Selasa, 24 September 2019

Lesehan Jum`at JAN: The Reddish Face


Learning From The Best Youth #8

Tema khusus: The Reddish Face

27 September 2019

JUM`AT jam 16.00 - 17.25 


Pembicara:
A. Yusuf Wicaksono


Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi Arabika “Specialty”
Buletin NAH!

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)


Cara daftarnya mudah.

Bisa langsung via WA dengan format _Nama_Alamat_ kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran: 
085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:
085600176738 atau 085329686654

Instagram: @buletinnah@jantraining



Senin, 23 September 2019

(Resume) The Two that Accompany #5



Oleh: Tim JAN
Inilah putri dari seorang yang shalih. Keutamaannya sebagai seorang pemudi utama, layak menjadi teladan kita semua. Inilah yang amat belas kasihnya kepada orang tuanya (birrulwalidain). Ia menjaga kehormatannya. Pandai menggembala kambing. Ia pun memberi saran yang tepat tentang 'karyawan' yang ideal untuk bapaknya.

Sebagai istri, Putri Syu'aib menemani Musa dengan setia. Tatkala Musa berstatus sebagai 'buronan' dan mendapatkan perintah Allah mendatangi Mesir dan berdakwah kepada Fir'aun, sebagai istri tidak mempersulitnya. Sang istri menemani dan mendukungnya. Bahkan, begitulah cara Allah menyiapkan seorang wanita yang mendampingi Musa ini. Kuat. Semenjak ia memilih menggembala hewan ternak bapaknya.

Bukankah menggembala hewan ternak itu pekerjaan laki-laki?

Sungguh, kemuliaan itu tidak didapatkan dengan enak-enakan. Bahkan hidup seenaknya. Tapi layaknya Maryam binti Imran yang amanah, tabah mendampingi ibunya di saat ada kesulitan, serta kecerdasan dalam memecahkan masalah.

Begitu pula dengan Putri Syu'aib. Bukan berarti di saat muda adalah waktunya berfoya-foya. Tapi dengan masa kekuatan utama, ia berani mengambil pekerjaan berat baginya. Demi baktinya pada orang tua. Demi taatnya pada suami tercinta. Lillaahita'ala.

(Resume) The Two that Accompany #4


Oleh: Tim JAN

Putri Syu'aib pun "melaporkan" ke bapaknya perihal apa yang terjadi. Bahwa ada seorang laki-laki kuat yang telah membantu memberikan minum hewan ternaknya.

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” (QS. Al-Qashas: 25)

Sungguh, ulama memuji apa yang dilakukan oleh Putri Syu'aib ini. Dengan sangat hati-hati ia menjaga diri. Dengan sangat cerdas, ia merekomendasikan kepada bapaknya bahwa Musa adalah lelaki yang bisa bekerja untuknya. Kuat, amanah, dan menjaga diri. Dirinya saja dijaga, apalagi hewan ternaknya.

Musa menerima tawaran dari Putri Syu'aib. Keduanya pun berjalan menuju rumah Putri Syu'aib dengan tidak melakukan perbuatan yang dilarangNya. Awalnya, Musa yang di belakang melihat Putri Syu'aib yang tersingkap auratnya. Musa pun kemudian di depan dengan meminta Putri Syu'aib untuk melemparkan kerikil jika akan berbelok ke kanan atau ke kiri.

Sungguh menakjubkan kisah keduanya. Keduanya menjaga diri dari hal-hal yang tidak terpuji.

Apa balasan yang diterima oleh Musa dari bapaknya Putri Syu'aib?

Pertama, mendapatkan pekerjaan. Kedua mendapat perlindungan yang aman. Dan yang ketiga adalah tawaran menikah dengan salah satu putrinya.


(Resume) The Two that Accompany #3


 Oleh: Tim JAN
Dialah Putri Syu'aib. Ada yang berpendapat, dialah Putri seorang Nabi. Nabi Syu'aib. Ada pula yang berpendapat, bapaknya bukan yang dimaksud Nabi Syu'aib. Tapi, orang baik baik di kalangan kaumnya yang namanya Syu'aib.

Kisahnya yang menarik, dimulai saat kedua Putri Syu'aib menggembala hewan ternaknya. Ya. Pekerjaan itu dilakukannya demi bakti kepada bapaknya yang sudah tua. Sang bapak, sudah tidak kuat lagi menggembalakan hewan ternaknya.

Saat keduanya hendak memberi minum hewan ternaknya, mereka mengalami kesulitan. Nabi Musa yang belum lama lari dari Mesir ke Madyan sebagai 'buronan' Fir'aun, melihat keduanya.

Musa berjalan menuju keduanya dengan mendudukkan pandangan. Sikap Nabi Musa pun membuat kesan baik di hati Putri Syu'aib.

Musa itu kuat. Hanya sendirian memindahkan batu yang menutupi sebuah sumur, padahal dengan 10 orang baru bisa terangkat. 

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. Al-Qashas: 24)

Doanya indah bukan? Doa yang didengar oleh Putri Syu'aib. Doa yang membuat Nabi Musa mendapatkan banyak kebaikan.



(Resume) The Two that Accompany #2




Oleh: Tim JAN
Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia!" Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya. (QS. Al-Qasas: 11)

Kakak Musa yang amanah ini, telah berperan penting pada hidup Musa kecil. Pertama, kakak Musa mengawasi dan menjaga adiknya di saat ibunda Musa menghanyutkan Musa di aliran sungai. Kedua, saran kepada penghuni istana di saat mereka kebingungan sesiapa yang bisa menyusukan Musa, sangat briliant. Ulama pun amat memuji kecerdasan wanita ini.

Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: "Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?" (QS. Al-Qasas:12)

Kakak Musa berbicara dengan kata-kata yang tepat, waktu dan suasana yang tepat, serta berperilaku yang tepat. Cerdas bukan?

Inilah wanita pertama yang menemani Musa di saat 'krisis' atau waktu gawat dan genting Musa. Cerdas memecahkan masalah, amanah, dan pemberani. Dialah wanita; keturunan atau nasabnya sampai Nabi Ibrahim, punya 2 adik utama yaitu Harun dan Musa, suaminya adalah salah satu murid terbaik Musa, dan terakhir Ibundanya. Seorang wanita yang Allah kokohkan hatinya dan merupakan keturunan dari bapaknya para Nabi: Ibrahim alahissalam.

Bagaimana dengan wanita kedua yang menemani Musa?



(Resume) The Two that Accompany #1



 Oleh: Tim JAN
Musa memang dikelilingi wanita-wanita utama. Mulai dari ibunda aslinya yakni Yukabid binti Lawi binti Ya'qub. Kemudian bersama ibunda angkatnya yang bernama Asiyah binti Muhazim atau istri Fir'aun. Selain itu, ia diasuh dan dijaga pula oleh kakaknya yang mulia, Maryam binti Imran. Dan terakhir, ia didampingi pula oleh istri tercinta, putri seorang Nabi, putri Syu'aib.

Di Lesehan Jum'at JAN edisi "Learning from The Best Youth" chapter 6 ini, kita hanya akan bahas secara fokus dua wanita yang menemani Nabi Musa 'alahissalam. Sang kakak dan sang istri.

Wanita pertama, kakaknya Musa. Maryam binti Imran namanya. Namanya mirip dengan ibunda Isa bukan? Akan tetapi, apakah ibunda Isa yang dimaksud? Bukan. Ini bukan Maryam binti Imran ibunda Nabi Isa. Hal ini dikarenakan zaman Nabi Musa, berbeda jauh dengan zaman Nabi Isa.

Kakaknya Musa inilah yang kemudian menikah dengan salah satu muridnya Musa. Bukan dengan Yusya' bin Nun Sang Pembebas Baitul Maqdis pertama. Tetapi dengan Kalib bin Yuhana.

Kisah kakaknya Musa yang menakjubkan dimulai ketika Fir'aun menetapkan aturan membunuh setiap bayi laki-laki di tahun itu. Berbeda dengan kakaknya; Nabi Harun. Nabi Harun lahir bukan di tahun Fir'aun menginginkan setiap bayi laki-laki yang lahir dibunuh.

Ya. Fir'aun bermimpi melihat ada api dari (arah) Baitul Maqdis dan membakar Mesir. Fir'aun pun khawatir adanya 'kelahiran' seorang laki-laki yang hendak menghancurkan kerajaannya. Tapi 'bodohnya', ia tidak ingin semua laki-laki binasa sehingga tidak ada yang bisa dijadikan sebagai budaknya. Sehingga Fir'aun membuat aturan, satu tahun setiap lahir bayi laki-laki dibunuh, satu tahun kemudian setiap bayi laki-laki lahir, dibiarkan.



Sabtu, 21 September 2019

CINTA PALING TINGGI DALAM HATI


Oleh: Deniz Dinamiz 

Ketika di hati kita ada perasaan cinta kepada pasangan jenis, sering kita jadi berfikir, ”Apa yang harus kulakukan?” Dibiarkan, masih terasa. Dijauhkan, masih terasa juga. Didekatkan, wah, makin menjadi-jadi! Terus, bagaimana ini!?

Kalau rasa itu kita pandang sebagai tanaman, perasaan itu bisa tumbuh berkembang sembarang tak karuan. Itu karena dia tidak dijaga. Kalau dijaga, kita tahu kapan harus memangkas pohon cinta dalam kebun hati kita. Ketika pohon cinta itu sudah terlanjur tumbuh, maka sulit dibunuh. Maka pangkaslah secara teratur. Pangkaslah pohon cinta dengan menghentikan perilaku yang bisa menumbuhkan cinta yang tak diridhoi Ilahi.

Di antara yang membuat cinta tumbuh tak karuan adalah berbicara berdua tanpa teman, menatap lama-lama apalagi berbalasan, bercanda berlebihan yang cenderung menggoda, dan bahkan “sekedar” japri yang berkesan bagi si dia. Ada kalanya seseorang merasa lebih nyaman untuk mengekspresikan diri melalui sosmed  daripada bertatap muka. Pesan yang “tidak biasa” pasti pengaruhnya luar biasa!
Lalu bagaimana? Bukankah wajar Allah sudah menciptakan hati untuk merasakan? Ya. Syeikh Ali At-Tonthowy pun mengiyakan. Jelasnya, beliau menyampaikan bahwa ada dua hal suci yang patut kita perhatikan. Yang pertama adalah cinta dalam hati. Yang kedua adalah iman dalam dada. Sungguh beruntung mereka yang memiliki dua kesucian ini pada dirinya. Pohon cinta yang tumbuh dari akar iman yang menghunjam.

Hati-hati dengan hati kita. Apa yang kita sukai belum tentu yang Allah ridloi. Dan apa yang Allah ridloi, suka atau tidak suka adalah yang terbaik buat kita. Bilakah yang dilarang itu justru dianjurkan? Kapankah pohon cinta harus dipelihara dan senantiasa disiram? Ketika pohon cinta itu tumbuh dari benih yang disebut cinta kepada Ilahi.

Berbahagialah mereka yang hidup untuk mencari cinta Allah. Mereka mendapatkan nikmat dan karunia. Mereka terhindar dari bencana. Mereka tidak akan merugi selamanya.
“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhoan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Q.S Ali Imron ayat 174)

Dan ingatlah, Allah janjiNya pasti. Tidak seperti manusia yang belum tentu mampu memenuhi janjinya kepada orang lain. Yakinlah bahwa Allah tidak mungkin ingkar janji.

“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (Q.S. Ar-Rum ayat 60)

Nah, kalau kita sungguh-sungguh mencintai Allah, maka cinta kita kepada siapapun akan karena Allah. Kita berusaha agar Allah ridho dengan alasan dan cara kita mencintai orang lain. Sudah selayaknya kita berusaha, agar cinta kepada Allah menempati posisi tertinggi di dalam hati. Semoga Allah menjaga, agar hati kita senantiasa mencintaiNya, melebihi apapun jua.

Sumber: Buletin Nah edisi Muharram 1441 H 

Kamis, 19 September 2019

THE TWO THAT ACCOMPANY

Oleh: TIM JAN

Al-Quran Menerangkan Dua Wanita yang Menemani
Inilah dua wanita yang menemani Nabi Allah Musa alaihissalam. Mereka wanita luar biasa yang Allah tunjuk sebagai pendamping Musa dalam berdakwah. Kakaknya Musa dan putri Syu’aib wanita pilihan tersebut.

Dalam tulisan ini, kita hanya akan membahas tentang putri dari Syu’aib. Untuk memahami siapa wanita itu, dan betapa mulianya mereka, lalu kita bisa mengambil pelajaran dari mereka, maka buka lembaran mushaf kalian. Tengok mereka dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash. Cermati QS. Al-Qashash ayat 21-32 untuk mengetahui rentetan kisah putri Syu’aib.

Dua Putri Syu’aib
Di dalam Al-Quran nama wanita ini tidak disebutkan. Begitu pula siapa nama bapaknya. Yang disebutkan dengan jelas tempat tinggal mereka yaitu negeri yang bernama Madyan. Dijelaskan oleh As-Sa’di dalam Tafsirnya bahwa bapak wanita ini adalah penguasa  negeri Madyan. Lalu siapa bapak wanita tersebut? Prof Yunahar Ilyas dalam kitabnya Kisah Para Rasul jilid 2 menyebutkan bahwa sebagian Mufassir menyatakan  nama bapak mereka adalah Nabi Syu’aib alaihissalam.

Namun beda hal dengan Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam menafsirkan siapa bapak wanita tersebut, beliau menjelaskan bahwa Syu’aib yang dimaksud bukanlah Nabi Syu’aib yang kita kenal. Beliau menyampaikan beberapa alasannya. Pertama,  tidak adanya informasi bahwa Musa mengalami masa yang sama dengan Nabi Syu’aib. Kedua, kalau sekiranya lelaki yang dimaksud adalah Nabi Syu’aib tentu Allah menyebutnya dan tentu gadis tersebut menyebut namanya. Ketiga, Allah telah musnahkan kaum Nabi Syu’aib karena telah mendustakannya. Keempat, jika kedua wanita itu adalah putri Nabi Syu’aib, tentu para lelaki yang menggembalakan kambing itu tidak akan menghalang-halangi dua putri nabi. Sekiranya empat ini cukup untuk memberikan penjelasan bahwa Syu’aib yang dimaksud bukanlah Nabi Allah. Untuk lebih detailnya silahkan cek penjelasan As-Sa’di dalam menafsirkan QS. Al-Qashash ayat 28. Ibnu Katsir pun mengatakan, “Sesungguhnya kalau seandainya lelaki itu adalah Nabi Syu’aib  tentu Al-Quran menyebutkan nama aslinya.” Wallahu a’lam.

Pekerjaan Mulia Dua Putri Syu’aib
Inilah kemuliaan yang dimiliki oleh dua wanita ini. Allah abadikan perbuatan keduanya yang tentu sangat mulia. Allah berfirman,    

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya". (Al-Qashash: 23)

Menggembalakan ternak menjadi pekerjaan dua wanita ini. Sebuah pemandangan yang tidak biasa. Yang menjadi pertanyaan, apa yang menjadikan mereka melakukan tugas yang sering dilakukan oleh kaum lelaki itu? Lihat jawaban wanita itu, “sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” As-Sa’di menafsirkan, maksudnya bapak mereka sudah tidak mempunyai kekuatan untuk meminumkan ternaknya. Sedangkan Ibnu Katsir menjelaskah bagian ini dengan mengatakan, “Inilah yang memaksa kami dalam keadaan seperti yang engkau (Musa) lihat.”

Budi Ashari dalam kitabnya Remaja, Antara Hijaz dan Amerika mengomentari pekerjaan wanita tersebut, beliau mengatakan, “Dua orang pemudi yang harus melakukan pekerjaan laki-laki karena ayahnya sudah tua. Bakti, tanggung jawab, kuat, sabar, menjaga kehormatan, dan berakhlak.” Maka dari sini kita jadi tahu, bahwa pekerjaan yang mereka berdua lakukan adalah bentuk baktinya seorang anak kepada orang tuanya. Mereka sedang birrul walidain.

Wanita dan Sifat Malu
Tatkala mereka berdua sudah pulang. Bapaknya menyuruh salah seorang dari mereka menemui Musa untuk mengundangnya ke rumah.  Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan malu-malu.” Maksudnya gaya berjalannya gadis ini seperti wanita-wanita merdeka,  bukan seperti budak yang umumnya kurang sopan. Ini sesuai dengan riwayat yang bersumber dari Umar bin Khaththab, dia berkata, “Dia datang berjalan dengan malu-malu seraya menutupi wajahnya dengan bajunya. Dia bukanlah wanita yang berani seenaknya keluar masuk jalan.” Atsar ini diriwayatkan oleh Ath-Thabari yang memiliki sanad yang shahih.

Bahkan kalimat yang dia ucapkan ketika mengundang Musa menunjukkan bahwa wanita ini memanglah berbudi pekerti yang luhur. Dia benar-benar memiliki rasa malu yang tinggi. Dia berkata, Sesungguhnya bapakku memanggilmu agar dia  memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.  Artinya untuk memberikan upah kepada Musa atas bantuan yang telah diberikan. Menurut Ibnu Katsir perkataan ini memiliki nilai kesopanan yang tinggi dalam mengungkapkan maksud. Dia tidak menyuruhnya datang ke rumah secara mutlak, agar menepis anggapan yang tidak-tidak.

Sekali lagi ini menunjukkan keluhuran jiwa dan akhlaknya yang mulia, sebab rasa malu itu termasuk akhlak yang terpuji, terutama bagi kaum wanita.

 Dialah Wanita Yang Paling Peka Firasatnya

Ketika Musa telah bertemu dengan bapak mereka, kemudian Musa menceritakan semua kejadian yang dia alami, salah seorang dari wanita itu mengatakan, Wahai bapakku amlillah dia sebagai orang yang bekerja (kepada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja kepada kita adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’

Berdasar penafsiran Ibnu Katsir ketika salah seorang putrinya mengusulkan demikian, ayahnya berkata, “Apa yang kamu ketahui tentang dia?” Anaknya menjawab, “Dia mampu mengangkat batu besar yang hanya bisa diangkat  oleh sepuluh orang laki-laki dan juga ketika aku ingin berjalan di depannya, dia berkata kepadaku, ‘Kamu harus berjalan di belakang! (tidak boleh di depan laki-laki). Bila jalan yang aku tempuh itu salah, lempar saja aku dengan kerikil, supaya aku bisa berjalan ke rumahmu sesuai dengan jalan yang benar.’”

Sungguh wanita ini bukanlah wanita sembarangan. Salah seorang dari mereka (dialah yang nanti jadi istrinya Musa) pernah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Manusia yang paling peka firasatnya ada tiga, Abu Bakar ketika melihat kepribadian Umar yang luhur (saat menunjuk sebagai khalifah), Al-Aziz yang berkata berkata kepada istrinya (Zulaikha), ‘Berikanlah kepadanya tempat (dan pelayanan) yang baik’ (Yusuf: 21) dan putri Syu’aib yang berkata kepada bapaknya,  Wahai bapakku amlillah dia sebagai orang yang bekerja kepada kita, sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja kepada kita adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’”

Senantiasa Menyertai Suaminya
Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan Dia berangkat dengan keluarganya. Telah usai kesepakatan Musa dengan Syu’aib, yaitu kesepakatan menyempurnakan bekerja kepada keluarga istrinya; yaitu selama sepuluh tahun. Sudah cukup lama Musa berpisah dengan keluarganya. Para Ulama mengatakan bahwa Musa sangat rindu kepada keluarganya di Mesir. Dia bertekad untuk bertemu mereka secara sembunyi-sembunyi. Dia mengajak keluarganya untuk ikut ke Mesir.

Dia pun menempuh perjalanan di malam hari yang sangat gelap dan dingin. Lalu dia singgah disebuah tempat. Setiap kali dia menyalakan api, selalu saja padam dan tidak mau menyala. Dilihatnyalah api di lereng gunung. Da berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), Sesungguhnya aku melihat api, Mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan".
Inilah awal pengutusan Musa menjadi seorang Nabi. Istrinya menyertai Musa menuju ke Mesir. Maka layaknya seorang wanita, kemuliaan bagi mereka adalah memberikan pelayanan kepada suaminya, bahkan menyertai suaminya dalam berdakwah.

Referensi:
1.       Ibnu Katsir, Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6, 2006, Jakarta; Pustaka Ibnu Katsir.
2.       Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Tafsir Al-Quran, 2015, Jakarta; Darul Haq.
3.       Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., MA., Kisah Para Rasul Alaihimussalam 2, 2017, Yogyakarta; Itqan Publising
4.       Budi Ashari, Remaja Antara Hijaz dan Amerika,2016, Depok; Pustaka Nabawiyah.





Belajar Kepada Umar 9

Oleh: M Fatan A Ulum

Perang Ajnadin

Tahun 15 Hijriyah, Umar bin Khaththab mengirimkan surat kepada Amr bin Al-Ash agar bergerak menuju Baitul Maqdis. Amr melaksanakan perintah tersebut.

Saat melewati daerah Romlah, pasukan muslimin bertemu pasukan Romawi. Perang pun pecah. Persis di daerah Ajnadain, yaitu berada di distrik Bait Jabrain, (Palestina?) Baitul Maqdis.

Perang hebat terjadi antara kedua belah pihak, seperti perang Yarmouk. Banyak korban berjatuhan.
Setelah itu sisa pasukan yang ada bergabung dengan Amr bin Al-Ash sehingga pasukan Amr bertambah banyak.

Arthobun, pemimpin pasukan Romawi, mengirimkan surat ke Amr bin Al-Ash. “Kau adalah teman dan orang yang sama sepertiku, bagi kaummu kau memiliki kedudukan sama sepertiku. Demi Allah, kau tidak akan bisa menaklukkan Baitul Maqdis sedikit pun pasca perang Ajnadain; karena itu pulanglah agar kau tidak diserang lalu kau akan tertimpa kekalahan seperti yang dialami orang-orang sebelummu.”

Amr bin Al-Ash kemudian membuat surat balasan. Lalu memanggil seseorang yang  bisa bahasa Romawi untuk diutus menemui Arthobun. Amr berpesan kepadanya untuk menyerahkan surat itu kepada Arthobun, dan ,”Dengarkan ucapannnya, kemudian kembalilah dan beritahukan kepadaku.”
Apa isi surat dari Amr bin Al-Ash?

“Suratmu sudah aku baca; engkau memang memiliki kedudukan sama sepertiku. Jika engkau lengah dan tidak mengetahui kelebihanku, pastilah aku yang akan berhasil menaklukkan negeri ini. Bacakan suratku ini di hadapan anak buah dan para menterimu.”

Apa yang dilakukan Arthobun saat surat dari Amr tiba?

Dia kumpulkan para menterinya, dan dia bacakan isi surat tersebut kepada mereka. Mereka pun bertanya kepadanya, “Dari mana Tuan tahu bahwa Amr bukan orang yang akan menaklukkan negeri ini?”

“Ya”, jawab Arthobun, “Karena orang yang akan menaklukkan negeri ini namanya terdiri dari tiga huruf, cirinya begini dan begitu”. Tiga huruf itu maksudnya adalah 'ain-mim-ra'. Dan yang disebutkan adalah ciri-ciri dari Umar bin Khaththab.

Utusan Amr pun pulang dan menyampaikan semua itu kepada Amr bin Al-Ash. Amr pun menulis surat kepada Umar. “Saya menghadapi perang yang berat dan mengguncang, saya menghadapi negeri yang telah dipersiapkan untuk Anda taklukkan, maka bagaimana pendapat Anda”.

Umar menerima surat itu. Dia memahami situasi berat yang dihadapi Amr. Umar pun bertekad berangkat menuju Syam untuk membebaskan Baitul   Maqdis.




Rabu, 18 September 2019

Learning from The Best Youth: Dua Yang Terjaga


Ikuti Lesehan Jum'at JAN

Learning From The Best Youth #7

Tema khusus: Dua Yang Terjaga

20 September 2019

JUM`AT jam 16.00 - 17.25  

Pembicara:

Fatan Fantastik (@emfatan)
Deniz Dinamiz (@denizdinamiz)

Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi Arabika “Specialty”
Buletin NAH!

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)

atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah.

Bisa langsung via WA dengan format _Nama_Alamat_ kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran: 085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:
085600176738 atau 085329686654

t.me/buletinnah
Twitter: @buletinnah@JANtraining
Instagram: @buletinnah@jantraining
buletinnah.com

CINTA YANG LEBIH INDAH


Oleh: M. Fatan A. Ulum 

Mana yang lebih mempesona?
Cinta karena rupa, karena harta,
atau karena Dia?

Mana yang lebih ciamik?
Cinta karena “dia cantik”, “mobilnya antik”,
atau karena “Dia Yang Maha Tinggi”?

Kalau cinta adalah tentang memilih
Cermatlah ke mana kita labuhkan hati

Sapa Nah Muharram 1441 Hijriyah



“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”

Kenapa? Di sinilah ada kesadaran. Kesadaran seorang hamba akan kebesaran dan keagungan Allah Ta'ala. Bahwa, Allah lah yang telah menciptakan alam semesta, dan Allah pula yang mengelola dan memelihara semuanya.

Alhamdulillah atas pertolongan Allah Ta'ala, Buletin Nah Edisi Muharram 1441H telah terbit dan siap jadi bacaan para pembaca. Tulisan ringkas ini, semoga menjadikan sarana bagi pembaca untuk semakin mencintai Allah Ta'ala.

Edisi kali ini, kita akan kembali “Belajar dari Umar”. Tentang sepak terjangnya ketika melakukan pembebasan Tanah Suci kaum muslimin; Baitul Maqdis.

Bagi kalian yang belum menemukan cinta tertingginya. Bukalah lembaran  Sajian Spesial, kalian akan temukan “Cinta Paling Tinggi dalam Hati”.

Tunggu apa lagi, ambil buletinnya, buka perlahan dan baca dengan seksama. Selamat membaca NAH!



Selasa, 17 September 2019

(Resume) The Best in Both #4


Oleh: Tim JAN 

Ada ratusan ribu Nabi dan Rasul yang tidak semuanya disebutkan dalam Al-Qur'an. Mereka sudah mulia.

Ada nama-nama yang tidak disebutkan secara jelas dalam Al-Qur'an memiliki prestasi yang baik, apalagi jika disebutkan?

Maryam menjadi istimewa adalah karena pilihan Allah. Dia disebut dengan sangat jelas, menjadi bukti nyata dia adalah sebaik-baik wanita.

Tiada ada nama wanita yang namanya dijadikan surat dalam Al-Qur'an kecuali Maryam. Tiada wanita yang kisah hidupnya dikisahkan spesial dalam satu surat kecuali Maryam binti Imran. 

Kita belajar dari Hannah yang memiliki misi generasi terbaik lahir dari rahimnya. Lahirlah Maryam binti Imran. Lahirlah Isa Al-Masih.

Maka, jangan meremehkan investasi kebaikan. Jika sekarang kita melakukan kebaikan, dengan izin Allah, akan dirasakan oleh generasi keturunan di masa mendatang.

Jadilah seperti ibunda Maryam. Seperti Maryam. Seperti anak keturunan Maryam. The Best in Both. Mulia di dunia dan akhirat. Agar kita utama dan istimewa di mata Sang Pencipta.

(Resume) The Best in Both #3

Oleh: Tim JAN

Ada beberapa gelar yang didapatkan Maryam. Gelar dari Allah. Apa saja?

Pertama: Qanitah

Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat. (QS. At-Tahrim: 12)

Maryam senantiasa terus menerus berserah diri kepada Allah. Seterusnya dan setiap waktu. Dia senantiasa dalam berdoa dan berdzikir.

Kedua, Sidiqqah

Maryam senantiasa membenarkan kalimat-kalimatNya. Maryam termasuk orang-orang yang taat kepada Allah.

Ketiga, Sajidah

Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'. (QS. Ali-Imran: 43).

Keempat, Raaki'ah

Maryam itu banyak ruku'nya.

"Gaweannya" Maryam itu ya bersujud. Sujudnya ruku'nya Maryam senantiasa panjang. Bagaimana dengan kita?

Kelima, Mustafa

Dia adalah pilihan Allah. Ia menjadi mulia bukan karena pilihan manusia. Tapi menjadi suci dan dilebihkan atas segala wanita di dunia karena Allah.

Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). (QS. Ali-Imran: 42)

Keenam, Thahirah

Maryam adalah wanita yang suci. Dia tidak pernah bertemu laki-laki selain Zakariyya.
Ada orang yang selama hidupnya untuk shalat, rukuk, tidak pernah ketemu dengan laki laki, tetapi di fitnah berzina.

Orang yang kenceng ibadahnya saja masih di fitnah Allah. Apalagi kita?

Ketujuh, Sa'imah

Maryam itu puasanya kuat. Dalam setahun, setengah tahunnya saja untuk puasa.
Inilah gelar yang di dapatkan Maryam. Apa gelar yang kamu cari?

(Resume) The Best in Both #2


Oleh: Tim JAN

Kalau diturut ke (nasab) atas, Maryam akan sampai pada nasab Sulaiman dan Dawud. Ini berarti, ia termasuk dalam jalur garis keturunan para nabi. 

Tempat kelahiran Maryam adalah yang disebut-sebut sekarang dengan gereja Anne. Jika dilihat di peta, lihatlah begitu dekatnya tempat kelahirannya dengan Baitul Maqdis!

Maryam lahir dari pasangan Hannah dan Imran. Menariknya lagi, Hannah dan Imran belum dikaruniai putra di usia sudah tua. Naluri keibuan Hannah muncul, setelah melihat seekor burung yang memberikan makanan untuk anak-anaknya.

Setelah itu, Hannah hamil. Dia berjanji kepada Allah untuk memberikan anaknya untuk mengabdi di Baitul Maqdis.

Hadiah Hannah untuk Baitul Maqdis adalah anaknya. Janji Allah pun Hannah tepati. Maryam tinggal di Masjid Al-Aqsha sampai usia baligh.

Maka Maryam saat itu hidupnya sangat luar biasa. Undian yang diperuntukkan bagi pemelihara Maryam, selalu tertuju pada Nabi Zakariya. Ia diasuh oleh orang yang istimewa.

Maryam berada di tempat istimewa, dirawat orang istimewa, yang dilakukan juga istimewa.
Ia pun istimewa ketika Allah langsung beri rizki yang tidak terduga-duga. Makanan untuk Maryam langsung dari Allah.



(Resume) The Best in Both #1



Oleh: Tim JAN

Mengapa Maryam menjadi utama? Bagi pecinta agama ini, menggali kehidupannya adalah menjadi hal yang menarik.

Di Lesehan Jum'at JAN #5 ini, pembahasan temanya adalah The Best in Both. Maryam. Wanita yang mulia di dunia dan di akhirat.

Wanita memiliki kedudukan istimewa di dalam agama ini. Sedangkan di selain agama ini? Ada yang melecehkan kedudukannya. Menghina kesuciannya. Atau memperbudaknya.

Al-Qur'an mengistimewakan wanita dengan disebutkan namanya sebagai nama surat dalam Al-Qur'an. An-Nisa.

Beralih ke Maryam. Apa yang terlintas ketika disebut nama Maryam?

Inilah wanita yang disebut sebut Allah dalam Al-Qur'an. Kisahnya adalah cerita nyata. Bukan fiksi.
Dan ketika kita 'berada' di Masjid Al-Aqsha, kita bisa berkata: Oh, di sini rupa-rupanya kisah yang disebut di dalam Al-Qur'an. Oh di sini tempat sujudnya Maryam. Tempat ibadah sebaik-baik wanita. 

Senin, 16 September 2019

The Fatih of Baitul Maqdis (4)



Oleh: M Fatan A. Ulum

Dalam Riyadhush Shalihin, di bab tentang "Kejujuran", Imam an-Nawawi mencantumkan satu hadits shahih dari Al-Bukhari & Muslim. Hadits ini dari Abu Hurairah, dia menuturkan bahwa Rasulullah menyampaikan sebuah kisah:

"Ada seorang Nabi akan berangkat berperang, lalu berkata kepada kaumnya: 'Tidak boleh ikut denganku seorang laki-laki yang baru saja menikah dan belum sempat mengumpuli istrinya (padahal dia ingin); dan orang yang membangun rumah dan belum memasang atapnya; serta orang yang membeli kambing atau unta-unta bunting dan dia sedang menanti kelahiran anak-anaknya.'

Kemudian, berangkatlah Nabi itu dengan pengikutnya.

Tatkala rombongan telah mendekati daerah yang dituju, kira-kira pada waktu Ashar (di hari Jumat), Nabi itu berkata kepada matahari, 'Sesungguhnya engkau diperintah, dan aku pun diperintah.' (Lalu Nabi itu berdoa), 'Ya Allah, tahanlah dia untuk kami!' Maka tertahanlah matahari itu, dan Allah pun memberikan Nabi itu kemenangan atas daerah tersebut.

Maka dikumpulkanlah harta ghanimah. Tiba-tiba datanglah api hendak memakan ghanimah itu, namun tidak jadi dimakannya. Nabi itu pun bersabda, 'Di antara kalian pasti ada pengkhianat. Maka, berbaiatlah kepadaku, setiap kabilah diwakili oleh satu orang!'

Berbaiatlah semua wakil. Mendadak tangan seseorang melekat di tangan beliau. 'Pasti di antara (kabilah)mu ada pengkhianat, karena itu kabilahmu harus berbaiat kepadaku!' Ternyata dua atau tiga orang dari kabilah itu, tangannya melekat di tangan Nabi. 'Kalianlah pengkhianat itu!' kata Nabi tersebut. Kemudian mereka mengeluarkan kepala seperti kepala sapi betina, yang terbuat dari emas. Setelah emas itu diletakkan, datanglah api memakannya.

Maka ghanimah tidak dihalalkan kepada seorang Nabi pun sebelum kita. Kemudian Allah menghalalkan ghanimah untuk kita, karena melihat kelemahan dan kerapuhan kita, lalu dihalalkanlah ghanimah bagi kita.''

Siapakah Nabi yang dimaksud di dalam hadits tersebut? Dialah Yusya' nin Nun. Sebagaimana hadits yang tersebut di awal: "Sesungguhnya matahari tak pernah ditahan (terbit) untuk siapa pun kecuali bagi Yusya' pada malam-malam menuju Baitul Maqdis."

Jumat, 13 September 2019

Lesehan JAN: The Two That Accompany


Ikuti Lesehan Jum'at JAN

Learning From The Best Youth #6

Tema khusus: The Two that Accompany 

13 September 2019

JUM`AT jam 16.00 - 17.25

♀ Pembicara:
Fatan Fantastik (@emfatan)

Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi Arabika “Specialty”
Buletin NAH!

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN* (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)

Cara daftarnya mudah.
Bisa langsung via WA dengan format _Nama_Alamat_ kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN


Info dan Pendaftaran: 085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS!(PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:

085600176738 atau 085329686654
Instagram: @buletinnah@jantraining


Sebarluaskan, ajak saudara dan kawan-kawan tersayang

Rabu, 11 September 2019

LESEHAN JUM’AT JAN: MARYAM IS THE BEST IN BOTH


Oleh: TIM JAN
Maryam dalam Firman-Nya

Inilah Al-Quran, sebaik-baik petunjuk bagi umat manusia. Allah tunjukkan di dalamnya kisah seorang wanita terbaik. Dialah Maryam. Maka, untuk mencermati lebih detail, bagaimana Al-Quran menuturkan kisah Maryam, silahkan buka QS. Ali-Imran ayat 33-47. Selain itu, surat Maryam juga menjadi penting untuk mencermati tentang wanita terbaik dunia akhirat ini.

Di bawah ini akan kami sampaikan, sedikit tentang wanita yang mulia ini.

Nasab dan Keluarga

Inilah Maryam. Muhammad bin Ishaq menyebutkan bahwa nama Maryam secara lengkap adalah Maryam binti Imran bin Basyam bin Amru bin Amun bin Maisya bin Hazqia bin Ahriq bin Mautsam bin Azaziah bin Amshia bin Yawisy bin Ahrihu bin Yazim bin Yahfasyath bin Eisya bin Iyan bin Raj’an bin Dawud.

Maka dari sini kita tahu bahwa Maryam adalah keturunan Nabi Dawud. Ayahnya bernama Imran. Sedangkan ibunya bernama Hanah binti Faqudz bin Qabil. Sementara itu Maryam diasuh oleh Zakariya, dialah Nabiullah.

Bicara Hanah, kita perlu mengenal sosok wanita mulia ini. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan Hanah adalah seorang yang belum pernah hamil. Pada suatu hari ia melihat seekor burung memberi makan anak-anaknya, maka ia pun menginginkan seorang anak. Lalu ia berdoa kepada Allah agar memberinya seorang keturunan. Lalu Allah mengabulkan keinginannya. Setelah ia benar-benar hamil, ia pun menazarkan agar anaknya menjadi anak yang tulus beribadah dan berkhitmad di Baitul Maqdis.

Isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".
Inilah orang-orang yang berada di sekeliling Maryam. Merekalah keluarga Maryam. Mereka orang-orang shalih yang menjadi pilihan Allah Ta’ala.

Maryam di Atas Semua Wanita

(Ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).

Ibnu Katsir menjelaskan inilah berita dari Allah Ta’ala, tentang apa yang disampaikan Malaikat kepada Maryam. Yakni perintah Allah kepada Malaikat untuk menyampaikan bahwa Dia telah memilih Maryam karena banyaknya ibadah yang ia lakukan, kezuhudan, kemuliaan, dan kesuciannya dari kotoran serta bisikan syaitan, dan Allah telah memilihnya atas semua wanita di muka bumi ini.

Dari Ibnu Abbas, dia menuturkan, “Rasulullah membuat empat garis di tanah lalu berkata, ‘Tahukah kalian apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Beliau bersabda, ‘Wanita penghuni surga yang terbaik adalah, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiah binti Muzahim, istri Fira’un.

Keutamaan Maryam satu di antaranya Allah tunjukkan dengan adanya undian untuk menentukan siapa yang akan memelihara Maryam. Orang-orang saling berebut untuk mendapatkan hak memelihara Maryam. Semua itu mereka lakukan lantaran keinginan mereka untuk mendapatkan pahala.

Pada saat itu ibu Maryam membawa Maryam keluar kepada Bani Al-Kaahin bin Harun, saudara Musa. Mereka ini adalah penjaga Baitul Maqdis. Lalu Hanah mengatakan, “Ambilah nadzarku ini, aku ingin menunaikannya. Dia adalah putriku. Aku tidak bisa masuk karena karena wanita haid tidak bisa masuk ke tempat ibadah. Dan aku tidak akan mengembalikannya ke rumahku.”

Mereka menjawab, “Ini adalah putri imam kami; Imran (saat itu Imran imam shalat mereka), orang yang telah berkorban untuk kami.”

Zakariya berkata, “Serahkanlah anak perempuan itu kepadaku, karena bibinya adalah istriku.”

Akhirnya, untuk menentukan siapa yang akan mengasuh Maryam mereka pergi ke sungai Yordania. Lalu mereka melempar pena-pena mereka ke sungai. Maka siapa yang penanya tidak terbawa arus dialah yang akan mengasuh Maryam.  Mereka pun melemparnya, lantas pena milik Zakariya yang tidak terbawa arus.

Inilah ketetapan Allah untuk menentukan siapa sebaik-baik orang yang akan mengasuh Maryam. Dialah Zakariya, Zakariya adalah pemimpin Bani Israil yang dijadikan sebagai tempat mengadukan berbagai masalah agama mereka.

Di Mihrab Dia Bersujud

Zakariya merawat dan mengasuh Maryam dengan penuh kasih sayang. Zakariyalah yang memberikan pendidikan kepada Maryam. Dia pula yang mengantar makanan dan segala keperluan  kepada Maryam di dalam mihrabnya.

Zakariya menempatkan Maryam di sebuah tempat mulia di masjid, yang itu berada di Baitul Maqdis. Di sana Maryam beribadah kepada Allah dan menjalankan kewajiban mengurus Masjid ketika gilirannya tiba. Maka, sampai pada tingkatan Maryam menjadi ikon ahli ibadah di kalangan Bani Israil. Karena Maryam seorang wanita yang senantiasa beribadah siang dan malam.

Ada kejadin aneh yang Zakariya dapati di dalam Mihrabnya Maryam. Tatkala masa sulit mendapatkan makakan, setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di Mihrab, dia dapati makanan di sisinya.  Zakariya dapati di sana terdapat buah-buahan musim panas pada musim dingin dan buah-buahan musim dingin pada musim panas.

Zakariya bertanya, “Wahai Maryam, darimana engkau memperoleh makanan ini?

Maryam menjawab, “Makanan ini dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa saja yang dikehendakinya.”

Dari sinilah Zakariya mendapatkan inspirasi untuk memohon keturunan kepada Allah Ta’ala. Hal ini dapat kita lihat dari doa yang beliau panjatkan, “Wahai dzat yang memberikan Maryam buah-buahan yang tidak pada musimnya! Karuniakan kepadaku anak meski tidak pada waktunya.”

Ibunda Dari Lelaki Sampai Akhir Zaman

Maryam bukanlah pezina. Bukan pula wanita yang dengan mudahnya para lelaki menyentuhnya. Maryam adalah wanita suci dan senantiasa menjaga kehormatan dirinya. Maryam adalah seorang wanita yang antara dia dengan kaumnya terdapat hijab. Maka benar-benar terjagalah kesucian Maryam.

Allah Ta’ala menunjukkan kuasa-Nya kepada hamba-Nya. Allah berikan kabar gembira kepada Maryam melalui Malaikat Jibril, bahwa dia akan melahirkan seorang anak. Bukan hal yang mustahil bagi Allah, itu merupakan perkara yang mudah. Anak yang tercipta dengan kalimat dariNya, yaitu Allah berkata kepadanya, “Jadilah, maka jadilah dia.” Allah kabarkan, bahwa namanya Al-Masih ‘Isa putera Maryam. Dinisbatkan kepada ibunya karena memang ‘Isa tidak memiliki bapak. Seseorang yang mulia di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang yang didekatkan kepada Allah.

Referensi;
Ibnu Katsir, Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2, 2006, Jakarta; Pustaka Ibnu Katsir
Ibnu Katsir, Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5, 2006, Jakarta; Pustaka Ibnu Katsir
Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi; Kisah 31 Nabi Dari Adam Hingga Isa, 2013, Jakarya Timur; Ummul Qura
Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., MA., Kisah Para Rasul Alaihimussalam 3, 2017, Yogyakarta; Itqan Publising