Jumat, 26 April 2019

#LesehanJumatJAN #OnPreparingTrueLeaders#9




Tiga belas tahun di Makkah, sepuluh tahun di Madinah.

Beliau pimpin perubahan-perubahan yang dari jahil menjadi beradab. Dari kegelapan menjadi terang benderang.

Dia, dengan kasih sayangnya kepada seluruh manusia, rela berlelah, penuh pengorbanan, keberanian tinggi, untuk melakukan perubahan.

Bagaimana agar kita meneladani jejak beliau, Rasulullah Muhammad?

Ikuti:

Lesehan Jumat JAN:

On Preparing True Leaders
Intra Leadership dan Extra Leadership

Jum'at, 26 April 2019

Jam 16.00 - 17.30

Pembicara:
Ustadz Muhammad Fatan A. Ulum

Tema:
Lead Change

Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi “Specialty”

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah.
Bisa langsung via WA dengan format _Nama_Alamat_ kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran: 085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS!(PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:

085600176738 atau 085329686654
Telegram: t.me/buletinnah
Twitter: @buletinnah, @JANtraining
Instagram: @buletinnah, @jantraining
buletinnah.com

Sebarluaskan, dan ajak para (calon) pemimpin di masa depan!

Rabu, 24 April 2019

HADIAH-MU



Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Ya Rabb
Inilah Ramadhan             
Bulan yang Kau khususkan
Untuk umat Muhammad
Agar menjalankan puasa
Dari terbit fajar
Hingga mentari terbenam

Kau siapkan hadiah besar
Bagi mereka yang puasa
Itulah saat berbuka dan
Nikmatnya Surga

Ya Rabb
Aku tahan nafsuku
Sebagai bukti taatku pada-Mu
Demi meraih hadiah-Mu
Surga-Mu


Selasa, 23 April 2019

Tempatku Memuja



Oleh: M. Faqih  

Allah ...
Yang Maha Pemurah
Tempatku menyembah
KepadaNyalah kuberserah

Allah ...
Yang Maha Esa
Tempatku memuja
KepadaNyalah kuberdoa

Allah ...
Yang Maha Penyembuh
Tempatku mengeluh
KepadaNyalah kuberteduh

Allah ...
Engkaulah
Tuhanku yang satu
Laaillahaillallah

Sumber: Buletin Nih #30 (Edisi Sya`ban 1440 H) 

Senin, 22 April 2019

AWET MUDA? ADA ILMUNYA!



@denizdinamiz 

Tahun 2004, usianya sudah sampai 100 tahun! Di kota Loma Linda, California, Marge Jetton memperpanjang SIM untuk 5 tahun. Apa yang bisa bikin dia panjang usia? Wanita ini menghindari junk food (makanan sampah penuh dengan MSG dan pengawet). Walhasil, dia hidup lebih lama 4-10 tahun dibanding warga California pada umumnya.

Tapi, yang paling MANTAB adalah SEMANGATNYA!

"Kita membutuhkan pembimbing dalam hidup ini, dan juga HARAPAN yang BESAR", kata Marge,"Tuhan adalah yang kita butuhkan"

Lain lagi kisah seorang siswi SMA di Yogyakarta. 

Dia mengidap kanker. Ketika SMA, dia divonis umurnya tidak lebih dari 1-2 tahun. Sekarang? Dia lulus dari Psikologi UGM, berkeluarga, dan menjadi motivator bagi mereka yang merasakan apa yang pernah dia rasakan. Mengidap kanker. Coba cari dia di rumah sakit Yogya dan lihat semangatnya: LUAR BIASA!

Mau tahu rahasia panjang usia dan awet muda? Agar dapat bermanfaat dan penuh karya? Tentu saja, umur sudah Allah tentukan. Tugas kita adalah berikhtiar agar nikmat hidup ini tidak kita siakan. 

Nih, hasil penelitian dari 3 komunitas yang memiliki usia harapan hidup tertinggi di dunia, yaitu Sardinia di Itali, Okinawa di Jepang, dan Loma Linda, California. Simak yuk kebiasaan mereka:

1. Tidak merokok
2. Mendahulukan keluarga
3. Aktif tiap harinya
4. Memiliki kegiatan-kegiatan sosial
5. Makan buah, sayur, dan bijian utuh (whole grain).

Eits, tunggu dulu. Apa guna umur panjang jika tidak diisi dengan amalan saleh yang kekal di Surga? Sungguh celaka! Panjang umurnya, banyak dosanya, gelisah hatinya, hidup terlunta-lunta, susah matinya!

Jadi, catet, nih:
SEMANGAT MUDA harus SELALU ADA. Berapa pun usia kamu. Selama kita berjuang di jalanNYA. Selama kita berusaha meraih amalan surga. Wahai pemuda dan pemudi, TERUSLAH BERKARYA!!!


Selasa, 16 April 2019

PELATIHAN GURU DAN PENDIDIK TPA




 Memilih profesi sebagai pendidik adalah pilihan. Termasuk di antaranya menjadi pendidik di TPA. Ada keutamaan-keutamaan yang akan diraih. Ada kemuliaan dan kedudukan utama yang akan didapatkannya. Kapankah itu? Di antaranya; ketika ilmu yang diajarkannya bermanfaat.

Lalu, bagaimana agar kita jadi pendidik dan guru TPA yang akan mendapatkan keutamaan itu?

Ikuti:

💧 Pelatihan Pendidik dan Guru TPA
Ahad, 28 April 2019/ 22 Sya'ban 1440 H
Jam 08.30 - 15.00

👳🏻‍♀ Pembicara:
1. Kak Bimo (Forum Pemuda dan Sarjana Berprestasi Asia Tenggara, Juru Kisah PPMI, Konsultan Praktisi Pendidikan)
2. Ustadz Muhammad Fatan A. Ulum (Direktur PAPP Rumah Sajada, Direktur JAN Training, Penulis Buku "Bikin Belajar Selezat Coklat")
💡 Fasilitas:
🍈snack KHAS
Kopi Sajada
📒 Sertifikat
🍴Makan Siang

📌 Lokasi/ Tempat:
*Ruang Pertemuan Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)  atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

📤 Cara daftarnya mudah.
Bisa langsung via WA atau SMS dengan format _Nama_Usia_Kirim ke cp pendaftaran (0812 3820 7417)

💳 Rp. 15.000,- (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)
Sebarluaskan, ajak para pendidik dan guru di sekitarmu! 😎😎😎

#SyiarRamadhanSajada #PelatihanPendidik #PelatihanGuruTPA

Sabtu, 13 April 2019

Mencintai Dunia, Sewajarnya Saja!


Oleh: Muhammad Fikri

“Ya Allah letakkan dunia di tanganku, jangan di hatiku.”

Doa khalifah Rasulullah dan Abu Bakar. Abu Bakar kecintaannya bukan saat mengumpulkan, tetapi sangat cinta untuk menginfakkan harta di jalan Allah.

Ketika manusia mencintai dunia, pasti akan mengumpulkan dan menghitung-hitung hartanya. Fisik dan jiwanya akan lelah. Sebaliknya, jika cinta menginfakkan di jalan Allah, meski lelah akan menjadi penawarnya.

Seseorang yang mengejar dunia, ibaratkan seperti meminum air lautan  yang tiada pernah menghilangkan haus. Kerongkongan akan tenggorokan semakin kering. Mengejar mati-matian tidak akan memberikan kepuasan dan jalan tengahnya adalah mencintai dunia sewajarnya saja.

Seseorang muslim di dunia ibarat musafir yang terus melangkah hingga kedua kakinya menginjakkan ke dalam surga.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat; 56).

Muslim sejati adalah yang berpegang teguh kepada agama Allah. Muslim sejati adalah yang mempertahankan kalimat tauhid, senantiasa bertanggungjawab dan bersikap tawakal kepada Allah

Referensi:
Ditulis ulang dan diubah seperlunya dari buku Dahsyatnya Mimpi Ikhtiar Doa dan Tawakal dan Penawar Lelah Berbuah Jannah


Jumat, 12 April 2019

CURHAT NAH: PUTUS ASA


Tanya
Saya tidak suka satu pelajaran di sekolah. Ketika ulangan harian, saya mendapatkan nilai jelek. Saya sudah putus asa dengan pelajaran itu. Bagaimana solusinya? (Umar, Yogyakarta). 

Jawab
Putus asa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “habis (hilang) harapan” atau “tidak mempunyai harapan lagi”. Maka, harapan itu tetap ada asalkan Allah berkehendak. Jika asa sudah putus, sambunglah. Sambunglah harapan (asa) itu dengan sungguh-sungguh dan selalu minta pertolongan Allah.

Langkah awal yang bisa dilakukan adalah ubahlah cara pandang kepada belajar. Kita perlu alasan untuk menyukai pelajaran itu. Bertanyalah pada diri, “Apa manfaatnya pelajaran ini untukku bahkan untuk orang lain?”

Langkah selanjutnya, carilah orang yang suka pelajaran itu. Mintalah menerangkan alasan pentingnya pelajaran itu ataupun alasan sukanya. Ya. Suka itu menular. Cinta itu menular, termasuk cinta pada pelajaran itu.

Begitu. Semoga berhasil dan asa itu masih ada!

Rabu, 10 April 2019

BELAJAR KEPADA UMAR 6


Oleh: M. Fatan A. Ulum 

Alhamdulllah, Damaskus telah takluk di masa Umar bin Khaththab menjadi amirul mukminin. Abu Ubaidah kemudian mengirim Khalid bin Walid ke Biqa', suatu daerah yang luas dan datar. Terletak di antara Ba'labak, Himsh dan Damaskus, terdapat banyak perkampungan di dalamnya. Sekarang, daerah ini kita kenal sebagai Lebanon. 

Khalid bin Walid berhasil mengalahkan penduduk Biqa' melalui peperangan. Sedangkan penduduk Ba'labak meminta perjanjian damai, dan Khalid menyetujuinya. Dengan syarat mereka membagi separuh rumah dan gereja mereka, memberlakukan khoroj atau pajak tanah untuk hasil bumi mereka. Riwayat lain mengatakan bahwa Himsh dan Ba'labak ditaklukkan melalui perjanjian damai pada  Dzulqa'dah tahun 14 Hijriyah, di tangan Abu Ubaidah.

Pasukan lain dikirim oleh Abu Ubaidah ke 'Ain Maisanun. Pasukan ini bertemu dengan pasukan Romawi di bawah pimpinan Sinan, yang menyerang dari arah 'Aqabah Beirut. Banyak muslimin yang syahid, sehingga 'Ain Maisanun disebut pula 'Ain Syuhada'.

Sebagai penunaian janji Abu Bakar dulu, Abu Ubaidah bin Jarrah menunjuk Yazid bin Abu Sufyan untuk menggantikan jabatannya di Damaskus. Lalu Yazid bin Abu Sufyan mengirim Dihyah bin Khalifah ke Tadmur beserta sejumlah pasukan. Sedangkan Abaz Zahro al-Qusyairi dikirim ke Batsanniah dan Hauron, kemudian penduduk setempat meminta penjanjian damai.

Sedangkan pasukan Syurahbil bin Hasanah ditunjuk Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menaklukkan seluruh kawasan Urdun. Bersama Amr bin Al-Ash dan pasukan muslimin, Syurahbil menyerbu Baisan. Terjadilah pertempuran. Banyak musuh yang terbunuh, lalu mereka menyerah dan meminta perjanjian damai. Syurahbil bin Hasanah memberlakukan jizyah dan khoroj hasil bumi mereka. Menurut keterangan Khalifah bin Khoyyath dari Abdullah bin Mughirah bin Syu'bah dari ayahnya: “Seluruh kawasan Urdun takluk melalui perang, kecuali daerah Thabariyah karena penduduknya meminta perjanjian damai”.<>

Sabtu, 06 April 2019

Sumayyah Binti Khabbat


Oleh: Nur Azizah Az-Zahra 

Sumayyah adalah muslimah pertama yang mati syahid dengan cara disiksa. Sumayyah adalah wanita mulia. Ia rela menanggung siksa dan bersabar menghadapi gangguan Abu Jahal yang menginginkannya meninggalkan Islam. Ia tetap tidak tinggalkan Allah dan Islam. Tekadnya dan imannya kepada Allah tidak melemah.

Suatu ketika Rasulullah menyaksikan keluarga Muslim tersebut yang tengah disiksa dengan kejam. Maka beliau mengangkat tangan ke langit dan berdoa, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.”

Sumayyah mendengar seruan Rasulullah, maka Sumayyah bertambah sabar dan kuat dengan penyiksaan yang dihadapinya. Ia mengulang-ulang dengan berani mengatakan, “Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janji Allah adalah benar.”

Begitulah, Sumayyah telah merasakan lezat dan manisnya mencintai Allah, Rasulullah, dan Islam. Siksaan Abu Jahal bukanlah masalah yang besar baginya. Hingga ujian yang dihadapinya berubah menjadi hadiah besar bagi Sumayyah setelah Rasulullah menyampaikan berita gembira surga untuk keluarga Sumayyah. Sumayyah, ibunda Ammar tercatat sebagai syahidah pertama dalam Islam. Yakni ketika Abu Jahal menikam kemaluannya dengan tombak.

Semoga kita bisa meneladani kisah perjalanan hidup sahabat wanita mulia ini, mencontoh pengorbanan, kesabaran, dan keteguhannya dalam mencintai Allah. Apakah kalian ingin seperti Sumayyah binti Khabbat?

Jumat, 05 April 2019

MERENUNGLAH


Oleh: Muhammad Faqih 

Renungkanlah! Apa yang dianugerahkan Allah kepada hambaNya dengan adanya air. Ia menjadi sumber kehidupan bagi seluruh binatang dan tumbuhan di bumi. Seandainya manusia tidak mendapatkan air, mereka kesulitan dalam melakukan aktivitas di bumi.

Mari berfikir tentang air! Air sangatlah dibutuhkan makhlukNya, sehingga Allah mudahkah hambaNya untuk mendapatkan air. Ya. Lewat hujan. Sekiranya air diciptakan hanya sedikit, maka seluruh makhluk hidup akan mengalami kesulitan besar.

Air itu sifatnya turun ke bawah. Maka ketika air turun dan diserap tanah, air menjadi makanan bagi akar-akar pohon. Karena kekuasaanNya pula, air dapat naik ke pucuk pohon dan tanaman dengan perantara sinar matahari. Padahal, air itu mengalir ke bawah. Bukankah begitu?

Allah juga menjadikan air mampu menghilangkan noda, baik dari tubuh maupun kotoran pakaian, dan lain sebagainya. Air bisa membuat segala sesuatu yang tidak digunakan yakni kering, menjadi basah. Dengan air pula segala minuman tercipta dan layak dikonsumsi.

Maasya Allah, betapa nikmatnya air ini mudah didapat. Meski ada banyak orang yang lalai dengan air, padahal setiap hari membutuhkannya. Mereka bersikap boros menggunakan air. Semoga kita bukan termasuk golongan orang-orang yang boros ya.

Allah yang menciptakan air. Untuk manusia, binatang, tumbuhan, dan lain sebagainya. Dialah Allah, Sang Pencipta bumi dan segala isinya. 

CiptaanNya



Oleh: Siti Mutiah 

Tik-tik-tik-tik
Bunyi hujan di sekitaran kebun
Engkau turunkan hujan
Untuk semua makhluk hidup
Jika tidak ...
Bumi ini akan gersang

Engkau cipta matahari
Untuk terangi  bumi
Jika tidak ...
Bumi ini akan gelap gulita

Maka, bersyukurlah kepada Allah
Yang Maha Menciptakan atas segala sesuatu


Kamis, 04 April 2019

Motivator Hebat



Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Kita sedang bicara sang motivator hebat. Motivator yang mampu memberikan motivasi yang kuat. Lantas dirimu terdorong untuk bersungguh-sungguh dalam berjuang meraih tujuan.

“Aku mengakui,” tutur Syeikh Abul Hasan Ali An-Nadawi, “bahwa sampai hari ini aku tidak sanggup mengungkapkannya secara detail. Namun, hanya satu kalimat yang bisa aku ungkapkan; itu adalah kelezatan iman.”

Entah apa yang beliau rasakan. Kesaksian tersebut muncul di saat beliau telah memperoleh gelar syeikh. Ternyata, itu bukan perasaan yang tiba-tiba hadir. Hadirnya kelezatan semacam itu beliau rasakan sejak kecilnya, sembilan atau mungkin sepuluh tahun usianya.

“Kelezatan yang berbeda,” kali ini sang syeikh menceritakan perasaan di masa kecilnya, “dengan berbagai kelezatan lain yang pernah aku rasakan sebelumnya.” Beliau melanjutkan, “Perasaanku asyik melayang menerawang. Bukan kelezatan makan enak di kala lapar. Bukan juga kelezatan liburan yang melelahkan dan terkadang membosankan. Bukan pula kelezatan mainan di kala ingin bermain. Lantas, juga bukan kelezatan kemenangan dalam pertandingan. Bahkan, bukan kelezatan mengunjungi teman lama di kala hati begitu merindu. Sama sekali tidak menyerupai segala kelezatan ini. Kelezatan yang rasanya mampu aku kenali, tapi entah kenapa aku tidak sanggup  mengungkapkannya.”

Dari mana kelezatan itu berasal? Coba kita cermati, “Hari ini saya berbicara tentang buku yang gemanya terasa begitu agung dalam diriku,” begitu penjelasan syeikh An-Nadawi dalam bukunya ath-Thariq Ilal Madinah tentang “Safari Bersama Sejarah, Hari-hari di Masa Kecilku” yang dikutip ulang oleh Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid.

Ternyata sebuah buku yang menjadikan Syeikh Abul Hasan Ali An-Nadawi merasakan kelezatan iman. Getaran jiwanya tidak sirna seiring tertutupnya lembaran buku yang beliau baca. Akan tetapi, pengaruh itu tertanam begitu lama dan dalam sebagai motivasi yang kuat dalam diri beliau. Sirah Rahmatil ‘Alamin karya Al-Qadhi Muhammad Sulaiman Al-Manshur Furi, inilah buku yang dibaca oleh Syeikh Abul Hasan Ali An-Nadawi. Buku yang menceritakan perjalanan hidup Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau dapati kisah hijrah Rasulullah dan para sahabatnya yang begitu mengesankan dalam dada. Begitu pula, kisah-kisah para sahabat yang merindukan syahid ketika perang Uhud, dan tentu masih banyak kisah yang lain. Menarik. Seorang anak, telah menemukan kenikmatan iman dari menelaah kisah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Andai muda-mudi hari ini menelaah dengan cermat kisah para pendahulu yang shalih; para nabi dan rasul, sahabat, para ulama, orang-orang shalih dan perjuangan-perjuangan hidup mereka. Tentu saja, bukan cerita-cerita fiktif yang belum jelas kebenarannya. Dengan itu, mereka akan tahu siapa tokoh shalih yang hendaknya mereka ikuti. Mereka pun juga akan tahu bagaimana perjuangan-perjuangan para pendahulu dalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidupnya.  Maka bisa jadi, kelezatan iman layaknya Syeikh Abul Hasan Ali An-Nadawi akan mereka rasakan. Dalam dada mereka, atas izin Allah akan dipenui motivasi yang kuat untuk bersungguh-sungguh dalam berjuang. Hidup mereka akan lebih terarah lantaran dituntun para teladan yang shalih.

Siapa motivatormu wahai pemuda? Pilihlah dengan cerdas. <>



Rabu, 03 April 2019

Berkobar Menyala di Dalam Dada!



Oleh: Deniz Dinamiz 

Kamu punya cita-cita? Alhamdulillah kalau sudah. Na’udzubillah kalo belum. Iya, na’udzubillahi min dzalik kalau kamu sampai tidak punya cita-cita. Mengapa? Karena cita-cita itu berharga.

Yang penting, kita yakin cita-cita itu penting. Yang paling utama lagi adalah tentu saja: ridloNya. Kalau Allah sudah ridho dan memutuskan, mudah bagiNya mengabulkan. Beneran. Para Nabi dan Rasul sudah membuktikan. Kuncinya satu: Kamu punya CITA-CITA yang sesuai ridhoNya.

Bagaimana caranya? Langkah pertama: punya cita-cita.

Pernahkah dirimu mengalami suatu kondisi di mana awalnya kamu merasa tidak kuat, tetapi setelah bertahan dan berjuang, ternyata hasil yang didapat luar biasa nikmat?

Rasanya persis ketika kamu sukses kerja keras banting buku (kalau tulang, sakit sih...) untuk menghadapi ujian pelajaran favorit kamu. Pelajaran favorit di mana kamu selalu sukses menggaruk-garuk kepala, pertanda tidak mengerti pelajarannya. Favorit untuk bingung, bahkan ada yang favorit untuk membolos (Astaghfirullaah). Waktu di kelas, pelajarannya susah dipahami. Di luar kelas, malah kelayapan main sampai pagi! (Perhatian...perhatian... Mohon ditiru kalo kamu ingin hasil belajarmu bikin malu...).

Sangat berbeda dengan mereka yang punya cita-cita. Menghadapi pelajaran favorit ini, mereka tidak akan tinggal diam apalagi tinggal main. Mereka akan berjuang sampai titik darah penghabisan! Gunung buku ‘kan didaki, samudera soal ‘kan diseberangi. Kalo perlu buat target tambahan: belajar khusus pelajaran favorit itu tiap malam Ahad dari jam delapan malam minimal 3 jam!

Awalnya sudah kebayang bakal bersimbah keringat (kasihan ya? Sudah simbah-simbah, masih keringetan pula...). Eh ternyata.. belajar makin kuat, tidur pun tak sempat! Tidak terasa waktu belajar terasa begitu cepat. Baru asyik latihan soal halaman 22, ternyata sudah jam 23! Padahal sejak jam 21, kepala sudah manggut-manggut. Karena mengerti jawabannya? Bukan... Bukan karena mengerti. Tetapi karena menahan kantuk..

Tiba-tiba teringat! Cita-cita di sekolah menjadi peringkat pertama! Sampai dapat diterima di perguruan tinggi tanpa ujian dan mendapat beasiswa! Terbayang wajah bangga orang tua yang selalu berdoa dan bekerja keras mencari nafkah tiap harinya! Cita-cita mendapatkan nilai 9, tidak bakal tercapai kalo hanya dengan mengerjakan soal sampai jam 9 malam. Walhasil, ingin menaruh bolpen lalu tidur, rasanya kok berat. Lebih baik lanjut mengerjakan soal sampai dapat. Kok bisa? Itulah rasa lezat yang muncul dari cita-cita yang kuat. Allahu Akbar! Allah Maha Hebat!

Milikilah tekad kuat luar biasa! Semangat berkobar-kobar menyala-nyala di dalam dada, semangat untuk bergerak dan berjuang mencapai cita-cita.  Ingatlah: cita-cita itu datang dari niat di dalam hati. Niat lurus mencari ridho Ilahi. Niat meraih sukses hingga surga menanti. Itulah cita-cita yang diajarkan oleh Sang Nabi. Cita-cita yang mengantar kita sampai ke Surga dan ridhoNya.

Pernah dengar kisah motivator terhebat sepanjang masa? Itulah dia, Nabi Muhammad SAW. Satu di antara sekian banyak kisah inspiratif dari beliau adalah saat beliau dicaci dan disakiti oleh warga Tha’if. Tidak hanya disumpah-sumpahin, beliau sampai dilempari batu sama anak-anak kecil. Kalau kamu? Mungkin dilihat anak kecil saja sudah membentak: NGAPAIN LIHAT-LIHAT?!

Tapi beliau berbeda. Nabi Muhammad SAW tiada duanya. Sampai-sampai malaikat Jibril hendak meratakan orang-orang itu dengan gunung karena tidak terima melihat orang sejujur, semulia, dan sepenuh kasih Nabi Muhammad SAW sampai dijadikan bulan-bulanan, tertawaan, dan bahkan target lemparan...

Tetapi tidak. Nabi Muhammad SAW melarang Jibril untuk melakukannya. Nabi yang penuh kasih sayang pada umatnya itu berharap, bahwa dari anak cucu mereka akan lahir sosok-sosok yang memperjuangkan kemuliaan Allah dan Islam! Masya Allah! Menakjubkan! Sudah dilukai lahir dan batin, Nabi tidak kehilangan sedikitpun harapan akan umatnya. Cita-citanya jelas dan penuh cinta mendalam: membawa umatnya ke jalan kebenaran! Ya Allah... Masukkan hamba ke golongan umat yang dibanggakan Nabi dan diridloi Ilahi!!!

Maka tidak heran, ketika detik-detik menjelang kematiannya, Nabi Muhammad menggerak-gerakkan bibirnya dan berbisik:”Ummati..ummati..” Yang artinya: ”Umatku... umatku... Ya Allah, sholawat serta salam atas Nabi Muhammad yang tak pernah lelah mencintai umatnya...    

Jadi, apakah kamu sekedar iseng punya cita-cita atau BENAR-BENAR cinta pada cita-cita kamu? Semoga saja yang kedua karena cita-cita sejati berasal dari hati. MILIKI CITA-CITA SEJATI, RAIH RIDHO ILAHI! <>


Senin, 01 April 2019

Cita-cita Jiwa



Oleh: @emfatan 

Inilah jiwa
Telah diilhamkan Sang Pencipta
Pilihan antara dua:
Fujur atau taqwa
Pilih mana?

Inilah jiwa
Sungguh beruntung yang membersihkannya
Mencitakan surga, beramal dengan yang disukaiNya
Sungguh rugi yang mengotorinya
Berbuat dosa, melakukan amal-amal neraka
Pilih mana?


#buletinnah #puisinah #penguatsemangat #pengobarbelajar 
                                                                                                          





BULETIN NAH #7: RAJAB 1440 H







 Wahai Rasulullah, seandainya jerih payah ini dilakukan di jalan Allah? Tanya seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Satu di antara jawaban beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “Jika dia bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri agar terjaga kehormatannya, maka dia berada di jalan Allah.

Alhamdulillah, Buletin NAH edisi Rajab kembali hadir di hadapan para pembaca. Inilah buletin yang ringkas, sebagai syi’ar dalam kebenaran.

Edisi Belajar kepada Umar  kembali hadir untuk memompa semangat para pemuda. Kini Damaskus telah ditakhlukkan, lantas kita akan diajak menyaksikan perjuangan di jalan Allah dalam penakhlukan negeri-negeri pasca Damaskus.

Maka lanjutkan langkahmu ke lembar berikutnya, Sajian Spesial telah menanti dengan “Berkobar Menyala di Dalam Dada”.

Tunggu apa lagi, niatkan membaca ini di lakukan di jalan Allah, lalu telaah setiap katanya.