Rabu, 06 Maret 2019

Jalan Menuju Hebat Dunia Akhirat



Oleh: @denizdinamiz

Pernahkah kamu terpikir untuk menjadi juara?

Tingkat nasional atau bahkan tingkat dunia?

Menjadi juara atau nomor satu dalam hal tertentu pastilah tidak mudah. Tidak instan seperti minuman sachetan. Perlu proses panjang dan penuh perjuangan. Semua diraih dengan memeras keringat, semangat, pikiran kuat, dan munajat kepada Yang Maha Hebat. Meskipun begitu, tidak semua yang berjuang pasti jadi juara. 

Mengapa? Karena bisa jadi, Allah tidak mengijinkan. Bisa jadi, perjuangannya salah jalan. Bisa jadi, usahanya salah sasaran. Bisa jadi, hatinya tidak ikhlas menjalankan.
Lalu, perjuangan seperti apa yang pasti berhasil jadi juara?

Tentu saja orang yang cerdas tahu: Ikuti saja jalan para pemenang. Mereka adalah orang-orang yang terbukti telah melalui jalan yang benar untuk menjadi juara. Mereka tidak salah jalan. Mereka telah melakukan apa yang dibutuhkan untuk menjadi juara. Allah pun ridho karena mereka memenuhi syarat untuk mencapai kualitas luar biasa.
Siapakah mereka yang disebut pemenang?

Nah, untuk itu, kita harus tahu dulu, apa itu “menang”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi “menang” adalah meraih hasil karena dapat mengalahkan lawan (saingan).

Apakah sejatinya “hasil” yang kita harapkan dalam hidup kita, itulah yang harus kita pahami.
Apa gunanya jadi juara kelas, jika dengan cara culas. Apa hebatnya jadi sarjana, kalau tidak berguna untuk sekitarnya. Apa manfaatnya jadi orang kaya, kalau jarang sholat di masjid karena sering lembur kerja. Apa untungnya punya banyak anak, kalau mereka membuat orang tua susah dan durhaka.

Coba pikirkan dengan jernih: Apa tujuan hidup kamu hanya untuk lulus sekolah, lulus kuliah, dapat kerja, berkeluarga, lalu mati begitu saja?

Ada “hasil” yang lebih penting yang kita kejar dalam hidup kita, yaitu “hasil” akhir di akhirat.
Apakah kita disiksa di kubur atau aman? Apakah kita kepanasan di Mahsyar atau dinaungi dengan nyaman? Apakah amalan kita layak hingga kita peroleh dari sebelah kanan? 

Apakah jembatan shiroth bisa kita lalui dengan selamat hingga seberang? Apakah langkah kita ke surga firdaus atau neraka jahanam?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas tergantung usaha kita di dunia. Maka, pemenang adalah mereka yang telah dijamin selamat melalui ke semua itu.

Hanya Allah yang tahu, siapa mereka yang sejatinya pemenang. Bukan mereka yang tampak wah dan gemerlap di dunia, lalu terjerembab berkubang dosa di neraka. Mereka adalah para pejuang yang telah terbukti menang menghadapi cobaan dunia. Mereka adalah para Nabi dan orang shalih yang disebut di dalam surat cintaNya, yaitu Al-Qur’an.
Di antara orang-orang hebat dunia akhirat, ada dia yang terhebat. Dia adalah manusia yang menjadi pedoman dan contoh bagi manusia lainnya. Contoh dalam hal apa? Tentu saja, contoh dalam segala hal yang mengantar manusia menjadi juara hingga surga.

Allah perjelas di dalam surat Al-Ahzab ayat 21,

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasululllaah itu suri teladan yang baik (uswatun hasanah) bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah dasar yang paling utama dalam perintah meneladani Rasulullaah SAW. Meneladani perkataan, perbuatan, dan kehidupannya. Oleh karena itu, Allah perintahkan kita untuk mengikuti jalan Rasulullaah yang dijamin akhirnya, yaitu surga. Mengikuti Rasulullaah dalam hal kesabaran, keteguhan, dan kesungguhannya dalam berjuang dan menaati Allah.

Maka jelas sudah. Jalan para pemenang adalah jalan mereka yang dijamin mendapat surga. Jalan mereka yang ikhlas dan senantiasa menaati Allah dalam segala perkara  dalam hidupnya. Jalan kemenangan yang berat namun layak diperjuangkan.

Itulah jalan Nabi dan RasulNya. Itulah jalan yang kita tuju. Itulah jalan yang harus kita lewati. Itulah jalan menuju hebat dunia akhirat. #




Tidak ada komentar:

Posting Komentar