Senin, 24 Juni 2019

INGAT! ALLAH MAHA MELIHAT!


Oleh: M. Faqih

Ada seorang guru yang memiliki beberapa seorang murid yang tampak sangat menyayangi salah seorang muridnya. Murid yang lain kemudian berkata, “Wahai guru, mengapa guru hanya menyayangi seorang murid saja? Guru tidak adil!” Mendengar itu, gurunya menjawab, “Aku akan menjelaskan sebabnya pada kalian.”

Setelah itu sang guru memberikan kepada masing-masing murid seekor burung dengan pesan, “Wahai muridku, sembelihlah burung ini di tempat yang tidak ada yang melihat.” Mereka pun pergi mencari tempat untuk menyembelih burung.

Sesaat kemudian, muridnya kembali dengan membawa burung yang sudah disembelih. Tetapi, ada satu murid yang datang membawa burung yang masih hidup. Dia adalah murid yang disayangi gurunya.

Sang guru bertanya kepada murid tersebut, “Mengapa tidak engkau sembelih burung itu?” Dia menjawab, “Engkau menyuruhku menyembelih di tempat yang tidak ada yang melihatnya, sedangkan aku selalu merasa bahwa Allah selalu melihatku.” Sang guru berujar kepada murid yang lain, “Itulah sebabnya mengapa aku lebih menyanginya.”

               

Sabtu, 22 Juni 2019

MENGAPA KITA MENYEMBAH ALLAH


Oleh: Syifa Aprilia Septiana

Terdapat tiga perkara yang wajib diketahui setiap muslim. Agar setiap muslim memiliki iman yang benar sekaligus mampu mengamalkannya. Apa saja?

1. Allahlah yang menciptakan alam semesta (Al-Khaaliq). Terdapat dalam firman Allah, “Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu), dan batas waktu tertentu yang hanya diketahui oleh-Nya. Namun demikian, kamu masih meragukan.” (QS. Al-An'am: 2).

2. Dialah yang memberi rezeki kepada kita (Ar-Razzaaq). Terdapat dalam firman Allah, “Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58).

3. Dia tidak membiarkan kita terlantar dan Allah Sang Raja sesembahan manusia (Al-Maalik). Terdapat dalam firman Allah, “Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tiada Tuhan selain Dia, Tuhan `Arsy yang mulia.” (QS. Al-Mukminun: 115-116).

Manusia diciptakan bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk beribadah kepada Allah. Kenapa? Dialah Allah Al-Khaaliq, sehingga kita harus menyembahNya. Dialah Allah Ar-Razzaaq, sehingga setiap manusia harus bersyukur dengan semua pemberianNya. Dan Dialah Allah Al-Malik, raja manusia yang mengurus seluruh keperluan makhlukNya.

Kamis, 20 Juni 2019

QUDRAH ALLAH


Oleh: Oleh: Syifa Aprilia Septiana

Dialah Allah, pemilik Qudrah
Sang Penguasa segala
Atas apa yang ada di dunia

Dialah pemilik Qudrah yang sempurna
Qudrah yang kuat
Qudrah yang besar
Tak ada yang dapat melemahkanNya

Ketika Allah berkata, “Jadilah!”
Tiada yang mustahil
Semua terjadi sesuai kuasaNya 

Senin, 17 Juni 2019

BELAJAR KEPADA UMAR #6

Oleh: M. Fatan A. Ulum 

Hims telah takluk, alhamdulillah. Abu Ubaidah kemudian mengirim Khalid bin Walid dan pasukannya ke Qinnasrin. Qinnasrin adalah daerah dekat Himsh di Syam.
Sesampai di sana, pasukan Muslimin diserang para penduduk yang bersekutu dengan Nasrani Arab. Terjadilah peperangan hebat. Pasukan Khalid berhasil menghabisi seluruh pasukan Romawi yang berada di sana, serta membunuh panglimanya yang bernama Mainas.

Sedangkan pasukan Nasrani Arab yang meminta pengampunan karena dipaksa ikut berperang, dibiarkan oleh Khalid.

Selanjutnya Khalid bersama pasukannya bergerak ke pusat kota. Sebagian besar penduduk Qinnasrin bersembunyi di balik benteng pusat kota. Apa kata Khalid? “Andai pun kalian berada di awan, Allah akan membawa kami ke sana untk memerangi kalian, atau menurunkan kalian dari sana untuk kami perangi.” Khalid dan pasukannya terus mengepung hingga Allah menaklukkan Qinnasrin di tangan Khalid.

Atas capaian Khalid ini, Umar bin Khaththab berkomentar, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar, dia lebih mengenali prajurit hebat melebihiku. Demi Allah, sungguh aku mencopot Khalid bukan karena mosi tidak percaya, tapi aku khawatir orang-orang akan mengandalkan dan bergantung kepadanya.”

Ya. Dulu Umar bin Khaththab, setelah diangkat menjadi khalifah pengganti Abu Bakar,  mencopot Khalid dari jabatannya. Ibnu Sa’d meriwayatkan bahwa Umar berkata, “Khalid bin Walid dan Mutsanna bin Syaiban benar-benar akan aku copot agar keduanya tahu, yang memberi pertolongan kepada hamba-hambaNya adalah Allah, bukan mereka berdua.”
Di tahun yang sama yaitu 15 H, jelas Ibnu Jarir, Umar menunjuk Mu’awiyah bin Abu Sufyan sebagai gubernur Qoisariyah. Dalam suratnya, Umar menyampaikan,

“Amma ba’du. Aku mengangkatmu sebagai gubernur Qoisariyah, untuk itu segeralah menuju ke sana dan mintalah bantuan Allah untuk mengalahkan penduduk setempat; sering-seringlah mengucapkan: Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘Aliyyil ‘Adzhiim. Allaahu Rabbunaa wa tsiqotunaa wa rojaa’unaa wa maulaanaa, fani’mal maulaa wani’man nashiir.”

Mu’awiyah beserta pasukannya bergerak ke Qoisariyah, dan mengepung kawasan tersebut. Demikian Ibnu Katsir meriwayatkan. Penduduk setempat beberapa kali menyerang, dan akhirnya terjadi pertempuran hebat. Mu’awiyah bertekad bulat dan mencurahkan segenap tenaga dalam perang ini hingga Allah memberi kemenangan melalui usaha kerasnya. Akhirnya musuh kalah dengan korban di pihak musuh sekira 100 ribu orang. Berita kemenangan dan seperlima harta rampasan perang dikirimkan kepada Amirul Mukminin Umar bin Khatthab. Allaahu akbar! <>

Sabtu, 15 Juni 2019

HATI-HATI HARUS BERHATI-HATI

Oleh: Fuzta Fauzal Muttaqin

Hatiku tergugu. Rasanya seperti ngilu. Seluruh tubuhku sakit. Kepala cekit-cekit. Badan seolah terjepit, seakan dalam ruang yang sempit. Sementara kulihat orang lain tertawa. Hatinya berbunga-bunga. Tampak sekali bahagia. Bagaimana bisa? Mengapa aku tersiksa sementara yang lain bersuka cita?

Aku terpekur memikirkannya. Kemudian, seolah sudah terskenario, kudengar sebuah hadits dibacakan,’Ingatlah bahwa sesungguhnya di dalam tubuh ada sekerat daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ingatlah daging itu adalah qalbu’.

Aku tertampar. Maka kucari tahu apa sebenarnya qalbu itu. Kata qalbun adalah bentuk mashdar dari qalaba yang berarti berubah, bepindah, atau berbalik. Sedangkan kata qalbun itu sendiri berarti hati atau jantung.

Ada yang menyebutkan kata qalbun ini disebutkan sebanyak 122 kali dalam Al-Quran. Terdapat 43 ayat yang menjelaskan tentang iman. Selanjutnya 24 ayat menjelaskan bahwa qalbun mampu menampung perasaan takut, gelisah, harapan, dan ketenangan.
Selain itu, terdapat 20 ayat yang menjelaskan bahwa qalbun mampu menerima dan menyimpan sifat-sifat seperti keteguhan hati, kesucian, kekasaran, kekerasan, dan sifat sombong. Dalam 5 ayat lainnya dijelaskan bahwa qalbun punya kemampuan untuk berdzikir, dan dengan dzikr ia akan menjadi tenang.

Sedangkan dalam 7 ayat lainnya dijelaskan bahwa qalbun punya kemampuan untuk memahami (dengan menggunakan ‘aql) fakta-fakta sejarah dengan mengarahkan kemampuan pendengaran, penglihatan, dan pikiran.

Aku terperanjat. Tak hanya ‘aql yang kemarin kita bahas, ternyata qalbun juga lebih banyak digunakan untuk membahas tentang keimanan dibandingkan yang lain. Jangan-jangan selama ini hatiku rusak, karena penggunaannya tidak sesuai dengan tata aturannya.
Mungkin selama ini hatiku lebih sering memikirkan tentang dunia saja. Harta, tahta, atau wanita. Karena kondisi hati menentukan kondisi tubuh seluruhnya. Bagaimana kondisi hatimu? Apakah sama sepertiku yang sedang tergugu? Atau termasuk yang bahagia selalu?<>

Kamis, 13 Juni 2019

CURHAT LEZAT RAMADHAN


CURHAT:

Mau bertanya, misal kita berdosa terus kita berpuasa dengan tujuan agar Allah berkenan menghapus dosa kita, apakah diperbolehkan?

JAWAB:

Rasulullah bersabda, “...Iringilah segera kejahatan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya, dan pergauilah sesama manusia dengan budi pekerti yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Ya, boleh. Rasul bahkan minta untuk segera taubat dan mengirinya dengan amal-amal kebaikan. Jika sobat pilih puasa dan mampu melaksanakan, silahkan. Lakukanlah agar Allah ridho dan caranya sesuai tuntunan Rasul. Tidak sembarang puasa yang itu tidak sesuai ajaran Rasul.

Untuk dosa, jika berhubungan dengan manusia, segera minta maaf dengan budi pekerti yang baik. Perbaiki hubungan kita dengan orang tersebut bahkan kepada semua saudara atau teman-teman kita. Tunjukkan kepada Allah bahwa “aku” sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri. Bismillah. Semoga Allah ridho.


Selasa, 11 Juni 2019

ANAK DAN MEJA MAKAN

Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Lauk dan sayur telah tertata, nasi juga sudah siap. Belum lagi tambah buah-buahan segar dengan bentuk yang menggoda.. Semua itu kan yang sering tertata di meja makan? Ya begitulah, menu spesial dan istimewa. Tetapi, sudahkah momen meja makan seistimewa menunya?

Meja makan, tepatnya waktu makan. Sebuah momen yang seharusnya begitu spesial bagi tiap keluarga. Karena di sana berkumpul bapak, ibu, anak-anak dan mungkin ada keluarga lain  juga. Apalagi dengan hidangan spesial dari wanita mulia, ibu.

Wahai pemuda, jangan malu untuk berbagi. Di sanalah momen istimewa untukmu bersama keluarga. Sampaikan perjuanganmu selama sekolah, atau saat kuliah, ceritakan keseharianmu bersama teman, ceritaan masalahmu untuk sebuah solusi, dan mungkin ceritakan tujuanmu di masa depan. Di sanalah momen kalian mendapat saran dan nasihat dari keluarga, dan jangan lupa mintalah doa dari mereka.

Wahai bapak dan ibu, itulah momen yang tepat bagi kalian untuk sebuah pendidikan. Itulah waktu yang tepat untuk mendengarkan curahan hati mereka, cerita mereka, bahkan keluh kesah mereka. Di saat itu pulalah kalian bisa mengarahkan kesalahan-kesalahan mereka andai mereka salah. Nasihat dan doa, tentu jangan sampai lupa.  Ya, di sebuah meja makan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah memberikan teladan. Dulu. saat itu Umar bin Abu Salamah berada di pangkuan sang lelaki mulia. Seketika, munculah sifat apa adanya pada diri Umar, tangannya bergerak ke sana ke mari di nampan makanan. Melihat itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegur si bocah, “Hai nak, ucapkanlah basmallah, makanlah dengan tangan kanan dan makanlah apa yang ada di hadapanmu.” Lantas Umar membuat pernyataan yang membuktikan keberhasilan nasihat beliau, dia berkata, “Sejak itu, begitulah caraku makan.”

Terkadang ketika si anak berada di meja makan, mereka mulai bersikap “apa adanya”. Tanpa merasa malu, mereka ambil makanan ini itu dan kurang perhitungan. Efeknya mereka menjadi liar dan rakus saat di meja makan. Terkadang, tangan mereka juga kelayapan untuk mengambil makanan di mangkuk-mangkuk yang tertata di atas meja. Ke kanan ke kiri, jauh pun berusaha mereka dapatkan.

Dari sinilah proses pemuda utama terbentuk. Rantai yang panjang terbentuk dari  rantai satuan yang lebih pendek. Begitu pula rantai kehidupan manusia, dari masa kecilnya, mudanya dan masa tuanya. Masa kecil mereka berpengaruh terhadap usia mudanya, masa muda berpengaruh terhadap masa tuanya. Jangan sia-siakan! <>

Rabu, 05 Juni 2019




السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Dengan penuh kerendahan hati, keluarga besar JAN Training dan Buletinnah mengucapkan selamat menjalani عيد الفطر ('Idul Fithri) 1440 H.

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ

Semoga Allah Ta'ala menerima ibadah kami dan ibadah Anda semua.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه.

Keluarga besar JAN Training dan Buletin Nah!

MENCARI RIZKI SEJATI


Oleh: Deniz Dinamiz

Bagi kamu yang suatu saat ingin punya pekerjaan, maukah kamu punya penghasilan uang jutaan, bahkan milyaran? Inginkah kamu berpenghasilan uang 2M tiap bulan, menjadi pemimpin perusahaan pilihan, punya rumah idaman, ditambah mobil pribadi bukan sewaan? Syaratnya cuma satu: Kamu JUAL agama dan keyakinanmu. Kamu manggut setuju dengan berbuat korup dan curang dalam mencari penghasilan. Mau?

Kalau kamu tidak tahu untuk apa kamu mencari rizki di dunia ini, pasti sudah dengan mudah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.
“Dan tidak ada satu pun hewan melata di muka bumi ini, kecuali rizkinya telah ditetapkan Allah…” (Q.S. Hud ayat 6)

Nah, hewan melata saja dijamin rizqinya. Apalagi kita? Jadi tiap makhluk sudah ditentukan jatah rizki-nya. Lalu buat apa kita belajar dan bekerja? Bukankah untuk mencari rizki?
Islam menjadikan proses mencari ilmu dan berusaha bekerja sebagai bagian dari ibadah dan cara mendekatkan diri kepada Allah.

“Sesungguhnya ruh Qudus (Jibril) telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rizki-nya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rizki…”

Perhatikan. Kita diperintahkan untuk bertakwa dan menjaga cara kita mencari rizki. Dan hadits ini masih ada lanjutannya..

“ … Jangan sampai tertundanya rizki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rizki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (Hadits riwayat Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani)
Sudah jelas bagaimana Islam mengatur segala sesuatunya. Termasuk dalam cara mencari rizki dalam hidup ini. Ingat: rizki tidak hanya berupa uang atau harta. Dia bisa dalam berbagai rupa. Bisa berupa keluarga yang menyayangi, tetanggga yang baik hati, teman yang peduli, rumah dan alam yang nyaman dihuni, dan segala macam pemberian Allah untuk diri kita.

Itulah mengapa rizki berasal dari bahasa Arab, yaitu razaqo-yarzuqu-rizq, yang berarti “pemberian”. Secara istilah, rizki adalah apa saja yang diberikan Allah SWT yang diperoleh manusia.

Sejatinya, pemberian paling penting dari Allah untuk kita adalah Iman dan Islam di dalam hati kita. Karena inilah yang akan membawa kepada kebahagiaan sejati: Sukses di dunia dan Surga di akhirat. Maka, sudah seharusnya kita belajar dari teladan Rasulullah. Beliau bahkan rela kehilangan dunia demi menjaga tegaknya agama Islam di muka bumi ini. Ingatkah kalian akan kisah Rasulullah yang satu ini?

Ketika itu Nabi kita tercinta telah diangkat menjadi Nabi oleh Allah. Beberapa waktu setelah itu, secara terang-terangan Nabi mencela berhala-berhala yang disembah kaum Quraisy Mekah. Orang kafir Quraisy takut hilangnya kekuasaan mereka dalam hal agama dan juga perdagangan jika sampai orang-orang tidak lagi menyembah berhala mereka. Mereka takut kehilangan penghasilan mereka karena dakwah Nabi.

Orang-orang kafir itu pun me-lobby paman Rasulullah yang nggak pernah berhenti melindungi keponakannya itu,

“Kami tidak akan tinggal diam terhadap orang yang memaki nenek moyang kita dan mencela berhala-berhala kita! Sebaiknya kamu suruh dia diam atau sama-sama kita lawan dia hingga dia atau kami BINASA!”

Mendengar hal ini, maka dipanggilnya Nabi Muhammad dan diceritakannya tentang hal ini. Lalu Abu Thalib berkata,

”Jagalah aku, begitu juga dirimu. Jangan aku dibebani hal-hal yang tak dapat kupikul...”
Nabi Muhammad menoleh kepada pamannya, seraya berkata,

“Paman,” jawab Rasulullah, “demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugasku ini, sungguh tidak akan kutinggalkan! Biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu di tanganku atau aku binasa karenanya.”

Terpesona Abu Thalib oleh jawaban itu, lalu dipanggilnya lagi keponakannya dan dikatakan kepadanya, “Anakku, katakanlah sekehendakmu. Aku tidak akan menyerahkan engkau bagaimanapun juga!”  

Rasul yakin bahwa berdakwah dan membela Islam adalah perjuangan untuk meraih ridhoNya. Meski itu berarti bertaruh harta terkuras, tubuh dilindas, bahkan nyawa dirampas!
Maka ingatlah: Rizki sejati yang dibawa sampai surga, hanyalah rizki dan harta yang dicari dengan halal dan digunakan untuk meraih ridhoNya. Harta yang dikumpulkan di dunia? Hanya akan ditinggal mati untuk anak cucu keturunan kita. Carilah Rizki Sejati! <>

Senin, 03 Juni 2019

HALAL DAN THOYYIB

Oleh: M. Fatan A. Ulum 

Yang halal beda dengan yang haram
Sedikit  ataupun banyak, ia menentramkan
Kecil ataupun besar, ia penuh kebaikan
Karena ia halal

Tambahilah rizki yang thoyyib
Yang baik
Yang berakibat baik
Bukan yang pura-pura baik


Sabtu, 01 Juni 2019

Manusia Terpilih



Oleh: Atik Setyoasih 

Dialah sang terpilih. Dari berjuta-juta manusia yang hidup di dunia ini, Allah pilih orang-orang terbaik yang pantas sebagai teladan.

Keberaniannya, teguh pada prinsipnya, arah jelas dalam hidupnya, membuat setiap orang takjub jika menelusuri jejaknya.

Berselisih dengan orang tua adalah sesuatu yang pasti berat. Ya. Berat. Apalagi untuk urusan-urusan perbedaan prinsip. Sang ayah meyakini bahwa berhala-berhala yang dipahat kemudian disembah adalah tuhannya. Sedangkah dia, meyakini itu sebagai perbuatan bodoh dan tidak masuk akal.

Ujian berikutnya adalah ia diusir karena tetap teguh dengan keyakinannya. Ya. Oleh ayahnya sendiri. Sang ayah tidak mau menganggap dirinya sebagai anaknya lagi. Betapa pedih dan sakit rasanya saat itu. Tapi, dia tetap menghadapi ujian itu dengan yakin akan kesudahan yang baik dari Ilahi Rabbi.
Ujian akan selalu ada. Bagi setiap insan yang beriman kepadaNya. “Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu,” firman Allah dalam Surat Ali-Imran ayat 18.

Ujiannya memang belum cukup sampai di sini. Setelah penantiannya yang cukup lama saat berumah tangga yakni, putra penyejuk hatinya, ia diperintahkan Sang Pencipta untuk meninggalkan putra beserta ibunya. Di tanah yang tandus, kering, tiada sumber air dan makanan. Ujian yang sejatinya berat. Tapi hatinya tetap taat, begitu pula amalnya. Apapun yang diperintahkanNya, meski seperti tidak mampu melakukannya, ia lakukan.

Belum lama setelah itu, ia diperintahkan Allah menyembelih putra tercintanya. Ah...berat dan panjang perjalanannya sebagai manusia pilihan.

Menjadi manusia memang pilihan. Mau dipilih atau sekadar manusia biasa-biasa saja yang hidup di dunia ini. Seperti halnya dia, ya, kekasih Allah Ibrahim `alahissalam.

Laahaulaa walaa quwwata illa biLlaah ...


Minggu, 26 Mei 2019

UMAT TERBAIK



Apa yang membuat manusia jadi terbaik di antara manusia-manusia yang lain?

Karena harta? Rupa? Tahta?

Bukan!

Tapi, karena Al-Qur'an. Ia mencintainya, mempelajarinya, dan mengamalkan dengan sungguh-sungguh.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ . “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Kamukah salah satu 'manusia' yang ingin jadi terbaik dengan Al-Qur'an?

Video: IG @rumah_sajada

#qify
#siramanmanis
#alquran

Sabtu, 25 Mei 2019

MENGENAL ALLAH



Oleh: Ja`far Shidiq 

Sobat, sudahkah shalat lima waktu? Sudah di masjid belum? Untuk siapa kalian shalat?
Ya, pasti  dan sudah pasti hanya untuk Sang Pencipta kita Yang Maha Esa. Siapa dia? Allah.  Setiap hari, kita beribadah kepadaNya. Salah satunya dengan shalat di waktu yang telah ditentukan.

Selanjutnya, kita belajar mengenal Allah ya? Mengenal Dzat yang telah menciptakan segala yang ada.

Yang pertama: Bahwasannya Allah telah menciptakan kita, memberi rizki kepada kita, dan Allah tidak meninggalkan kita terlantar tidak terurus. Allah mengutus kepada kita seorang Rasul-Nya.

Yang kedua: Bahwa Allah tidak ridha jika seseorang disekutukan dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.         
  
Yang ketiga: Barangsiapa mentaati Rasul-Nya dan metauhidkan Allah, maka tidak boleh bergantung bahkan setia kepada para musuh Allah dan Rasul-Nya, meskipun dia adalah kerabat yang paling dekatnya.

Semoga yang sedikit ini dapat menambah kecintaan kita kepada Allah Ta`ala. Sudahkah kita mengenal dan mencintai Allah? Apa buktinya?

Rabu, 22 Mei 2019

Dipertanggungjawabkan



Oleh: Silvia Maharani 

Di saat mulut ini terkunci
Di saat orang sibuk memikirkan dirinya
Di saat orang tak peduli dengan yang lain
Dan di saat pula
Orang tak bisa menolong

Semua catatan dibuka
Untuk menjadi saksi atas perbuatan ini 
Semua perbuatan dipertanggungjawabkan
Tak ada yang dimaafkan

Ya, Raqib ‘Atidlah
Yang mencatat dan mengawasi
Apa yang dilakukan seorang insan

Sumber: Bank Data Kusen JAN 

Selasa, 21 Mei 2019

KISAH RAMADHAN DI SAJADA




Adalah Rasulullah, yatim sejak dalam kandungan. Piatu saat usia belum genap 10 tahun.

Kemudian ia dirawat oleh kakeknya dan ketika kakeknya pun meninggalkannya, ia kemudian dirawat oleh sang paman: Abu Thalib.

Ya. Rasul semenjak kecil ditinggal kedua orang tuanya.
Tapi, Rasul kemudian tidak menjadi lemah. Bahkan menjadi orang terbaik sepanjang masa.

Akankah kita betul-betul akan meneladani beliau dari kecil hingga penghujung usianya? Inilah cara menjadi orang terbaik di mataNya. Meneladani manusia terbaik: sang pembawa ajaran Dia Allah; Tempatku Memuja.

Foto: Kisah Bersama Kak Ari hari ini di @rumah_sajada
dan sekaligus berbagi bingkisan untuk anak yatim piatu. Alhamdulillah.



Sabtu, 18 Mei 2019

Tempatku Memuja


Oleh: Muhammad Fakih


Allah ...
Yang Maha Pemurah
Tempatku menyembah
KepadaNyalah kuberserah
Allah ...
Yang Maha Esa
Tempatku memuja
KepadaNyalah kuberdoa
Allah ...
Yang Maha Penyembuh
Tempatku mengeluh
KepadaNyalah kuberteduh
            Allah ...
            Engkaulah
            Tuhanku yang satu
            Laaillahaillallah

Jumat, 17 Mei 2019

QIFY



Quranic I'tikaf For You
I'tikaf Bersama Syaikh Palestina

Pernah merasakan I'tikaf yang syahdu dan manis bersama *Imam dari Palestina?*
Sembari ngaji dan berdiskusi tentang Pendidikan Islam?

Ikuti: I'tikaf di akhir bulan Ramadhan bersama:

Syeikh Ahmed Aldwaik
(Imam Palestina)


Pengisi Acara Lainnya:
1. Ustadz Fatan Fantastik (Direktur PAPP Rumah Sajada)
2. Ustadz Deniz Dinamis, S. PSi (Senior Trainer JAN)
3. Ustadz Fuzta F.M., S. PSi (Koordinator Madrasah Sajada)
4. Ustadz Wahyu Kurniawan, S. Pd. (Koordinator Kuttab Rumah Sajada)

Waktu: 24 Mei 2019 (sore jam 16.30) sampai 3 atau 4 Juni 2019 (pagi jam 06.00) Full 10 hari

Fasilitas
Makan Sahur dan Buka Puasa
Makanan dan Snack
Kopi Asli Arabika dan Robusta
Sertifikat
Buletin Nah

Lokasi/ Tempat:
🕌 Masjid Samping Rumah Sajada

Link sampai lokasi:  https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Syarat Peserta:
KHUSUS IKHWAN Usia 15 - 40 tahun


*Informasi dan Pendaftaran:* 0896 6773 6149 atau 0813 7005 6300

*Biaya: 15.000/ hari*

Sebar dan Ajak Teman!

#siramanmanis #qify #imampalestina


Kamis, 16 Mei 2019

Manusia Itu Istimewa



@fuz_fm

Aku teringat sebuah ayat, Firman Allah Yang Maha Melihat, “Dan sesungguhnya telah kami muliakan Anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (Al-Isra': 70). Ternyata Allah sangat memuliakan manusia. Bagaimana caranya?

Aku juga teringat Surat Al-Baqarah ayat 30-35 yang mengisahkan bagaimana penciptaan manusia pertama (Nabi Adam). Allah mengaruniakan kepada manusia berupa 'aql. 'Aql inilah yang menjadikan manusia paling mulia dibandingkan seluruh makhluk yang telah diciptakan. Bahkan bisa lebih mulia daripada malaikat.

NAH, lalu apa itu 'aql? Apakah sama dengan akal yang selama ini kukenal? Tentu aku pun harus memahaminya dari akar katanya, dari Bahasa Arab.

Setelah kutelusuri, secara bahasa kata 'aql mempunyai aneka makna. Di antaranya bermakna kecerdasan. Sedangkan kata kerjanya ('aqala) bermakna mengikat atau menawan. Karena itulah seseorang yang menggunakan akalnya disebut dengan 'aaqil; orang yang dapat mengikat dan menawan hawa nafsunya.

Uniknya, Al-Quran tidak pernah menggunakan 'aql dalam bentuk kata benda. Seluruhnya berbentuk kata kerja. Seakan Al-Quran ingin menjelaskan bahwa berpikir dengan akal adalah kerja dan proses yang terus menerus, bukan hasil perbuatan. Kata-kata tersebut berbentuk 'aqala, na'qilu, ya'qilu masing-masing 1 kali, ya'qiluun 22 kali, dan ta'qiluun 24 kali.

Jumlahnya sebanyak 49 kali; 14 ayat digunakan untuk memikirkan dalil dan dasar keimanan, 12 ayat untuk memikirkan dan memahami alam semesta, 8 ayat tentang pemahaman terhadap peringatan dan wahyu Allah, 7 ayat tentang pemahaman terhadap proses sejarah keberadaan manusia di dunia, 6 ayat tentang pemahaman terhadap kekuasaan Allah, 1 ayat tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan moral, dan 1 ayat tentang pemahaman terhadap makna ibadah.

Aku terperangah. Mayoritas kata 'aql ternyata digunakan untuk memikirkan keimanan. Baru kemudian digunakan untuk memikirkan ilmu pengetahuan. Sementara banyak orang yang menggunakan 'aql-nya untuk berlomba-lomba dan bersaing dalam ilmu pengetahuan. Bagaimana berlomba-lomba dalam keimanan dan taqwa?

Inilah 'aql. Sesuatu yang jika digunakan manusia dengan cara yang baik dan sesuai aturan Allah, maka manusia bisa menjadi lebih mulia dari malaikat. Syaratnya adalah lebih banyak digunakan untuk memikirkan keimanan daripada ilmu pengetahuan. Bagaimana kondisi imanku? Bagaimana kondisi imanmu? Mari pikirkan!

Rabu, 15 Mei 2019

Keimanan Sa’ad



Oleh: Siti Mutiah

Rasulullah memiliki seorang sahabat yang sangat beliau banggakan. Namanya Sa’ad bin Abu Waqqash. Sa’ad terkenal sebagai golongan orang-orang yang pertama masuk Islam. Sayangnya sang ibu menentang Islamnya Sa’ad.

Sa’ad adalah anak yang sangat berbakti kepada ibunya. Dia sangat sayang dan hormat kepada ibunya. Sa’ad juga terkenal rajin bekerja, tidak suka bermalas-malasan, padahal dia berasal dari keluarga bangsawan dan mempunyai banyak harta.

Suatu ketika, Abu Bakar mendatangi Sa’ad yang tengah bekerja. Abu Bakar menceritakan tentang Rasulullah dan Islam yang dibawanya. Sa’ad sangat memahami kemuliaan dan kebenaran sifat Rasulullah. Saat itu juga, dia mengimaninya dan masuk Islam.

Berita masuk Islamnya Sa’ad sampai kepada ibunya, Hamnah binti Sufyan. Betapa marahnya sang ibu mendengar kabar itu. Sang ibu menyatakan akan mogok makan dan minum, sampai Sa’ad bersedia kembali ke agama nenek moyang dan kaumnya.

Keimanan Sa’ad sangat kuat. Meskipun sang ibu marah padanya, dia tetap menjaga keimanan kepada Allah dan rasul-Nya. Sa’ad juga tetap menyayangi ibunya. Setiap hari, Sa’ad membujuk ibunya supaya mau makan.

Sa’ad sangat sedih melihat kondisi ibunya yang terlihat begitu kurus. Namun, Sa’ad tetap tidak mau meninggalkan Islam. Setelah Sa’ad membujuk ibunya untuk tetap makan, Hamnah akhirnya mau makan. Keimanannya kepada Allah dan RasulNya tetap terjaga, meski sang ibu tidak merestuinya.

Sumber: Buletin Nih #30 


Sabtu, 11 Mei 2019

Kamu Tergantung Teman Dekatmu


@dik_yusuf

siapa teman dekatmu? Dialah yang akan berpengaruh terhadap kamu.
“Seseorang tergantung agama teman dekatnya,” sabda Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Maka hendaklah kalian memperhatikan siapakah teman dekatnya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidzi, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani.

Ada kisah menarik tentang hal ini. Dialami oleh seorang pembunuh, lebih tepatnya pembunuh 99 jiwa.

“Dahulu,” sabda Rasulullah memulai ceritanya, “Dari generasi sebelum kalian, terdapat seorang lelaki yang telah membunuh 99 jiwa. Karena ingin bertaubat maka ia mencari orang yang dipandang paling pandai, dan ia ditunjukkan pada  seorang rahib. Si pembunuh pun mendatanginya,  lalu menceritakan, 'Apabila ada seseorang  yang telah membunuh 99 jiwa, masihkah ada jalan taubat untuknya?'

'Tidak ada,' jawab si rahib. Maka dibunuhlah si rahib itu, sehingga genaplah menjadi 100 jiwa yang telah dibunuhnya. Kemudian si pembunuh mencari orang alim lainnya, dan ditunjukkanlah ia kepada seorang lelaki alim.

'Jika ada seseorang yang telah membunuh 100 jiwa, masihkah ada jalan taubat untuknya?' Tanya si pembunuh.

Orang alim itu menjawab, 'Tentu saja ada. Siapakah yang bisa menghalangi dirinya dari taubat? Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana banyak orang yang rajin beribadah kepada Allah Ta'ala. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka! Janganlah kamu kembali ke kampung halamanmu, karena itu tempat yang penuh kejahatan,'”demikian Rasulullah menceritakan.

Kisah ini sebenarnya masih berlanjut. Tidak tepat jika semua saya tuliskan di sini. Singkat cerita, si pembunuh pun berangkat. Namun, di perjalanan ajal menjemputnya. Nyawanya diperebutkan oleh Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Setelah diukur jaraknya, ternyata tempat matinya lebih dekat sejengkal dengan desa baik yang hendak ditujunya. Lantas, ia pun digolongkan sebagai penduduk desa baik tersebut. Atas sebab itulah, nyawa si pembunuh dibawa oleh Malaikat Rahmat.

Mana buktinya jika teman sangat berpengaruh? Cermati perkataan si rahib, karena di sana banyak orang yang rajin beribadah kepada Allah Ta'ala, beribadahlah kepada Allah bersama mereka. Kenapa harus di sana? Karena berkumpulnya teman yang rajin ibadah, menjadikan seseorang lebih mudah melakukan ibadah yang serupa. Karena bersama orang yang taat dia akan diajak taat, dia pun  akan dinasihati jika lalai, dia akan diberi semangat jika tengah malas, bahkan dia senantiasa akan diingatkan adanya negeri akhirat.

Segera, tentukan teman dekatmu, teman yang bisa membawamu ke surga-Nya.

Senin, 06 Mei 2019

CURHAT LEZAT



Curhat
Kadang aku semangat. Kadang aku futur. Gimana agar fithrah kita tetap sholih atau sholihah? (Roma, Yogyakarta)

Jawaban
Apa itu futur? Rasa malas, enggan, dan lamban dalam melakukan kebaikan yang mana sebelumnya ia rajin dan bersemangat melakukan kebaikan. Itukah yang Sobat rasakan?
Satu di antara penyebab kita berada di titik tidak sholih maupun sholihah adalah diperbudak nafsu yang mengajak pada keburukan. Solusinya adalah bersabar (tetap melakukan) dalam melawan nafsu itu. Caranya adalah senantiasa istiqomah melakukan amalan-amalan kebaikan sesuai perintah Allah dan tuntunan Rasulullah. Meskipun hanya amalan yang sejatinya mudah. 

Sabtu, 04 Mei 2019

Jangan Puas Dengan Kerja Keras



@denizdinamiz

Lihat sekitarmu.

Lihatlah orang-orang yang kamu temui sehari-hari. Di pasar. Di jalan. Di kantor-kantor maupun di tempat umum. Apa yang mereka lakukan? Sebagian besar bekerja. Terkadang mereka melakukan aktivitas lain, seperti berolahraga, bermain musik, melakukan hobi tertentu. Menurut kamu: Seberapa BAIK mereka melakukannya?

Kemungkinan besar jawabannya adalah: cukup baik. Paling tidak cukup baik untuk tetap mereka lakukan dari hari ke hari. Mereka tidak dipecat dan bahkan terkadang peran dan jabatannya menanjak. Mereka dapat berolahraga dan bermain musik cukup baik untuk bisa mereka nikmati. Tetapi kenapa hanya sedikit diantara mereka (kalaupun ada) yang melakukan aktivitas mereka dengan kualitas HEBAT dan LUAR BIASA? Bahkan kualitas prima tingkat dunia?

Kenapa mereka tidak? Kenapa mereka tidak dapat mengelola bisnis seperti Jack Welch? Bermain golf seperti Tiger Woods atau bermain musik seperti Mozart? Padahal, mereka melakukan aktivitas mereka terus-menerus dalam waktu yang lama. Ada yang dua puluh, tiga puluh, empat puluh tahun melakukan pekerjaan atau aktivitasnya. Kenapa waktu yang sangat lama ini tidak cukup untuk menjadikan mereka berkualitas tingkat dunia?
Apakah karena mereka tidak berbakat? Atau mereka tidak serius menjalankan aktivitasnya karena hanya sekedar hobi?

Kenyataannya, banyak di antara mereka yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh keringat selama berpuluh-puluh tahun. Kualitas kerja mereka? Biasa-biasa saja. Bukan kualitas tingkat dunia.

Bahkan ada temuan yang mengherankan: Orang dengan pengalaman kerja yang tinggi tidak lebih baik dalam melakukan pekerjaannya dibandingkan dengan mereka yang pengalamannya sedikit.

Penelitan di sekolah bisnis INSEAD di Perancis dan sekolah pascasarjana U.S. Naval menyebutnya “Perangkap Pengalaman/ Experience Trap”. Hasil penelitian mereka: Setelah studi yang mendalam, rata-rata, manajer yang berpengalaman tidak menghasilkan produksi yang berkualitas tinggi.

Tampak aneh? Bahkan pada beberapa bidang pekerjaan, hal ini menjadi semakin aneh. Mereka cenderung semakin buruk dengan bertambahnya pengalaman. Semakin banyak dokter berpengalaman cenderung nilai pengetahuan medisnya lebih rendah daripada dokter yang tidak berpengalaman. Dokter umun pun menjadi kurang terampil dalam mendiagnosis suara jantung dan gambar sinar x. Auditor menjadi kurang terampil pada beberapa jenis evaluasi.

Berarti dapat kita pahami bahwa kerja keras (saja) tidak menentukan apakah seseorang dapat mencapai kualitas kerja tingkat dunia. Kalau begitu apa?

Faktor yang menjelaskan performa hebat tingkat dunia disebut oleh para peneliti sebagai “latihan penuh kesadaran (LPK)” atau deliberate practice. Apa yang disebut dengan LPK ternyata menjadi sangat penting. Tampaknya, sebagian besar orang tidak melakukan LPK karena banyak orang bekerja keras selama puluhan tahun tetapi tidak mendekati kualitas HEBAT sedikitpun. LPK juga tidak terjadi ketika kita bermain bola atau alat musik kesayangan kita. LPK memang berat. LPK memang menyakitkan. Tetapi LPK terbukti berhasil. Semakin banyak LPK kita lakukan, semakin baik performa kita.

Jumat, 03 Mei 2019

Dengan Tangan Sendiri


@emfatan

Adalah kehormatan
Bekerja dengan kedua tangan sendiri

Ambillah sesuatu
Bekerjalah dengan itu
Itu lebih baik bagimu
Daripada meminta-minta kepada orang lain

Capeknya badan di petang hari
Setelah bekerja dengan tangan sendiri
Itulah kehormatan diri
Yang sejati