Jumat, 30 Agustus 2019

(Resume) The Fatih of The Holy Land



Menjadi pelayan orang yang mulia bukanlah hal yang memalukan. Bahkan, ia adalah keutamaan. Seperti halnya seorang pemuda yang dengan izin Allah menaklukkan “Holy Land”. Tanah yang Allah tentukan sebagai tanah yang diberkahi. Di manakah itu? Baitul Maqdis.

Apakah saat ini Baitul Maqdis dalam kondisi merdeka? Belum. Baitul Maqdis saat ini  belum ditatakelola dengan sistem terbaik yang membuat keamanan multi agama. Ingat, ketika Baitul Maqdis dipimpin oleh Muslimin, selain Muslimin dipersilahkan hidup berdampingan. Tapi, ketika Baitul Maqdis dikuasai Yahudi hari ini, Muslimin dibunuh dengan kejam.

Kita tahu ada beberapa penyebutan “tanah” di dunia ini. Tanah suci, tanah haram, dan tanah barakah. Di manakah yang disebut tanah suci? Tanah haram? Tanah barakah? Inilah musibah pemikiran umat Islam yang hari ini sebagian besar tidak paham tentang penyebutan tiga tanah tersebut.

Baitul Maqdis adalah kiblat pertama umat Islam. Inilah “The Holy Land”. Tanah yang ditetapkan Allah sebagai tanah barakah. Pusat keberkahan untuk dunia.

Di dalam Baitul Maqdis inilah terdapat kiblat pertama umat Islam di zaman Rasulullah; masjid Al-Aqsha. Bangunan kedua yang dibangun oleh Nabi Adam setelah Masjidil Haram, selang 40 tahun kemudian. Keduanya; antara masjid Al-Aqsha dan masjid Al-Haram, dibangun dengan desain yang sama. Dengan proporsi yang sama.

Sakitnya Baitul Maqdis saat ini, menjadi sakitnya umat Muslimin saat ini pula.

Masjid Al-Aqsha yang keberadaannya di dalam Baitul Maqdis, adalah milik umat Islam. Bukan milik kaum Yahudi.

Baitul Maqdis. Inilah kota suci nan berkah. Tanah yang pernah ditaklukkan seorang pemuda pilihanNya. Sang pembantu Musa. Sang pembantu orang yang mulia. Dengan syarat untuk pasukan yang ikut bersamanya dalam penaklukan: “Sebelum berperang, hati tidak boleh cinta dunia!"

Siapa yang jiwanya, hatinya, terpaut kuat pada Masjid Al-Aqsha, maka saat itulah ia mendapat barokahnya. Siapapun yang memikirkan Masjid Al-Aqsha, akan dapat barokahnya.

Ingatlah pada kisah seorang shahabiyah. Pembantu orang yang mulia. Pembantunya Rasulullah. Namanya Maimunah. Dia, meminta fatwa khusus kepada Nabi tentang masjid Al-Aqsha.

Apa jawab beliau?

“Bumi Masyar, datangi, dan shalatlah di dalamnya karena shalat di dalamnya sebanding dengan seribu shalat di tempat lain.”

Maimunah berkata lagi, ‘Bagaimana jika aku tidak bisa?’ Rasulullah menjawab, “Maka kirimlah minyak untuk peneranganya. Barangsiapa yang memberikannya, maka seolah ia telah mendatanginya.”

Baitul Maqdis pernah dibebaskan oleh seorang pemuda. Yusya`  bin Nun namanya. Seseorang yang pernah Allah hentikan matahari beredar sementara, hingga dia dan pasukannya meraih  kemenangan. Seorang kader utama, "hadiah" dari Nabi Musa dan Nabi Harun untuk Baitul Maqdis tercinta.

Maka, hai para muda, apa hadiah yang akan engkau berikan untuk Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsha?

#LesehanJum'atJAN #Learningfrom #TheBestYouths


Tidak ada komentar:

Posting Komentar