Rabu, 13 Februari 2019

Keyakinanku



@dik_yusuf


Tiga belas tahun bukan waktu yang sebentar. Selama itu pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan akidah di dalam hati para sahabat.

Inilah fase perjuangan di Makkah, kondisi masyarakatnya jahiliyyah. Mereka bodoh, akhlak telah lama bobrok, patung-patung dijadikan tuhan, kemaksiatan seakan dianggap biasa bahkan jadi kebenaran. Kondisi ini sama sekali tidak memihak kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tapi, di balik itu semua kita bisa sedikit lega. Muncul sepercik cahaya di sana. Ada satu, dua, tiga, ternyata empat orang mulai menerima kebenaran yang Rasulullah bawa. Mereka adalah kawanan pertama. Mereka, berdasar catatan sirahnya Syeikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri adalah istri beliau Khadijah binti Khuwailid, pembantu beliau Zaid bin Haritsah, anak paman beliau Ali bin Abi Thalib, dan sahabat karib beliau Abu Bakar Ash-Shiddiq. 

Dua dari mereka berusia muda. Separuh dari orang yang menerima cahaya iman adalah pemuda, dialah Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah.

Ini baru awal. Di Makkah Rasulullah menjalani kehidupan sebagai seorang nabi selama tiga belas tahun. Selama tiga belas tahun inilah hati para sahabat dikokohkan perkara akidah. Hati mereka penuh dengan kalimat "Laa ilaha illallah." Tidak ada sesembahan yang hak disembah selain Allah. Allah menjadi yang utama. Lantas, akhlak mereka yang beriman semakin tertata, keburukan mulai disingkirkan, pandangan hidup ke depan semakin jelas; Islam jaya dan kelak meraih surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai.

Kenapa harus keyakinan atau akidah yang didahulukan? Ya, akidah menjadi landasan pokok dalam berakhlak atau berperilaku. Ketika keyakinan kepada Allah telah tertancap erat-erat dalam hatinya, sebagai efeknya dia hanya akan memohon dan meminta pertolongan kepada Allah. Dia merasa selalu diawasi oleh Allah. Serta, dia akan beriman kepada ketentuan takdir Allah.

Coba bayangkan. Andai itu dirimu wahai pemuda. Ketika kamu sudah memegang erat keyakinanmu, engkau meneguhkan keimanan kepada Allah ta’ala. Kamu tak akan galau dengan yang remeh-remeh. Kamu tidak akan bimbang dalam menentukan masa depanmu. Kamu pun juga tak akan khawatir akan jodohmu. Bahkan, pilihan hidupmu semata untuk Allah. Perilakumu akan engkau arahkan kepada hal-hal yang menjadikan Allah ridho kepadamu. Karena engkau telah yakin kepada Allah, dengan segala kebesaran yang dimiliki-Nya.

Maka pantaslah, Islam dulu jaya. Di antara pembesar-pembesarnya adalah para pemuda. Pemuda yang teguh keyakinan kepada Allah ta’ala. Bagaimana denganmu? <>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar