maka, wahai para muda! Jadilah remaja terbaik dalam segala kebaikan. Jadilah remaja yang aktif dan sukses. Jadilah Remaja Utama!

Lalu, apa yang harus dikembangkan pada pribadi seorang remaja agar dirinya jadi utama?

Aspek-aspek yang membentuk kepribadian seseorang sangat banyak dan beragam. Untuk menjadi pribadi yang utuh, diperlukan pemahaman yang menyeluruh tentang profil kepribadian.

Profil kepribadian terbaik tentu berdasar manusia-manusia terbaik. Tengoklah para pribadi yang dipuji Sang Pencipta manusia itu sendiri.  Seksamailah pribadi para Nabi, khususnya penutup para Nabi: Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sudahkah kita baca Shirah Nabawiyah? Atau buku-buku tentang “Kisah Para Nabi”?

Juga ikuti teladan orang-orang di seputar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Profil generasi utama ini ada di karya Khalid Muhammad Khalid tentang “Para Lelaki di Sekitar Rasul”, "Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga" karya Ad-Duwaisy, maupun kitab-kitab lainnya. Kisah-kisah mereka adalah mata air inspirasi yang senantiasa mengalirkan keteladanan.

Ya. Dari para pribadi mulia itu kita belajar: masa muda adalah masa penuh prestasi dan kontribusi. Kalau kebanyakan remaja malah penuh masalah, sudah jelas ada yang hilang dari mereka. Karena bukan begitu seharusnya. Karena, sebagaimana sejarah mengajarkan, masa muda adalah masa emas kebaikan.

Remaja Utama adalah remaja dengan kualitas terbaik di setiap aspek yang membentuk pribadinya. Pribadi Ideal inilah yang perlu kita jadikan tujuan.

Semoga semakin banyak remaja bisa bangkit dan sukses mengatasi masalah mereka. Sehingga remaja Indonesia menjadi remaja utama yang berprinsip, berkomitmen, dan berkompetensi tinggi. Remaja yang  siap menjadi pemimpin bangsa bahkan dunia, demi meraih berkah dan ridhoNya.

Siapkah kamu menjadi “Remaja Utama”?


Sumber: Buletin Nah edisi Muharram 1440 H 


Selasa, 09 Oktober 2018

Sinau Nah: Remaja Utama!


Oleh @dik_yusuf

Kita butuh remaja utama. Sekarang! Remaja yang jelas cita-citanya. Remaja yang jelas arah hidupnya. Di manakah mereka sekarang?

Cita-cita. Kita mulai dari cita-cita. Kita harus tahu remaja seperti apa yang kita cita-citakan sekarang. Dari sinilah kita memulai.

Remaja-remaja dalam sejarah peradaban Islam sudah memberikan wujud nyatanya, bahwa mereka utama. Bukalah lembaran-lembaran kisah mereka dalam kitab yang tidak pernah usang sampai hari kiamat, Al-Quran. Sebut saja surat Al-Kahfi. Satu di antara kisah utamanya adalah mereka para pemuda Kahfi. Mereka adalah pemuda yang dipuji dalam Al-Quran. Mereka rela lari tinggalkan kemewahan dunia, lalu berlindung di sebuah goa. Allah tidurkan mereka selama tiga ratus tambah sembilan tahun. Semua itu demi menjaga iman dari kekafiran.

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa karena mereka masih muda, mereka lebih mudah mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala, jika dibandingkan golongan orang tua. Pemuda lebih jernih memandang suatu perkara.

Tampaknya belum cukup. Khazanah Islam masih sangat luas untuk menggali jejak-jejak remaja atau pemuda di masa itu. Kali ini, sudahkah sampai kabar kepada kalian tentang para sahabat yang pertama masuk Islam, sekaligus mereka juga termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga? Setengah dari mereka berusia muda. Inilah yang disebutkan Ad-Duwaisyi dalam “Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga”.

Di barisan pemuda ini ada Ali Bin Abi Thalib yang brusia 10 tahun. Thalhah bin Ubaidillah yang berusia 14 tahun. Zubair bin Awwam yang berusia 15 atau 16 tahun.  Sa`ad bin Abi Waqqash yang berusia 17 tahun. Dan Sa`id bin Zaid yang berusia 15 tahun. Bahkan tidak hanya mereka. Menurut Muhammad Ad-Duwaisyi ada minimal 220 sahabat pemuda yang teguh dalam Islam dan sudah tampil dalam berbagai peran penting.
Merekalah para pemuda, nyata keberadaannya, tinggi cita-citanya, jelas arah hidupnya. Maka pantaslah di masa itu Islam jaya. Bukankah pemuda seperti itu yang kita cita-citakan sekarang? Pemuda yang dengan gagahnya mengatakan, “Inilah Aku, inilah prestasiku, inilah kontribusiku!”

Sumber: Buletin Nah edisi Muharram 1440 H          

CURHAT LEZAT NAH




Tanya:
Afwan, saya mau bertanya. Bagaimana cara kita menjaga ucapan yang tidak bermanfaat dalam sehari-sehari?  Tolong berikan penjelasannya. Terimakasih.

Jawab:
Pertanyaan yang penting dan bagus. Baiklah. Akan kami jawab. Semoga Allah berikan kemudahan. 
Sebagaimana pernyataan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, seiapa yang banyak bicara, banyak pula kesalahannya, efek berikutnya banyak pula dosanya, efeknya lagi neraka layak baginya. Ngeri bukan. Umar pun sudah sudah mewanti-wanti perkara ucapan ini.

Maka solusinya sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan juga, “Sesiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam...” Hadits ini shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Solusi dari Rasul, Pertama, perkuat iman, khususnya kepada Allah dan hari Akhir. Kedua, berkatalah yang baik-baik, yang manfaat. Ketiga, jika tidak mampu berkata baik, atau yang bermanfaat hendaknya kita diam. Wallahu a’lam bish-showab

Senin, 08 Oktober 2018

Nah Menyapa di Bulan Muharram


               Iqro’. Bacalah! Inilah permulaan perintah. Perintah agung kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tanda akan dimulainya sebuah kejayaan. Yang akan menjadikan Islam sebagai super power dunia; pemimpin dunia. Ya. Benar. Kita bisa lihat sejarah peradaban, dua imperium besar; Romawi dan Persia pun takhluk dan tunduk pada Islam. “Bacalah dengan menyebut Robbmu yang menciptakan.

                Tidakkah kita ingin mengulang kejayaan tersebut? Maka. Bacalah.


Alhamdulillah, atas rahmat dan kehendak dari Allah ta’ala, Buletin Nah edisi Muharram 1440 H hadir di hadapan pembaca. Buletin yang menyediakan bacaan bergizi yang bukan sekadar bacaan biasa. Tetapi bacaan yang semoga menjadikan penguat semangat, dan pengobar belajar kita. Serta, semoga dapat menyambungkan kita dengan kunci awal kejayaan Islam; iqro.

Edisi kali ini, kita akan kenalan dengan tokoh yang menjadi super power dunia di kala itu. Umar bin Khaththab. “Masuk Islamnya Umar adalah kemuliaan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kepemimpinannya adalah rahmat.” Inilah pernyataan Ibnu Mas’ud kepadanya.

Kemudian di lembaran berikutnya, sajian spesial hadir mengingatkan kita, “Jadilah Remaja Utama”, remaja yang tidak perlu mengalami krisis. Pemuda atau remaja adalah harapan masa depan. Jadilah remaja yang mengetahui siapa dirinya, tinggi cita-cita, jelas tujuan hidupnya, kuat keyakinannya, serta tidak mudah goyah dengan tantangan dan kondisi yang penuh tekanan.   

Maka sekaranglah waktunya. Selamat memulai membangun kejayaan Islam. Selamat membaca. Nah!