Sabtu, 21 September 2019

CINTA PALING TINGGI DALAM HATI


Oleh: Deniz Dinamiz 

Ketika di hati kita ada perasaan cinta kepada pasangan jenis, sering kita jadi berfikir, ”Apa yang harus kulakukan?” Dibiarkan, masih terasa. Dijauhkan, masih terasa juga. Didekatkan, wah, makin menjadi-jadi! Terus, bagaimana ini!?

Kalau rasa itu kita pandang sebagai tanaman, perasaan itu bisa tumbuh berkembang sembarang tak karuan. Itu karena dia tidak dijaga. Kalau dijaga, kita tahu kapan harus memangkas pohon cinta dalam kebun hati kita. Ketika pohon cinta itu sudah terlanjur tumbuh, maka sulit dibunuh. Maka pangkaslah secara teratur. Pangkaslah pohon cinta dengan menghentikan perilaku yang bisa menumbuhkan cinta yang tak diridhoi Ilahi.

Di antara yang membuat cinta tumbuh tak karuan adalah berbicara berdua tanpa teman, menatap lama-lama apalagi berbalasan, bercanda berlebihan yang cenderung menggoda, dan bahkan “sekedar” japri yang berkesan bagi si dia. Ada kalanya seseorang merasa lebih nyaman untuk mengekspresikan diri melalui sosmed  daripada bertatap muka. Pesan yang “tidak biasa” pasti pengaruhnya luar biasa!
Lalu bagaimana? Bukankah wajar Allah sudah menciptakan hati untuk merasakan? Ya. Syeikh Ali At-Tonthowy pun mengiyakan. Jelasnya, beliau menyampaikan bahwa ada dua hal suci yang patut kita perhatikan. Yang pertama adalah cinta dalam hati. Yang kedua adalah iman dalam dada. Sungguh beruntung mereka yang memiliki dua kesucian ini pada dirinya. Pohon cinta yang tumbuh dari akar iman yang menghunjam.

Hati-hati dengan hati kita. Apa yang kita sukai belum tentu yang Allah ridloi. Dan apa yang Allah ridloi, suka atau tidak suka adalah yang terbaik buat kita. Bilakah yang dilarang itu justru dianjurkan? Kapankah pohon cinta harus dipelihara dan senantiasa disiram? Ketika pohon cinta itu tumbuh dari benih yang disebut cinta kepada Ilahi.

Berbahagialah mereka yang hidup untuk mencari cinta Allah. Mereka mendapatkan nikmat dan karunia. Mereka terhindar dari bencana. Mereka tidak akan merugi selamanya.
“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhoan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Q.S Ali Imron ayat 174)

Dan ingatlah, Allah janjiNya pasti. Tidak seperti manusia yang belum tentu mampu memenuhi janjinya kepada orang lain. Yakinlah bahwa Allah tidak mungkin ingkar janji.

“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (Q.S. Ar-Rum ayat 60)

Nah, kalau kita sungguh-sungguh mencintai Allah, maka cinta kita kepada siapapun akan karena Allah. Kita berusaha agar Allah ridho dengan alasan dan cara kita mencintai orang lain. Sudah selayaknya kita berusaha, agar cinta kepada Allah menempati posisi tertinggi di dalam hati. Semoga Allah menjaga, agar hati kita senantiasa mencintaiNya, melebihi apapun jua.

Sumber: Buletin Nah edisi Muharram 1441 H 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar