Rabu, 30 Oktober 2019

PUBLIKASI LESEHAN JUMAT JAN: THE ISLAM INVITERS



Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Qs. Fushilat: 33)

Ya. Mereka berusia muda, baik perkataan dan mulia pekerjaannya dan punya kedudukan utama di mataNya. Siapa saja mereka?

Ikuti:
Lesehan Jum`at JAN
On Pursuing The Prime Youths #5
Merunut Jejak Hebat Para Sahabat

Tema: 
The Islam Inviters

Waktu:

JUMAT, 1 November 2019
 jam 16.00 - 17.25

Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi Arabika “Specialty”
Buletin NAH!

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah:
Bisa langsung via WA dengan format Nama_Alamat kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran:
085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:
085600176738 atau 085329686654
t.me/buletinnah
Twitter: @buletinnah@JANtraining
Instagram: @buletinnah@jantraining
buletinnah.com

Sebarluaskan, ajak saudara, dan kawan-kawan tersayang 


Minggu, 27 Oktober 2019

Resume: The Ma`rifah Seekers #2


Lain halnya seorang Professor yang ketika membaca surat Al-Isra` ayat pertama. Sebuah kata “khaula” menjadi inspirasi yang sangat menarik sehingga sampai saat ini beliau meneliti daerah mana yang termasuk “khaula” atau sekitar Masjidil Al-Aqsha yang mendapatkan berkahnya? Maka, kabar yang sangat indah dari hasil “Ma`rifah” beliau bahwa siapapun dan dimanapun yang menghubungkan dirinya dan jiwanya kepada Masjid Al-Aqsha akan mendapatkan berkah dari Masjid Al-Aqsha. Sudah kenal dengan Professor asli orang Palestina ini? Prof Abdul Fattah el-Awaisi.

Begitu pula dengan Kyai Haji Ahmad Dahlan ketika ditanya oleh para jamaahnya tentang alasan mengapa yang diajarkan dari pertemuan-pertemuan sebelumnya sampai saat itu adalah Surat Qur`an Al-Ma`un. Alasan beliau adalah tidak ada adanya perubahan amal pada jamaah setelah mengaji Al-Ma`un. Mulai dari, “Sudahkah mengenal anak yatim di sekitar kita dan tidak menghardiknya?”, “Sudahkah memberi makan orang miskin?” “Sudahkah tidak membentak orang yang meminta-minta?”

Sungguh, Ma`rifah adalah bukan sekedar tahu, tapi sadar sehingga menjadikan adanya perubahan amal. Termasuk pada Ma`rifah Masjid Al-Aqsha. Di manakah Masjid Al-Aqsha? Berapa luas Masjid Al-Aqsha? Kalau kita belum bisa menjawab atau menjawab tetapi jawaban kurang tepat, berarti pikiran kita terjajah. Bencana besar yang sesungguhnya bukan pada pembantaian yang terjadi, tetapi bencana besar itu adalah hilangnya pemahaman/ Ma`rifah terhadap Al-Aqsha dan Baitul Maqdis.

Semakin seseorang memiliki Ma`rifah yang benar, hati makin lapang. Sebagaimana Imam Syafi`i ketika mendapati satu ayat dari Surat Maryam: 64. Menjadi alat panah yang menembus jantung sehingga menjadi sumber utama ketenangan. “Dan tidaklah Rabbmu lupa.” (QS. Maryam: 64).

Resume: The Ma`rifah Seekers #1


Ilmu yang membawa kepada kesadaran yang benar. Inilah Ma`rifah. Kenapa kesadaran yang benar? Karena ilmu yang dipelajari memang benar.

Ma`rifah akan membawa pemiliknya pada amal. Bukanlah Ma`rifah, kalau tidak membawa seseorang pada amal. Bukanlah Ma`rifah, kalau sekadar pengetahuan tidak berujung pada amal. Contohnya, ada orang yang hafalan Al-Qur`an, tapi tidak berubah perilakunya seperti yang tertulis di dalam Al-Qur`an.

Maka, pada judul di Lesehan Jum`at JAN yakni “The Ma`rifah Seekers”, kita akan membahas tentang “pencari ilmu yang membawa pada kesadaran”. Ma`rifah ini dalam konteks Islam. Yang mereka cari adalah ilmu yang benar sesuai versi Islam.

Ingatkah kita pada seorang sahabat yang memiliki gelar Amirul Mukminin? Bukan Abu Bakar, bukan Ali bin Abu Thalib, bukan pula Rasulullah. Dialah Umar bin Khattab. Yang bertanya kepada Ibnu Abbas tentang surat “idzajaa a nashrullahi wal fath”. Pertanyaan yang cerdas kepada orang yang tepat. Sehingga pantaslah beliau digelari sebagai Amirul Mukminin.

(Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma) menjawab, ”Itu adalah (kabar tentang) ajal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukannya kepada beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “idza ja`a nashrullahi wal fath”. Dalam keadaan seperti itu terdapat tanda ajalmu, maka bertasbihlah dan mintalah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat.” ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu berkomentar: “Tidaklah yang kuketahui darinya (surat itu), kecuali apa yang engkau sampaikan”.

Sabtu, 26 Oktober 2019

Awalan Tentang "The World Avoiders"



Kita perlu tahu bahwa Sunnah Rasulullah bukan sekadar bagaimana cara berpakaian, cara masuk kamar mandi, tapi ada Sunnah tentang pembebasan Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsha.

Ada pesan penting dari Umar bin Khattab kepada Abu Ubaidah bin Jarrah ketika memimpin pasukannya dalam pembebasan Baitul Maqdis.

"Jangan sampai engkau membawa pasukanmu terlena pada dunia, cinta pada harta rampasan!"

Mendekat dengan keberkahan Baitul Maqdis adalah dengan Zuhud. Dengan tidak cinta pada dunia. Dan merekalah "The World Avoiders". Bagaimana penjelasan setelahnya? Tunggu di resume Lesehan Jum'at JAN ya.

#baitulmaqdis #OnPursuing #ThePrimeYouths #latepost

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN: THE WORLD AVOIDERS #3


Perlu Tali Kekang Agar Tidak Terperdaya Dunia

Setidaknya ada dua hal yang menjadikan seseorang mampu menahan syahwat dan hawa nafsunya dalam perkara dunia. Pertama, takut kepada Allah. Kedua, menganggap besar dosa. Kita cermati bagaimana takutnya para shahabat serta bagaimana pandangan mereka terhadap dosa.

Kita mulai dari yang pertama, namanya Abdullah bin Handzalah. Suatu ketika dia mendengar seorang membaca firman Allah, “Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka)” (QS. Al-A’raf: 41).

Sontak dia menangis, hingga orang-orang mengira jiwanya akan keluar. Lalu, dia bangkit berdiri. Orang-orang berseru, “Wahai Abu Abdurrahman, duduklah kamu.” Abdullah berkakata, “Ketika neraka jahannam disebutkan, pantang untuk duduk. Aku tidak tahu, bisa saja aku termasuk salah seorang dari penduduk neraka itu.” Meski demikian, para shahabat tidak hanya mengedepankan rasa takut, mereka menghimpun antara rasa takut (khauf) dan harapan (raja’).

Berikutnya pandangan para pemuda shahabat terhadap dosa. Anas bin Malik berkata, “Kalian melakukan amalan-amalan yang menurut kalian lebih lembut dari sehelai rambut, tetapi bagi kami pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam amalan itu termasuk hal-hal yang membinasakan.” Pernyataan serupa disampaikan oleh pemuda shahabat lain, Abu Sa’id Al-Khudri. Anas dan Abu Sa’id menyampaikan perbandingan itu kepada para tabi’in. Padahal, tabi’in adalah satu di antara generasi terbaik. Mereka satu masa setelah para shahabat. Kira-kira, dosa seperti apa yang para tabi’in anggap seperti sehelai rambut? Lantas apa komentar Anas dan Abu Sa’id jika melihat generasi sekarang ini?

Ad-Duwaiys menegaskan, menganggap besar dosa ini akan melahirkan tindakan memohon ampun dan bertaubat kepada Allah agar terhindar dari bencana dosa tersebut. Selanjutnya, akan melahirkan energi dahsyat yang membantu seseorang mengalahkan syahwat  dan hawa nafsunya terhadap dunia.


Referensi:
1.       Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tafsir Al-Quran, 2015, Jakarta: Bandung.
2.       Musthofa Dib Al-Bugha, dkk, Syarah Riyadush Shalihin Jilid 1, 2011, Yogyakarta; Darul Uswah.
3.       Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy, Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga, 2019, Solo; Zam-Zam.

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN: THE WORLD AVOIDERS #2



Oleh: Tim JAN 

Inilah Zuhud

Dari Sahal bin Sa’ad, dia menuturkan, “Ada lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang apabila aku lakukan maka aku akan dicintai Allah dan disegani orang-orang.”

Beliau bersabda, “Berlaku zuhudlah di dunia, tentu engkau dicintai Allah; dan berzuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh orang-orang, tentu engkau akan dicintai oleh orang-orang.” Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad hasan.

Dalam bahasa hadits di atas disebutkan izhad (berlaku zuhudlah);  zuhud adalah tidak punya ambisi terhadap harta dan kesenangan duniawi agar dapat beribadah secara ikhlas kepada Allah.

Al-Bugha menjelaskan, bahwa zuhud bukan berarti kemiskinan, kehinaan, kerendahan diri dan kemalasan. Namun zuhud adalah pengendalian hati, pemeliharaan diri, serta pengorbanan dengan harta dan jiwa untuk kepentingan fiisabilillah.

Zuhudnya Para Pemuda Shahabat

Sifat zuhud menjadi pertanda bahwa seseorang telah menganggap remeh  dunia. Dunia ini tidak selalu perkara harta, melainkan semua kenikmatan semu yang mana harta menjadi satu di antaranya.

Kesaksian menarik disampaikan oleh Al Mufadhdhal, dia berkata, “Ahli zuhud kaum Anshar ada tiga; Abu Darda’, Syaddad bin Aus, dan Umair bin Sa’ad.”

Sedangkan dari kalangan Quraisy, Ibnu Mas’ud memberikan kesaksiannya, “Sungguh, pemuda Bani Quraisy yang paling mampu menahan dirinya adalah Abdullah bin Umar.” Jabir radhiyallahu ‘anhu juga memberikan kesaksian, “Tidak ada seorang pun  di antara kami yang mendapatkan kehidupan dunia melainkan dia cenderung kepadanya, terkecuali Ibnu Umar.”

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN: THE WORLD AVOIDERS #1



Oleh: TIM JAN

Perumpamaan Dunia dalam Al-Quran

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit. Lalu karena air itu, tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, tiba-tiba datanglah azab Kami kepadanya di waktu malam atau siang. Lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.” (QS. Yunus: 24)

Ini adalah satu di antara perumpamaan terbaik, pas dengan kehidupan dunia, karena kenikmatan, syahwat, kedudukan dan lain-lain menjadi indah –dalam waktu singkat saja-, jika dia telah lengkap dan sempurna maka dia terkikis dan terlepas dari pemiliknya atau pemiliknya terlepas darinya. Maka kedua tangannya hampa, hatinya penuh dengan kecemasan, kesedihan dan penyesalan karenanya. Demikian As-Sa’di menjelaskan dalam Tafsirnya.

Untuk apa Allah membuat permisalan-permisalan ini? Kita dengar penjelasan penting dari As-Sa’di dalam menjelaskan ayat, “…perumpamaan kehidupan dunia…,” Al-Kahfi ayat 45, Allah berikan perumpamaan kehidupan dunia ini agar manusia mengimajinasikan dengan benar dan mengetahui (seluk-beluknya) zahir dan batin, membandingkannya dengan kampung akhirat, dan mengutamakan manakah yang seharusnya diutamakan.

Lantas mana yang harus diutamakan manusia, dunia atau akhirat? “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64).

Nasihat indah Rasulullah dalam sebuah hadits panjang yang disampaikan Abdullah bin Mas’ud, “… Aku di dunia ini tidak lain hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian dia pergi dan meninggalkan pohon itu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan sanad hasan shahih.

Demikianlah dunia, penuh dengan kenikmatan yang menyenangkan jiwa lagi memalsukan, bahkan hanya sementara. Namun, negeri akhirat di sanalah puncak segala kenikmatan, berupa segala sesuatu yang membahagiakan hati dan segala kebutuhan tubuh; kekal adanya. Semua kenikmatan yang ada, belum pernah dilihat mata, tidak pula didengar telinga dan tidak pula terbetik dalam hati manusia. As-Sa’di menegaskan, inilah seruan yang Allah berikan agar manusia zuhud terhadap dunia dan merindukan negeri akhirat.

Jumat, 25 Oktober 2019

Teaser The World Avoiders


Oleh: A. Yusuf Wicaksono

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit. Lalu karena air itu, tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, tiba-tiba datanglah azab Kami kepadanya di waktu malam atau siang. Lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.” (QS. Yunus: 24)

Ini adalah satu di antara perumpamaan terbaik, pas dengan kehidupan dunia, karena kenikmatan, syahwat, kedudukan dan lain-lain menjadi indah –dalam waktu singkat saja-, jika dia telah lengkap dan sempurna maka dia terkikis dan terlepas dari pemiliknya atau pemiliknya terlepas darinya. Maka kedua tangannya hampa, hatinya penuh dengan kecemasan, kesedihan dan penyesalan karenanya. Demikian As-Sa’di menjelaskan dalam Tafsirnya.

Untuk apa Allah membuat permisalan-permisalan ini? As-Sa'di menjelaskan ayat, “…perumpamaan kehidupan dunia…,” Al-Kahfi ayat 45, Allah berikan perumpamaan kehidupan dunia ini agar manusia mengimajinasikan dengan benar dan mengetahui (seluk-beluknya) zahir dan batin, membandingkannya dengan kampung akhirat, dan mengutamakan manakah yang seharusnya diutamakan.

Lantas mana yang harus diutamakan manusia, dunia atau akhirat? “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64).

Inilah nasihat indah dari Rasulullah dalam sebuah hadits panjang untuk menyikapi dunia, yang disampaikan Abdullah bin Mas’ud, “… Aku di dunia ini tidak lain hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian dia pergi dan meninggalkan pohon itu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan sanad hasan shahih.

Demikianlah dunia, sementara adanya. Namun akhirat, puncaknya kenikmatan dan harus kita utamakan.


Rabu, 23 Oktober 2019

PUBLIKASI LESEHAN JUMAT JAN: THE WORLD AVOIDERS




Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (QS. Al-Ankabut: 64)

Kehidupan dunia memang manis dan menggoda. Tapi dunia adalah kehidupan fana. Bagaimana agar tidak cinta yang fana dan lebih mencintai kehidupan yang utama (akhirat)?

Ikuti:
Lesehan Jum`at JAN
On Pursuing The Prime Youths #4
Merunut Jejak Hebat Para Sahabat

Tema: 
The World Avoiders

Waktu:

JUMAT, 25 Oktober 2019
 jam 16.00 - 17.25
Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi Arabika “Specialty”
Buletin NAH!

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah:
Bisa langsung via WA dengan format Nama_Alamat kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran:
085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:
085600176738 atau 085329686654
t.me/buletinnah
Twitter: @buletinnah@JANtraining
Instagram: @buletinnah@jantraining
buletinnah.com

Sebarluaskan, ajak saudara, dan kawan-kawan tersayang 

Minggu, 20 Oktober 2019

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN: THE MA’RIFAH SEEKERS


Oleh: TIM JAN

Al-Qur’an Bicara Tentang Ilmu

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS. Fathir: 28)

As-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya, ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan tingginya kautamaan ilmu, sebab ilmu mengajak takut kepada Allah, dan orang-orang yang takut kepada-Nya adalah orang-orang yang dianugerahi karamah. yaitu “Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (QS. Al-Bayyinah: 8).

Banyak ayat-ayat lain dalam Al-Quran yang mengabarkan kepada kita tentang tingginya kedudukan ilmu. Silahkan buka Al-Qur’an kalian, lalu cermati dengan seksama surat Thaha ayat 114, Az-Zumar ayat 9, dan Al-Mujadilah ayat 11.

Rasulullah Menganjurkan Untuk Menuntut Ilmu

Dari Abu-Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia menuturkan, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ingatlah, sesungguhnya dunia ini dilaknat, dilaknat pula segala sesuatu yang ada di dalamnya kecuali berdzikir kepada Allah dan apa saja yang serupa itu, juga orang alim serta orang yang menuntut ilmu.” Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan sanad Hasan.

Syaikh Musthafa Dib Al-Bugha menjelaskan bahwa hadits ini merupakan anjuran menuntut ilmu dan mengajarkannya, agar dapat mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh rahmat-Nya.

Selain itu, Rasulullah juga kabarkan tentang ganjaran bagi penuntut ilmu. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dengan ilmu itulah seorang Muslim dapat mengetahui kebenaran, terarah pada amal-amal kebajikan, serta mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Begitulah Al-Bugha menjelaskan hadits di atas.

Dasar Kemuliaan Para Pemuda Shahabat

Kita akan membahas contoh-contoh nyata di masa para pemuda shahabat Rasulullah tentang kesungguhan mereka terhadap ilmu. Sebelum itu, kita tengok terlebih dahulu pondasi yang menjadikan mereka kokoh meski mereka masih muda. Adakah yang belum yakin akan keimanan para pemuda shahabat ini, sehingga muncul pernyataan, “Mereka masih sangat muda, mereka mudah tertawan pengaruh luar, pikiran mereka mudah dipengaruhi oleh kilatan-kilatan yang menipu?

Untuk menjawab pernyataan di atas, biarkan pakarnya pemuda yang akan bicara; Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy. Beliau memberikan penjelasan, jika pernyataan di atas benar, maka hal tersebut tidak bisa diterapkan untuk generasi muda shahabat yang penuh berkah. Mereka memeluk Islam ketika sang pembawa risalah tengah menapak jalan terjal. Rasulullah bersama orang-orang yang beriman tengah berada pada fase kesulitan. Meski begitu, para pemuda itu tabah menanggung segala apa yang menimpa mereka. Dan, buku-buku sirah tidak menceritakan kisah kemurtadan mereka yang masuk Islam di periode dakwah Makkah, kecuali beberapa individu yang sangat jarang sekali. Setiap mereka yang masuk Islam sudah paham benar bahwa dia akan membayar mahal untuk ketetapan yang telah diambilnya. Mereka siap dengan siksaan yang akan menimpa mereka.

Jundub bin Abdullah mengabarkan kepada kita, “Kami pernah bersama Rasulullah ketika kami masih muda mendekati usia baligh. Kami belajar kepada beliau tentang keimanan sebelum kami belajar al-Quran. Selanjutnya, kami belajar Al-Quran dan dengannya keimanan kami semakin bertambah.” Maka, pondasi itu bernama Iman.

Kita Saksikan Mereka Bersungguh-Sungguh Terhadap Ilmu

Sekali lagi, mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Rabbnya, mereka pula pemuda yang beriman kepada Rasul-Nya. Maka apa-apa yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya pasti akan mereka ambil, pasti akan mereka gigit dengan gigi geraham. Termasuk perkara ilmu. Generasi muda shahabat begitu memahami urgensi dan keutamaan ilmu, bahkan kewajibannya menguasainya. Maka lembaran-lembaran sejarah telah mencatat nama-nama dan perjalanan mereka dalam menuntut ilmu.

Kita dengarkan kesaksian dari Abu Hurairah tentang Abdullah bin Amru. Dia berkata, “Tidak seorang pun shahabat Nabi yang lebih banyak menghafal hadits kecuali aku, selain Abdullah bin Amru. Dia menuliskan hadits, sedangkan aku tidak menuliskannya.”

Ad-Duwaisy menjelaskan para pemuda shahabat sangat bersungguh-sungguh untuk bersegera dalam belajar dan mendengarkan ilmu. Mereka juga senantiasa menghafalkan ilmu, menuliskannya, menanyakannya,  mendalami maknanya, bahkan mereka siap menanggung kesulitan dalam mendapatkan ilmu.  

Ketika generasi muda shahabat memiliki sedemikian besar kesungguhan dan keseriusan terhadap ilmu, maka Rasulullah pun menaruh perhatian besar terhadap pengajaran mereka. Rasulullah pernah memberikan kesaksian tentang mereka, “... Yang paling mengetahui halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal. Yang paling mengetahui tentang waris adalah Zaid bin Tsabit ...” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

Hal yang lebih penting lagi, ilmu bagi mereka bukan hanya sebatas hafalan saja tetapi sampai memunculkan tindakan, sebagaimana Ibnu Mas’ud mengatakan, “Ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, tetapi dengan rasa takut kepada Allah.”
               
Tentu saja kisah-kisah mereka tidak cukup dimuat dalam tulisan singkat ini. Silahkan mengecek  kitab Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga karya Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy halaman 49-72.

Mereka Mengutamakan Adab Sebelum Ilmu

Ad-Duwaisy mengatakan, terkadang penuntut ilmu dikuasai oleh keseriusan menuntut ilmu sehingga mereka bersikap kurang sopan kepada orang yang telah mengajarinya. Hal ini juga menjadi perhatian Syeikh Az-Zarnuji dalam kitab Terjemah Ta’lim Muta’alim. Beliau menyebutkan dalam mukadimahnya tentang penuntut ilmu (di masanya), sebenarnya para penuntut ilmu telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tapi banyak dari mereka yang tidak memperoleh manfaat dari ilmunya, yakni berupa pengamalan ilmu tersebut dan menyebarkannya. Hal itu terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan.

Namun, para pemuda shahabat tidak demikian. Kita dapati mereka bersungguh-sungguh mencermati adab-adab dalam menunutut ilmu. Kita dengarkan kesaksian dari Al-Barra bin Azib, “Sekiranya akan datang satu tahun lagi untukku, maka aku akan bertanya sesuatu kepada Rasulullah. Aku merasa takut kepada beliau. Kami pernah berangan-angan bahwa kami adalah kaum badui (yang berani berkata apa adanya)”.

Begitu pula Ibnu Abbas, ketika hendak belajar kepada salah seorang shahabat. Dia tidak mengetuk pintu rumahnya karena khawatir mengganggu istirahat siangnya. Maka Ibnu Abbas menunggu di depan pintu dengan menggelar sorbannya hingga pemilik rumah membukakan pintu. Bahkan ketika dia ditanya oleh pemilik rumah, “Wahai kemenakan Rasulullah, mengapa tidak kamu panggil saja aku, biar aku menemuimu?” Ibnu Abbas menjawab, “Aku lebih berhak untuk datang menemuimu dan bertanya kepadamu.” Kelak, orang-orang mengambil manfaat dari Ibnu Abbas.

Sungguh tak pantas seorang penuntut ilmu menyepelekan perkara adab. Sebagaimana Abdullah bin Al-Mubarak pernah mengatakan, “Mempunyai adab meskipun sedikit adalah lebih kami butuhkan dari pada memiliki banyak ilmu pengetahuan.”




Sabtu, 19 Oktober 2019

MATERI LESEHAN JUMAT JAN: THE PRAYER PRACTICERS


Allah Perintahkan Ibadah Melalui Al-Quran 

 Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 21).

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Inilah perintah dari Allah ta’ala untuk beribadah kepada-Nya. As-Sa’di menjelaskan, bentuk ibadah itu berupa mentaati perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, dan mempercayai kabar-kabar-Nya.    

Ibadah inilah yang menjadi tujuan Allah menciptakan jin dan manusia. Bahkan Allah mengutus semua rasul untuk menyeru kepada tujuan tersebut, yaitu tujuan menyembah Allah yang mencakup berilmu tentang Allah, mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, menghadap kepada-Nya dan berpaling dari selain-Nya. Kesempurnaan ibadah tergantung pada ilmu dan ma’rifatullah. Demikian penjelasan As-Sa’di dalam menafsirkan surat Adz-Dzariyat ayat 56.

Inilah Makna Ibadah yang Benar

Ibadah secara bahasa berarti taat, tunduk, hina, dan pengabdian. Ibnu Taymiyah mengartikan ibadah sebagai puncak ketaatan dan ketundukan yang di dalamnya terdapat unsur cinta. Ketaatan tanpa unsur cinta maka tidak dapat diartikan sebagai ibadah dalam arti sebenarnya. Dalam penjelasannya  Syakir Jamaluddin Ibadah terbagi menjadi dua. Pertama, ibadah khusus yang ketentuannya sudah ditetapkan oleh nash, seperti thaharah, shalat, zakat, dan semacamnya. Kedua, ibadah umum yaitu semua perbuatan baik yang dilakukan dengan niat karena Allah semata. Misalnya menuntut ilmu, mendidik, berdakwah, berjihad, dan semacamnya.

Merujuk pernyataan di atas, banyak umat Islam yang memiliki pemahaman yang keliru, mereka menganggap bahwa ibadah itu hanya perkara shalat, zakat, haji, dan dzikir saja. Padahal,  yang demikian itu adalah bagian dari ibadah. Dan ibadah sendiri sangat luas cakupannya. Bukankah Allah ta’ala telah kabarkan kepada manusia, “Sesiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan sesiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Az-Zalzalah: 7-8). Jika perkara secekil itu tidak termasuk ibadah, kenapa Allah memberikan balasannya?

Maka, makna ibadah yang sebenarnya, sebagaimana yang telah Allah sendiri tetapkan, “Katakanlah, ‘sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162). Demikian Dr. Raghib As-Sirjani menegaskan.

Maksudnya segala sesuatu yang kita lalui dalam hidup ini hanya diperuntukkan untuk Allah semata. Hidupnya untuk Allah, matinya pun untuk Allah, shalat dan puasanya untuk Allah, dan bekerjanya pun untuk Allah. Bahkan bergaulnya seseorang baik dalam lingkup sempit maupun lingkup luas seperti antar negara, semuanya untuk Allah. Semua yang mereka lakukan ini, kelak akan dimintai pertanggungjawaban, “Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al-Muddatstsir: 38)

Keimanan Pemuda Shahabat dan Ibadah

Kita saksikan sendiri, keimanan para shahabat begitu kokoh, tidak mudah terpengaruh oleh virus-virus dari luar, mereka memegang teguh syariat Islam meskipun resikonya sangat berupa siksaan. Para pemuda shahabat bersaksi bahwa Allah adalah Illah yang hak untuk diibadahi. Mereka juga meyakini kebenaran Rasulullah dan apa yang beliau bawa. Keimanan yang kokoh itu terbukti dengan aktivitas ibadah yang mereka lakukan. Meskipun mereka masih muda, tapi kualitas ibadahnya luar biasa. Sebagaimana pernyataan Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid bahwa ibadah merupakan pengikat bagi pembentukan akidah Islamiyah. Maka supaya keimanan dalam qalbu itu semakin subur, mereka senantiasa menyiraminya dengan air ibadah dengan segala bentuk dan ragamnya. Dengan demikian, keimanan akan semakin tumbuh dan kokoh meskipun badai kehidupan menerjang.
               
Lihatlah Ibadahnya Pemuda Para Shahabat

Inilah sebaik-baik generasi. Mereka adalah para shahabat. Di antara mereka banyak para pemuda. Dalam hal ibadah, khususnya ibadah khusus, jangan bertanya lagi, tak mampu kita ini menandingi mereka. Ibnu Umar radhiyallahu anhum, seorang shahabat bersaksi atas shahabat yang lain, dia mengatakan, “Demi Allah, aku belum pernah melihat orang yang lebih banyak berpuasa, mendirikan shalat,  dan menyambung silaturahim, selain Abdullah bin Zubair.”

Begitu pula Nafi’ ditanya tentang aktifitas Ibnu Umar saat berada dalam rumah, dia mengatakan, “Kami tidak akan sanggup melakukannya. Dia berwudhu setiap kali shalat dan membaca mushaf di sela-sela kedua waktu shalat.”

Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid memberikan pernyataan penting tentang ibadahnya para pemuda shahabat, bahwa anak-anak para shahabat tidak cukup hanya mendirikan shalat lima waktu. Mereka juga masih menambah dengan shalat malam, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu.

Kita dengarkan langsung penuturan dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan Imam Bukhari, “Aku menginap di rumah bibiku, Maimunah binti al-Harits, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau malam itu berada di rumahnya. Nabi shalat Isya. Kemudian beliau pulang dan mengerjakan shalat empat rakaat. Setelah itu beliau tidur.  Kemudian beliau bangun dan bersabda, “Anak ini sudah tidur?” Kemudian beliau berdiri shalat. Aku pun berdiri di samping kiri beliau. Lalu beliau memindahkanku ke samping kanan beliau. Beliau shalat lima rakaat. Kemudian meneruskan dengan shalat dua rakaat. Kemudian beliau tidur sampai aku mendengar dengkur beliau. Kemudian beliau pergi untuk shalat subuh.”

Apakah Ibnu Abbas hanya ikut-ikutan dalam shalat? Ternyata tidak, sejak awal hendak menginap dia memiliki tujuan untuk memperhatikan ibadahnya Rasulullah. Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah disebutkan, “Aku (Ibnu Abbas) menginap di rumah bibiku, Maimunah, agar aku dapat memerhatikan begaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat...”

Begitu pula keikutsertaan para pemuda dalam shalat malamnya Rasulullah di bulan Ramadhan. Ada An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu radhiyallahu ‘anhu yang tengah menceritakan kisah ibadahnya bersama Rasulullah.

“Kami pernah melaksanakan shalat malam bersama Rasulullah  pada malam keduapuluh tiga bulan Ramadhan hingga sepertiga malam. Kemudian, pada malam keduapuluh lima kami melakukan shalat malam hingga separuh malam. Lalu beliau menunaikan shalat malam bersama kami pada malam keduapuluh tujuh hingga kami mengira tidak menjumpai lagi waktu sahur. Dan biasanya kami berseru, “Waktu sahur telah tiba.”

Keikursertaan Nu’man dalam shalat malam tersebut disertai penjelasan sifat shalat yang dilakukan. Padahal saat itu Nu’man masih kanak-kanak. Kata Ad-Duwaisy hal ini menjadi pendorong dan penyemangat bagi pemuda muslim untuk meneladani mereka serta untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Rabbnya.

Referensi
1.       Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tafsir Al-Quran Jilid 1, 2015, Jakarta; Darul Haq.
2.       Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tafsir Al-Quran Jilid 7, 2015, Jakarta; Darul Haq.
3.       Syakir Jamaluddin, Kuliah Fiqh Ibadah, 2015, Yogyakarta; LPPI UMY.
4.       Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy, Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga, 2019, Solo; Zam-Zam.
5.       Raghib As-Sirjani, Menjadi Pemuda Peka Zaman, Solo; PT Aqwam Media Profetika.
6.       Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Prophetic Parenting; Cara Nabi Mendidik Anak, 2009, Yogyakarta; Pro-U Media.

Jumat, 18 Oktober 2019

Resume: The Qur`an Keepers #3


Mari kita simak tipe manusia terhadap Al-Qur`an. Pahami, yakini, dan amalkan.

“Perumpamaan orang mukmin yang suka membaca Al-Qur`an ialah seperti buah jeruk utrujah, baunya enak dan rasanya pun enak dan perumpamaan orang mukmin yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan orang munafik yang suka membaca al-Quran ialah seperti minyak harum, baunya enak sedang rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti rumput hanzhalah, tidak ada baunya dan rasanyapun pahit.” (Muttafaq ‘alaih).

Tipe yang mana diri kita?

Inilah sahabat-sahabat yang mulia dan utama bersebab Al-Qur`an. Ada Ubay bin Ka`ab, Abdullah bin Mas`ud, Ali bin Abi Thalib, dan Ibnu Abbas. Jika kita sering membaca nama Mujahid, itulah murid Ibnu Abbas. Ada pula Zaid bin Tsabit, katibnya Rasul.

Al-Qur`an akan menjadi kemuliaan bagi dirinya, jika syarat utamanya terpenuhi; iman. Al-Qur`an itu di hadapannya, benar-benar ia pegang erat dan diamalkannya.

Jadi, siapa yang dimuliakan Allah? Dia yang memiliki iman, kemudian membaca, meneliti, bahkan sampai mendalami isi Al-Qur`an. Itulah The Qur`an Keepers.


Resume: The Qur`an Keepers #2


Apa yang membuat para pemuda itu menjadi utama? Ada penanaman value (nilai) oleh orang-orang penting dalam hidupnya. Bisa orang tuanya, gurunya, figur ustadz, dan yang lain. Mereka menanamkan “komitmen” sehingga menjadi utama. Maka, remaja galau itu menjadi komitmen kalau ada yang mendampingi.

Nah, bagaimana kalau galau tentang kondisi umat ini? Harus! Kalau tidak galau, repot bahkan bisa merepotkan. Mereka yang disebut “The Prime Youth” adalah orang orang yang sudah komitmen dan pernah sakit, kemudian sembuh. Termasuk komitmen pada perbaikan kondisi umat hari ini.

The Qur`an Keepers adalah mereka yang saat muda menghabiskan waktu bersama Al-Qur`an. “Keep” itu berarti menjaga. Secara “to continue” dan “having and holding something” bersama Al-Qur`an.

Sekarang banyak para pembaca dan penghafal Al-Qur`an. Tapi tak sedikit pula ‘Qur`an belum hidup di dalam dirinya’. Padahal jika kita ingat bagaimana perkataan Aisyah tentang diri Rasulullah, “Akhlak beliau adalah Alquran.”

Sebagai “The Quran Keepers”, mereka tidak hanya menjadikan Al-Qur`an di tangan saja, tapi di jiwa dan qalbun mereka.

Bayangkan kalau Al-Qur`an adalah surat cinta untuk kita. Seperti air yang mengalir. Ia akan masuk ke dalam dada setiap insan sehingga manusia kembali hidup. Seperti perkataan Soekarno, “Menjadi api yang berkobar-kobar menyala-nyala di dalam Quran itu. Dan jikalau api ini telah berkobar-kobar dan menyala-nyala pula di dalam dadanya seseorang manusia, manusia yang demikian itu menjadi manusia yang, sebagaimana yang dikatakan saudara Hamka, tidak takut akan mati!”

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Al-Quran) dan menghinakan yang lain.” (H.R. Muslim).

Rasulullah memberikan pilihan kepada seluruh manusia; dimuliakan atau ditinggikan dengan Al-Qur`an?





Resume: The Qur`an Keepers #1


Setelah sebelumnya di Lesehan Jumat JAN dengan tema “Learning From The Best Youth”, empat kali pertemuan, belajar dari pemuda-pemuda utama yang tertuliskan di sebaik-baik pedoman hidup Al-Qur`an, berlanjut dengan tema  “On Pursuing The Prime Youths. Pada tema ini, kita akan membahas orang-orang di sekitar Rasulullah. Ya. Para sahabat Rasul.

Kenapa di tema Lesehan Jumat JAN ini kami menggunakan kata “pursuing”? Kenapa tidak yang lain?

Kami menginginkan ada kata yang mewakili ‘keinginan” kami. Kata ‘pursuing’ berasal dari kata ‘pursue’ yang berarti ‘To follow and try to chapter for usually a long time’. Kami menginginkan bahwa dengan adanya Lesehan Jumat JAN, kita semua tidak hanya sekadar tahu tentang pemuda-pemuda utama itu. Tapi, menjadikan bertekad mengikuti jejak-jejak hebat mereka.

Para sahabat ini jelas-jelas manusia. Yang hidupnya bersama manusia terbaik sepanjang masa. Di antara beribu-ribu nabi dan rasul, bukankah Rasulullah Muhammad adalah imam mereka?

Maka, sangatlah pantas kita mempelajari, memahami, bahkan sampai tingkatan mengikuti bagaimana kehidupan para sahabat Rasul. Profil-profil sahabat itu, akan kita ikuti dan “tangkap” dalam waktu yang sesungguhnya tiga bulan saja (di Lesehan JAN) tidak cukup, tapi `a long time’. Di waktu yang lama.

Di dalam tema umum Lesehan Jum`at JAN ini, kami masih tetap menggunakan kata “youth” untuk mewakili pemuda. Bukan pula “teenager” (remaja) yang di dalam bahasa Arab adalah “Murohaqoh” yang berarti tidak stabil. Kata “youth”, dalam istilah bahasa Arab searti dengan “fatan” dan “syabaab”.

Kenapa bisa ada istilah remaja? Inilah yang dimunculkan seorang ‘psikolog barat’ yang pada tahun 1980an bahwa remaja itu pasti galau. Remaja itu akan mengalami ‘storm and stress’. Remaja galau itu biasa. Padahal, remaja itu sesungguhnya tidak perlu galau.

Padahal menurut James Marcia, ada 4 macam jenis identitas remaja. Masih ingat apa saja? Paripurna (tidak pernah mengalami krisis dalam hidupnya), sembuh, sakit, dan mengambang. Jadi, Stanley Hall betul-betul mengada-ngada jika menyebutkan teori bahwa remaja itu wajib galau.

TEASER THE PRAYER PRACTICERS



On Pursuing The Prime Youths #3 di pekan ini adalah tentang *"The Prayer Practicers"*. Apa itu "prayer"? Berbicara kepada Allah bisa dengan shalat dan berdoa.

Lalu apa itu "practicers". Melakukan sesuatu yang terus menerus agar menjadi lebih baik. Lalu siapakah mereka "The Prayer Practicers"?

Jadwalkan untuk datang di Lesehan Jum'at JAN pekan ini .... Membahas siapa saja mereka dan apa yang membuat mereka jadi pemuda utama. Bismillah ...

Rabu, 16 Oktober 2019

PUBLIKASI LESEHAN JUMAT JAN: THE PRAYER PRACTICERS



Ibadah bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Ia adalah menyambungkan jiwa-hati-pikiran kepada Sang Penguasa Alam. Ia adalah ”istirahat" dari hiruk pikuk dunia nan fana, menuju dzikrullah yang menguatkan jiwa-raga.

Bagaimana ibadahnya para sahabat muda, sehingga mereka masuk dalam ”sebaik-baik generasi”? Apa pelajaran dan inspirasi yang bisa kita petik untuk kehidupan kita saat ini
Ikuti:
Lesehan Jum`at JAN
On Pursuing The Prime Youths #3
Merunut Jejak Hebat Para Sahabat

Tema: 
The Practicers Prayers

Waktu:

JUMAT, 18 Oktober 2019
 jam 16.00 - 17.25

Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi Arabika “Specialty”
Buletin NAH!

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah:
Bisa langsung via WA dengan format Nama_Alamat kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran:
085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:
085600176738 atau 085329686654
t.me/buletinnah
Twitter: @buletinnah@JANtraining
Instagram: @buletinnah@jantraining
buletinnah.com

Sebarluaskan, ajak saudara, dan kawan-kawan tersayang 



Senin, 14 Oktober 2019

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN: THE QUR’AN KEEPERS


Oleh: TIM JAN

Al-Qur’an Bicara Tentang Al-Quran

Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (QS. Al-Isra’: 9)

Inilah Al-Quran. Inilah pelampung keselamatan bagi orang yang menjadikannya sebagai pedoman. Inilah pembimbing bagi kaum Muslimin, bagi mereka yang hendak meniti jalan yang lurus. Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Perhatikanlah, sesungguhnya akan terjadi fitnah!” Ali bertanya, “Apa jalan keluar dari fitnah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, Kitabullah ...”

Tentu ini hanya satu dari sekian ayat yang menjelaskan tentang Al-Quran itu sendiri. Silahkan buka Al-Qur’an kalian, dan cermati ayat-ayatnya.

Al-Qur’an dan Tanggung Jawab Besar

Ada hal penting yang harus kaum Muslimin ketahui tentang Al-Qur’an. Hal penting itu telah Allah sampaikan dalam Qur’an surat Al-Isra’. Sebagaimana yang disampaikan oleh Amru Khalid dalam Kitabnya Khowathir Qur’aniyah ketika menjelaskan tujuan diturunkannya surat Al-Isra’. Beliau menjelaskan bahwa peristiwa Isra’ Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Masjidil Aqsha terdapat sebuah pertemuan agung di dalamnya. Saat itu Masjidil Aqsha telah dipenuhi para nabi  dan rasul sejak zaman nabi Adam ‘alaihissalam hingga nabi Isa ‘alaihissalam. Mereka menunggu kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengimami shalat. Shalat yang beliau pimpin ini menjadi tanda perpindahan risalah kepada umat ini. Maka umat Muhammad saat ini memiliki tanggung jawab atas Kitabullah atau risalah yang Allah turunkan. Setiap nabi diperintahkan menjaga kitab Allah. Namun, setelah para nabi meninggal, kaum mereka menelantarkannya. Bahkan, umat terakhir (sebelum Muhammad) yang menerima amanah Kitab adalah Bani Israil. Tetapi mereka melakukan kerusakan di muka bumi dan tidak menjaga Kitab mereka dengan baik.

Masih penjelasan Amru Khalid, dalam surat ini, Allah banyak menyebutkan tentang Al-Qur’an dan Al-Kitab, yang memberikan kesan bahwa surat ini (Al-Isra’) adalah pemberitahuan tentang pentingnya Al-Qur’an. Lantas apa hubungan antara peristiwa Isra’ dan Al-Qur’an itu? Adapun peristiwa Isra adalah cermin perpindahan Kitab kepada umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seolah peristiwa itu memberi kesan kepada kita, “Wahai umat Muhammad, kalian bertanggung jawab  terhadap kitab Al-Qur’an ini. Oleh karena itu, sadarilah nilainya dan jangan sekali-kali menelantarkannya sebagaimana kelakuan umat-umat sebelum kalian. Jika kalian menelantarkannya, Allah akan mengganti kalian sebagaimana Dia telah mengganti mereka.”

Lalu, siapakah orang-orang yang mampu mengemban tanggung jawab risalah sepeninggal Rasulullah? Siapakah orang-orang yang siap mengemban tugas berat yang ada dalam Al-Qur’an? Siapakah  para penjaga Al-Qur’an itu, yang benar-benar menjaganya, tidak hanya sebatas membaca dan menghafal, bahkan mereka mampu mengamalkan hukum-hukumnya hingga mengajarkannya?
Al-Quran dan Para Penjaganya yang Mulia

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari manusia?” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang Dia istimewakan.”


Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa Ahlul Qur’an adalah orang yang memiliki ilmu tentang Al-Qur’an dan mengamalkannya. Muhammad Syauman Ar-Ramli juga menjelaskan bahwa ahlul Qur’an adalah orang yang mengilmuinya, membacanya, mengamalkan hukum-hukumnya, meskipun mereka belum hafal. Beliau juga menambahkan sampai mengajarkannya. Berarti, semua umat Muhammad berkesempatan menjadi ahlul Qur’an, mereka berkesempatan untuk bertanggung jawab menjaga Al-Qur’an. Pertanyaan berikutnya,  siapa yang terbaik di antara mereka? Merekalah para shahabat. Dr. Raghib As-Sirjani menjelaskan tentang mereka ini dengan mengutip hadits yang penting. Mereka para shahabat adalah orang-orang yang digambarkan Rasulullah dalam sebuah riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup di masaku, lalu orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang yang setelah mereka.”

 Para Penjaga Al-Quran Itu Adalah Pemuda

Muhammad Abdullah ad-Duwaisy menjelaskan, banyak orang yang masuk Islam di awal kehadirannya adalah kaum muda di bawah usia dua puluh tahun atau lebih sedikit.

Jika demikian, sebenarnya keimanan telah menghunjam kuat dalam qalbu mereka. Sehingga kegelapan tersingkap dan berubah menjadi cahaya, dan mereka para pemuda shahabat itu membenarkan risalah yang Rasulullah bawa. Para pemuda shahabat ini paham benar tentang Al-Qur’an sebagai sebuah pedoman; yang pembahasannya sudah dipaparkan sebelumnya. Karenanya, hal pertama yang menjadi perhatian generasi muda shahabat adalah Al-Qur’an. Kita akan berkenalan dengan para pemuda yang luar biasa ini.

Rasulullah bersabda, “Pelajarilah bacaan Al-Qur’an dari empat orang; Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, dan Mu’adz bin Jabal.” Ad-Duwaisy menjelaskan bahwa dari empat itu, tiga di antaranya adalah pemuda, yaitu; Mu’adz, Ibnu Mas’ud, dan Salim.

Anas radhiyallahu ‘anhu juga memberi kesaksian, bahwa ada pemuda lain bersama Mu’adz, yaitu Zaid bin Tsabit, di mana dia telah menghimpunnya (menghafal seluruhnya). Anas berkata, “Al-Qur’an telah dihimpun pada masa Rasulullah oleh empat orang, semuanya dari kalangan Anshar, yaitu; Ubay, Mu’adz bin Jabal, Abu Zaid, dan Zaid bin Tsabit.”

Selanjutnya, Amru bin Salamah, seorang shahabat generasi akhir, dia sangat serius mempelajari Al-Qur’an. Dia selalu menyambut kafilah yang datang, belajar dan bertanya kepada mereka tentang Al-Qur’an. Sehingga, kemampuannya mengungguli seluruh anggota kaumnya. Bahkan kaumnya, merekomendasikan dirinya menjadi imam shalat.

Seorang anak yang belum lama melewati usia sepuluh tahun, Al-Bara’ bin Azib, berkata, “Rasulullah tidak datang kepada kami kecuali setelah aku menghafal surat-surat ­al-Mufashshal (Surat Qaf - surat An-Nas).

Begitu pula Abdullah bin Abbas, dia berkata, “Tanyakanlah tentang tafsir kepadaku. Sebab, aku telah menghafal Al-Qur’an semenjak aku kecil.”

Begitu pula Salim Maula Hudzaifah. Aisyah pernah terlambat menemui Rasulullah. Saat beliau tanyakan alasannya, Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, di masjid ada seorang laki-laki di mana  aku belum pernah melihat seorang pun yang bacaan Al-Qur’annya lebih baik darinya.” Lalu Rasulullah pergi ke masjid, dan ternyata orang tersebut adalah Salim Maula Hudzifah. Rasulullah pun bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan orang seperti dirimu di dalam umatku.”

Catatan Penting Tentang Mereka

Apakah mereka hanya memiliki hafalan banyak tanpa paham maknanya? Apakah mereka mengamalkannya? Apakah Quran sampai menata perilaku dan kehidupannya? Atau, apakah mereka hanya menjaga makhraj semata? Tentu tidak. Kita serahkan pada ahlinya Al-Qur’an di masa itu untuk memberikan penjelasan lebih detail.


Abdullah bin Mas’ud menceritakan kepada kita bagaimana penjagaan mereka terhadap Al-Qur’an, “Apabila salah seorang di antara kami mempelajari sepuluh ayat, maka dia tidak beralih ke ayat berikutnya, hingga dia mengetahui makna-maknanya sekaligus mengamalkannya.”

Selanjutnya kita dengar sabda Rasulullah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, beliau bersabda, Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran lalu mengajarkannya.” Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari.

Menghafal menurut Muhammad Abdullah ad-Duwaisy adalah sarana menuju tahap berikutnya, yakni konsisteni untuk membaca, merenungkan, dan mempelajari makna-maknanya. Selanjutnya adalah membawa diri kepada petunjuk dan arahannya.

Referensi:
1.    Amru Khalid, Khowathir Qur’aniyah, 2004, Jakarta Timur; Al-I’tishom.
2.    Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy, Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga, 2019, Solo; Zam-Zam.
3.    Raghib As-Sirjani, Menjadi Pemuda Peka Zaman, Solo; PT Aqwam Media Profetika.
4.    Muhammad Syauman Ar-Ramli, dkk, Nikmatnya Menangis Bersama Al-Quran, 2015, Jakarta Timur; Istanbul.