Kamis, 08 November 2018

Pemuda Bertakwa


Oleh: Muhammad Fakih

Pemuda bertakwa adalah seperti pohon yang menjulang tinggi, meski itu tak mudah. Sebab ia akan tatap tegar bagai bara mentari yang terus menyala setiap hari. Sebab ia akan meliuk halangi angin yang bertiup kasar. Sebab ia akan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir. Sebab ia akan hujamkan akar yang kuat untuk menopang. Sebab ia akan menahan hujan yang mencoba merubuhkan. Sebab ia akan berikan bebuahan yang manis nan menyenangkan. Sebab ia akan berikan tempat bernaung untuk burung-burung yang singgah di dahannya. Sebab ia akan berikan perlindungan dengan daunnya yang rindang.

Pemuda bertakwa adalah seperti karang, meski itu tak mudah. Sebab ia akan menahan sengat binar mentari yang garang. Sebab ia akan kukuh halangi deruh ombak yang kuat tanpa kenal lelah. Sebab ia akan menahan hempas badai yang datang menggerus terus-menerus yang mencoba melemahkan pendiriannya. Sebab ia akan kokohkan diri agar tidak terbawa arus. Sebab ia akan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad tanpa rasa jemu.

Pemuda bertakwa adalah seperti paus, meski tak mudah. Sebab dengan sedikit gerakannya akan menggetarkan seluruh samudera. Sebab dengan besar tubuhnya akan menakutkan musuh yang coba mengganggunya. Sebab dengan sedikit gerakannya akan menenangkan laut dan seisinya.

Pemuda bertakwa adalah seperti elang dengan segala kejantanannya, meski itu juga tak mudah. Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit. Sebab ia harus melanglang buana agar mengetahui medannya. Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru. Sebab ia harus terbang jauh tanpa takut jatuh. Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.

Pemuda bertakwa adalah seperti bunga melati, meski itu tampak tak bermakna. Sebab ia akan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan. Sebab ia tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya. Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah. Sebab ia tak iri melihat mawar yang merekah segar. Sebab ia tak pernah malu hadapi bunga matahari yang menjulang tinggi. Sebab ia tak rendah diri kepada anggrek yang anggun. Sebab ia tak dengki pada tulib yang warna-warni.

Pemuda bertakwa adalah seperti kupu-kupu, meski itu tak mudah pula. Sebab ia harus melewati masa sulit sebelum dirinya masa kini. Sebab ia harus semedi panjang tanpa rasa bosan. Sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan, hingga tiba saatnya untuk keluar.

Pohon akan hadapi petir, derasnya hujan, silau matahari tetapi tetap berusaha menaungi. Karang akan hadapi hujan, terik sinar mentari, badai, juga gelombang. Paus akan menggetarkan samudera dengan sedikit gerakannya. Elang akan terus melayang tinggi tak pernah kenal lelah untuk terus mengembara dengan bentangan sayapnya. Melati ikhlas untuk selalu menerima keadaannya, meski tak terhitung bunga-bunga lainnya dengan segala kecantikannya. Kupu-kupu akan terus bertahan, meski pada waktu diam banyak kejenuhan.

Tapi pohon tetap jadi naungan meski hadapi beribu gangguan. Karang mejadi kokoh dengan segala ujian. Paus menjadi kuat dengan besar tubuhnya dalam luasnya samudera. Elang menjadi tangguh, tak hiraukan lelah terbang sampai bermilyar kilo bentang cakrawala. Melati menjadi bijak dengan dada yang lapang, justru menjadi indah dengan segala kesederhanaan. Kupu-kupu hadapi cerahnya dunia meski harus melewati masa panjang dalam kesendirian.

Jadilah pemuda bertakwa yang akan menembus batas kewajaran pemuda biasanya, jadilah pemuda utama sepanjang masa untuk kebangkitan Islam. Segera...!!!

Sumber: Ditulis ulang dan diubah seperlunya dari buku "The Real Muslim Youths" karya Chandra Purna Irawan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar