Selasa, 19 Maret 2019

Cinta Allah Yang Sejati




Oleh: Atik Setyoasih 

Benarkah cinta yang sedang kamu rasakan? Kapan benar-benar terjadi cinta Allah pada seseorang?

Dr. Amani Ar-Ramadi dalam bukunya “Pendidikan Cinta untuk Anak” menuliskan bahwa cinta Allah terjadi ketika seseorang tersebut menjadikan Allah satu-satunya tertinggi yang dicintai. CintaNya di atas cinta pada harta, rupa, tahta, ataupun segala isi di dunia. Di saat itulah, ia benar-benar mencintaiNya.

Ada alasan yang memang perlu kita selalu ingat. Ya. Agar jika sudah cinta padaNya, tidak goyah di tengah jalan. Tidak berbelok arah ketika ada hambatan. Dan begitulah cinta. Seseorang membutuhkan alasan untuk mencintai sesuatu.

Sebagaimana setiap orang tua yang telah mengasuh serta mendidik anaknya sesuai cita-cita keduanya. Perjalanan yang panjang mulai dari ibundanya yang mengandung, melahirkan, serta menyusui sampai pada kondisi-kondisi sudah kokoh. Perjalanan ayahnya, mendidiknya disertai nafkah yang halal. Sang anak, sangat punya alasan yang cukup untuk mencintai kedua orang tuanya.
Bagaimana dengan Allah?

Pertama, Allah yang berjanji pada makhlukNya dalam Surat Ali-Imran: 30 yang artinya, “Katakanlah, ‘Jika engkau (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.”

Allah tidak pernah ingkar janji. Yang mencintaiNya, mendapat kasih sayang dan ampunan dosa. Cara mencintai Allah telah dituliskan yakni mengikuti segala aturanNya. Yang disukai, kita lakukan. Yang tidak disukai, sekuat tenaga dijauhi jangan sampai mendekati bahkan melakukannya.

Kedua, Allah itu mencintai kita. Allah yang menguasai segala isi alam raya untuk kebaikan manusia. Maukah kita bersama-sama merenungi ciptaanNya untuk manusia? Ya. Mulai dari segala panca indera yang tertempel pada setiap manusia.

Mata melihat, telinga mendengar, kulit merasa, mulut berbicara, rambut melindungi kepala, dan lain sebagainya. Kemudian Allah berikan rizki tanpa perhitungan. Sampai pada nikmat yang begitu indah, nikmat Islam. Untuk menjadi jalan menuju kehidupan abadi sejati, surgaNya.

Maka, ini baru dua hal yang kita ketahui betapa ada alasan yang sangat cukup untuk Allah sebagai cinta yang tertinggi. Sebagaimana orang tua, ia sangat kita cintai karena Allah juga yang memerintahkan. Namun, orang tua bisa saja tidak ada, sedangkan Allah selalu ada. Orang tua bisa lemah pada suatu saat, sedangkan Allah senantiasa kuat dan tidak akan lemah.

Dialah Allah, cinta sejati kita. Cinta tertinggi di atas apapun yang sedang kita cintai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar