Kamis, 26 Desember 2019

Aktivitas Fantastis BMFC: Jadilah Warrior untuk Baitul Maqdis


1. Kisah Gagah Baitul Maqdis.
2. Baitul Maqdis "The Story" (Apa dan Mengapa).
3. Fun Camping.
4. Ngopi aseli bareng.
5. Funtastic Outbound Games.
6. Turun Jembatan/ Rappelling.
7. Beladiri dan Olah tubuh.
9. Susur Sungai.
10. Pembuatan Poster Baitul Maqdis.
11. Pembuatan "Love Letter for Baitul Maqdis".
12. Ikrar Bersama "Action Plan for Baitul Maqdis".

Jum'at - Ahad, 27 sampai 29 Desember 2019 di PAPP @rumah_sajada, biaya 150.000,-

#BMFC #baitulmaqdis #BaitulMaqdisFantasticCamp #akhirusannah2019

Sabtu, 21 Desember 2019

*๐ŸŒˆ๐ŸŒˆ๐ŸŸ OUTBOUND FOR KIDS๐ŸŸ๐ŸŒˆ๐ŸŒˆ*



⏰ Selasa, 31 Desember 2019
Jam 7.15-16.30 Wib

๐Ÿ๐Ÿ˜ Rumah Sajada dan sekitarnya
๐Ÿ“Œ (Sorolaten, Sidokarto, Godean, Sleman)
https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2


Diawali kisah bersama Kak Bimo
๐Ÿ‘ณ๐Ÿป‍♀๐Ÿง•๐Ÿป Tim Outbound JAN dan Tim Pendidik Rumah Sajada

๐Ÿ“ž Informasi dan Pendaftaran
✅ 085329686654 (Kak Yusuf) 
✅ 0815 7005 6300 (Rumah Sajada)
✅ 0856 0017 6738 (Kak Atik)

๐Ÿ“ฒ Format pendaftaran: Daftar_Outbound for Kids_Nama_Umur_Alamat kirim ke no CP

☄Fasilitas:
๐Ÿฅ— Makan
๐Ÿ’ผ Totebag dan
๐Ÿž Sticker 

๐Ÿ‘ฆ๐Ÿป๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿผ Syarat peserta:
8 tahun ke atas

๐Ÿ’ณ Biaya Pendaftaran:
Rp. 25.000,-/ peserta,

Cara Pembayaran:
 Dilakukan sebelum hari H baik baik secara langsung maupun transfer ke Nomor Rekening Panitia:
BSM 707-349-0086 Bank Syariah Mandiri a/n Wahyu Setyawan

๐Ÿ“ข Sebarkan dan Ajak Temanmu!

#liburanAsyik #outbound #forkids #outboundforkids
#OutboundJan #liburanseru #liburanbermanfaat #akhirusannah2019 #RumahSajada

Jumat, 20 Desember 2019

๐Ÿ•Œ๐Ÿ’ซ KISAH UNTUK MUJAHID KECIL: PEMBEBAS BAITUL MAQDIS ๐Ÿ’ซ๐Ÿ•Œ



Liburan asyik dan bermanfaat adalah ikut kegiatan yang tambah ilmunya, tambah saudara baru, dan tambah kenal dengan pahlawan-pahlawan utama yang membebaskan Baitul Maqdis. Loh, apa itu Baitul Maqdis? Di manakah kota itu? Bagaimana kondisinya sekarang? Siapa orang-orang yang pernah membebaskannya?

Yuk, para mujahid kecil di manapun berada. Ikuti Kisah untuk Mujahid Kecil dengan tema Pembebas Baitul Maqdis.!

Selasa, 31 Desember 2019
Jam 7.15-08.30 Wib
๐Ÿ๐Ÿ˜ Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra
๐Ÿ“Œ (Sorolaten, Sidokarto, Godean, Sleman)
https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

๐Ÿ‘ณ๐Ÿป KAK BIMO (Juru Kisah Nasional)

๐Ÿ“ž Informasi dan Pendaftaran
085329686654 (Kak Yusuf) 
0815 7005 6300 (Rumah Sajada)
0856 0017 6738 (Kak Atik)

๐Ÿ“ฒ Format pendaftaran: Daftar_Kisah Pembebas Baitul Maqdis_Nama_Umur_Alamat kirim ke no CP

Fasilitas:
๐Ÿฅ— Snack
๐ŸญAda Es Krim MANIS

๐Ÿ’ณ Biaya Pendaftaran:
Gratisss!

๐Ÿ“ข Sebarkan dan Ajak Temanmu di sekolah, TPA, dan saudara-saudaramu!

------------------------------
Official Account:
๐Ÿ“ท Instagran: @rumah_sajada
๐Ÿ“ฎTelegram: t.me/rumahsajada
๐ŸŽฅ Youtube: Rumah Sajada
๐Ÿฆ Twitter: @SajadaRumah

๐Ÿƒ๐ŸŒฟ☘๐Ÿ€๐Ÿ’๐ŸŒท
##KisahMujahidKecil #KisahKakBimo ##KisahPembebasBaitulMaqdis #liburanseru #liburanbermanfaat #akhirusannah2019 #RumahSajada

Kamis, 19 Desember 2019

The Honours Carriers


๐Ÿ’งLesehan Jum'at JAN

 On Pursuing The Prime Youths #11
>>> Merunut Jejak Hebat Para Sahabat <<<

Tema khusus: ๐Ÿ“ฃ The Honour Carriers ๐Ÿ“ฃ

✅ 20 Desember 2019

⏰ JUM`AT jam 16.00 - 17.25

๐Ÿ‘ณ๐Ÿป‍♀ Pembicara:

A. Yusuf Wicaksono (@dik_yusuf), Tim Riset Jan

Kak Akrom (@kak_akrom)

๐Ÿ’ก Fasilitas:
๐Ÿˆsnack KHAS
☕Kopi  Arabika “Specialty”
๐Ÿ—‚ Makalah materi

๐Ÿ“Œ Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

๐Ÿ“ค Cara daftarnya mudah.
Bisa langsung via WA dengan format Nama_Alamat kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

๐Ÿ“ž Info dan Pendaftaran: 085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

๐Ÿ’ณ GRATIS!(PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:

๐Ÿ“ฑ 085600176738 atau 085329686654
๐Ÿ“ฑ t.me/buletinnah
๐Ÿ“ฑ Twitter: @buletinnah, @JANtraining
๐Ÿ“ฑ Instagram: @buletinnah, @jantraining
๐Ÿ“ฑ buletinnah.com

Sebarluaskan, ajak saudara dan kawan-kawan, serta para muda tersayang. ☕๐Ÿ’๐ŸŒป๐Ÿ˜Ž๐Ÿ‘ณ๐Ÿผ‍♀๐Ÿง•๐Ÿผ

Apa saja kegiatan BMFC? Dan bagaimana cara untuk mengikuti BMFC?



Kegiatan BMFC terdiri dari beragam kegiatan yang bertujuan untuk membantu peserta mengikuti jejak dari generasi pembebas Baitul Maqdis dan perjuangan mereka. Persiapan dilakukan dengan mengkoneksikan beberapa aspek, yaitu spiritual (jiwa), religius (hati), pikiran (akal), dan fisik (militer) dengan Baitul Maqdis.

Koneksi spiritual (jiwa) dilakukan dengan penguatan ruhiyah, melalui kegiatan seperti sholat 5 waktu berjamaah, sholat malam (qiyamul lail), dzikir ma’tsurot pagi dan petang, memperdengarkan murrotal surat Al-Isra’, dan agenda ruhiyah lain.

Koneksi religius (hati) dilakukan dengan penguatan hati dan motivasi, melalui kegiatan seperti story telling kisah Pembebas Baitul Maqdis (Yusha’ bin Nun), pembacaan ayat dan kisah di dalam Qur’an yang berkaitan dengan Baitul Maqdis, penguatan visi pribadi dalam rangka turut berjuang membebaskan Baitul Maqdis, dan agenda penguatan lain.

Koneksi pikiran (akal) dilakukan dengan peningkatan pemahaman tentang Baitul Maqdis dan mengikuti perkembangan kondisi Baitul Maqdis terkini, melalui kegiatan seperti peyampaian pengetahuan yang benar tentang Baitul Maqdis, penayangan video tentang kondisi muslimin saat ini di Baitul Maqdis , pencarian kondisi Baitul Maqdis melalui media yang tersedia, ikut menyebarkan informasi tentang Baitul Maqdis melalui pembuatan karya bersama (poster atau banner), dan agenda peningkatan lain.

Koneksi fisik (militer) dilakukan dengan persiapan diri melalui aktivitas fisik yang mendukung persiapan berjihad membebaskan Baitul Maqdis, melalui kegiatan seperti aktivitas “Ngopi tubruq dan buroq”( pemberian pengetahuan dan penyeduhan  kopi asli sebagai penguat fisik dan kesehatan dalam rangka pembebasan Baitul Maqdis ), latihan memanah, latihan menyusuri sungai, aktivitas halang rintang, latihan stamina (stretching dan jogging), latihan bela diri, tantangan fisik dan strategi dalam kelompok (outbound team challenge), dan aktivitas fisik lainnya

Untuk ikut atau mendaftarkan diri menjadi peserta BMFC, dapat dengan menghubungi CP (Contact Person) yang tertera di publikasi posting di media sosial atau pamflet digital BMFC.   

Mengapa perlu ikut acara BMFC?



Why: Mengapa perlu ikut acara ini?

Islam pasti akan menjadi pemimpin peradaban dunia di masa depan. Pilihan bagi para pemuda Islam adalah menjawab dimanakah mereka akan berada dalam proses tegaknya peradaban Islam tersebut. Apakah hanya menjadi penonton ataukah turut aktif berjuang bersama  dalam menegakkannya?

Para pemuda adalah masa depan yang harus dipersiapkan sejak sekarang. Terlambat jika menunggu nanti atau suatu saat jika sudah dewasa. Di tangan mereka masa depan umat ini akan diletakkan. Sudah bukan waktunya pemuda hanya mengisi waktu atau liburan dengan santai dan sekadar bersenang-senang tanpa makna. Setiap waktu adalah kesempatan yang Allah berikan untuk mempersiapkan masa depan yang pasti, yaitu negeri akhirat. Pilihan amal kita di dunia menentukan nasib di sana: surga atau neraka.

Dengan adanya BMFC, harapan acara ini adalah para pemuda mempersiapkan diri mereka untuk berjuang saat ini sampai harapan masa depan yang pasti, yaitu surga tertinggi. Dengan belajar dari kisah pembebas Baitul Maqdis sebelumnya, seperti Yusha’ bin Nun, program ini dirancang dan disusun alur kegiatannya. Penyampaian dan penggunaan kisah para pembebas Baitul Maqdis juga diharapkan menjadi ibroh bagi generasi pemuda penerus perjuangan.

Siapa, Kapan, dan di Mana Lokasi BMFC? BMFC #2




Who : Siapa yang perlu dan pas mengikutinya?

Generasi Pemuda adalah pemimpin di masa depan. Oleh karena itu, pemimpin pembebas Baitul Maqdis adalah pemuda muslim yang ada saat ini. Usia berapa pemuda yang diharapkan ikut BMFC? Usia 12 sampai dengan 21 tahun (usia SMP sampai dengan kuliah awal). Harapannya, peserta bisa menjadi bagian dari pasukan pembebas Baitul Maqdis di masa depan.

When : Kapan dilaksanakan?

BMFC dilaksanakan dari Jum’at, 27 Desember 2019 jam 08.30 pagi sampai dengan Ahad, 29 Desember 2019 jam 12 siang (ditutup sebelum dhuhur).

Where : Dimana lokasinya? Indoor dan outdoor?

Lokasi BMFC dilaksanakan di kompleks Pondok Pesantren Rumah SAJADA. Proses pelaksanaan dilakukan di dalam maupun luar ruangan. Area dalam bisa menggunakan aula dan pendopo yang berada di kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada maupun masjid kampung sekitar. Area luar akan menggunakan daerah perkampungan, sawah, kebun, maupun sungai di kampung sekitar pondok.

Selasa, 17 Desember 2019

What : Apa itu BMFC? Apa keutamaannya? BMFC #1





BMFC adalah singkatan dari Baitul Maqdis Fantastic Camp. Acara ini adalah kegiatan pembekalan selama 3 hari 2 malam yang bertujuan untuk mempersiapkan peserta agar menjadi generasi Islam yang layak sebagai pejuang dan pembebas Baitul Maqdis di masa depan. Sebuah keniscayaan di masa depan bahwa Islam akan menjadi pemimpin peradaban dunia. Satu diantara langkahnya adalah dengan bebasnya Baitul Maqdis dari tangan penjajah.

Mengapa membebaskan Baitul Maqdis demikian penting? Perjuangan ini adalah bagian dari sunnah Rasulullaah yang diwariskan ke para sahabat dan umatnya. Bahkan, perjuangan Rasulullaah membebaskan Baitul Maqdis baru bisa terwujud di masa khalifah Umar bin Khottob.  Secara lebih khusus, Masjidil Aqsho sebagai satu dari 3 masjid istimewa umat Islam berada di Baitul Maqdis. Sebagai pusat dari pusat keberkahan dunia, Masjidil Aqsho menjadi barometer kondisi umat Islam. Ketika Masjidil Aqsho bisa tegak berdiri merdeka, maka umat Islam pun akan berada di jalan yang benar dalam menuju puncak pemimpin peradaban dunia.

Sejarah panjang pun membuktikan, bahwa daerah Baitul Maqdis tidak akan pernah bisa hidup damai kecuali di bawah naungan umat Islam. Diantara bagian Baitul Maqdis, sekarang disebut Palestina. Namun, umat Islam sewajarnya tidak menggunakan istilah ini karena “Palestina” adalah negara buatan penjajah Inggris. Kita mengikuti sunnah Rasul. Rasulullah menggunakan istilah “Baitul Maqdis” dan tidak menggunakan istilah kota buatan kerajaan Romawi timur saat itu, yaitu ’Ilya . Maka, perjuangan pembebasan Baitul Maqdis adalah jalan untuk memberi kedamaian bagi rakyat Baitul Maqdis ( Palestina dan sekitarnya). Sebagai seorang mukmin, kita juga diwajibkan untuk menolong saudara kita seiman di manapun mereka berada. Terutama yang terdholimi dan dijajah, seperti mereka yang di Baitul Maqdis.
           

Rabu, 11 Desember 2019

The Chastity Protectors




Jagalah kehormatan diri. Karena ia bernilai tinggi, tidak untuk dijual beli.

Bagaimana caranya? Dengan nikah dini. Kuy.

Demikianlah yang dilakukan para sahabat muda Rasulullah demi menjaga kesucian diri. #Eh, gimana; are U ready?

Udah, daripada galau, mendingan hadir dan ikuti:

๐Ÿ’งLesehan Jum'at JAN

 On Pursuing The Prime Youths #10
>>> Merunut Jejak Hebat Para Sahabat <<<

Tema khusus: ๐Ÿ“ฃ The CHASTITY PROTECTORS ๐Ÿ“ฃ

13 Desember 2019

JUM`AT jam 16.00 - 17.25

๐Ÿ‘ณ๐Ÿป Pembicara:
Fatan Fantastik (@emfatan), Penulis buku “Ujian Sukses Tanpa Stress"

A. Yusuf Wicaksono (@dik_yusuf), Tim Riset Jan

๐Ÿ’ก Fasilitas:
๐Ÿˆsnack KHAS
Kopi  Arabika “Specialty”
๐Ÿ—‚ Makalah materi

๐Ÿ“Œ Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

๐Ÿ“ค Cara daftarnya mudah.
Bisa langsung via WA dengan format Nama_Alamat kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

๐Ÿ“ž Info dan Pendaftaran: 085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

๐Ÿ’ณ GRATIS!(PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:

๐Ÿ“ฑ 085600176738 atau 085329686654
๐Ÿ“ฑ t.me/buletinnah
๐Ÿ“ฑ Twitter: @buletinnah, @JANtraining
๐Ÿ“ฑ Instagram: @buletinnah, @jantraining
๐Ÿ“ฑ buletinnah.com

Sebarluaskan, ajak saudara dan kawan-kawan, serta para muda tersayang. ☕๐Ÿ’๐ŸŒป๐Ÿ˜Ž๐Ÿ‘ณ๐Ÿผ๐Ÿง•๐Ÿผ

Sabtu, 07 Desember 2019

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN : THE SIN REDEEMERS



Oleh: TIM JAN

Kemuliaan Mereka yang Bertaubat

Tidak ada jalan menuju keberuntungan kecuali dengan taubat. Bukankah ini kabar gembira yang layak disegerakan oleh pelakunya?

Sebagaimana yang Allah ta’ala kabarkan dalam firman-Nya,
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)

Apa maksudnya? Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan. Ya, beruntung dengan taubat mereka. Beruntung telah Allah beri kesempatan untuk kembali di jalan Allah bahkan ia mendapat kunci masuk surga. Mereka kembali dari hal-hal yang dibenci oleh Allah, baik lahir atau batin menuju perkara-perkara yang Dia cintai, baik secara lahir maupun batin. Keterangan ini menandakan  bahwa setiap Mukmin membutuhkan taubat. Demikian Syeikh As-Sa’di menerangkan. Maka, setinggi-tinggi keimanan, keshalihan dan ketakwaan yang dicapai seseorang, tidak mengantarkan mereka pada tingkatan ma’shum. Terjaga dari kesalahan. Bahkan, hal itu tidak menjamin untuk tidak terjerumus ke dalam perbuatan dosa. Kecuali mereka para nabi dan rasul. Karena Allah telah ampuni kesalahan-kesalahan mereka.

Apabila seorang muslim melakukan kesalahan atau kemaksiatan, dia wajib segera bertaubat kepada Allah ta’ala. Baik dalam bentuk meninggalkan kewajiban yang disyariatkan, atau melanggar larangan dari Allah ta’ala. Baik dosa kecil maupun dosa besar. Imam An-Nawawi menjelaskan, jika dosa yang dilakukan seorang hamba kepada Allah dan tidak ada kaitannya dengan sesama hamba, maka taubatnya mempunyai tiga syarat. Yaitu, menghentikan maksiat yang ditaubati, menyesal karena telah melaksanakannya, dan bertekad tidak mengulanginya. Lantas, semua syarat harus terpenuhi. Jika perbuatan dosa itu menyangkut sesama hamba, maka syaratnya ditambah satu, yaitu menyelesaikan urusannya disertai permintaan maaf kepada orang yang bersangkutan.

Pujian Allah atas Taubatnya Para Pemuda Shahabat

Andai seseorang terbebas dari dosa, lantas apa yang akan mereka lakukan? Apakah mereka akan hidup seenaknya, atau mereka tidak lagi berbuat ketaatan, atau mungkin terus berbuat maksiat tanpa henti? Ada kondisi yang berlainan daripada perkiraan itu, kita saksikan gurunya para shahabat, yang telah Allah ampuni kesalahannya, namun kalimat istighfar senantiasa keluar dari lisannya. Dialah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Demi Allah, sungguh aku benar-benar memohon ampunan dan bertobat kepada Allah, dalam sehari, lebih dari 70 kali.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah.

Lantas bagaimana dengan para shahabat dan taubat mereka? Bukankah mereka sangat dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Kita tidak pungkiri, bahwa para shahabat adalah teladan dalam keimanan, keshalihan, dan ketakwaan. Merekalah generasi terbaik yang menganggap besar perbuatan dosa. Namun, mereka pun juga tak luput dari kesalahan. Mereka senantiasa bersegera dengan ketinggian imannya bertaubat kepada Allah ta’ala.

Muhammad Abdullah As-Duwaisy memberikan komentar menarik. Mereka adalah manusia yang mencapai tingkat tertinggi dalam membentengi diri dari dosa, mereka pula orang-orang yang banyak bertaubat dan mensucikan diri. Mereka adalah orang-orang yang mendapat sanjungan dari Allah ta’ala. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222).

Para Shahabat dan Taubat Mereka

Perlu digaris merah dan tebal, bahwa mereka para shahabat begitu dekat dengan taubat dan kesungguhan mensucikan diri. Tidak hanya dari generasi tuanya, pun para pemudanya. Berikut nama-nama mereka yang bersungguh-sungguh untuk kembali mencapai keridhaan Allah ta’ala. Ada Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah yang tidak terlibat dalam perang Tabuk, yang dengan hati tulus memohon ampun kepada Allah ta’ala. Ada pula Abu Lubabah, yang “berkhianat” ketika ditanya oleh kaumnya; Yahudi Bani Quraidzah, dan beliau pun memohon ampun kepada Allah hingga dia mengikat tubuhnya di tiang masjid Nabawi. Ada pula Abdullah bin Umar, dan Usamah bin Zaid. Tentu kisah taubatnya para shahabat tidak hanya itu, di sini kita hadirkan kisah dua pemuda dari kalangan mereka.

Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Aku pernah ikut dalam pasukan perang yang dikirim oleh Rasulullah. Lalu, sebagian pasukan melarikan diri dan aku termasuk di antara mereka. Kami saling bertanya, ‘Apa yang mesti kita lakukan. Kita telah melarikan diri dari medan pertempuran dan kita kembali dengan mendapat murka? Kami berkata, ‘Bagaimana kalau kita kembali ke Madinah dan bermalam di sana?’ Selanjutnya kami berkata, ‘Bagaimana kalau kita menghadap Rasulullah, mungkin saja beliau sudi memaafkan kita. Jika tidak, maka kita akan pergi.’ Maka, kami menghadap beliau sebelum shalat subuh. Beliau bertanya, ‘Siapa kalian?’ Kami menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang melarikan diri dari pertempuran.’ Beliau bersabda, ‘Tidak, bahkan kalian adalah orang-orang yang maju menyerang. Aku termasuk kelompok kalian dan aku termasuk kelompok kaum muslimin.’ Lalu, kami mendekatkan diri kepada beliau, hingga kami mencium tangan beliau.

Usamah bin Zaid menyadari betapa besar dosa yang telah dia perbuat. Dia tidak bisa memandang remeh dosanya ketika dia membunuh seseorang yang telah menyatakan, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah. Nabi mengingkari apa yang dilakukan Usamah dan marah kepadanya. Sampai-sampai, Usamah berkata, “Sampai-sampai, aku berangan-angan bahwa aku belum masuk Islam hingga hari itu.”

Menyadari besar dan nistanya dosa menjadi bukti kebenaran iman dan takut kepada Allah. Dan itu yang tertanam dalam diri para shahabat, termasuk para pemudanya.

Referensi:
  1. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tafsir Al-Quran, 2015, Jakarta; Darul Haq.
  2. Syaikh Musthafa Dib Al-Bugha, Syarah Riyadush Shalihin Jilid 2, 2011, Yogyakarta; Pro-U Media.
  3. Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, 2008, Jakarta Timur; Pustaka Al-Kautsar.
4.       Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy, Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga, 2019, Solo; Zam-Zam.


Kamis, 05 Desember 2019

THE SIN REDEERMERS


๐Ÿ’งLesehan Jum'at JAN

 On Pursuing The Prime Youths #9
>>> Merunut Jejak Hebat Para Sahabat <<<

Tema khusus: ๐Ÿ“ฃ THE SIN REDEERMERS ๐Ÿ“ฃ

 6 Desember 2019

 JUM`AT jam 16.00 - 17.25

๐Ÿ‘ณ๐Ÿป Pembicara:
Fatan Fantastik (@emfatan), Penulis buku “Ujian Sukses Tanpa Stress"

Wahyu Setyawan (@wahyusetyawan1)

๐Ÿ’ก Fasilitas:
๐Ÿˆsnack KHAS
Kopi  Arabika “Specialty”
๐Ÿ—‚ Makalah materi

๐Ÿ“Œ Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

๐Ÿ“ค Cara daftarnya mudah.
Bisa langsung via WA dengan format Nama_Alamat kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

๐Ÿ“ž Info dan Pendaftaran: 085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

๐Ÿ’ณ GRATIS!(PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:

๐Ÿ“ฑ 085600176738 atau 085329686654
๐Ÿ“ฑ t.me/buletinnah
๐Ÿ“ฑ Twitter: @buletinnah, @JANtraining
๐Ÿ“ฑ Instagram: @buletinnah, @jantraining
๐Ÿ“ฑ buletinnah.com

Sebarluaskan, ajak saudara dan kawan-kawan, serta para muda tersayang. ☕๐Ÿ’๐ŸŒป๐Ÿ˜Ž๐Ÿ‘ณ๐Ÿผ๐Ÿง•๐Ÿผ


Senin, 02 Desember 2019

๐Ÿ•Œ BAITUL MAQDIS FANTASTIC CAMP ๐Ÿ•Œ


๐Ÿ•Œ BAITUL MAQDIS FANTASTIC CAMP ๐Ÿ•Œ

Ingin mengikuti jejak-jejak hebat para muda pembebas Baitul Maqdis?
.
#BaitulMaqdisFantasticCamp #JANTraining #RumahSajada  #Akhirussannah #teaser

Minggu, 01 Desember 2019

Agenda Akhirussanah 2019 | Al-Qur'an di Dadaku, Rasulullah Teladanku


☘☘☘☘☘☘━
Agenda Akhirussanah 2019
| *Al-Qur'an di Dadaku, Rasulullah Teladanku*

┗━☘☘☘☘☘☘☘☘

Alhamdulillah, dengan nikmat yang Allah berikan, Rumah Sajada berkesempatan untuk berkontribusi bagi umat, dengan menyelenggarakan agenda rutin tahunan #akhirussanah2019 dengan berbagi kegiatan tiap tahunnya. Apa saja? Yuk! Cek rangkaian agenda akhirussanah 2019:

๐Ÿ—“ *Kajian Umum Jihada*
Setiap Ahad, 1, 8, 15, 22 Desember 2019 | 08.00 s.d 09.30

๐Ÿ—“ *Semarak Subuh Berjamaah*
Ahad, 8, 15, 22, 29 Des 2019

๐Ÿ—“ *Ngaji Spesial Parenting*
Kamis, 12 Des 2019 | 15.45 s.d 17.25

๐Ÿ—“ *Tabligh Akbar*
Rabu, 25 Des 2019

๐Ÿ—“ *Cintaku dalam Setubruq Kopi*
Senin, 30 Des 2019 | Gor UNY | 19.30 s.d Selesai

๐Ÿ—“ *Semesta for Youths*
Jumat-Ahad, 27-29 Des 2019

๐Ÿ—“ *Kisah Mujahid Kecil Pembebas Baitul Maqdis*
Selasa, 31 Des 2019 | 07.30 s.d 08.30

๐Ÿ—“ *Outbound for Kids*
Selasa, 31 Des 2019 | 08.30 s.d 16.30

Mengajak kita semua, saudara-saudara, handai taulan, pemuda-pemudi, anak-anak kita, dan khususnya kami sendiri, untuk terus melangkah di jalanNya, hingga akhir hayat nanti, husnul khatimah. . Aamiin
Transfer donasi kegiatan Akhirussanah 2019 ke BSM (451)
No. Rek: *71134 66 043*
A.n: Yayasan Sajada 01

Untuk Donasi kegiatan Akhirussanah 2019 mohon diridhokan dan Sertakan *angka 5 dibelakang jumlah nominal yang ditransfer,
misal: Rp 500.005,00

Info & konfirmasi transfer:
0852-2908-3888 (Ketua Panitia)
0853-7005-6300 (Humas PAPP Rumah Sajada)

*------------------------------*
_Official Account:_
IG. @rumah_sajada
t.me/rumahsajada
Youtube Rumah Sajada

Supported by
@sajadastore
@hubbdistro
madusajada
kopisajada
๐Ÿ•‹ FORSIJHI
Toko Dimas
@raksasa.somie
๐Ÿ˜ @jasaarsitekjogja_arofa


Sabtu, 30 November 2019

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN THE TRIAL FIGHTERS


Oleh: TIM JAN
  
Al-Qur’an Bicara Tentang Para Syuhada
           
Inilah para syuhada. Merekalah orang-orang beriman yang gugur di medan pertempuran. Sungguh, mereka tidaklah mati sebagaimana orang-orang mengira. Mereka hidup di sisi Allah ta’ala. Bahkan mereka mendapatkan kenikmatan yang begitu istimewa. Tidakkah kalian dengar firman Allah ta’ala tentang mereka?

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 189-171).

Tingginya Kedudukan Para Syuhada
           
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Ruh seorang mukmin menjadi burung  yang bergelantungan pada pohon surga sebelum Allah mengembalikan kepada jasadya ketika membangkitkan kembali.”
           
Inilah berita gembira bagi setiap mukmin, bahwa ruh mereka berada di surga. Ruh itu juga berpesiar di surga, memakan buah-buahan surga, melihat pemandangan dan keriangan yang ada di sana, serta menyaksikan karunia yang disediakan Allah di surga. Demikian penjelasan Ibnu Katsir terhadap hadits di atas.
           
Dalam riwayat Imam Ahmad, dijelaskan bahwa ruh para syuhada Allah tempatkan dalam tembolok burung hijau. Burung-burung itu mendatangi sungai surga, memakan buah-buahan surga, dan bersarang pada lampu-lampu gantung yang terbuat dari emas di bawah Arasy.
           
Bahkan mereka mengajukan permohonan kepada Allah ta’ala, “Ya Rabbi, kami ingin kiranya Engkau mengembalikan ruh kami ke jasadnya sehingga kami dapat berperang di jalanmu sekali lagi.” Seakan, mengulangi berjuang di jalan Allah, lalu terbunuh untuk yang kedua kali dalam peperangan, itu menjadi kegembiraan mereka. Karena pahala mati syahid memang besar adanya.
           
Selain itu, Syeikh al-Jazairi menjelaskan bahwa orang-orang yang mati syahid akan merasakan kegembiraan yang besar dengan kenikmatan. Apa kenikmatan itu? Beliau mengutip riwayat Imam Tirmidzi, bahwa kenikmatan itu setidaknya ada enam, yaitu dia diampuni dosa-dosanya, diperlihatkan tempatnya di surga, dia diselamatkan dari azab kubur, dia akan aman dari keterkejutan terbesar ketika peniupan sengkakala,  disemaikannya Mahkota Kharisma; yang sebutir permatanya saja jauh lebih baik dari dunia seisinya, dia mendapatkan istri 72 bidadari, dan diizinkan memberikan 70 syafaat kepada keluarga dan kerabatnya.

Para Pemuda Shahabat Siap Menanggung Ujian
           
Jihad menjadi bukti keimanan para pemuda shahabat. Bukan untuk memamerkan kehebatan, namun untuk mengharap wajah Allah ta’ala. Kaki mereka melangkah di dunia, namun angan dan cita mereka menembus negeri akhirat hingga surga tampak di depan mata. Maka, tidak aneh jika mereka bertekad menjadi syuhada. Mereka berperang di jalan Allah, dan gugur karenanya.
           
Ini hanyalah satu dari sekian ujian berat yang harus dihadapai oleh para pemuda shahabat. Ada di antara mereka yang harus terasing karena menyelamatkan keimanan. Keimanan adalah sesuatu yang begitu mahal. Lapar dan fakir seakan menjadi ancaman yang lain, apalagi mereka yang tinggal di shuffah. Banyak dari mereka adalah generasi muda shahabat.
           
Lantas apakah mereka mampu bersabar atasnya? Apakah mereka mampu menghadapi beratnya ujian itu? Jika mereka tak mampu, layakkah mereka disebut generasi terbaik?
           
Inilah kisah-kisah tentang mereka. Berawal dari kabar yang Rasulullah sampaikan, ada pemuda yang kelak akan menemui kesyahidan. Dialah Thalhah bin Ubaidillah. Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesiapa yang ingin melihat seorang yang syahid berjalan di muka bumi, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah.’” Hadits ini diriwatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah.
           
Kita dengar kisah tentang kesyahidan Haritsah bin Ar-Rabi’. “Bahwasanya Haritsah pada Perang Badar menjadi anggota pasukan pengintai.” Tutur Anas radhiyallahu ‘anhu. Saat itu dia masih kecil. Tiba-tiba sebatang anak panah menyambar dan tepat mengenai tenggorokannya. Dia meninggal saat itu juga. Ibunya yaitu Rubayya’ menghampiri Rasulullah seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau telah tahu kedudukan Haritsah di sisiku. Jika dia berada di surga, maka aku merelakannya. Tetapi, kalau tidak, Allah akan melihat apa yang aku lakukan.’ Beliau menjawab, ‘Wahai ibunda Haritsah, surga itu tidak hanya satu. Surga itu banyak. Dia berada di Firdaus, surga tertinggi.” 
           
Ada kisah menarik tentang saudaranya Sa’ad bin Abi Waqqash, yaitu Umair bin Abi Waqqash. Meski masih kecil, dia telah memenuhi hatinya dengan ruh jihad. Sama-sama di perang Badar layaknya Haritsah, Umair mengetahui bahwa dia akan menemui syahid di jalan Allah. Maka,  dia pun bersikukuh untuk ikut serta dalam pertempuran.
           
Sa’ad menceritakan kepada kita kisah Umair, dia berkata, “Aku melihat saudara laki-lakiku, Umair bin Abi Waqqash menyelinap di belakang sebelum Rasulullah memeriksa kami menjelang pertempuran Badar. Aku bertanya, ‘Ada apa denganmu wahai saudaraku?’ Dia menjawab, ‘Aku khawatir jika Rasulullah melihatku dan menganggapku masih kecil, lalu menolak kehadiranku. Padahal, aku sangat ingin ikut berperang. Semoga Allah mengaruniakan kesyahidan kepadaku.’ Lalu, dia dihadapkan kepada Rasulullah. Beliau menganggapnya masih kecil, sehingga mengembalikannya pulang. Umair menangis, hingga akhirnya beliau mengizinkan. Akulah yang mengikat gagang pedangnya karena begitu kecilnya dia. Akhirnya dia terbunuh di usia 16 tahun.’”


The Battle Warriors


Jumat, 29 November 2019

Kekuatan Pemuda

Oleh: M. Fatan 


Bisa apa sih pemuda?

Bisa mengguncang kekuatan kebathilan, sebagaimana pemuda Ibrahim telah tunjukkan

Pemuda Yusuf juga teladankan bagaimana menjaga kehormatan, berdakwah di tengah himpitan kesulitan, hingga berjaya ketika diamanahkan di pundaknya kekuasaan

Kita pun mafhum bahwa pemuda Yusya' yang telah Allah taqdirkan menjadi satu di antara the Fatih of Baitul Maqdis

Para pemuda yang beriman, yang tidak menyimpang dari kebenaran, menakjubkan Sang Penguasa Semesta alam, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan :

ูŠَุนْุฌَุจُ ุฑَุจُّูƒَ ู…ِู†ْ ุดَุงุจٍّ ู„َูŠْุณَุชْ ู„َู‡ُ ุตَุจْูˆَุฉٌ

Rabbmu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shobwah. [HR. Ahmad]

Shobwah adalah kecondongan untuk menyimpang dari kebenaran

Senin, 25 November 2019

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN THE BATTLE WARRIORS

Oleh: TIM JAN

 Izin Perang dalam Al-Qur’an

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena Sesungguhnya mereka telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (QS. Al-Hajj: 39)
           
Inilah izin yang Allah berikan kepada kaum Muslimin untuk perang. Di awal Islam, kaum Muslimin dilarang untuk memerangi kaum kafir dan diperintahkan untuk bersabar atas gangguan dan tekanan mereka. Tekanan itu mereka (orang-orang kafir) lakukan semenjak Muslimin di Makkah. Ketika Muslimin telah berhijrah ke Madinah penindasan itu tetap dilakukan. Bahkan, kaum kafir Quraiys membuat tipu daya hendak datang ke Madinah dan melakukan penyerangan.
           
Rencana orang-orang Quraisy itu diperkuat dengan pengiriman pasukan kepada Muslimin untuk menyampaikan pernyataan mereka, “Janganlah kalian bangga terlebih dahulu karena bisa meninggalkan kami pergi ke Yastrib. Kami akan mendatangi kalian, lalu merenggut  dan membenamkan tanaman kalian di halaman rumah kalian.” Ancaman ini bisa dicek dalam Kitab Sirah Nabawiyah karya Syeikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri.
           
Kemudian, Allah memberikan izin kepada Rasulullah dan kaum Muslimin untuk memerangi kaum yang melancarkan peperangan kepada mereka. Allah telah memberikan lampu hijau untuk berperang, karena mereka pihak yang terdzalimi, lantaran dihalang-halangi dari menjalankan agama mereka dan disakiti karenanya serta diusir dari kampung-kampung mereka. Demikian Syeikh As-Sa’di menjelaskan dalam Kitab Tafsirnya.

Pemuda Sahabat dan Jihad
           
Kehidupan generasi awal Islam adalah jihad dan pengorbanan di jalan Allah. Kedua hal inilah yang menjadi kesibukan masyarakat Muslim. Sebab membumikan pengaruh agama Islam di tengah masyarakat yang tenggelam dalam kesyirikan dan kesesatan menuntut amunisi berupa jihad, pengorbanan dan darah. Para pemuda shahabat memiliki porsi besar dalam urusan ini, karena kemuliaan jihad telah tertanam kuat dalam diri mereka, bahkan menggetarkan seluruh jiwa raga mereka untuk menyambutnya.
           
Selain para pemuda sahabat, anak-anak pun juga tak mau ketinggalan. Mereka turut ambil bagian, meskipun oleh Rasulullah Shallallahu ‘aialihi wa sallam ditolak. Di antara mereka yang tercatat, di antaranya Al-Bara’ bin Azib dan Rafi’ bin Khadij yang ditolak dalam Perang Badar. Ada juga Arabah bin Aus, Usaid bin Zhuhair bin Rafi’, dan Said bin Yahya yang juga dianggap masih kecil saat Perang Badar. Dalam Perang Uhud, Abu Said Al-Khudri, Zaid bin Arqam, Zaid bin Tsabit juga Rasulullah tolak.
           
Namun, ada masanya mereka diizinkan menjadi bagian dari pasukan perang. Seperti Rafi’ bin Khadij, dia ditolak saat Perang Badar selanjutnya mendapatkan izin saat Perang Uhud. Lain hal dengan Ibnu Umar, dia dianggap kecil dalam Perang Uhud, dan mendapat izin pada Perang Ahzab. Bahkan, ada di antara mereka yang sembunyi di bagian belakang pasukan, dialah Umair bin Abi Waqqash.  Saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau mengeluarkannya dari pasukan. Tapi, Umair memiliki senjata ampuh, yaitu menangis. Hingga akhirnya Rasulullah mengizinkan ikut berperang.
           
Selain mereka ada Salamah bin Al-Akwa’ yang terlibat dalam perang melawan suku Hawazin. Dia disebutkan oleh Rasulullah sebagai sebaik-baik prajurit pejalan kaki. Kisah panjangnya bisa dicek dalam Kitabnya Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy yang berjudul Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga halaman 144.

Para Pemuda Shahabat dan Kebanggaan Jihad
           
Urwab bin Zubair mengisahkan, “Di tubuh Zubair terdapat tiga bekas sabetan pedang; salah satunya ada di pundaknya yang mana aku bisa memasukkan jari-jariku ke bekas luka itu. Dua bekas luka diperoleh pada pertempuran Badar, yang ketiga diperoleh pada pertempuran Yarmuk.” Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
           
Sementara itu di tangan Abdullah bin Abi Aufa ada bekas sabetan pedang di lengannya, Ismail yang menyaksikan itu bertanya, “Apa ini?”, Abdullah menjawab, “Bekas sabetan pedang yang aku dapatkan dalam pertempuran Hunain.” Ismail bertanya lagi, “Kamu ikut dalam pertempuran Hunain?”, Abdullah menjawab, “Iya, juga pertempuran sebelumnya.” Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
           
Saat pertempuran pertama yang diikuti oleh Rafi’ bin Khadij yaitu Uhud, dia terkenan lemparan anak panah. Dia cabut anak panah itu, sedangkan mata panahnya masih tertinggal di daging hingga akhirnya  dia meninggal.  
           
Setelah sebelumnya para pemuda itu memiliki bekas sabetan pedang, kali ini mereka memiliki bukti berupa pedang yang berlumur darah. Abdurrahman bin Auf menceritakan kepada kita tentang mereka. Ketika Abdurrahman bin Auf berada di tengah kecamuknya perang Badar. Dia katakan, seorang anak berdiri di samping kananku dan bertanya kepadaku, “Wahai paman, tunjukkan kepadaku mana Abu Jahal!” Aku balik bertanya kepadanya, “Wahai anakku, ada apa dengan Abu Jahal?” Dia menjawab, “Demi Allah, kalau aku melihatnya, aku tidak akan melepasnya. Dia sering menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Kemudian ada anak lainnya yang berdiri di samping kiriku menanyakan hal yang sama. Singkat cerita, setelah Abu Jalal telah terlihat, mereka saling mendahului  untuk membunuh Abu Jahal. Kedua anak itu bersegera menemui Rasulullah dan memberitahukan kejadian tersebut. Masing-masing mengatakan, “Aku yang membunuhnya, Wahai Rasulullah!” Beliau bersabda kepada mereka berdua, “Perlihatkan kepadaku pedang kalian!” Beliau melihat bekas darah di kedua pedang itu. Beliau bersabda, “Kalian berdua sama-sama telah membunuhnya.”
           
Bekas-bekas sabetan pedang dan lemparan panah itu menjadi bukti bahwa mereka terlibat dalam jihad. Bahkan, bekas darah yang menempel di pedang mereka tak kalah pentingnya untuk menjadi saksi perjuangan para pemuda shahabat. Mereka menghadiahkan jiwa raga mereka untuk kemuliaan Islam. Masa muda mereka, dihabiskan untuk fii sabilillah.