Senin, 19 November 2018

Siapa Aku?/ Who am I? (3)



Oleh: @fuz_fm

Kita perlu memahami Al-Quran untuk mengenali diri kita. “Kitab (Al-Quran) itu tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 2). Begitulah Allah menegaskan tentang fungsi Al-Quran. Pada ayat yang lain disebutkan bahwa Al-Quran adalah petunjuk bagi manusia seluruhnya. Sayangnya tidak semua mau mengikuti petunjuk yang sudah jelas isinya. Hanya sebagian orang saja sehingga Al-Quran adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa.

Al-Quran merupakan buku pedoman hidup manusia. Dia seperti buku pedoman manual yang terdapat pada produk-produk buatan manusia. Jika penggunaan produk itu sesuai dengan buku manualnya, maka barang akan terjamin dan tidak mudah rusak. Sebaliknya, jika tidak sesuai dengan buku manualnya maka barang akan cepat rusak. Sama halnya seperti manusia. Jika sesuai dengan pedoman Al-Quran maka manusia akan hidup dengan berguna, jika tidak maka akan celaka.

Kali ini kita akan membahas kata lain dalam Al-Quran yang membicarakan manusia. Ada sekelompok kata yang asalnya sama yang digunakan dalam Al-Quran untuk membahas manusia. Kata-kata itu adalah al-insu, an-naasu, al-unaasu, dan al-insaanu. Kata-kata ini berasal dari anasa yang berarti abshara (melihat), yakni bahwa manusia memiliki sifat-sifat potensial dan aktual. Kata anasa juga berarti ‘alima (mengetahui), yakni untuk mengetahui dan berpikir. Selain itu, anasa juga bisa diartikan isti’dzaan (meminta izin), yakni menentukan pilihan melakukan yang benar dan baik, menjauhi yang salah dan buruk, serta meminta izin menggunakan yang bukan haknya. Apakah sesuai dengan diri kita? Sudahkah kita mengenal potensi pada diri masing-masing? Apakah potensi yang kita miliki baik dan benar? Coba tuliskan apa saja potensimu!

Pendapat lain mengatakan kata-kata ini berasal dari kata nasiya yang berarti lupa. Manusia memiliki potensi untuk lupa, bahkan sampai hilang ingatan atau kesadarannya. Bukankah tak jarang ada seseorang yang memegang sebuah kunci motor, tetapi pada saat yang sama menanyakan kuncinya di mana? Itu menunjukkan lupa tingkat dewa.
Terakhir, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata-kata ini berasal dari kata al-nuus yang berarti jinak, ramah, dan dapat menyesuaikan diri. Kalau kamu tidak jinak atau buas, tidak ramah, dan tidak dapat menyesuaikan diri, jangan-jangan situ bukan manusia.

Pembahasan ini belum selesai. Kita baru saja mengartikan dari segi bahasa. Kata-kata ini meski berasal dari akar kata yang sama, penggunaannya dalam Al-Quran ternyata berbeda. Kata-kata tersebut akan semakin gamblang ketika kita membahas satu per satu secara rinci. Edisi selanjutnya yaa. In syaa’a (A)llah.

Sumber: Buletin Nah edisi Rabbiul Awwal 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar