Selasa, 09 Oktober 2018

Sinau Nah: Remaja Utama!


Oleh @dik_yusuf

Kita butuh remaja utama. Sekarang! Remaja yang jelas cita-citanya. Remaja yang jelas arah hidupnya. Di manakah mereka sekarang?

Cita-cita. Kita mulai dari cita-cita. Kita harus tahu remaja seperti apa yang kita cita-citakan sekarang. Dari sinilah kita memulai.

Remaja-remaja dalam sejarah peradaban Islam sudah memberikan wujud nyatanya, bahwa mereka utama. Bukalah lembaran-lembaran kisah mereka dalam kitab yang tidak pernah usang sampai hari kiamat, Al-Quran. Sebut saja surat Al-Kahfi. Satu di antara kisah utamanya adalah mereka para pemuda Kahfi. Mereka adalah pemuda yang dipuji dalam Al-Quran. Mereka rela lari tinggalkan kemewahan dunia, lalu berlindung di sebuah goa. Allah tidurkan mereka selama tiga ratus tambah sembilan tahun. Semua itu demi menjaga iman dari kekafiran.

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa karena mereka masih muda, mereka lebih mudah mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala, jika dibandingkan golongan orang tua. Pemuda lebih jernih memandang suatu perkara.

Tampaknya belum cukup. Khazanah Islam masih sangat luas untuk menggali jejak-jejak remaja atau pemuda di masa itu. Kali ini, sudahkah sampai kabar kepada kalian tentang para sahabat yang pertama masuk Islam, sekaligus mereka juga termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga? Setengah dari mereka berusia muda. Inilah yang disebutkan Ad-Duwaisyi dalam “Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga”.

Di barisan pemuda ini ada Ali Bin Abi Thalib yang brusia 10 tahun. Thalhah bin Ubaidillah yang berusia 14 tahun. Zubair bin Awwam yang berusia 15 atau 16 tahun.  Sa`ad bin Abi Waqqash yang berusia 17 tahun. Dan Sa`id bin Zaid yang berusia 15 tahun. Bahkan tidak hanya mereka. Menurut Muhammad Ad-Duwaisyi ada minimal 220 sahabat pemuda yang teguh dalam Islam dan sudah tampil dalam berbagai peran penting.
Merekalah para pemuda, nyata keberadaannya, tinggi cita-citanya, jelas arah hidupnya. Maka pantaslah di masa itu Islam jaya. Bukankah pemuda seperti itu yang kita cita-citakan sekarang? Pemuda yang dengan gagahnya mengatakan, “Inilah Aku, inilah prestasiku, inilah kontribusiku!”

Sumber: Buletin Nah edisi Muharram 1440 H          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar