Jumat, 06 September 2019

(Resume) The Cave`s Youths



Apakah engkau menduga bahwa hanya kisah pemuda Kahfi yang menjadi mulia karena gua? Tidak hanya mereka.

 Ingatkah kita ketika Rasulullah ShallaLlaahu 'alaihi wa sallam bersama Abu Bakar di dalam gua? Allah kirimkan satu di antara pasukanNya, yaitu laba-laba, untuk membuat jala-jala sehingga menutupi pintu gua. Kafir Quraisy pun berfikiran Rasulullah yang hendak mereka bunuh, tidak ada di dalam gua. Padahal “kematian” teramat dekat di saat kafir Quraisy di dekat gua.

Saat Abu Bakar melihat kaki-kaki mereka, sehingga beliau berbisik kepada NabiyuLlah tercinta: “Wahai Rasulullah, sekiranya mereka melihat ke bawah telapak kakinya, pasti akan melihat kita.” Nabi menjawab dengan penuh keyakinan, “Wahai Abu Bakar apa yang kamu kira bahwa kita ini hanya berdua? Ketahuilah, yang ketiganya adalah Allah yang melindungi kita.” Keduanya pun selamat, karena pertolonganNya.

Gua selanjutnya yang membuat penghuninya mulia adalah pemuda Kahfi. Pemuda-pemuda utama yang dikisahkan di dalam Surat Al-Kahfi sebagai jawaban atas pertanyaan dari orang jahil kepada Rasulullah. Kenapa mereka disebut jahil? Bukan hanya karena mereka tidak beriman kepada Allah, tapi benar-benar bodoh.

Apa saja pertanyaan mereka? Pertama tentang kabar para pemuda terdahulu, kedua tentang kabar seorang pengembara yang berjalan ke sana dan kesini, dan ketiga adalah tentang ruh.

Jawaban itu tidak segera dibawa oleh Jibril kepada Rasulullah karena ketika beliau ditanya tidak mengatakan InsyaaAllaah. Ditunggu-tunggu, Jibril tidak segera datang sehingga kafir Quraisy semakin menghina dan mencela Rasulullah. Setelah lima belas hari kemudian, Jibril kemudian membawakan jawaban.

Selama tiga ratus tahun syamsyiah atau tiga ratus sembilan qomariyah para pemuda yang jumlahnya tujuh (tafsir Ibnu Katsir) tersebut tidur. Tidur di dalam gua yang mereka kira hanya setengah hari saja.

Pemuda Al-Kahfi lari dari kehinaan menuju gua kemuliaan. Lari dari kesyirikan menuju cahaya keimanan. Lari kemudian tidur selama beratus-ratus tahun hingga kondisi masyarakat mereka sudah dalam keimanan.

Sungguh, ruh itu berkumpul menurut “jenisnya”. Ruh para pemuda Al-Kahfi itu “jenisnya” sama. Mencintai keimanan. Membenci kesyirikan. Semua manusia oleh Allah dipersaudarakan karena Islam. Dan orang-orang yang beriman menjadi mulia, biasanya muncul dari nasab yang baik. Termasuk Rasulullah. Muncul dari nasab terbaik. Menikah dengan cara terbaik (tidak zina).

Pemuda Al-Kahfi (menurut suatu riwayat) adalah anak-anak pangeran yang menjadi mulia karena dua hal. Lari dari gelapnya kesyirikan menuju gua keimanan dan tidur di dalamnya. Di dalam gua yang sekarang bisa kita datangi yakni sekitar Yordania. Tanah Syams. Tanah yang diberkahi. Tanah yang siapapun menguasainya, ia berkuasa atas dunia. Tanah yang di dalamnya ada pusat barakah dunia; Baitul Maqdis.

Kita tidak perlu mengenal nama mereka. Yang kita tahu, mereka beriman dan selalu menghubungkan jiwanya kepada Allah. Termasuk nama-nama tiga penghuni gua yang terjebak di dalamnya, dan Allah tolong bersebab amal-amal kebaikan mereka.

Lalu, bagaimana dengan “gua-gua” zaman sekarang? Perlulah kita mencarinya. Yang di dalamnya kita bisa “lari” dari keburukan menuju kemuliaan. Yang di dalamnya kita lakukan banyak kebaikan. Termasuk menghubungkan diri dengan Baitul Maqdis.

 Menguatkan “kekuatan” sebagaimana usia utama sebagai pemuda. Sambil minum qohwah (yang berasal dari kata "quwwah" yakni kekuatan) bersama mereka-mereka yang kita yakini jenis ruhnya sama. Bismillah …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar