Kamis, 21 Maret 2019

Permulaan Penaklukan Damaskus

Sumber: Sahabat Al-Aqsa 
Oleh: M Fatan A Ulum 
Belajar dari Umar #4

Dari Yarmuk, Abu Ubaidah dan pasukan muslimin menuju Damaskus. Demikian Ibnu Katsir menuturkan.

Pasukan ini singgah di Marajush Shoffar. Setelah berkonsultasi via surat dengan Umar bin Khaththab, Abu Ubaidah diperintahkan Umar untuk terlebih dulu menyerang Damaskus. Karena di sanalah terdapat benteng Syam dan istana kerajaan.

“Bergeraklah ke sana, alihkan perhatian penduduk Fihl dengan pasukan berkuda tepat di arah mereka. Jika Allah menaklukkan Damaskus terlebih dahulu, segeralah bergerak bersama pasukanmu menuju Himsh, tinggalkan ‘Amr dan Syurahbil memimpin Urdun dan Palestina.” Demikian Umar memberi arahan.

Abu Ubaidah kemudian mengirim sepuluh panglima perang dengan detasemen masing-masing menuju Fihl, dimana sekelompok besar pasukan Romawi berkumpul. Tiap panglima membawahi lima komandan pasukan. Seorang sahabat bernama Umarah bin Makhsy bertindak sebagai panglima tertinggi. Di Fihl, pasukan ini bertemu dengan 80 ribu personil pasukan Romawi. Mereka mengalirkan air di sekitar mereka hingga kawasan tersebut berlumpur. Itulah sebabnya tempat itu disebut Rodaghoh (lumpur yang diinjak-injak kuda).

Abu Ubaidah mengirim pasukan yang ada di antara Damaskus dan Palestina, mengirim Dzal Kala’ untuk membawahi pasukan yang ada di antara Damaskus dan Himsh. Juga memerintahkan agar pasukan bantuan ikut bergabung setelah berhadapan dengan pasukan Heraclius.

Setelah itu Abu Ubaidah bergerak meninggalkan Murjush Shoffar menuju Damaskus. Khalid bin Walid ditunjuk untuk memimpin pasukan inti. Abu Ubaidah dan Amr bin Al-Ash memimpin kedua sayap kiri dan kanan pasukan. Iyadh bin Ghonm memimpin pasukan berkuda. Syurahbil bin Hasanah memimpin pasukan kavaleri. Pasukan ini pun tiba di Damaskus, yang saat itu dikuasai oleh Nisthos bin Nusthures. 

Khalid bin Walid tiba di pintu timur yang juga merupakan pintu Kaisan. Abu Ubaidah tiba di pintu besar Jabiyah. Yazid bin Abu Sufyan tiba di pintu kecil Jabiyah. Sedangkan Amr bin Al-Ash dan Syurahbil bin Hasanah sampai di pintu masuk Damaskus lainnya; mereka memasang alat-alat pelontar batu besar dan alat-alat pelindung. Sedangkan Abud Darda’ dengan pasukannya bersiap di Barzah, suatu daerah di Ghauthoh, sebagai bala bantuan.

Pasukan Muslimin mengepung dengan hebatnya. Pengepungan berlangsung selama 70 malam. Ada pula riwayat mengatakan selama 4 bulan, atau 6 bulan.

Penduduk Damaskus pun mengalami kesulitan, dan meminta bantuan kepada raja mereka yaitu Heraclius yang berkedudukan di Himsh. Namun bantuan tak bisa mencapai Damaskus karena dihadang pasukan Abu Ubaidah yang berada di antara Damaskus dan Himsh.

Penduduk Damaskus yang mengetahui bahwa bantuan yang diharapkan tak kunjung datang, menjadi putus asa, dan merasa kian lemah. Di sisi lain, pasukan muslimin memperketat pengepungan. Di saat itulah musim dingin tiba hingga situasi menjadi semakin sulit, peperangan pun kian sulit. #




Tidak ada komentar:

Posting Komentar