Rabu, 16 Oktober 2019

Lesehan Jum`at JAN: The Prayer Practicers



Ibadah bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Ia adalah menyambungkan jiwa-hati-pikiran kepada Sang Penguasa Alam. Ia adalah ”istirahat" dari hiruk pikuk dunia nan fana, menuju dzikrullah yang menguatkan jiwa-raga.

Bagaimana ibadahnya para sahabat muda, sehingga mereka masuk dalam ”sebaik-baik generasi”? Apa pelajaran dan inspirasi yang bisa kita petik untuk kehidupan kita saat ini
Ikuti:
Lesehan Jum`at JAN
On Pursuing The Prime Youths #3
Merunut Jejak Hebat Para Sahabat

Tema: 
The Practicers Prayers

Waktu:

JUMAT, 18 Oktober 2019
 jam 16.00 - 17.25

Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi Arabika “Specialty”
Buletin NAH!

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah:
Bisa langsung via WA dengan format Nama_Alamat kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran:
085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:
085600176738 atau 085329686654
t.me/buletinnah
Twitter: @buletinnah@JANtraining
Instagram: @buletinnah@jantraining
buletinnah.com

Sebarluaskan, ajak saudara, dan kawan-kawan tersayang 



Senin, 14 Oktober 2019

LESEHAN JUM’AT JAN: THE QUR’AN KEEPERS


Oleh: TIM JAN

Al-Qur’an Bicara Tentang Al-Quran

Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (QS. Al-Isra’: 9)

Inilah Al-Quran. Inilah pelampung keselamatan bagi orang yang menjadikannya sebagai pedoman. Inilah pembimbing bagi kaum Muslimin, bagi mereka yang hendak meniti jalan yang lurus. Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Perhatikanlah, sesungguhnya akan terjadi fitnah!” Ali bertanya, “Apa jalan keluar dari fitnah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, Kitabullah ...”

Tentu ini hanya satu dari sekian ayat yang menjelaskan tentang Al-Quran itu sendiri. Silahkan buka Al-Qur’an kalian, dan cermati ayat-ayatnya.

Al-Qur’an dan Tanggung Jawab Besar

Ada hal penting yang harus kaum Muslimin ketahui tentang Al-Qur’an. Hal penting itu telah Allah sampaikan dalam Qur’an surat Al-Isra’. Sebagaimana yang disampaikan oleh Amru Khalid dalam Kitabnya Khowathir Qur’aniyah ketika menjelaskan tujuan diturunkannya surat Al-Isra’. Beliau menjelaskan bahwa peristiwa Isra’ Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Masjidil Aqsha terdapat sebuah pertemuan agung di dalamnya. Saat itu Masjidil Aqsha telah dipenuhi para nabi  dan rasul sejak zaman nabi Adam ‘alaihissalam hingga nabi Isa ‘alaihissalam. Mereka menunggu kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengimami shalat. Shalat yang beliau pimpin ini menjadi tanda perpindahan risalah kepada umat ini. Maka umat Muhammad saat ini memiliki tanggung jawab atas Kitabullah atau risalah yang Allah turunkan. Setiap nabi diperintahkan menjaga kitab Allah. Namun, setelah para nabi meninggal, kaum mereka menelantarkannya. Bahkan, umat terakhir (sebelum Muhammad) yang menerima amanah Kitab adalah Bani Israil. Tetapi mereka melakukan kerusakan di muka bumi dan tidak menjaga Kitab mereka dengan baik.

Masih penjelasan Amru Khalid, dalam surat ini, Allah banyak menyebutkan tentang Al-Qur’an dan Al-Kitab, yang memberikan kesan bahwa surat ini (Al-Isra’) adalah pemberitahuan tentang pentingnya Al-Qur’an. Lantas apa hubungan antara peristiwa Isra’ dan Al-Qur’an itu? Adapun peristiwa Isra adalah cermin perpindahan Kitab kepada umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seolah peristiwa itu memberi kesan kepada kita, “Wahai umat Muhammad, kalian bertanggung jawab  terhadap kitab Al-Qur’an ini. Oleh karena itu, sadarilah nilainya dan jangan sekali-kali menelantarkannya sebagaimana kelakuan umat-umat sebelum kalian. Jika kalian menelantarkannya, Allah akan mengganti kalian sebagaimana Dia telah mengganti mereka.”

Lalu, siapakah orang-orang yang mampu mengemban tanggung jawab risalah sepeninggal Rasulullah? Siapakah orang-orang yang siap mengemban tugas berat yang ada dalam Al-Qur’an? Siapakah  para penjaga Al-Qur’an itu, yang benar-benar menjaganya, tidak hanya sebatas membaca dan menghafal, bahkan mereka mampu mengamalkan hukum-hukumnya hingga mengajarkannya?
Al-Quran dan Para Penjaganya yang Mulia

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari manusia?” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang Dia istimewakan.”


Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa Ahlul Qur’an adalah orang yang memiliki ilmu tentang Al-Qur’an dan mengamalkannya. Muhammad Syauman Ar-Ramli juga menjelaskan bahwa ahlul Qur’an adalah orang yang mengilmuinya, membacanya, mengamalkan hukum-hukumnya, meskipun mereka belum hafal. Beliau juga menambahkan sampai mengajarkannya. Berarti, semua umat Muhammad berkesempatan menjadi ahlul Qur’an, mereka berkesempatan untuk bertanggung jawab menjaga Al-Qur’an. Pertanyaan berikutnya,  siapa yang terbaik di antara mereka? Merekalah para shahabat. Dr. Raghib As-Sirjani menjelaskan tentang mereka ini dengan mengutip hadits yang penting. Mereka para shahabat adalah orang-orang yang digambarkan Rasulullah dalam sebuah riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup di masaku, lalu orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang yang setelah mereka.”

 Para Penjaga Al-Quran Itu Adalah Pemuda

Muhammad Abdullah ad-Duwaisy menjelaskan, banyak orang yang masuk Islam di awal kehadirannya adalah kaum muda di bawah usia dua puluh tahun atau lebih sedikit.

Jika demikian, sebenarnya keimanan telah menghunjam kuat dalam qalbu mereka. Sehingga kegelapan tersingkap dan berubah menjadi cahaya, dan mereka para pemuda shahabat itu membenarkan risalah yang Rasulullah bawa. Para pemuda shahabat ini paham benar tentang Al-Qur’an sebagai sebuah pedoman; yang pembahasannya sudah dipaparkan sebelumnya. Karenanya, hal pertama yang menjadi perhatian generasi muda shahabat adalah Al-Qur’an. Kita akan berkenalan dengan para pemuda yang luar biasa ini.

Rasulullah bersabda, “Pelajarilah bacaan Al-Qur’an dari empat orang; Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, dan Mu’adz bin Jabal.” Ad-Duwaisy menjelaskan bahwa dari empat itu, tiga di antaranya adalah pemuda, yaitu; Mu’adz, Ibnu Mas’ud, dan Salim.

Anas radhiyallahu ‘anhu juga memberi kesaksian, bahwa ada pemuda lain bersama Mu’adz, yaitu Zaid bin Tsabit, di mana dia telah menghimpunnya (menghafal seluruhnya). Anas berkata, “Al-Qur’an telah dihimpun pada masa Rasulullah oleh empat orang, semuanya dari kalangan Anshar, yaitu; Ubay, Mu’adz bin Jabal, Abu Zaid, dan Zaid bin Tsabit.”

Selanjutnya, Amru bin Salamah, seorang shahabat generasi akhir, dia sangat serius mempelajari Al-Qur’an. Dia selalu menyambut kafilah yang datang, belajar dan bertanya kepada mereka tentang Al-Qur’an. Sehingga, kemampuannya mengungguli seluruh anggota kaumnya. Bahkan kaumnya, merekomendasikan dirinya menjadi imam shalat.

Seorang anak yang belum lama melewati usia sepuluh tahun, Al-Bara’ bin Azib, berkata, “Rasulullah tidak datang kepada kami kecuali setelah aku menghafal surat-surat ­al-Mufashshal (Surat Qaf - surat An-Nas).

Begitu pula Abdullah bin Abbas, dia berkata, “Tanyakanlah tentang tafsir kepadaku. Sebab, aku telah menghafal Al-Qur’an semenjak aku kecil.”

Begitu pula Salim Maula Hudzaifah. Aisyah pernah terlambat menemui Rasulullah. Saat beliau tanyakan alasannya, Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, di masjid ada seorang laki-laki di mana  aku belum pernah melihat seorang pun yang bacaan Al-Qur’annya lebih baik darinya.” Lalu Rasulullah pergi ke masjid, dan ternyata orang tersebut adalah Salim Maula Hudzifah. Rasulullah pun bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan orang seperti dirimu di dalam umatku.”

Catatan Penting Tentang Mereka

Apakah mereka hanya memiliki hafalan banyak tanpa paham maknanya? Apakah mereka mengamalkannya? Apakah Quran sampai menata perilaku dan kehidupannya? Atau, apakah mereka hanya menjaga makhraj semata? Tentu tidak. Kita serahkan pada ahlinya Al-Qur’an di masa itu untuk memberikan penjelasan lebih detail.


Abdullah bin Mas’ud menceritakan kepada kita bagaimana penjagaan mereka terhadap Al-Qur’an, “Apabila salah seorang di antara kami mempelajari sepuluh ayat, maka dia tidak beralih ke ayat berikutnya, hingga dia mengetahui makna-maknanya sekaligus mengamalkannya.”

Selanjutnya kita dengar sabda Rasulullah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, beliau bersabda, Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran lalu mengajarkannya.” Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari.

Menghafal menurut Muhammad Abdullah ad-Duwaisy adalah sarana menuju tahap berikutnya, yakni konsisteni untuk membaca, merenungkan, dan mempelajari makna-maknanya. Selanjutnya adalah membawa diri kepada petunjuk dan arahannya.

Referensi:
1.    Amru Khalid, Khowathir Qur’aniyah, 2004, Jakarta Timur; Al-I’tishom.
2.    Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy, Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga, 2019, Solo; Zam-Zam.
3.    Raghib As-Sirjani, Menjadi Pemuda Peka Zaman, Solo; PT Aqwam Media Profetika.
4.    Muhammad Syauman Ar-Ramli, dkk, Nikmatnya Menangis Bersama Al-Quran, 2015, Jakarta Timur; Istanbul.

           

Rabu, 09 Oktober 2019

Reminder Lesehan Jumat JAN: The Marifah Seekers



Ada pemuda-pemuda utama yang mulia karena ibadahnya. Ada yang mulia karena zuhudnya. Mulia karena hidupnya untuk Sang Pencipta.

Di pekan ini, kita akan bahas siapa mereka yang mulia karena kesungguhan dan perhatian penuhnya mengejar ilmu.

Insya Allah di Lesehan Jum'at @jantraining pekan ini.

Yang ingin mengikuti jejak hebat para sahabat (Rasulullah), silakan lapangkan hati, tenaga, dan waktunya.

#LesehanJumatJAN #OnPursuing #ThePrimeYouths

Selasa, 08 Oktober 2019

Lesehan Jum`at JAN: The Ma`rifah Seekers




Ikuti:
Lesehan Jum`at JAN
Merunut Jejak Hebat Para Sahabat

Tema: 
The Ma`rifah Seekers

JUMAT jam 16.00 - 17.25

Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi Arabika “Specialty”
Buletin NAH!

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah:

Bisa langsung via WA dengan format Nama_Alamat kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran:
085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:

085600176738 atau 085329686654
t.me/buletinnah
Twitter: @buletinnah@JANtraining
Instagram: @buletinnah@jantraining
buletinnah.com

Sebarluaskan, ajak saudara, dan kawan-kawan tersayang 

Senin, 07 Oktober 2019

Teaser The Qur`an Keepers



On Pursuing The Prime Youths.

Dalam pertemuan pertama Lesehan Jum`at JAN, kita akan bahas tentang “The Qur`an Keepers”. Kita tahu apa itu Qur`an. Mukjizat besar Rasulullah Shallahu`alaihi wa Sallam. Apa itu “Keepers”? Siapakah sahabat tersebut?

Mari kita bahas selengkapnya di #LesehanJumatJAN. InsyaaAllah.

Jumat, 04 Oktober 2019

DUA YANG TERJAGA


Oleh: TIM JAN

Al-Quran Bicara Soal Wanita Ini

Sumber paling benar yang patut kita rujuk adalah Al-Quran. Kisah kedua wanita ini telah diabadikan oleh Allah ta’ala di dalam al-Quran. Merekalah dua yang terjaga, Sarah dan Hajar. Bukalah mushaf kalian, lalu cermati ayat-ayat berikut; QS. Ash-Shaffat: 100, QS. Al-Anbiya’: 71-73, QS. Al-Ankabut: 26-27, QS. Hud: 69-73, QS. Al-Hijr: 51-56.

Tentang Sarah
Menurut riwayat yang mashur Sarah adalah saudara sepupu Ibrahim, dia adalah putri pamannya yang bernama Harran.

Namun Ibnu Katsir dalam Kisah Shahih Para Nabi berkomentar, pendapat yang mengatakan Sarah putri saudara Ibrahim  yang bernama Harran, dan saudara perempuan Luth, sebagaimana yang dikisahkan as-Suhaili dari Al-Qutaibi dan An-Nuqqasy, maka dia benar-benar telah menyimpang. Orang yang beranggapan bahwa menikahi anak saudara pada saat itu merupakan suatu  hal yang disyariatkan, maka yang demikian itu merupakan suatu yang tidak berdalil sama sekali. Seandainya hal itu merupakan suatu yang disyariatkan pada saat itu, sebagaimana yang dinukil dari pendeta Yahudi, sesungguhnya para nabi tidak melakukannya. Wallahu a’lam.

Sebagian ulama mengatakan, ada tiga nabi wanita, “Sarah, ibu Musa, dan Maryam.” Namun menurut jumhur, mereka adalah wanita-wanita yang benar keimanannya. Begitu Ibnu Katsir menyebutkan dalam kitabnya.

Sarah adalah wanita yang kecantikannya luar biasa. Menurut salah satu riwayat, setelah Hawa, tidak ada seorang pun yang lebih cantik dari Sarah. Segala puji dan karunia hanya bagi Allah.

Dari Sarah akan terlahir Ishaq, dari Ishaq akan lahir Ya’qub, Ya’qub adalah Israil, yang darinya akan terlahir bangsa yang besar.

Tentang Hajar

Hajar al-Mishriyyah. Hajar adalah wanita Mesir. Hajar adalah seorang  budak raja Mesir yang lalim, yang nanti dihadiahkan kepada Sarah.  Dr. Hamid Ahmad ad-Thahir dalam kitabnya Kisah-Kisah dalam Al-Quran menjelaskan wanita Mesir memiliki karakter tersendiri yang tidak terlepas dari mereka. Karena sejak kecil mereka terbiasa meminum air sungai nil yang berasal dari surga, sehingga raut wajah muda berkelip di wajah mereka, termasuk Hajar.

Dari Hajar inilah akan lahir Ismail. Ismail adalah cikal bakal bangsa Arab, yang kelak akan diutus seorang Rasul, dialah penghulunya orang-orang terdahulu dan yang akan datang yaitu Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Kesetiaan Mendampingi Suami Hijrah

Berawal dari keluarnya Ibrahim dari negeri kaumnya; Babilonia di Irak, karena berbagai peristiwa telah Ibrahim alami, mulai dari penolakan akan dakwahnya sampai peristiwa pembakaran atas diri Ibrahim. Ibrahim pun berhijrah  bersama keponakannya yang bernama Luth bin Harran bin Azar, serta istrinya yang bernama Sarah. Sarah adalah wanita yang mandul, sehingga mereka berdua belum dikaruniai seorang anak. Inilah skenario yang Allah hendak berikan kepada Ibrahim, bahwa tidak lama lagi dia akan memiliki keturunan yang shaleh-shaleh. Kelak setiap nabi dan rasul yang Allah utus, semua adalah keturunan dari Ibrahim.  

Ibrahim hijrah ke Negeri yang Kami telah memberkahinya (QS. Al-Anbiya’: 71). Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsirnya menjelaskan negeri tempat Ibrahim hijrah adalah Syam, sebuah negeri yang disucikan sebagiannya, (dan sebagian yang suci itu) adalah Baitul Maqdis. Namun, akhirnya mereka harus pindah ke Mesir, karena Baitul Maqdis mengalami kekeringan, kesulitan dan harga barang-barang sangat mahal, akhirnya Ibrahim bersama yang lain memilih Mesir.

Sarah yang Terjaga dan Hadiah Agung

Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa, Ibrahim tidak pernah berdusta kecuali tiga kali. Pertama, ketika Ibrahim mengatakan, “Sesungguhnya, aku sakit”  (QS. Ash-Shaffat: 89), dan kedua, “Sebenarnya patung besar itu yang melakukannya.” (QS. Al-Anbiya’: 63). Ketiga, Ketika Ibrahim dan Sarah tiba di negeri Mesir, tiba-tiba datanglah seorang raja yang lalim. Ada yang mengatakan kepadanya, “Di sini ada seorang lelaki yang membawa wanita yang amat cantik”. Raja pun menghampiri dan bertanya kepada Ibrahim soal wanita tersebut. “Siapa dia?” Ibrahim menjawab, “Dia saudariku.” Lalu Ibrahim menemui Sarah dan berkata, “Sarah! Di muka bumi ini, tidak ada seorang mukmin pun selain aku dan kamu. Si Raja itu bertanya kepadaku, lalu aku berkata kepadanya bahwa kamu adalah saudariku. Untuk itu janganlah kamu mendustakan aku.“

Raja mengirim utusan untuk memanggil Sarah. Setalah Sarah masuk, Si Raja berusaha meraih Sarah dengan tangannya, namun dia tertimpa petaka. Si Raja berkata, berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku, aku berjanji tidak akan menyakitimu.” Sarah berdoa kepada Allah dan raja pun terbebas dari petaka. Lalu, bukannya kapok, Si Raja mengulangi perbuatannya, peristiwa yang sama pun terjadi. Si Raja kemudian memanggil salah seorang ajudannya dan berkata, “Yang kalian bawa ini bukan manusia, tapi setan.” Raja kemudian menghadiahkan Hajar kepadanya sebagai pelayan.

Sarah kemudian pulang. Dia menemui Ibrahim yang saat itu sedang shalat. Ibrahim berisyarat dengan tangannya seakan bertanya bagaimana kondisinya. Sarah berkata, “Allah balikkan tipu daya orang kafir sehingga berbalik menimpa dirinya sendiri, dan dia menghadiahkan Hajar kepadaku sebagai seorang pelayan.”

Dalam riwayat lain, ketika Si Raja menghampiri Sarah, maka Sarah berwudhu, shalat, dan berdoa, “Ya Allah, jika Engkau mengetahui aku beriman kepada-Mu  dan rasul-Mu, maka jagalah kemaluanku kecuali untuk suamiku, jangan Engkau memberi kuasa pada orang kafir itu (untuk mengusikku)”.

Dr. Hamid Ahmad ad-Thahir mengatakan bahwa raja lalim itu adalah Fir’aun Mesir. Ibnu Katsir mengatakan, yang dimaksud raja itu adalah saudara Dhahhak, seorang raja yang terkenal lalim. Dia adalah penguasa Mesir yang berada di bawah kendali kakaknya. Namanya Sinan bin Ulwan bin Uwaij  bin Amalaq bin Lawadz bin Sam bin Nuh. Sementara itu, Ibnu Hisyam mengatakan, namanya Amr bin Umru ‘ul Qais bin Mailun bin Saba’. Wallahu a’lam.

Hajar Adalah Bukti Janji Allah

Ibrahim, Sarah dan Hajar akhirnya kembali ke Syam. Sarah tahu bahwa dirinya mandul. Ibrahim pun senantiasa berdoa kepada Allah agar dikaruniai keturunan. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Ash-Shaffat: 100). Allah memberikan kabar gembira kepada Ibrahim kalau akan terlahir seorang anak. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (QS. Ash-Shaffat: 101). Melalui Hajar, Allah akan memenuhi janjinya kepada Ibrahim. Sungguh indah skenario yang Allah buat.

Hajar adalah wanita Mesir, sebagaimana kami sebutkan di awal. Maka raut wajah muda Hajar memunculkan ide dalam benak Sarah; menagapa Hajar tidak menikah dengan Ibrahim? Agar Allah memberikan keturunan yang shaleh seperti yang Allah janjikan kepadanya, dan sangat didambakan Ibrahim, dan selalu diminta siang dan malam. Ide brilian itu -dan tentu ini bagian dari ketetapan Allah- dilaksanakan oleh Sarah. Tidak lama berselang, Hajar pun hamil dan anak yang Allah janjikan akhirnya lahir, dialah Ismail.

Kecemburuan Sarah dan Ketaatan Hajar

Sarah pun tetap belum Allah karunia anak. Meski Sarah sendiri yang telah menyerahkan Hajar kepada Ibrahim, tetap saja namanya wanita sifat cemburu pasti melekat padanya. Kecemburuan Sarah semakin menjadi. Sarah pun meminta Ibrahim membawa Hajar pergi sehingga wajahnya tidak terlihat oleh Sarah. Maka Ibrahim membawa Hajar pergi bersama anaknya, Ismail. Kemudian, Ibrahim bersama Hajar dan anaknya melintasi berbagai tempat, hingga akhirnya Ibrahim meletakkan keduanya di tempat yang sekarang disebut sebagai kota Makkah.

Setelah Ibrahim meninggalkan keduanya dan melangkah pergi, Hajar mengejarnya dan menarik bajunya seraya berkata, “Hai Ibrahim, kemana engkau hendak pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di sini sementara kami tidak mempunyai bekal yang cukup?” Namun Ibrahim tidak menjawabnya. Tatkala Hajar terus mendesak dan Ibrahim tidak juga menjawab, maka Hajar pun bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu?” “Ya,” jawab Ibrahim. “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Lanjut Hajar.
   
Balasan Atas Jerih Payah Sarah

Sementara itu Sarah pun telah sekian lama menanggung beban berat berupa siksaan dan gangguan bersama sang suami; hamba kesayangan Allah. Sehingga Allah berkehendak untuk membalas kebaikannya, dan menambah keturunan al-Khalil Ibrahim.

Dan Kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: "Salaam". Berkata Ibrahim: "Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu". Mereka berkata: "Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim". Berkata Ibrahim: "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku Padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?" Mereka menjawab: "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa". Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat". (QS. Al-Hijr; 51-56)

Sarah pun hamil lalu melahirkan anak yang alim; Ishaq, hingga membuat Sarah dan Ibrahim gembira. Sayang rasa gembira yang memenuhi rumah Ibrahim tidak bertahan lama, dan dua anak bersaudara ini tidak akan dirawat secara bersama-sama; karena masing-masing akan dirawat di tempat yang berbeda.

Referensi:
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Tafsir Al-Quran, 2015, Jakarta: Darul Haq.
Al-Hafidz Ibnu Katsir, Kisah Shahih Para Nabi Jilid 1, 2019, Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syai’i.
Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar, Kisah-Kisah Nubuat Dari Nabi, 2017, Jakarta Timur: Umul Qura.
Dr. Hamid Ahmad Ath-Thahir, Kisah-Kisah dalam Al-Quran, 2019, Jakarta timur: Umul Qura.
Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi; Kisah 31 Nabi Dari Adam Hingga Isa, 2013, Jakarya Timur; Ummul Qura



Lesehan Jumat JAN: “The Qur`an Keepers”



Dalam pertemuan pertama Lesehan Jum`at JAN, kita akan bahas tentang “The Qur`an Keepers”. Kita tahu apa itu Qur`an. Mukjizat besar Rasulullah Shallahu`alaihi wa Sallam. Apa itu “Keepers”? Siapakah sahabat tersebut?

Mari kita bahas selengkapnya di #LesehanJumatJAN. InsyaaAllah.


Selasa, 01 Oktober 2019

Lesehan Jum`at JAN: ON PURSUING THE PRIME YOUTHS



Ikuti:
Lesehan Jum'at JAN

ON PURSUING THE PRIME YOUTHS
Merunut Jejak Hebat Para Sahabat

TIAP JUMAT jam 16.00 - 17.25

BULAN OKTOBER
Oktober pekan 1: “The Quran Keepers”
Oktober pekan 2: “The Ma`rifah Searchers”
Oktober pekan 3: “The Prayer Practicers”
Oktober pekan 4: “The World Avoiders”

BULAN NOVEMBER

November pekan 1: “The Islam Inviters”
November pekan 2: “The Prophet Delighters”
November pekan 3: “The Swift Inisiators”
November pekan 4: “The Battle Warriors”
November pekan 5: “The Trial Fighters”

BULAN DESEMBER
Desember pekan 1: “The Sin Redeemers”
Desember pekan 2: “The Chastity Protectors”
Desember pekan 3: “The Honour Carriers”

Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi Arabika “Specialty”
Buletin NAH!

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah:
Bisa langsung via WA dengan format Nama_Alamat kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran:
085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)
More Information:
085600176738 atau 085329686654
t.me/buletinnah
Twitter: @buletinnah, @JANtraining
Instagram: @buletinnah, @jantraining
buletinnah.com

Sebarluaskan, ajak saudara, dan kawan-kawan tersayang J

Selasa, 24 September 2019

Lesehan Jum`at JAN: The Reddish Face


Learning From The Best Youth #8

Tema khusus: The Reddish Face

27 September 2019

JUM`AT jam 16.00 - 17.25 


Pembicara:
A. Yusuf Wicaksono


Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi Arabika “Specialty”
Buletin NAH!

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)


Cara daftarnya mudah.

Bisa langsung via WA dengan format _Nama_Alamat_ kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran: 
085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:
085600176738 atau 085329686654

Instagram: @buletinnah@jantraining



Senin, 23 September 2019

(Resume) The Two that Accompany #5



Oleh: Tim JAN
Inilah putri dari seorang yang shalih. Keutamaannya sebagai seorang pemudi utama, layak menjadi teladan kita semua. Inilah yang amat belas kasihnya kepada orang tuanya (birrulwalidain). Ia menjaga kehormatannya. Pandai menggembala kambing. Ia pun memberi saran yang tepat tentang 'karyawan' yang ideal untuk bapaknya.

Sebagai istri, Putri Syu'aib menemani Musa dengan setia. Tatkala Musa berstatus sebagai 'buronan' dan mendapatkan perintah Allah mendatangi Mesir dan berdakwah kepada Fir'aun, sebagai istri tidak mempersulitnya. Sang istri menemani dan mendukungnya. Bahkan, begitulah cara Allah menyiapkan seorang wanita yang mendampingi Musa ini. Kuat. Semenjak ia memilih menggembala hewan ternak bapaknya.

Bukankah menggembala hewan ternak itu pekerjaan laki-laki?

Sungguh, kemuliaan itu tidak didapatkan dengan enak-enakan. Bahkan hidup seenaknya. Tapi layaknya Maryam binti Imran yang amanah, tabah mendampingi ibunya di saat ada kesulitan, serta kecerdasan dalam memecahkan masalah.

Begitu pula dengan Putri Syu'aib. Bukan berarti di saat muda adalah waktunya berfoya-foya. Tapi dengan masa kekuatan utama, ia berani mengambil pekerjaan berat baginya. Demi baktinya pada orang tua. Demi taatnya pada suami tercinta. Lillaahita'ala.

(Resume) The Two that Accompany #4


Oleh: Tim JAN

Putri Syu'aib pun "melaporkan" ke bapaknya perihal apa yang terjadi. Bahwa ada seorang laki-laki kuat yang telah membantu memberikan minum hewan ternaknya.

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” (QS. Al-Qashas: 25)

Sungguh, ulama memuji apa yang dilakukan oleh Putri Syu'aib ini. Dengan sangat hati-hati ia menjaga diri. Dengan sangat cerdas, ia merekomendasikan kepada bapaknya bahwa Musa adalah lelaki yang bisa bekerja untuknya. Kuat, amanah, dan menjaga diri. Dirinya saja dijaga, apalagi hewan ternaknya.

Musa menerima tawaran dari Putri Syu'aib. Keduanya pun berjalan menuju rumah Putri Syu'aib dengan tidak melakukan perbuatan yang dilarangNya. Awalnya, Musa yang di belakang melihat Putri Syu'aib yang tersingkap auratnya. Musa pun kemudian di depan dengan meminta Putri Syu'aib untuk melemparkan kerikil jika akan berbelok ke kanan atau ke kiri.

Sungguh menakjubkan kisah keduanya. Keduanya menjaga diri dari hal-hal yang tidak terpuji.

Apa balasan yang diterima oleh Musa dari bapaknya Putri Syu'aib?

Pertama, mendapatkan pekerjaan. Kedua mendapat perlindungan yang aman. Dan yang ketiga adalah tawaran menikah dengan salah satu putrinya.


(Resume) The Two that Accompany #3


 Oleh: Tim JAN
Dialah Putri Syu'aib. Ada yang berpendapat, dialah Putri seorang Nabi. Nabi Syu'aib. Ada pula yang berpendapat, bapaknya bukan yang dimaksud Nabi Syu'aib. Tapi, orang baik baik di kalangan kaumnya yang namanya Syu'aib.

Kisahnya yang menarik, dimulai saat kedua Putri Syu'aib menggembala hewan ternaknya. Ya. Pekerjaan itu dilakukannya demi bakti kepada bapaknya yang sudah tua. Sang bapak, sudah tidak kuat lagi menggembalakan hewan ternaknya.

Saat keduanya hendak memberi minum hewan ternaknya, mereka mengalami kesulitan. Nabi Musa yang belum lama lari dari Mesir ke Madyan sebagai 'buronan' Fir'aun, melihat keduanya.

Musa berjalan menuju keduanya dengan mendudukkan pandangan. Sikap Nabi Musa pun membuat kesan baik di hati Putri Syu'aib.

Musa itu kuat. Hanya sendirian memindahkan batu yang menutupi sebuah sumur, padahal dengan 10 orang baru bisa terangkat. 

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. Al-Qashas: 24)

Doanya indah bukan? Doa yang didengar oleh Putri Syu'aib. Doa yang membuat Nabi Musa mendapatkan banyak kebaikan.



(Resume) The Two that Accompany #2




Oleh: Tim JAN
Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia!" Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya. (QS. Al-Qasas: 11)

Kakak Musa yang amanah ini, telah berperan penting pada hidup Musa kecil. Pertama, kakak Musa mengawasi dan menjaga adiknya di saat ibunda Musa menghanyutkan Musa di aliran sungai. Kedua, saran kepada penghuni istana di saat mereka kebingungan sesiapa yang bisa menyusukan Musa, sangat briliant. Ulama pun amat memuji kecerdasan wanita ini.

Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: "Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?" (QS. Al-Qasas:12)

Kakak Musa berbicara dengan kata-kata yang tepat, waktu dan suasana yang tepat, serta berperilaku yang tepat. Cerdas bukan?

Inilah wanita pertama yang menemani Musa di saat 'krisis' atau waktu gawat dan genting Musa. Cerdas memecahkan masalah, amanah, dan pemberani. Dialah wanita; keturunan atau nasabnya sampai Nabi Ibrahim, punya 2 adik utama yaitu Harun dan Musa, suaminya adalah salah satu murid terbaik Musa, dan terakhir Ibundanya. Seorang wanita yang Allah kokohkan hatinya dan merupakan keturunan dari bapaknya para Nabi: Ibrahim alahissalam.

Bagaimana dengan wanita kedua yang menemani Musa?



(Resume) The Two that Accompany #1



 Oleh: Tim JAN
Musa memang dikelilingi wanita-wanita utama. Mulai dari ibunda aslinya yakni Yukabid binti Lawi binti Ya'qub. Kemudian bersama ibunda angkatnya yang bernama Asiyah binti Muhazim atau istri Fir'aun. Selain itu, ia diasuh dan dijaga pula oleh kakaknya yang mulia, Maryam binti Imran. Dan terakhir, ia didampingi pula oleh istri tercinta, putri seorang Nabi, putri Syu'aib.

Di Lesehan Jum'at JAN edisi "Learning from The Best Youth" chapter 6 ini, kita hanya akan bahas secara fokus dua wanita yang menemani Nabi Musa 'alahissalam. Sang kakak dan sang istri.

Wanita pertama, kakaknya Musa. Maryam binti Imran namanya. Namanya mirip dengan ibunda Isa bukan? Akan tetapi, apakah ibunda Isa yang dimaksud? Bukan. Ini bukan Maryam binti Imran ibunda Nabi Isa. Hal ini dikarenakan zaman Nabi Musa, berbeda jauh dengan zaman Nabi Isa.

Kakaknya Musa inilah yang kemudian menikah dengan salah satu muridnya Musa. Bukan dengan Yusya' bin Nun Sang Pembebas Baitul Maqdis pertama. Tetapi dengan Kalib bin Yuhana.

Kisah kakaknya Musa yang menakjubkan dimulai ketika Fir'aun menetapkan aturan membunuh setiap bayi laki-laki di tahun itu. Berbeda dengan kakaknya; Nabi Harun. Nabi Harun lahir bukan di tahun Fir'aun menginginkan setiap bayi laki-laki yang lahir dibunuh.

Ya. Fir'aun bermimpi melihat ada api dari (arah) Baitul Maqdis dan membakar Mesir. Fir'aun pun khawatir adanya 'kelahiran' seorang laki-laki yang hendak menghancurkan kerajaannya. Tapi 'bodohnya', ia tidak ingin semua laki-laki binasa sehingga tidak ada yang bisa dijadikan sebagai budaknya. Sehingga Fir'aun membuat aturan, satu tahun setiap lahir bayi laki-laki dibunuh, satu tahun kemudian setiap bayi laki-laki lahir, dibiarkan.



Sabtu, 21 September 2019

CINTA PALING TINGGI DALAM HATI


Oleh: Deniz Dinamiz 

Ketika di hati kita ada perasaan cinta kepada pasangan jenis, sering kita jadi berfikir, ”Apa yang harus kulakukan?” Dibiarkan, masih terasa. Dijauhkan, masih terasa juga. Didekatkan, wah, makin menjadi-jadi! Terus, bagaimana ini!?

Kalau rasa itu kita pandang sebagai tanaman, perasaan itu bisa tumbuh berkembang sembarang tak karuan. Itu karena dia tidak dijaga. Kalau dijaga, kita tahu kapan harus memangkas pohon cinta dalam kebun hati kita. Ketika pohon cinta itu sudah terlanjur tumbuh, maka sulit dibunuh. Maka pangkaslah secara teratur. Pangkaslah pohon cinta dengan menghentikan perilaku yang bisa menumbuhkan cinta yang tak diridhoi Ilahi.

Di antara yang membuat cinta tumbuh tak karuan adalah berbicara berdua tanpa teman, menatap lama-lama apalagi berbalasan, bercanda berlebihan yang cenderung menggoda, dan bahkan “sekedar” japri yang berkesan bagi si dia. Ada kalanya seseorang merasa lebih nyaman untuk mengekspresikan diri melalui sosmed  daripada bertatap muka. Pesan yang “tidak biasa” pasti pengaruhnya luar biasa!
Lalu bagaimana? Bukankah wajar Allah sudah menciptakan hati untuk merasakan? Ya. Syeikh Ali At-Tonthowy pun mengiyakan. Jelasnya, beliau menyampaikan bahwa ada dua hal suci yang patut kita perhatikan. Yang pertama adalah cinta dalam hati. Yang kedua adalah iman dalam dada. Sungguh beruntung mereka yang memiliki dua kesucian ini pada dirinya. Pohon cinta yang tumbuh dari akar iman yang menghunjam.

Hati-hati dengan hati kita. Apa yang kita sukai belum tentu yang Allah ridloi. Dan apa yang Allah ridloi, suka atau tidak suka adalah yang terbaik buat kita. Bilakah yang dilarang itu justru dianjurkan? Kapankah pohon cinta harus dipelihara dan senantiasa disiram? Ketika pohon cinta itu tumbuh dari benih yang disebut cinta kepada Ilahi.

Berbahagialah mereka yang hidup untuk mencari cinta Allah. Mereka mendapatkan nikmat dan karunia. Mereka terhindar dari bencana. Mereka tidak akan merugi selamanya.
“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhoan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Q.S Ali Imron ayat 174)

Dan ingatlah, Allah janjiNya pasti. Tidak seperti manusia yang belum tentu mampu memenuhi janjinya kepada orang lain. Yakinlah bahwa Allah tidak mungkin ingkar janji.

“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (Q.S. Ar-Rum ayat 60)

Nah, kalau kita sungguh-sungguh mencintai Allah, maka cinta kita kepada siapapun akan karena Allah. Kita berusaha agar Allah ridho dengan alasan dan cara kita mencintai orang lain. Sudah selayaknya kita berusaha, agar cinta kepada Allah menempati posisi tertinggi di dalam hati. Semoga Allah menjaga, agar hati kita senantiasa mencintaiNya, melebihi apapun jua.

Sumber: Buletin Nah edisi Muharram 1441 H 

Kamis, 19 September 2019

THE TWO THAT ACCOMPANY

Oleh: TIM JAN

Al-Quran Menerangkan Dua Wanita yang Menemani
Inilah dua wanita yang menemani Nabi Allah Musa alaihissalam. Mereka wanita luar biasa yang Allah tunjuk sebagai pendamping Musa dalam berdakwah. Kakaknya Musa dan putri Syu’aib wanita pilihan tersebut.

Dalam tulisan ini, kita hanya akan membahas tentang putri dari Syu’aib. Untuk memahami siapa wanita itu, dan betapa mulianya mereka, lalu kita bisa mengambil pelajaran dari mereka, maka buka lembaran mushaf kalian. Tengok mereka dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash. Cermati QS. Al-Qashash ayat 21-32 untuk mengetahui rentetan kisah putri Syu’aib.

Dua Putri Syu’aib
Di dalam Al-Quran nama wanita ini tidak disebutkan. Begitu pula siapa nama bapaknya. Yang disebutkan dengan jelas tempat tinggal mereka yaitu negeri yang bernama Madyan. Dijelaskan oleh As-Sa’di dalam Tafsirnya bahwa bapak wanita ini adalah penguasa  negeri Madyan. Lalu siapa bapak wanita tersebut? Prof Yunahar Ilyas dalam kitabnya Kisah Para Rasul jilid 2 menyebutkan bahwa sebagian Mufassir menyatakan  nama bapak mereka adalah Nabi Syu’aib alaihissalam.

Namun beda hal dengan Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam menafsirkan siapa bapak wanita tersebut, beliau menjelaskan bahwa Syu’aib yang dimaksud bukanlah Nabi Syu’aib yang kita kenal. Beliau menyampaikan beberapa alasannya. Pertama,  tidak adanya informasi bahwa Musa mengalami masa yang sama dengan Nabi Syu’aib. Kedua, kalau sekiranya lelaki yang dimaksud adalah Nabi Syu’aib tentu Allah menyebutnya dan tentu gadis tersebut menyebut namanya. Ketiga, Allah telah musnahkan kaum Nabi Syu’aib karena telah mendustakannya. Keempat, jika kedua wanita itu adalah putri Nabi Syu’aib, tentu para lelaki yang menggembalakan kambing itu tidak akan menghalang-halangi dua putri nabi. Sekiranya empat ini cukup untuk memberikan penjelasan bahwa Syu’aib yang dimaksud bukanlah Nabi Allah. Untuk lebih detailnya silahkan cek penjelasan As-Sa’di dalam menafsirkan QS. Al-Qashash ayat 28. Ibnu Katsir pun mengatakan, “Sesungguhnya kalau seandainya lelaki itu adalah Nabi Syu’aib  tentu Al-Quran menyebutkan nama aslinya.” Wallahu a’lam.

Pekerjaan Mulia Dua Putri Syu’aib
Inilah kemuliaan yang dimiliki oleh dua wanita ini. Allah abadikan perbuatan keduanya yang tentu sangat mulia. Allah berfirman,    

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya". (Al-Qashash: 23)

Menggembalakan ternak menjadi pekerjaan dua wanita ini. Sebuah pemandangan yang tidak biasa. Yang menjadi pertanyaan, apa yang menjadikan mereka melakukan tugas yang sering dilakukan oleh kaum lelaki itu? Lihat jawaban wanita itu, “sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” As-Sa’di menafsirkan, maksudnya bapak mereka sudah tidak mempunyai kekuatan untuk meminumkan ternaknya. Sedangkan Ibnu Katsir menjelaskah bagian ini dengan mengatakan, “Inilah yang memaksa kami dalam keadaan seperti yang engkau (Musa) lihat.”

Budi Ashari dalam kitabnya Remaja, Antara Hijaz dan Amerika mengomentari pekerjaan wanita tersebut, beliau mengatakan, “Dua orang pemudi yang harus melakukan pekerjaan laki-laki karena ayahnya sudah tua. Bakti, tanggung jawab, kuat, sabar, menjaga kehormatan, dan berakhlak.” Maka dari sini kita jadi tahu, bahwa pekerjaan yang mereka berdua lakukan adalah bentuk baktinya seorang anak kepada orang tuanya. Mereka sedang birrul walidain.

Wanita dan Sifat Malu
Tatkala mereka berdua sudah pulang. Bapaknya menyuruh salah seorang dari mereka menemui Musa untuk mengundangnya ke rumah.  Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan malu-malu.” Maksudnya gaya berjalannya gadis ini seperti wanita-wanita merdeka,  bukan seperti budak yang umumnya kurang sopan. Ini sesuai dengan riwayat yang bersumber dari Umar bin Khaththab, dia berkata, “Dia datang berjalan dengan malu-malu seraya menutupi wajahnya dengan bajunya. Dia bukanlah wanita yang berani seenaknya keluar masuk jalan.” Atsar ini diriwayatkan oleh Ath-Thabari yang memiliki sanad yang shahih.

Bahkan kalimat yang dia ucapkan ketika mengundang Musa menunjukkan bahwa wanita ini memanglah berbudi pekerti yang luhur. Dia benar-benar memiliki rasa malu yang tinggi. Dia berkata, Sesungguhnya bapakku memanggilmu agar dia  memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.  Artinya untuk memberikan upah kepada Musa atas bantuan yang telah diberikan. Menurut Ibnu Katsir perkataan ini memiliki nilai kesopanan yang tinggi dalam mengungkapkan maksud. Dia tidak menyuruhnya datang ke rumah secara mutlak, agar menepis anggapan yang tidak-tidak.

Sekali lagi ini menunjukkan keluhuran jiwa dan akhlaknya yang mulia, sebab rasa malu itu termasuk akhlak yang terpuji, terutama bagi kaum wanita.

 Dialah Wanita Yang Paling Peka Firasatnya

Ketika Musa telah bertemu dengan bapak mereka, kemudian Musa menceritakan semua kejadian yang dia alami, salah seorang dari wanita itu mengatakan, Wahai bapakku amlillah dia sebagai orang yang bekerja (kepada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja kepada kita adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’

Berdasar penafsiran Ibnu Katsir ketika salah seorang putrinya mengusulkan demikian, ayahnya berkata, “Apa yang kamu ketahui tentang dia?” Anaknya menjawab, “Dia mampu mengangkat batu besar yang hanya bisa diangkat  oleh sepuluh orang laki-laki dan juga ketika aku ingin berjalan di depannya, dia berkata kepadaku, ‘Kamu harus berjalan di belakang! (tidak boleh di depan laki-laki). Bila jalan yang aku tempuh itu salah, lempar saja aku dengan kerikil, supaya aku bisa berjalan ke rumahmu sesuai dengan jalan yang benar.’”

Sungguh wanita ini bukanlah wanita sembarangan. Salah seorang dari mereka (dialah yang nanti jadi istrinya Musa) pernah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Manusia yang paling peka firasatnya ada tiga, Abu Bakar ketika melihat kepribadian Umar yang luhur (saat menunjuk sebagai khalifah), Al-Aziz yang berkata berkata kepada istrinya (Zulaikha), ‘Berikanlah kepadanya tempat (dan pelayanan) yang baik’ (Yusuf: 21) dan putri Syu’aib yang berkata kepada bapaknya,  Wahai bapakku amlillah dia sebagai orang yang bekerja kepada kita, sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja kepada kita adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’”

Senantiasa Menyertai Suaminya
Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan Dia berangkat dengan keluarganya. Telah usai kesepakatan Musa dengan Syu’aib, yaitu kesepakatan menyempurnakan bekerja kepada keluarga istrinya; yaitu selama sepuluh tahun. Sudah cukup lama Musa berpisah dengan keluarganya. Para Ulama mengatakan bahwa Musa sangat rindu kepada keluarganya di Mesir. Dia bertekad untuk bertemu mereka secara sembunyi-sembunyi. Dia mengajak keluarganya untuk ikut ke Mesir.

Dia pun menempuh perjalanan di malam hari yang sangat gelap dan dingin. Lalu dia singgah disebuah tempat. Setiap kali dia menyalakan api, selalu saja padam dan tidak mau menyala. Dilihatnyalah api di lereng gunung. Da berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), Sesungguhnya aku melihat api, Mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan".
Inilah awal pengutusan Musa menjadi seorang Nabi. Istrinya menyertai Musa menuju ke Mesir. Maka layaknya seorang wanita, kemuliaan bagi mereka adalah memberikan pelayanan kepada suaminya, bahkan menyertai suaminya dalam berdakwah.

Referensi:
1.       Ibnu Katsir, Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6, 2006, Jakarta; Pustaka Ibnu Katsir.
2.       Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Tafsir Al-Quran, 2015, Jakarta; Darul Haq.
3.       Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., MA., Kisah Para Rasul Alaihimussalam 2, 2017, Yogyakarta; Itqan Publising
4.       Budi Ashari, Remaja Antara Hijaz dan Amerika,2016, Depok; Pustaka Nabawiyah.