Kamis, 19 September 2019

THE TWO THAT ACCOMPANY

Oleh: TIM JAN

Al-Quran Menerangkan Dua Wanita yang Menemani
Inilah dua wanita yang menemani Nabi Allah Musa alaihissalam. Mereka wanita luar biasa yang Allah tunjuk sebagai pendamping Musa dalam berdakwah. Kakaknya Musa dan putri Syu’aib wanita pilihan tersebut.

Dalam tulisan ini, kita hanya akan membahas tentang putri dari Syu’aib. Untuk memahami siapa wanita itu, dan betapa mulianya mereka, lalu kita bisa mengambil pelajaran dari mereka, maka buka lembaran mushaf kalian. Tengok mereka dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash. Cermati QS. Al-Qashash ayat 21-32 untuk mengetahui rentetan kisah putri Syu’aib.

Dua Putri Syu’aib
Di dalam Al-Quran nama wanita ini tidak disebutkan. Begitu pula siapa nama bapaknya. Yang disebutkan dengan jelas tempat tinggal mereka yaitu negeri yang bernama Madyan. Dijelaskan oleh As-Sa’di dalam Tafsirnya bahwa bapak wanita ini adalah penguasa  negeri Madyan. Lalu siapa bapak wanita tersebut? Prof Yunahar Ilyas dalam kitabnya Kisah Para Rasul jilid 2 menyebutkan bahwa sebagian Mufassir menyatakan  nama bapak mereka adalah Nabi Syu’aib alaihissalam.

Namun beda hal dengan Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam menafsirkan siapa bapak wanita tersebut, beliau menjelaskan bahwa Syu’aib yang dimaksud bukanlah Nabi Syu’aib yang kita kenal. Beliau menyampaikan beberapa alasannya. Pertama,  tidak adanya informasi bahwa Musa mengalami masa yang sama dengan Nabi Syu’aib. Kedua, kalau sekiranya lelaki yang dimaksud adalah Nabi Syu’aib tentu Allah menyebutnya dan tentu gadis tersebut menyebut namanya. Ketiga, Allah telah musnahkan kaum Nabi Syu’aib karena telah mendustakannya. Keempat, jika kedua wanita itu adalah putri Nabi Syu’aib, tentu para lelaki yang menggembalakan kambing itu tidak akan menghalang-halangi dua putri nabi. Sekiranya empat ini cukup untuk memberikan penjelasan bahwa Syu’aib yang dimaksud bukanlah Nabi Allah. Untuk lebih detailnya silahkan cek penjelasan As-Sa’di dalam menafsirkan QS. Al-Qashash ayat 28. Ibnu Katsir pun mengatakan, “Sesungguhnya kalau seandainya lelaki itu adalah Nabi Syu’aib  tentu Al-Quran menyebutkan nama aslinya.” Wallahu a’lam.

Pekerjaan Mulia Dua Putri Syu’aib
Inilah kemuliaan yang dimiliki oleh dua wanita ini. Allah abadikan perbuatan keduanya yang tentu sangat mulia. Allah berfirman,    

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya". (Al-Qashash: 23)

Menggembalakan ternak menjadi pekerjaan dua wanita ini. Sebuah pemandangan yang tidak biasa. Yang menjadi pertanyaan, apa yang menjadikan mereka melakukan tugas yang sering dilakukan oleh kaum lelaki itu? Lihat jawaban wanita itu, “sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” As-Sa’di menafsirkan, maksudnya bapak mereka sudah tidak mempunyai kekuatan untuk meminumkan ternaknya. Sedangkan Ibnu Katsir menjelaskah bagian ini dengan mengatakan, “Inilah yang memaksa kami dalam keadaan seperti yang engkau (Musa) lihat.”

Budi Ashari dalam kitabnya Remaja, Antara Hijaz dan Amerika mengomentari pekerjaan wanita tersebut, beliau mengatakan, “Dua orang pemudi yang harus melakukan pekerjaan laki-laki karena ayahnya sudah tua. Bakti, tanggung jawab, kuat, sabar, menjaga kehormatan, dan berakhlak.” Maka dari sini kita jadi tahu, bahwa pekerjaan yang mereka berdua lakukan adalah bentuk baktinya seorang anak kepada orang tuanya. Mereka sedang birrul walidain.

Wanita dan Sifat Malu
Tatkala mereka berdua sudah pulang. Bapaknya menyuruh salah seorang dari mereka menemui Musa untuk mengundangnya ke rumah.  Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan malu-malu.” Maksudnya gaya berjalannya gadis ini seperti wanita-wanita merdeka,  bukan seperti budak yang umumnya kurang sopan. Ini sesuai dengan riwayat yang bersumber dari Umar bin Khaththab, dia berkata, “Dia datang berjalan dengan malu-malu seraya menutupi wajahnya dengan bajunya. Dia bukanlah wanita yang berani seenaknya keluar masuk jalan.” Atsar ini diriwayatkan oleh Ath-Thabari yang memiliki sanad yang shahih.

Bahkan kalimat yang dia ucapkan ketika mengundang Musa menunjukkan bahwa wanita ini memanglah berbudi pekerti yang luhur. Dia benar-benar memiliki rasa malu yang tinggi. Dia berkata, Sesungguhnya bapakku memanggilmu agar dia  memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.  Artinya untuk memberikan upah kepada Musa atas bantuan yang telah diberikan. Menurut Ibnu Katsir perkataan ini memiliki nilai kesopanan yang tinggi dalam mengungkapkan maksud. Dia tidak menyuruhnya datang ke rumah secara mutlak, agar menepis anggapan yang tidak-tidak.

Sekali lagi ini menunjukkan keluhuran jiwa dan akhlaknya yang mulia, sebab rasa malu itu termasuk akhlak yang terpuji, terutama bagi kaum wanita.

 Dialah Wanita Yang Paling Peka Firasatnya

Ketika Musa telah bertemu dengan bapak mereka, kemudian Musa menceritakan semua kejadian yang dia alami, salah seorang dari wanita itu mengatakan, Wahai bapakku amlillah dia sebagai orang yang bekerja (kepada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja kepada kita adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’

Berdasar penafsiran Ibnu Katsir ketika salah seorang putrinya mengusulkan demikian, ayahnya berkata, “Apa yang kamu ketahui tentang dia?” Anaknya menjawab, “Dia mampu mengangkat batu besar yang hanya bisa diangkat  oleh sepuluh orang laki-laki dan juga ketika aku ingin berjalan di depannya, dia berkata kepadaku, ‘Kamu harus berjalan di belakang! (tidak boleh di depan laki-laki). Bila jalan yang aku tempuh itu salah, lempar saja aku dengan kerikil, supaya aku bisa berjalan ke rumahmu sesuai dengan jalan yang benar.’”

Sungguh wanita ini bukanlah wanita sembarangan. Salah seorang dari mereka (dialah yang nanti jadi istrinya Musa) pernah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Manusia yang paling peka firasatnya ada tiga, Abu Bakar ketika melihat kepribadian Umar yang luhur (saat menunjuk sebagai khalifah), Al-Aziz yang berkata berkata kepada istrinya (Zulaikha), ‘Berikanlah kepadanya tempat (dan pelayanan) yang baik’ (Yusuf: 21) dan putri Syu’aib yang berkata kepada bapaknya,  Wahai bapakku amlillah dia sebagai orang yang bekerja kepada kita, sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja kepada kita adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’”

Senantiasa Menyertai Suaminya
Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan Dia berangkat dengan keluarganya. Telah usai kesepakatan Musa dengan Syu’aib, yaitu kesepakatan menyempurnakan bekerja kepada keluarga istrinya; yaitu selama sepuluh tahun. Sudah cukup lama Musa berpisah dengan keluarganya. Para Ulama mengatakan bahwa Musa sangat rindu kepada keluarganya di Mesir. Dia bertekad untuk bertemu mereka secara sembunyi-sembunyi. Dia mengajak keluarganya untuk ikut ke Mesir.

Dia pun menempuh perjalanan di malam hari yang sangat gelap dan dingin. Lalu dia singgah disebuah tempat. Setiap kali dia menyalakan api, selalu saja padam dan tidak mau menyala. Dilihatnyalah api di lereng gunung. Da berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), Sesungguhnya aku melihat api, Mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan".
Inilah awal pengutusan Musa menjadi seorang Nabi. Istrinya menyertai Musa menuju ke Mesir. Maka layaknya seorang wanita, kemuliaan bagi mereka adalah memberikan pelayanan kepada suaminya, bahkan menyertai suaminya dalam berdakwah.

Referensi:
1.       Ibnu Katsir, Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6, 2006, Jakarta; Pustaka Ibnu Katsir.
2.       Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Tafsir Al-Quran, 2015, Jakarta; Darul Haq.
3.       Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., MA., Kisah Para Rasul Alaihimussalam 2, 2017, Yogyakarta; Itqan Publising
4.       Budi Ashari, Remaja Antara Hijaz dan Amerika,2016, Depok; Pustaka Nabawiyah.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar