Senin, 08 April 2019

JIWA MANUSIA


Oleh: Fuzta Fauzal Muttaqin 

Benarkah kita adalah manusia? Enam edisi sebelumnya sudah dibahas bagaimana Al-Quran menjelaskan tentang manusia. Rasa-rasanya pembahasan itu belum benar-benar selesai adanya. Ada banyak hal yang ada dalam diri manusia. Ada jiwa, akal, hati, ruh, dan fitrah. Hanya saja kita belum memahaminya. Rangkaian edisi ini juga akan membahasnya. Dimulai dari; 'jiwa'.

Jiwa. Kata ini sudah tak asing di telinga kita. Sesuatu yang ada dalam diri manusia. Benarkah demikian? Dalam Al-Quran, kata jiwa ini disebut dengan An-Nafsu. An-Nafsu merupakan sisi dalam diri manusia. An-Nafsu dalam konteks pembicaraan Al-Quran tentang manusia menunjuk kepada sisi dalam dirinya yang memiliki potensi baik dan buruk.

Kata An-Nafsu digunakan dalam berbagai bentuk dan aneka makna. Kata ini disebut dalam Al-Quran sebanyak 297 kali; dalam bentuk mufrad sebanyak 140 kali, jamak berupa kata An-Nufuus sebanyak dua kali dan kata  Anfusu 153 kali, serta dalam bentuk kata kerja sebanyak dua kali.
Sebagian besar kata An-Nafsu menunjuk pada diri manusia. Meski ada sedikit yang menunjuk pada 'diri Tuhan'. Ketika menunjukkan pada manusia juga memiliki aneka makna. Sekali ditujukan untuk totalitas manusia (Al-Maidah: 32), di kali lain menunjuk kepada sesuatu yang terdapat dalam diri manusia yang menghasilkan tingkah laku (Al-Ra'd 11). Di sisi lain, Al-Quran juga mengisyaratkan keanekaragaman An-Nafsu dari segi tingkatan-tingkatan. Tingkatan tersebut adalah nafs ammarah, nafs lawwamah, dan nafs muthmainnah.

Nafs ammarah cenderung mendorong untuk melakukan hal-hal yang negatif, sedangkan nafs lawwamah adalah sikap rasional yang mencela diri sendiri karena melakukan kesalahan. Nafs terakhir, nafs muthmainnah adalah nafs yang tenteram, yang senantiasa terhindar dari keraguan dan perbuatan jahat. Tingkatan nafs ini cocok dengan penjelasan di awal bahwa nafsu memiliki potensi baik dan buruk.

Kita bisa mendapatkan pelajaran bagaimana bertindak sesuai dengan nafs kita. Kita harus berusaha menahan nafs ammarah dan meningkatkan nafs lawwamah kita. Perilaku yang diharapkan adalah tidak lagi berperilaku negatif. Pada saat yang sama, kita menyesali kesalahan-kesalahan yang sudah terlanjur terjadi. Sehingga kita meraih nafs muthmainnah. Nafs yang dipanggil Tuhan kelak di akhirat. “Wahai jiwa yang tenang, pulanglah kepada Tuhanmu yang meridhoimu dan engkau pun diridhoi. Masuklah ke dalam (kelompok) hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.”<>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar