Senin, 16 September 2019

The Fatih of Baitul Maqdis (4)



Oleh: M Fatan A. Ulum

Dalam Riyadhush Shalihin, di bab tentang "Kejujuran", Imam an-Nawawi mencantumkan satu hadits shahih dari Al-Bukhari & Muslim. Hadits ini dari Abu Hurairah, dia menuturkan bahwa Rasulullah menyampaikan sebuah kisah:

"Ada seorang Nabi akan berangkat berperang, lalu berkata kepada kaumnya: 'Tidak boleh ikut denganku seorang laki-laki yang baru saja menikah dan belum sempat mengumpuli istrinya (padahal dia ingin); dan orang yang membangun rumah dan belum memasang atapnya; serta orang yang membeli kambing atau unta-unta bunting dan dia sedang menanti kelahiran anak-anaknya.'

Kemudian, berangkatlah Nabi itu dengan pengikutnya.

Tatkala rombongan telah mendekati daerah yang dituju, kira-kira pada waktu Ashar (di hari Jumat), Nabi itu berkata kepada matahari, 'Sesungguhnya engkau diperintah, dan aku pun diperintah.' (Lalu Nabi itu berdoa), 'Ya Allah, tahanlah dia untuk kami!' Maka tertahanlah matahari itu, dan Allah pun memberikan Nabi itu kemenangan atas daerah tersebut.

Maka dikumpulkanlah harta ghanimah. Tiba-tiba datanglah api hendak memakan ghanimah itu, namun tidak jadi dimakannya. Nabi itu pun bersabda, 'Di antara kalian pasti ada pengkhianat. Maka, berbaiatlah kepadaku, setiap kabilah diwakili oleh satu orang!'

Berbaiatlah semua wakil. Mendadak tangan seseorang melekat di tangan beliau. 'Pasti di antara (kabilah)mu ada pengkhianat, karena itu kabilahmu harus berbaiat kepadaku!' Ternyata dua atau tiga orang dari kabilah itu, tangannya melekat di tangan Nabi. 'Kalianlah pengkhianat itu!' kata Nabi tersebut. Kemudian mereka mengeluarkan kepala seperti kepala sapi betina, yang terbuat dari emas. Setelah emas itu diletakkan, datanglah api memakannya.

Maka ghanimah tidak dihalalkan kepada seorang Nabi pun sebelum kita. Kemudian Allah menghalalkan ghanimah untuk kita, karena melihat kelemahan dan kerapuhan kita, lalu dihalalkanlah ghanimah bagi kita.''

Siapakah Nabi yang dimaksud di dalam hadits tersebut? Dialah Yusya' nin Nun. Sebagaimana hadits yang tersebut di awal: "Sesungguhnya matahari tak pernah ditahan (terbit) untuk siapa pun kecuali bagi Yusya' pada malam-malam menuju Baitul Maqdis."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar