Selasa, 20 November 2018

Remaja Indonesia, Remaja Utama!



Oleh: @deniz_dinamiz

Offer and Schonert-Reichl, 1992, menunjukkan bahwa dihampir seluruh bagian dunia, hanya 1 dari 5 remaja bersekolah yang mengalami krisis identitas. Ini berarti bahwa sebagian besar remaja sebenarnya tidak mengalami krisis. Delapan puluh persen dari mereka memasuki masa remaja dan melaluinya tanpa harus menghadapi badai dan keguncangan mental. Beda dengan apa yang dianggap sebagian orang yang tidak paham sejarah pemuda-pemuda hebat dan kenyataan di daerah beradab mulia.

Inilah yang seharusnya ada pada remaja kita, yakni mereka yang mengalami krisis hanyalah sebagian kecil. Bahkan harapannya, tidak perlu ada yang krisis. Jika tiap pihak yang mengasuh, mendampingi, dan mendidik anak remaja dilakukan dengan benar, maka jumlah remaja yang mengalami krisis bisa diminimalisir.

Apa keuntungannya jika masa remaja tidak dihabiskan untuk menghadapi kekacauan dan krisis? Remaja dapat lebih fokus meraih prestasi, mengembangkan diri, dan mengasah kepekaan mereka kepada orang lain. Termasuk berkaitan dengan tugas hidup mereka di tengah masyarakat, menumbuhkan tanggung-jawab, dan melatih kepedulian.

Maka, jadilah Remaja Utama yang  luar biasa. Remaja juara yang meraih kualitas hebat di tiap aspek hidupnya. Jangan menjadi remaja biasa-biasa saja.

Janganlah sekadar tidak terpapar masalah dan krisis. Sekadar terbebas dari narkoba, kecanduan gadget atau games, seks bebas, tawuran, dan masalah remaja yang sejenis. Janganlah jadi remaja yang mudah keluh kesah dan sinis. Apalagi yang tiap saat mengalami krisis tak ada habis. Jadilah Remaja Utama yang menatap masa depan dengan optimis!

Untuk itu, kita harus mengenali apa saja kondisi atau status identitas remaja, agar dapat bertindak sesuai kebutuhan dan kondisi. Ada empat status identitas remaja sebagaimana disebutkan oleh James E. Marcia.

Pertama, Remaja Paripurna atau dikenal Identity Foreclosure. Remaja ini tidak melalui masa krisis dan menunjukkan komitmen pada pilihan hidupnya. Kedua, Remaja Sembuh atau Identity Achievement. Remaja ini sudah melalui masa krisis dan akhirnya berkomitmen kuat pada pilihan hidupnya. Dia mempertimbangkan beberapa pilihan sebelum mantap mengambil keputusan tersebut. Ketiga, Remaja Sakit atau Identity Moratorium. Remaja ini sedang dalam masa krisis sehingga komitmen belum terbentuk. Namun, ada usaha aktif untuk membuat komitmen. Keempat, yaitu Remaja Mengambang atau Identity Diffusion. Remaja ini dalam kondisi krisis dan tidak punya komitmen. Dia belum memiliki prinsip jelas, pilihan hidup juga tidak jelas. Bahkan, dia cenderung tidak peduli dengan masa depan dan tantangan yang akan datang.

Maka, tidak semua remaja dalam kondisi krisis. Ada remaja yang mengalami masa pencarian jati diri atau krisis identitas. Tetapi, ada di antara mereka yang sudah memiliki komitmen kuat.  Remaja ini tahu siapa dirinya dan apa yang dia tuju sebagai pribadi. Remaja ini memiliki keyakinan kuat pada apa yang dia pandang sebagai prinsip. Remaja ini tidak mudah goyah dengan tantangan dan kondisi penuh tekanan. Remaja ini menjalankan hidup dengan optimal. Remaja ini menjadi harapan masa depan. Remaja ini akan menjadi barisan pemimpin dunia. Remaja ini adalah REMAJA UTAMA.
Perhatikanlah teladan para pemuda hebat dunia akhirat yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahuanhu, Kami ikut berperang bersama Rasulullah padahal saat itu kami masih muda".

Merekalah remaja utama. Remaja yang siap berjuang habis-habisan, demi prinsip dan kebenaran. Bahkan ketika nyawa menjadi taruhan. Siap bergabung di barisan remaja utama?







Tidak ada komentar:

Posting Komentar